Oleh: Erma Yulihastin*)
Menarik menyimak tulisan berjudul “Pertanian Masih Terabaikan” yang menjadi headline Pikiran Rakyat senin, 21 Februari lalu. Laporan tersebut menyoroti menurunnya produksi pertanian di sebagian besar wilayah sentra pangan di Indonesia selama tiga tahun terakhir (2008-2010). Meskipun penyebab penurunan berkisar persoalan teknis seperti rusaknya irigasi, lemahnya teknologi, mahalnya pupuk, berkurangnya lahan pertanian, tapi iklim juga disebut-sebut sebagai salah satu penyebab. Bagaimana sebetulnya kondisi iklim selama tiga tahun terakhir di Indonesia? Apakah iklim merupakan faktor utama yang pantas disalahkan terhadap menurunnya produksi pertanian? Tulisan ini bermaksud mengulas kondisi iklim di Indonesia selama beberapa tahun terakhir.
Iklim Ekstrem
Kondisi iklim ekstrem yang paling berpengaruh terhadap pertanian adalah kekeringan dan banjir. Kekeringan mengakibatkan padi gagal panen. Banjir membuat padi mati muda alias puso. Namun, dibandingkan dengan banjir, dampak kekeringan terhadap pengurangan produksi pangan lebih mengkhawatirkan. Hal ini seperti kemarau panjang dan kekeringan ekstrem yang pernah terjadi pada 1997-1998.
Lalu, bagaimanakah kondisi sesudah periode tersebut? Apakah iklim di Indonesia menunjukkan kondisi ekstrem yang berdampak pada produksi pangan?
Selama sepuluh tahun terakhir sejak bencana kekeringan pada 1997-1998, tidak terjadi lagi kekeringan serupa di wilayah Indonesia yang ditengarai dapat berdampak signifikan pada pertanian. Kasus kekeringan hebat pada 1997 terjadi karena pengaruh El Nino kuat (di Samudera Pasifik) yang bersamaan dengan Dipole Mode positif yang juga kuat (di Samudera Hindia). Selain intensitasnya yang sama-sama kuat, El Nino dan Dipole Mode positif pada waktu itu juga berlangsung dalam periode waktu yang panjang, hampir setahun penuh (Mei 1997-Mei 1998).
Memang, pada 2002-2003 (Agustus 2002-Desember 2003) terjadi lagi kejadian El Nino dan Dipole Mode positif dengan intensitas yang sama moderat, tapi tidak berpengaruh terhadap kekeringan. Hal ini karena intensitasnya hanya moderat dan berlangsung relatif singkat. Demikian pula pada 2006-2007 (Agustus 2006-Januari 2007), berulang lagi peristiwa yang sama yakni El Nino moderat berkolaborasi dengan Dipole Mode positif moderat. Namun, efek kekeringan juga tidak terasa karena periode kejadian tidak berlangsung lama dan bebarengan dengan periode musim hujan.
Setelah kemarau panjang 1997, musim kemarau di Indonesia setiap tahun berlangsung normal bahkan pada beberapa kasus cenderung bersifat basah. Artinya, pada periode musim kemarau tersebut hujan masih kerap kali turun. Musim kemarau yang cenderung bersifat basah ini terjadi pada 2008. Musim kemarau pada saat itu sangat dipengaruhi oleh terjadinya La-Nina meskipun lemah sejak Februari hingga Agustus 2008. Hal ini tentu saja menguntungkan karena secara umum musim kemarau di Indonesia akan berakhir pada September.
Anomali iklim yang lebih menguntungkan lagi terjadi pada tahun 2010. sepanjang tahun di sebagian besar wilayah Indonesia tidak terjadi musim kemarau. Artinya, hujan turun sepanjang tahun, bahkan di wilayah-wilayah yang semestinya mengalami musim kemarau lebih kering dibandingkan wilayah lain (Nusa Tenggara dan sekitarnya).
Hampir sepanjang tahun 2010, pulau Jawa kerap mengalami hujan lebat. Hal ini berdasarkan pengamtan intensif terhadap satelit pemantau hujan TRMM (Tropical Rainfall Measuring Mission). Tidak adanya kemarau pada 2010 disebabkan oleh setidaknya tiga hal utama: menghangatnya suhu permukaan laut di perairan Indonesia, mendinginnya suhu di permukaan laut Samudera Pasifik ekuator, dan badai tropis.
Pertama, peningkatan suhu permukaan laut di lautan Indonesia antara 0.5 sampai 2 derajat Celcius. Peningkatan suhu permukaan laut yang paling tinggi terjadi di Samudra Hindia selatan Jawa dan barat laut Sumatra serta di sekitar selat Makasar. Pemanasan suhu permukaan laut inilah yang telah berpotensi menciptakan daerah konvergensi (pusat tekanan rendah) di wilayah Indonesia, menyedot awan-awan konvektif (jenis awan tinggi yang berpotensi menimbulkan hujan lebat disertai petir) dari Samudra Hindia.
Kedua, penurunan suhu di Samudra Pasifik. Peningkatan suhu permukaan laut di lautan Indonesia tersebut di atas ternyata seiring dengan penurunan suhu di Samudra Pasifik sekitar -0.5 derajat Celcius. Meskipun penurunan suhu di Samudra Pasifik ini masih normal dan belum tergolong La Nina, namun sinyal dingin yang dikirimkan dari Samudra Pasifik ini cukup efektif memblokir awan-awan konvektif agar tidak lekas meninggalkan wilayah Indonesia. Buktinya, mendung dan hujan masih mendera di atas atmosfer Indonesia selama bulan Juni ini.
Ketiga, hujan yang masih sering terjadi di Indonesia juga dipengaruhi oleh dinamika atmosfer pada skala regional. Terjadinya Badai Tropis di Teluk Bengala (India) selama sepekan terakhir Mei ikut mempengaruhi proses pembentukan awan dan hujan di Indonesia (terutama di Jawa dan Sumatra). Pada awal Juni, Badai Tropis muncul kembali di sekitar Laut Arab dan Oman.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa berdasarkan pengamatan terhadap data curah hujan melalui satelit, kondisi musim kemarau dan musim hujan selama sepuluh tahun terakhir normal bahkan cenderung bersifat basah. Tiadanya kekeringan atau kemarau ekstrem, seharusnya dapat dijadikan faktor pemicu bertambahnya stok pangan nasional.
Peneliti Sains Atmosfer pada Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim,
Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional
Catatan: artikel ini dimuat di koran Pikiran Rakyat, 3 Maret 2011.
24 Mei 2011
11 April 2011
Musim Hujan Kenapa Kering?
Oleh: Erma Yulihastin*)
Curah hujan minim terjadi pada musim hujan tahun ini. Hal ini karena pengaruh kuat depresi atau badai tropis di Samudera Hindia serta terjadinya iklim ekstrem di Australia bagian utara.
Sehingga, musim hujan di Indonesia pun bersifat kering. Mungkin terdengar aneh, musim hujan tapi, kok, kering? Kata lain yang mewakilinya yaitu musim hujan namun hujan jarang turun. Buktinya, selama satu bulan terakhir (31 Desember – 31 Januari), curah hujan akumulatif di sebagian besar wilayah Indonesia menunjukkan nilai anomali hingga negatif delapan milimeter per hari (-8 mm/hari). Kondisi ini menyerupai musim kemarau. Keadaan kurang hujan tersebut tentu saja menggambarkan musim hujan yang tidak normal. Seharusnya selama bulan Januari, curah hujan yang turun terutama di pulau Jawa dan sekitarnya berlimpah bahkan memiliki surplus antara 10-15 milimeter per hari (+10 hingga +15 mm/hari). Demikian pula pada bulan Desember, curah hujan berlebih seharusnya terjadi di sebagian besar wilayah Indonesia dengan nilai positif antara 5 sampai 20 milimeter per hari (antara +5 sampai +20 mm/hari).
Kenapa musim hujan pada tahun ini terasa kering? Musim hujan yang cenderung kering sejak Desember hingga Januari rupanya terkait erat dengan angin barat yang juga mengalami anomali atau keanehan (keadaan yang tidak normal atau tidak sesuai dengan rata-rata jangka panjangnya). Angin barat bertiup sangat kuat namun bersifat kering. Padahal, pada periode musim hujan, angin barat semestinya mengandung banyak sekali uap air karena berasal dari benua Asia (daratan China dan sekitarnya) yang mengalami musim dingin.
Anomali angin barat ini sebenarnya telah berlangsung sejak satu bulan terakhir. Menurut satelit NOAA (National Oceanic and Atmospheric Administration), Amerika Serikat (31 Desember 2010 – 29 Januari 2011), angin barat dengan nilai anomali antara 8 hingga 12 meter per detik terpantau di wilayah Indonesia bagian selatan (Jawa dan sekitarnya) dan barat daya (Sumatera) serta di perairan Samudera Hindia bagian selatan pulau Jawa. Bahkan pada seminggu terakhir (8-14 Januari 2011), anomali angin barat mencapai kekuatan 10 hingga 16 meter per detik lebih kencang dari biasanya.
Fenomena angin barat yang kencang ini agaknya dipengaruhi oleh kondisi iklim di benua Australia yang ekstrem. Sejak November 2010, Australia mengalami musim dingin yang ekstrem. Pada akhir Desember 2010, Australia bagian utara dan timur laut bahkan mengalami banjir besar. Badan Meteorologi Australia mencatat bulan Desember 2010 sebagai bulan terbasah di kota Queensland (timur laut Australia) sepanjang sejarah. Mereka menyatakan, banjir besar yang melanda sebagian besar utara Australia terkait dengan fenomena La Nina kuat pada bulan Desember. Indeks SOI pada saat itu menunjukkan nilai tertinggi (+27.1) sejak tahun 1974.
Badai Tropis
Angin barat yang kencang di wilayah Indonesia terjadi karena pengaruh pusat konvergensi yang terbentuk di bagian selatan perairan Samudera Hindia dan Australia barat daya. Pusat konvergensi ini dapat dikenali dari anomali suhu permukaan laut di Samudera Hindia yang mengalami anomali panas melebihi 3 derajat Celcius. Hal ini memicu pembentukan badai tropis di kawasan tersebut. Buktinya, sejak akhir Desember 2010 berulang kali terjadi Badai tropis. Tercatat pada akhir Desember hingga awal Januari terjadi badai tropis Tasha, Vince. Lalu baru-baru ini (28 Januari) badai tropis Wilma terjadi di sekitar New Zealand dan siklon Anthony terbentuk di sekitar timur laut Australia. Sementara pada 30 Januari terjadi siklon Yasi.
Terjadinya depresi tropis yang intensif ini telah terbukti secara efektif menyedot awan-awan konvektif yang berseliweran di atas wilayah Indonesia sehingga menggagalkan proses konveksi dan meniadakan hujan.
Gabungan antara dinamika iklim ekstrem di Australia, pusat konvergensi di Samudera Hindia, dan badai tropis inilah yang antara lain menyebabkan angin kencang masih kerap terjadi di wilayah Indonesia. Nyatanya pula, meski La Nina terekam kuat (dengan indeks +1,5 derajat Celcius), namun tidak memberikan dampak pada curah hujan yang besar di Indonesia.
*) Peneliti Sains Atmosfer pada Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim, LAPAN
Catatan: tulisan ini diterbitkan di Pikiran Rakyat, 17 Februari 2011
Curah hujan minim terjadi pada musim hujan tahun ini. Hal ini karena pengaruh kuat depresi atau badai tropis di Samudera Hindia serta terjadinya iklim ekstrem di Australia bagian utara.
Sehingga, musim hujan di Indonesia pun bersifat kering. Mungkin terdengar aneh, musim hujan tapi, kok, kering? Kata lain yang mewakilinya yaitu musim hujan namun hujan jarang turun. Buktinya, selama satu bulan terakhir (31 Desember – 31 Januari), curah hujan akumulatif di sebagian besar wilayah Indonesia menunjukkan nilai anomali hingga negatif delapan milimeter per hari (-8 mm/hari). Kondisi ini menyerupai musim kemarau. Keadaan kurang hujan tersebut tentu saja menggambarkan musim hujan yang tidak normal. Seharusnya selama bulan Januari, curah hujan yang turun terutama di pulau Jawa dan sekitarnya berlimpah bahkan memiliki surplus antara 10-15 milimeter per hari (+10 hingga +15 mm/hari). Demikian pula pada bulan Desember, curah hujan berlebih seharusnya terjadi di sebagian besar wilayah Indonesia dengan nilai positif antara 5 sampai 20 milimeter per hari (antara +5 sampai +20 mm/hari).
Kenapa musim hujan pada tahun ini terasa kering? Musim hujan yang cenderung kering sejak Desember hingga Januari rupanya terkait erat dengan angin barat yang juga mengalami anomali atau keanehan (keadaan yang tidak normal atau tidak sesuai dengan rata-rata jangka panjangnya). Angin barat bertiup sangat kuat namun bersifat kering. Padahal, pada periode musim hujan, angin barat semestinya mengandung banyak sekali uap air karena berasal dari benua Asia (daratan China dan sekitarnya) yang mengalami musim dingin.
Anomali angin barat ini sebenarnya telah berlangsung sejak satu bulan terakhir. Menurut satelit NOAA (National Oceanic and Atmospheric Administration), Amerika Serikat (31 Desember 2010 – 29 Januari 2011), angin barat dengan nilai anomali antara 8 hingga 12 meter per detik terpantau di wilayah Indonesia bagian selatan (Jawa dan sekitarnya) dan barat daya (Sumatera) serta di perairan Samudera Hindia bagian selatan pulau Jawa. Bahkan pada seminggu terakhir (8-14 Januari 2011), anomali angin barat mencapai kekuatan 10 hingga 16 meter per detik lebih kencang dari biasanya.
Fenomena angin barat yang kencang ini agaknya dipengaruhi oleh kondisi iklim di benua Australia yang ekstrem. Sejak November 2010, Australia mengalami musim dingin yang ekstrem. Pada akhir Desember 2010, Australia bagian utara dan timur laut bahkan mengalami banjir besar. Badan Meteorologi Australia mencatat bulan Desember 2010 sebagai bulan terbasah di kota Queensland (timur laut Australia) sepanjang sejarah. Mereka menyatakan, banjir besar yang melanda sebagian besar utara Australia terkait dengan fenomena La Nina kuat pada bulan Desember. Indeks SOI pada saat itu menunjukkan nilai tertinggi (+27.1) sejak tahun 1974.
Badai Tropis
Angin barat yang kencang di wilayah Indonesia terjadi karena pengaruh pusat konvergensi yang terbentuk di bagian selatan perairan Samudera Hindia dan Australia barat daya. Pusat konvergensi ini dapat dikenali dari anomali suhu permukaan laut di Samudera Hindia yang mengalami anomali panas melebihi 3 derajat Celcius. Hal ini memicu pembentukan badai tropis di kawasan tersebut. Buktinya, sejak akhir Desember 2010 berulang kali terjadi Badai tropis. Tercatat pada akhir Desember hingga awal Januari terjadi badai tropis Tasha, Vince. Lalu baru-baru ini (28 Januari) badai tropis Wilma terjadi di sekitar New Zealand dan siklon Anthony terbentuk di sekitar timur laut Australia. Sementara pada 30 Januari terjadi siklon Yasi.
Terjadinya depresi tropis yang intensif ini telah terbukti secara efektif menyedot awan-awan konvektif yang berseliweran di atas wilayah Indonesia sehingga menggagalkan proses konveksi dan meniadakan hujan.
Gabungan antara dinamika iklim ekstrem di Australia, pusat konvergensi di Samudera Hindia, dan badai tropis inilah yang antara lain menyebabkan angin kencang masih kerap terjadi di wilayah Indonesia. Nyatanya pula, meski La Nina terekam kuat (dengan indeks +1,5 derajat Celcius), namun tidak memberikan dampak pada curah hujan yang besar di Indonesia.
*) Peneliti Sains Atmosfer pada Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim, LAPAN
Catatan: tulisan ini diterbitkan di Pikiran Rakyat, 17 Februari 2011
24 Januari 2011
Hamilku Bahagia, Bagaimana dengan Anda?

===========================================
Judul: Hamilku Bahagiaku
Penerbit: Leutika Publisher
Halaman: 205
Harga: Rp 40.000 (empat puluh ribu rupiah)
===========================================
Alhamdulillah, buku "Hamilku Bahagiaku" telah terbit di pertengahan Januari 2011.
Berikut ini sekelumit pengantar yang saya tulis untuk buku ketujuh saya ini,
yang ditulis bersama dengan enam orang lainnya.
Buku “Hamilku bahagiaku” ini saya tulis bukan karena saya adalah orang yang mahir dalam mengelola emosi di kala hamil dan nifas. Sebaliknya, ide ini terlintas di kepala karena saya mengalami banyak masalah dalam meredam dan mengelola emosi selama hamil dan nifas.
Dugaan saya, ada sekian banyak wanita yang bernasib sama seperti saya. Para ibu muda yang merasa shock saat menyadari bahwa bayi mereka selain membentangkan begitu banyak harapan dan kebahagiaan, ternyata juga menyita sangat banyak energi, waktu dan perhatian. Sehingga bayi mungil yang lucu bisa saja berubah menjadi “monster” yang mengerikan ketika makhluk kecil itu sangat rewel, sering menangis tanpa sebab, dan terjaga sepanjang hari menuntut perhatian.
Buku ini memberikan ulasan yang cerdas dan lugas mengenai perilaku emosional para ibu hamil dan nifas. Sebuah buku hamil yang fokus pada uraian psikologis wanita hamil dan nifas, baik teori maupun praktek. Para pembaca tak hanya diajak memahami emosi wanita hamil, tapi juga disuguhi cara-cara mudah untuk mengelolanya. Tak ayal, buku ini membimbing para wanita menjadi cerdas emosi tatkala hamil dan nifas. Sebab penulisannya mengacu pada referensi para pakar psikologi wanita yang valid dan ilmiah.
Selain itu, buku ini memuat kumpulan kisah nyata yang dialami para ibu dan calon ibu saat mereka harus menjalani momen yang indah sekaligus “merepotkan” itu. Kisah-kisah dalam buku ini, sebagian ada yang begitu dramatis, penuh gejolak, dan mengaduk emosi. Sebagian lainnya terasa menggelikan, sedikit aneh, dan kelihatan tak nyata. Sebagiannya lagi mungkin akan membuat Anda terkekeh dan terpingkal-pingkal. Yang pasti, buku ini memicu Anda mencari jawaban atas pertanyaan, ”seperti itukah hamil? begitukah rasanya melahirkan? demikiankah nifas?”
Hampir semua kisah yang dituturkan dalam buku ini menunjukkan bahwa ada seribu satu kemungkinan yang bakal dihadapi setiap wanita hamil seputar kehamilan dan persalinannya. Adagium bahwa persalinan anak pertama adalah yang terberat, runtuh seketika. Karena setiap peristiwa kehamilan laksana magnet yang mampu menyedot sekumpulan kendala datang mengelilinginya.
Mungkin Anda memiliki pengalaman yang sama, lebih ringan, atau malah lebih dahsyat dibandingkan kisah-kisah yang ada di buku ini. Apapun itu, dengan membaca buku ini, Anda akan merasa menjadi wanita yang kuat dan tidak pernah sendiri. Anda bersama-sama jutaan wanita lainnya yang pernah hamil, melahirkan, dan mengalami nifas yang berat. Buku ini membantu Anda menemukan diri sendiri.
Benarkah? Anda akan tahu setelah membacanya.
Penulis,
Erma Yulihastin
Fenomena Angin Kencang di Musim Hujan
Oleh: Erma Yulihastin*)
Sejak awal Januari, Jawa Barat didera angin kencang. Uniknya, angin kencang ini terasa kering layaknya musim kemarau. Hujan lebat pun tidak turun pada saat terjadinya angin kencang tersebut. Di beberapa wilayah di Jawa Barat, angin kencang bahkan memorak-porandakan perumahan warga dan menumbangkan sejumlah pohon, seperti terjadi di Sukabumi (Pikiran Rakyat, 3/1). Angin kencang juga disebut-sebut sebagai biang keladi tewasnya dua orang akibat tertimpa pohon yang tumbang di Sukabumi (Pikiran Rakyat, 14/1).
Angin Kencang
Fenomena terjadinya angin barat yang bertiup sangat kencang dan terasa kering ini sesungguhnya bukanlah hal yang lumrah terjadi pada musim hujan. Kenapa? Sebab, pada saat musim hujan seharusnya angin yang bergerak vertikal (proses konveksi) lebih dominan dibandingkan angin zonal (angin yang bergerak secara horisontal dengan arah barat-timur). Angin vertikal yang menandai terjadinya proses konveksi itu merupakan ciri khas musim hujan.
Hal itu terjadi karena pengaruh aktifitas awan-awan konvektif (awan-awan tinggi yang berpotensi menimbulkan hujan deras) yang jauh lebih banyak terjadi di musim hujan dibandingkan pada periode musim yang lain (kemarau atau transisi). Meskipun memang benar bahwa musim hujan di wilayah Indonesia sebagian besar terjadi karena pengaruh angin monsunal yang bertiup dari barat ke timur, yang selama ini dikenal sebagai angin barat.
Angin barat ini terjadi karena pengaruh perbedaan panas yang diterima oleh lautan (samudera) dan daratan (benua). Pada periode Desember hingga Februari, matahari (seakan-akan) bergerak dan berada di bumi bagian selatan, sehingga benua Australia lebih panas dibandingkan benua Asia. Akibatnya, bertiuplah angin dari utara ke selatan, yang dalam perjalanannya yang sangat jauh itu membawa banyak sekali uap air dari Samudera Pasifik. Lalu, setibanya di wilayah Indonesia, angin utara (atau barat daya) tersebut mengalami pembelokan menjadi angin barat (bertiup dari barat ke timur).
Monsun Barat yang Kuat
Berdasarkan pemantauan satelit NOAA (National Oceanic and Atmospheric Administration), Amerika Serikat, selama satu bulan terakhir, rata-rata angin barat di wilayah Indonesia bagian barat (Jawa dan Sumatera bagian selatan) sangat kuat, dan memiliki anomali (keadaan di luar kondisi normalnya) sekitar 7-8 meter/detik. Angin barat yang berhembus sangat kuat ini hanya terjadi di sekitar Jawa dan Sumatera bagian selatan. Anomali angin barat yang kuat ini selaras dengan kondisi monsun Australia yang juga menguat bahkan melebihi kondisi normalnya, dengan anomali indeks mencapai positif 6 pada pertengahan Januari 2011.
Hal ini menandakan, terjadinya angin monsun barat pada bulan ini terutama di kawasan Indonesia bagian barat daya (Jawa dan Sumatera bagian selatan) tidaklah normal. Perlu diketahui, angin monsun adalah angin yang bertiup pada ketinggian sekitar 4 kilometer atau pada tekanan 850 milibar dari permukaan tanah. Angin monsun barat tampaknya bertiup terlalu kuat, dan ini dipengaruhi oleh terjadinya pusat konvergensi (tekanan rendah) di wilayah Samudera Hindia sebelah selatan pulau Jawa dan bagian barat laut benua Australia atau tepatnya pada lokasi 10-30 Lintang Selatan, 100 Bujur Timur. Pusat konvergensi ini terbentuk sangat kuat sehingga mempengaruhi angin barat di wilayah Indonesia. Jadilah angin barat di wilayah Indonesia menjadi semakin kuat karena tertarik oleh pusat konvergensi tersebut.
Kenapa terjadi pusat konvergensi? Pusat konvergensi di Samudera Hindia dekat barat laut Australia terjadi karena ada anomali pemanasan suhu permukaan laut hingga lebih dari 3 derajat Celcius. Sementara itu, di bagian tenggara wilayah Indonesia (Maluku, Nusa Tenggara dan sekitarnya) suhu permukaan laut juga mengalami anomali panas dengan kenaikan antara 1-2 derajat Celcius. Adapun di sebagian besar wilayah Indonesia suhu permukaan laut berada dalam keadaan yang normal.
Di samping itu, gelombang atmosfer MJO (Madden Julian Oscillation), yang juga merupakan salah satu pemicu terbentuknya awan-awan konvektif tidaklah aktif di wilayah Benua Maritim Indonesia. Berdasarkan pemantauan, sejak awal Januari, MJO tampak aktif dan kuat di wilayah Samudera Pasifik bagian barat.
Menurut prediksi yang dirilis NOAA, Amerika Serikat, gelombang MJO bakal tetap aktif di kawasan Samudera Pasifik barat hingga akhir Januari. Dengan demikian, gabungan antara terbentuknya pusat konvergensi di Samudera Hindia dan pasifnya gelombang MJO inulah yang menyebabkan angin monsun barat yang sangat kencang tersebut tidak mampu menghasilkan banyak hujan di bagian barat Indonesia sejak awal Januari.
*) Peneliti Sains Atmosfer pada Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim, LAPAN
Catatan: artikel ini dimuat di Pikiran Rakyat, 20 Januari 2011.
Kemarau Basah Seharusnya Untungkan Petani
Oleh ERMA YULIHASTIN
Sifat musim kemarau yang basah tahun ini semestinya menguntungkan petani. Bayangkan saja, pada Juli yang seharusnya merupakan puncak musim kemarau, intensitas curah hujan bulanan di sebagian besar wilayah Indonesia masih tergolong tinggi, yakni 75 hingga 575 milimeter berdasarkan pengamatan Satelit TRMM (Tropical Rainfall Measuring Mission).
Ini berarti dengan curah hujan sepanjang tahun yang cukup bahkan berlebih seharusnya petani dapat melakukan panen lebih sering sebab musim tanam pun akan lebih intens dibandingkan biasanya terutama untuk sawah tadah hujan. Untuk persawahan yang dikelola dengan sistem irigasi, panen padi seharusnya akan lebih banyak diperoleh mengingat ketersediaan air untuk irigasi melimpah.
Secara umum, dalam setahun terdapat tiga kali periode musim tanam dan tiga kali panen untuk pertanian yang memiliki pola irigasi. Hal ini berdasarkan kalender musim tanam yang dikeluarkan oleh PSDA (Pengelolaan Sumber Daya Air), Kementerian Pekerjaan Umum. Musim tanam pertama dilakukan pada Oktober dan panen pada Januari.
Musim tanam kedua dilakukan pada Februari dan panen pada Mei. Musim tanam ketiga diawali pada Juni dan panen pada September. Hujan yang berlimpah pada periode musim kemarau (April hingga September) seharusnya akan berdampak pada peningkatan produksi panen pada musim tanam ketiga (Juni-September). Sayangnya, ini tidak terjadi. Petani justru mengalami kerugian karena gagal panen akibat banjir dan serangan hama (Kompas, 19/7).
Bencana tersebut bahkan mengakibatkan turunnya produksi dan melonjaknya harga akibat spekulasi. Meski terjadi lonjakan harga padi, hal ini tidak berbanding lurus dengan pendapatan petani yang justru menurun, bahkan ada yang menderita kerugian total. Secara nasional bahkan keadaan semacam ini dipercaya berpotensi mengancam ketersediaan pangan (Kompas, 19/7).
Informasi iklim
Ada beberapa hal yang menyebabkan ancaman terhadap menurunnya produksi pertanian. Pertama, minimnya pengetahuan dan pemahaman petani mengenai anomali iklim yang terjadi pada musim kemarau tahun ini. Hal ini sekaligus membuktikan bahwa informasi akurat mengenai iklim dan cuaca sangat dibutuhkan petani.
Selama ini mereka melakukan masa tanam hanya berbekal dari pengetahuan sederhana mengenai pergantian musim yang dikaitkan dengan tanda-tanda alam. Misalnya, petani di Tatar Sunda mengamati rasi bintang, masa berbunga tanaman randu, nyanyian suara serangga dan tenggoret sebagai tanda pergantian musim (Johan Iskandar; Kompas, 2/7).
Satu-satunya pengetahuan modern yang menjadi andalan petani adalah kalender musim tanam yang dikeluaran Kementerian Pertanian dan Kementerian Pekerjaan Umum. Kalender yang menjadi acuan petani untuk memulai tanam padi tersebut dibuat berdasarkan hasil pencatatan alat penakar curah hujan yang dipasang di area persawahan mereka.
Sayangnya, untuk fenomena yang bersifat anomali seperti kemarau basah yang terjadi saat ini, kalender semacam itu tidak lagi bisa menjadi panduan tepercaya. Apalagi, tingkat ketidakpastian kondisi iklim semakin besar dalam beberapa tahun terakhir. Oleh karena itu, informasi iklim yang akurat sangat diperlukan petani dalam menghadapi ketidakpastian tersebut.
Kedua, minimnya sosialisasi dari pemerintah, dalam hal ini lembaga atau kementerian terkait yang dapat menjelaskan anomali iklim yang sedang terjadi. Seharusnya, pemerintah melalui beberapa kementerian terkait mengintegrasikan dan memublikasikan informasi kepada petani, yang tidak hanya bersifat pengetahuan ilmiah mengenai kondisi iklim dewasa ini, tetapi juga tentang informasi yang bersifat arahan teknis dan aplikatif yang langsung dapat diterapkan petani untuk beradaptasi dengan kondisi yang ada.
Misalnya, informasi mengenai kemarau basah juga dibarengi dengan arahan nyata agar petani mengubah jenis tanaman dari jagung atau kedelai yang biasa ditanam pada saat kemarau menjadi padi. La Nina
Hujan agaknya masih akan terus membayangi wilayah Indonesia hingga beberapa bulan mendatang. Hal ini karena munculnya satu fenomena baru yang terjadi pada pertengahan Juli lalu. Fenomena tersebut adalah La Nina, yang menunjukkan periode di mana suhu permukaan laut di kawasan Samudra Pasifik ekuator mendingin dengan anomali suhu lebih rendah dari negatif 0.5 derajat celcius.
Indeks Nino 3.4 menunjukkan La Nina terjadi dengan nilai mendekati negatif 1 derajat celcius (-0.97 derajat celcius). Nino 3.4 adalah kawasan di bagian tengah Samudra Pasifik ekuator yang selama ini disimpulkan para ahli meteorologi berpengaruh paling signifikan terhadap gangguan iklim di wilayah Indonesia.
Berdasarkan data, terbentuknya La Nina di Samudra Pasifik selama ini telah nyata memiliki pengaruh bagi terbentuknya banyak hujan di Indonesia. La Nina terkuat tercatat terjadi pada 1998. Pada saat itu iklim di Indonesia mengalami ekstrem basah yang ditandai dengan turunnya hujan lebat sehingga memperpanjang musim hujan dan mengakibatkan terjadinya banjir besar di sebagian besar wilayah Indonesia. Oleh karena itu, terjadinya La Nina, meskipun masih dalam intensitas lemah (indeks 0.5-1 derajat celcius), patut diwaspadai.
Peluang terjadinya La Nina di Samudra Pasifik pada Agustus, September, dan Oktober adalah 80 persen. Peluang terjadinya kondisi normal menurun menjadi 20, 20, 19 persen berturut-turut. Demikian seperti yang dilansir IRI (International Research Institute for Climate and Society), Columbia. Peluang terjadinya La Nina berdasarkan model dinamik POAMA, Australia, juga menunjukkan terjadinya La Nina kisaran nilai -0.5 hingga -1 derajat celcius akan berlangsung hingga Februari 2011.
Maka jelaslah, kemunculan La Nina ini telah memperkuat faktor pemicu kemarau basah lainnya yang telah terjadi sejak lebih awal (sekitar Maret). Faktor tersebut di antaranya adalah pemanasan suhu permukaan laut lokal di wilayah Indonesia, peningkatan temperatur di daratan Indonesia, osilasi MJO (Madden Julian Oscillation) di kawasan Indonesia dan Samudra Hindia, badai tropis di Samudra Hindia dan Pasifik.
Dengan melihat kondisi ini, sebaiknya petani segera mempersiapkan diri menyongsong musim tanam padi selanjutnya. Sepanjang musim kemarau yang umumnya terjadi hingga Oktober, hujan masih akan sering terjadi dengan intensitas ringan hingga sedang. Pada November musim hujan akan menjelang sehingga curah hujan akan mengalami peningkatan signifikan.
ERMA YULIHASTIN Peneliti Sains Atmosfer pada Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim Lapan Bandung
Catatan: Artikel ini telah dimuat Kompas, 14 September 2010.
19 Agustus 2010
Waspadai Hujan Ekstrem
Banjir kembali melanda beberapa daerah di Jawa Barat. Puluhan rumah di Tasikmalaya terendam banjir sementara ratusan hektare sawah serta kolam rusak dan jebol (Pikiran Rakyat, 16/8). Banjir juga melanda beberapa kelurahan di wilayah Ciamis (MetroTV, 15/8). Seperti diberitakan, hujan yang turun dengan frekuensi dan intensitas tinggi dikatakan sebagai penyebab utama terjadinya banjir yang kembali marak bulan ini. Apa yang menyebabkan hujan kembali terjadi pada bulan Agustus? Apakah hujan pada bulan Agustus akan meningkat atau menurun dibandingkan dengan bulan lalu?
La Nina lemah
Di sela-sela musim kemarau yang didera banyak hujan, fenomena La Nina muncul pada pertengahan Juli lalu. La Nina atau disebut juga dengan fase dingin, yakni periode di mana suhu permukaan laut di kawasan Samudra Pasifik ekuator mendingin dengan anomali suhu lebih rendah dari negatif 0.5 derajat Celsius. Bahkan, status terakhir di bulan Juli, indeks Nino 3.4 menunjukkan nilai mendekati negatif 1 derajat Celsius (-0.97 derajat Celsius). Nino 3.4 adalah kawasan di bagian tengah Samudra Pasifik ekuator yang selama ini diteliti para ahli meteorologi memiliki pengaruh paling signifikan terhadap gangguan iklim di wilayah Indonesia.
Terbentuknya La Nina di Samudra Pasifik selama ini memiliki pengaruh bagi terbentuknya banyak hujan di Indonesia. La Nina terkuat yang tercatat terjadi pada tahun 1998. Pada saat itu, iklim di Indonesia mengalami ekstrem basah yang ditandai dengan turunnya hujan lebat sehingga memperpanjang musim hujan dan mengakibatkan terjadinya banjir di sebagian besar wilayah Indonesia. Oleh karena itu, terjadinya La Nina, meskipun masih dalam intensitas lemah (indeks antara 0.5-1 derajat Celsius), patut diwaspadai.
Berdasarkan data anomali temperatur permukaan laut di wilayah ekuator yang dikeluarkan oleh Satelit NOAA (National Oceanic and Atmospheric Administration), Amerika Serikat, kolam dingin dengan anomali suhu negatif 1-5 derajat Celcius terjadi di wilayah Samudra Pasifik ekuator bagian tengah dan bagian timur. Kolam dingin ini terbentuk dari permukaan hingga kedalaman sekitar 200 meter di bawah permukaan laut. Secara kontras, kolam hangat dengan nilai anomali sekitar positif 1.5 derajat Celcius terjadi di wilayah Indonesia (Papua dan sekitarnya) dengan kedalaman antara 250 hingga 450 meter. Perbedaan yang kontras antara kolam hangat di sekitar Papua dan kolam dingin di Samudra Pasifik akan menambah peningkatan aktivitas konveksi di wilayah Indonesia. Akibatnya, suplai awan dari Samudra Pasifik akan semakin banyak menuju Indonesia sehingga iklim di wilayah benua maritim akan semakin basah oleh hujan.
Data yang menunjukkan La Nina lemah tersebut diperkuat data indeks SOI (Southern Oscillation Index) yang dikeluarkan Badan Meteorologi Australia. Indeks menunjukkan lonjakan drastis hingga mencapai nilai positif 19.4 pada akhir Juli. Indeks SOI ini tercatat merupakan nilai tertinggi sejak dua tahun terakhir. Hal ini menunjukkan tekanan atmosfer di level permukaan yang berada di atas wilayah Tahiti jauh lebih besar dibandingkan dengan tekanan di atas wilayah Darwin. Akibatnya, terbentuklah angin yang sangat kuat dari Tahiti menuju Darwin melalui Indonesia. Angin ini bersifat lembap dan membawa banyak uap air karena dalam perjalanan panjangnya dari Tahiti menuju Darwin melewati Samudra Pasifik yang luas.
Peluang terjadinya La Nina di Samudra Pasifik pada bulan Agustus, September, dan Oktober adalah 80 persen. Sementara peluang terjadinya kondisi normal menurun menjadi 20, 20, 19 persen berturut-turut. Demikian seperti yang dilansir IRI (International Research Institute for Climate and Society), Columbia. Peluang terjadinya La Nina berdasarkan model dinamik POAMA, Australia juga menunjukkan terjadinya La Nina kisaran nilai -0.5 hingga -1 derajat Celsius yang akan berlangsung hingga Februari 2011.
Hujan meningkat
Hujan pada bulan Agustus secara umum akan mengalami peningkatan di Pulau Jawa. Hal ini sebagaimana tampak dari hasil prediksi model Darlam Lapan. Curah hujan di Pulau Jawa selama Agustus akan bertambah secara akumulatif antara 100-200 milimeter dibandingkan dengan bulan Juli yang berkisar antara 50-150 milimeter. Curah hujan yang mengalami peningkatan antara 150-200 milimeter pada bulan Agustus terjadi di sebagian besar Jawa Timur dan Jawa Barat bagian utara. Peningkatan curah hujan pada bulan Agustus ini kemungkinan besar disebabkan oleh pengaruh terjadinya La Nina. Sementara itu, berdasarkan pantauan satelit TRMM (Tropical Rainfall Measuring Mission), Jepang-Amerika Serikat, curah hujan selama bulan Juli di pulau Jawa berkisar antara 25 hingga 225 milimeter.
Prediksi terjadinya peningkatan curah hujan pada bulan Agustus memiliki setidaknya tiga kemungkinan terkait dengan proses pembentukannya. Pertama, peningkatan frekuensi hujan. Hujan di Pulau Jawa akan sering terjadi dengan intensitas antara ringan dan sedang pada Agustus. Kedua, peningkatan intensitas hujan. Hujan yang meningkat di pulau Jawa selama Agustus meskipun jarang tetapi merupakan jenis hujan dengan intensitas besar atau bahkan ekstrem. Ketiga, hujan ekstrem dan sering. Kemungkinan ketiga inilah yang patut diwaspadai karena jika hujan di bulan Agustus terjadi secara sering dengan intensitas yang besar bahkan ekstrem, tak ayal banjir pun bakal terjadi pada bulan Agustus. ***
Erma Yulihastin, peneliti sains atmosfer pada Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim, Lapan Bandung.
Catatan: artikel ini dimuat di Pikiran Rakyat, 19 Agustus 2010.
18 Juli 2010
Sekar dan Kecerdasan Mekanik
“Bunda, aku tahu bagaimana caranya air itu bisa keluar dari galon.”
Saat itu kami berdua sedang bersantai di ruang tengah yang juga merangkap sebagai ruang makan keluarga. Di pojok ruang ada sebuah galon air mineral yang ditempatkan di atas sebuah penampungan air yang terbuat dari keramik. Kran penampungan air minum tersebut memiliki cara kerja tertentu sehingga air akan keluar ketika keran ditarik ke arah atas.
“Oh, ya? Gimana?” Tanya saja sembari makan.
“Sebentar ya…”
Bergegas putri pertamaku mengambil sebuah spidol warna hitam dan kertas A4 bekas yang telah ia gambari sebelumnya dengan krayon. Lalu, dengan tangkas dan cekatan, ia pun mulai menggoreskan sketsa menggunakan tangan kirinya, dengan pandangan yang sesekali melirik ke arah galon. Gayanya menggambar sangat meyakinkan, setiap sketsa hanya digoreskan sekali saja tanpa harus diulang atau ditebalkan.
Pertama-tama, ia menggambar kran lengkap dengan bagian-bagiannya. Selanjutnya ia menggambar bagian (semacam selang) yang menghubungkan antara kran dan galon. Di dalam selang tersebut, ia menggambar alat sumbatan atau penghalang dalam posisi vertikal. Ketiga, ia menggambar galon lalu ia menggambar penampungan keramik dan kaki-kaki yang menyangga di bagian bawahnya. Terakhir, ia menulis “AKUA” di bagian atas gambarnya.
“Nah, gini Bunda. Kalau ujung kran sebelah sini ditarik ke atas, maka penghalang ini akan berubah posisinya menjadi begini.” Ia pun mengubah posisi sumbatan tersebut dari vertikal menjadi horisontal.
“Jadi kan kalau begini, air dari galon bisa ngalir…,” ujarnya dengan bersemangat.
“Kok kamu tahu? Siapa yang ngajari?”
“Itu karena aku berpikir Bunda… berpikir…” pilihan kata “berpikir” yang diungkapkannya membuat saya menahan geli.
Saya membatin dalam hati, dulu rasanya waktu saya seumur Sekar (5 tahun 9 bulan), saya tidak secerdas itu. Ah, jangankan sampai berpikir cara kerja sebuah alat, menjelaskan kepada orang lain dengan bantuan gambar pun rasanya dulu tak pernah.
Sementara Sekar, jika saya menanyakannya tentang apapun, ia akan menggunakan kalimat panjang untuk bercerita dan tak lupa mempertegasnya dengan gambar. Seperti saat saya bertanya, “Kamu duduk di barisan pertama atau kedua di kelas?” Atau pertanyaan saya, “Kelas kamu yang sebelah mana, sih?” Maka Sekar dengan antusias mengambil alat gambar dan mulai menggambarkan apa yang saya tanyakan.
Saya percaya, ia tidak mempelajari kecerdasannya itu dari sekolah. Sebab, selama duduk di bangku Taman Kanak-kanak, kegiatannya sehari-hari adalah bermain dan bermain baik sendiri maupun dalam kelompok. Saya memang memilihkan TK yang berorientasi pada “bermain” daripada “belajar” yang kerap diartikan sebagai belajar dalam hal membaca, menulis, berhitung (calistung).
Uniknya, ternyata dengan lingkungan pembelajaran TK yang membebaskan itulah justru yang membuat anak saya dapat berpikir secara kreatif dan cerdas.
Sementara saya pun yakin, pada usia yang sama, anak saya ternyata memiliki kecerdasarn spasial, pandang ruang, dan mekanik yang lebih baik daripada saya.
“Tapi, aku nggak tahu caranya kalau krannya ditekan ke bawah..”
Jawabnya mengakhiri penjelasannya yang panjang lebar.
Tidak ada yang lebih membahagiakan bagi orang tua selain mengenali potensi kecerdasan anaknya.
-Bunda Inspirana-
Bandung, 19 Juli 2010.
Saat itu kami berdua sedang bersantai di ruang tengah yang juga merangkap sebagai ruang makan keluarga. Di pojok ruang ada sebuah galon air mineral yang ditempatkan di atas sebuah penampungan air yang terbuat dari keramik. Kran penampungan air minum tersebut memiliki cara kerja tertentu sehingga air akan keluar ketika keran ditarik ke arah atas.
“Oh, ya? Gimana?” Tanya saja sembari makan.
“Sebentar ya…”
Bergegas putri pertamaku mengambil sebuah spidol warna hitam dan kertas A4 bekas yang telah ia gambari sebelumnya dengan krayon. Lalu, dengan tangkas dan cekatan, ia pun mulai menggoreskan sketsa menggunakan tangan kirinya, dengan pandangan yang sesekali melirik ke arah galon. Gayanya menggambar sangat meyakinkan, setiap sketsa hanya digoreskan sekali saja tanpa harus diulang atau ditebalkan.
Pertama-tama, ia menggambar kran lengkap dengan bagian-bagiannya. Selanjutnya ia menggambar bagian (semacam selang) yang menghubungkan antara kran dan galon. Di dalam selang tersebut, ia menggambar alat sumbatan atau penghalang dalam posisi vertikal. Ketiga, ia menggambar galon lalu ia menggambar penampungan keramik dan kaki-kaki yang menyangga di bagian bawahnya. Terakhir, ia menulis “AKUA” di bagian atas gambarnya.
“Nah, gini Bunda. Kalau ujung kran sebelah sini ditarik ke atas, maka penghalang ini akan berubah posisinya menjadi begini.” Ia pun mengubah posisi sumbatan tersebut dari vertikal menjadi horisontal.
“Jadi kan kalau begini, air dari galon bisa ngalir…,” ujarnya dengan bersemangat.
“Kok kamu tahu? Siapa yang ngajari?”
“Itu karena aku berpikir Bunda… berpikir…” pilihan kata “berpikir” yang diungkapkannya membuat saya menahan geli.
Saya membatin dalam hati, dulu rasanya waktu saya seumur Sekar (5 tahun 9 bulan), saya tidak secerdas itu. Ah, jangankan sampai berpikir cara kerja sebuah alat, menjelaskan kepada orang lain dengan bantuan gambar pun rasanya dulu tak pernah.
Sementara Sekar, jika saya menanyakannya tentang apapun, ia akan menggunakan kalimat panjang untuk bercerita dan tak lupa mempertegasnya dengan gambar. Seperti saat saya bertanya, “Kamu duduk di barisan pertama atau kedua di kelas?” Atau pertanyaan saya, “Kelas kamu yang sebelah mana, sih?” Maka Sekar dengan antusias mengambil alat gambar dan mulai menggambarkan apa yang saya tanyakan.
Saya percaya, ia tidak mempelajari kecerdasannya itu dari sekolah. Sebab, selama duduk di bangku Taman Kanak-kanak, kegiatannya sehari-hari adalah bermain dan bermain baik sendiri maupun dalam kelompok. Saya memang memilihkan TK yang berorientasi pada “bermain” daripada “belajar” yang kerap diartikan sebagai belajar dalam hal membaca, menulis, berhitung (calistung).
Uniknya, ternyata dengan lingkungan pembelajaran TK yang membebaskan itulah justru yang membuat anak saya dapat berpikir secara kreatif dan cerdas.
Sementara saya pun yakin, pada usia yang sama, anak saya ternyata memiliki kecerdasarn spasial, pandang ruang, dan mekanik yang lebih baik daripada saya.
“Tapi, aku nggak tahu caranya kalau krannya ditekan ke bawah..”
Jawabnya mengakhiri penjelasannya yang panjang lebar.
Tidak ada yang lebih membahagiakan bagi orang tua selain mengenali potensi kecerdasan anaknya.
-Bunda Inspirana-
Bandung, 19 Juli 2010.
07 Juli 2010
Pemanasan Global dan Anomali Kemarau
Hujan pada bulan Juni merupakan hal yang absurd di masa lalu. Namun saat ini absurdisitas tersebut tak berlaku lagi. Kenyataannya, di bulan Juni wilayah Indonesia masih sering diguyur hujan. Gara-gara itu pula, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika bergegas merevisi awal musim kemarau tahun 2010 yang tadinya sekitar Maret-April menjadi Juli-Agustus dengan kecenderu-ngan musim kemarau lebih pendek dari normalnya. Dengan kata lain, tahun ini telah terjadi anomali musim kemarau.
Hujan mendera
Hujan yang masih sering turun di bulan Juni terekam oleh satelit pemantau hujan TRMM (Tropical Rainfall Measuring Mission) milik Badan Penerbangan Jepang (JAXA) dan Amerika Serikat (NASA). Tak tanggung-tanggung, hujan lebat dengan intensitas antara 200 hingga 575 milimeter selama Juni terjadi merata di seluruh Indonesia, kecuali wilayah tenggara Indonesia (Nusa Tenggara dan sekitarnya) yang memiliki curah hujan kurang dari 25 milimeter.
Secara lebih detail dapat dijelaskan bahwa sepanjang Juni tampak terjadi pengura-ngan hujan secara bertahap di Pulau Jawa. Pada periode dasarian pertama (1-10 Juni) dan dasarian kedua (11-20 Juni), curah hujan di Jawa ber-kisar antara 25 sampai 125 milimeter, kecuali Jawa Timur bagian timur (Jember, Banyuwangi, dan sekitarnya) yang memiliki curah hujan kurang dari 25 milimeter. Sementara pada dasarian ketiga (21-30 Juni), curah hujan kurang dari 25 milimeter terjadi di sebagian besar Jawa (Jawa Timur, Jawa Barat bagian tengah dan timur, Jawa Tengah bagian barat).
Kemarau tertunda
Ada yang tidak sesuai antara pola angin dan pola hujan pada bulan Juni tahun ini. Data angin pada Juni menunjukkan angin timur (tenggara) terjadi cukup kuat dan homogen di atas wilayah Indonesia. Angin timur ini bersifat kering dan dingin karena berasal dari daratan Australia yang saat ini sedang mengalami musim dingin. Karena bersifat kering itulah, angin tersebut menga-kibatkan musim kemarau pada saat melewati benua maritim Indonesia.
Seharusnya, pola angin timur yang kering ini juga didukung oleh data hujan yang semakin berkurang di bulan Juni. Secara klimatologis hujan selama sepuluh hari berturut-turut (1-10 Juni) seharusnya memiliki intensitas kurang dari 50 milimeter, yang secara konsisten diikuti oleh dua dasarian berikutnya (11-20 Juni, 21-30 Juni). Dengan kata lain, total curah hujan selama Juni haruslah kurang dari 150 milimeter. Kenya-taannya, seperti diungkapkan sebelumnya di atas, curah hujan di wilayah Indonesia selama Juni masih sekitar 200 hingga 575 milimeter. Inilah kemudian yang menjadi dasar keputusan BMKG untuk menunda awal musim kemarau menjadi Juli-Agustus.
Pemanasan global
Selama bulan Juni tidak terjadi La Nina, Dipole Mode, dan MJO. Dengan kata lain, kondisi suhu permukaan laut di Samudra Pasifik dan Samudra Hindia berada dalam rentang yang normal. Seperti diketahui, anomali suhu yang terjadi di Samudra Pasifik dan Samudra Hindia dapat mempengaruhi variasi atau bahkan perubahan musim di wilayah Indonesia.
Lantas apa penyebab hujan yang masih sering terjadi di musim kemarau?
Pertama, terjadi pemanasan suhu permukaan laut di lautan Indonesia yang meningkat antara 0.5 sampai 2 derajat Celsius. Peningkatan suhu permukaan laut yang paling tinggi terjadi di Samudra Hindia selatan Jawa dan barat laut Sumatra serta di sekitar selat Makasar. Pemanasan suhu permukaan laut inilah rupanya yang telah berpotensi menciptakan daerah konvergensi (pusat tekanan rendah) di wilayah Indonesia, menyedot awan-awan konvektif (jenis awan-awan tinggi yang berpotensi menimbulkan hujan lebat disertai petir) dari Samudra Hindia. Peningkatan suhu permukaan laut ini bahkan telah berkolaborasi dengan peningkatan suhu permukaan di atas daratan sehingga Sumatra dan Jawa selama bulan Mei mengalami suhu yang ekstrem panas. Juga pada pekan pertama Juni, suhu ekstrem panas masih berlangsung di Jawa, Bali, Kalimantan, Sulawesi. Pema-nasan suhu permukaan laut dan suhu daratan di sejumlah wilayah di Indonesia ini ke-mungkinan berhubungan dengan terjadinya anomali pe-ningkatan suhu permukaan (antara 2 hingga 6 derajat Celsius) pada sekitar 80 persen daratan di seluruh dunia selama Mei. Sementara anomali penurunan suhu (minus 2-6 derajat Celsius) terjadi meliputi tak lebih dari 5 persen daratan di dunia. Hal ini sebagaimana dilansir oleh IRI (The International Research Institute for Climate and Society), Columbia.
Kedua, penurunan suhu di Samudra Pasifik. Peningkatan suhu permukaan laut di lautan Indonesia tersebut ternyata seiring dengan penurunan suhu di Samudra Pasifik sekitar -0.5 derajat Celsius. Meskipun penurunan suhu di Samudra Pasifik ini masih normal dan belum tergolong La Nina, tetapi sinyal dingin yang dikirimkan dari Samudra Pasifik ini cukup efektif memblokir awan-awan konvektif agar tidak lekas meninggalkan wilayah Indonesia. Buktinya, mendung dan hujan masih mendera di atas atmosfer Indonesia selama bulan Juni ini.
Ketiga, tidak bisa dimungkiri, hujan yang masih sering terjadi di Indonesia juga dipengaruhi oleh dinamika atmosfer pada skala regional. Terjadinya Badai Tropis di Teluk Bengala (India) selama sepekan terakhir Mei ikut memengaruhi proses pembentukan awan dan hujan di Indonesia (terutama di Jawa dan Sumatra). Pada awal Juni, Badai Tropis muncul kembali di sekitar Laut Arab dan Oman. Demikian pula pada akhir Juni (30 Juni) terdapat badai Tropis di Samudra Hindia dekat Pulau Sumatra.
Analisis peningkatan suhu global selama dua bulan terakhir menunjukkan hujan yang masih sering turun di wilayah Indonesia secara utama dipengaruhi oleh terjadinya panas ekstrem di daratan dan peningkatan suhu permukaan laut di perairan lokal Indonesia. Kedua pe-ningkatan suhu tersebut, tak bisa dimungkiri, merupakan fenomena yang menjadi bagian dari pemanasan global. Meskipun begitu, untuk me-nyimpulkan adanya kaitan antara anomali kemarau dan pemanasan global dibutuhkan penelitian lebih mendalam dan komprehensif.***
Erma Yulihastin, peneliti pada Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim Lapan.
Catatan: tulisan ini dimuat di Pikiran Rakyat, 8 Juli 2010.
Hujan mendera
Hujan yang masih sering turun di bulan Juni terekam oleh satelit pemantau hujan TRMM (Tropical Rainfall Measuring Mission) milik Badan Penerbangan Jepang (JAXA) dan Amerika Serikat (NASA). Tak tanggung-tanggung, hujan lebat dengan intensitas antara 200 hingga 575 milimeter selama Juni terjadi merata di seluruh Indonesia, kecuali wilayah tenggara Indonesia (Nusa Tenggara dan sekitarnya) yang memiliki curah hujan kurang dari 25 milimeter.
Secara lebih detail dapat dijelaskan bahwa sepanjang Juni tampak terjadi pengura-ngan hujan secara bertahap di Pulau Jawa. Pada periode dasarian pertama (1-10 Juni) dan dasarian kedua (11-20 Juni), curah hujan di Jawa ber-kisar antara 25 sampai 125 milimeter, kecuali Jawa Timur bagian timur (Jember, Banyuwangi, dan sekitarnya) yang memiliki curah hujan kurang dari 25 milimeter. Sementara pada dasarian ketiga (21-30 Juni), curah hujan kurang dari 25 milimeter terjadi di sebagian besar Jawa (Jawa Timur, Jawa Barat bagian tengah dan timur, Jawa Tengah bagian barat).
Kemarau tertunda
Ada yang tidak sesuai antara pola angin dan pola hujan pada bulan Juni tahun ini. Data angin pada Juni menunjukkan angin timur (tenggara) terjadi cukup kuat dan homogen di atas wilayah Indonesia. Angin timur ini bersifat kering dan dingin karena berasal dari daratan Australia yang saat ini sedang mengalami musim dingin. Karena bersifat kering itulah, angin tersebut menga-kibatkan musim kemarau pada saat melewati benua maritim Indonesia.
Seharusnya, pola angin timur yang kering ini juga didukung oleh data hujan yang semakin berkurang di bulan Juni. Secara klimatologis hujan selama sepuluh hari berturut-turut (1-10 Juni) seharusnya memiliki intensitas kurang dari 50 milimeter, yang secara konsisten diikuti oleh dua dasarian berikutnya (11-20 Juni, 21-30 Juni). Dengan kata lain, total curah hujan selama Juni haruslah kurang dari 150 milimeter. Kenya-taannya, seperti diungkapkan sebelumnya di atas, curah hujan di wilayah Indonesia selama Juni masih sekitar 200 hingga 575 milimeter. Inilah kemudian yang menjadi dasar keputusan BMKG untuk menunda awal musim kemarau menjadi Juli-Agustus.
Pemanasan global
Selama bulan Juni tidak terjadi La Nina, Dipole Mode, dan MJO. Dengan kata lain, kondisi suhu permukaan laut di Samudra Pasifik dan Samudra Hindia berada dalam rentang yang normal. Seperti diketahui, anomali suhu yang terjadi di Samudra Pasifik dan Samudra Hindia dapat mempengaruhi variasi atau bahkan perubahan musim di wilayah Indonesia.
Lantas apa penyebab hujan yang masih sering terjadi di musim kemarau?
Pertama, terjadi pemanasan suhu permukaan laut di lautan Indonesia yang meningkat antara 0.5 sampai 2 derajat Celsius. Peningkatan suhu permukaan laut yang paling tinggi terjadi di Samudra Hindia selatan Jawa dan barat laut Sumatra serta di sekitar selat Makasar. Pemanasan suhu permukaan laut inilah rupanya yang telah berpotensi menciptakan daerah konvergensi (pusat tekanan rendah) di wilayah Indonesia, menyedot awan-awan konvektif (jenis awan-awan tinggi yang berpotensi menimbulkan hujan lebat disertai petir) dari Samudra Hindia. Peningkatan suhu permukaan laut ini bahkan telah berkolaborasi dengan peningkatan suhu permukaan di atas daratan sehingga Sumatra dan Jawa selama bulan Mei mengalami suhu yang ekstrem panas. Juga pada pekan pertama Juni, suhu ekstrem panas masih berlangsung di Jawa, Bali, Kalimantan, Sulawesi. Pema-nasan suhu permukaan laut dan suhu daratan di sejumlah wilayah di Indonesia ini ke-mungkinan berhubungan dengan terjadinya anomali pe-ningkatan suhu permukaan (antara 2 hingga 6 derajat Celsius) pada sekitar 80 persen daratan di seluruh dunia selama Mei. Sementara anomali penurunan suhu (minus 2-6 derajat Celsius) terjadi meliputi tak lebih dari 5 persen daratan di dunia. Hal ini sebagaimana dilansir oleh IRI (The International Research Institute for Climate and Society), Columbia.
Kedua, penurunan suhu di Samudra Pasifik. Peningkatan suhu permukaan laut di lautan Indonesia tersebut ternyata seiring dengan penurunan suhu di Samudra Pasifik sekitar -0.5 derajat Celsius. Meskipun penurunan suhu di Samudra Pasifik ini masih normal dan belum tergolong La Nina, tetapi sinyal dingin yang dikirimkan dari Samudra Pasifik ini cukup efektif memblokir awan-awan konvektif agar tidak lekas meninggalkan wilayah Indonesia. Buktinya, mendung dan hujan masih mendera di atas atmosfer Indonesia selama bulan Juni ini.
Ketiga, tidak bisa dimungkiri, hujan yang masih sering terjadi di Indonesia juga dipengaruhi oleh dinamika atmosfer pada skala regional. Terjadinya Badai Tropis di Teluk Bengala (India) selama sepekan terakhir Mei ikut memengaruhi proses pembentukan awan dan hujan di Indonesia (terutama di Jawa dan Sumatra). Pada awal Juni, Badai Tropis muncul kembali di sekitar Laut Arab dan Oman. Demikian pula pada akhir Juni (30 Juni) terdapat badai Tropis di Samudra Hindia dekat Pulau Sumatra.
Analisis peningkatan suhu global selama dua bulan terakhir menunjukkan hujan yang masih sering turun di wilayah Indonesia secara utama dipengaruhi oleh terjadinya panas ekstrem di daratan dan peningkatan suhu permukaan laut di perairan lokal Indonesia. Kedua pe-ningkatan suhu tersebut, tak bisa dimungkiri, merupakan fenomena yang menjadi bagian dari pemanasan global. Meskipun begitu, untuk me-nyimpulkan adanya kaitan antara anomali kemarau dan pemanasan global dibutuhkan penelitian lebih mendalam dan komprehensif.***
Erma Yulihastin, peneliti pada Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim Lapan.
Catatan: tulisan ini dimuat di Pikiran Rakyat, 8 Juli 2010.
26 Juni 2010
HUJAN BADAI DI MUSIM KEMARAU
oleh: Erma Yulihastin
Hujan badai disertai angin kencang masih kerap melanda Bandung dan sekitarnya selama bulan Juni. Padahal, mestinya saat ini tengah berlangsung musim kemarau di Indonesia, khususnya di wilayah monsunal Indonesia. Wilayah monsunal merupakan sebutan bagi daerah-daerah di selatan Indonesia yang dipengaruhi secara kuat oleh aktivitas angin musiman (monsun) sehingga curah hujan di wilayah ini pun mengikuti pola dan sifat angin tersebut. Termasuk daerah monsunal adalah: pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara dan sekitarnya.
Gangguan pada Musim Kemarau
Tanda bahwa musim kemarau tengah berlangsung saat ini didasarkan pada data pergerakan angin klimatologis pada ketinggian sekitar dua kilometer di atas wilayah Indonesia. Data yang dapat diamatai secara real time melalui http://iprc.soest.hawaii.edu tersebut menunjukkan, angin timur (tenggara) bertiup cukup kuat dan seragam di atas Indonesia (terutama Indonesia bagian selatan).
Angin tenggara ini bersifat kering dan dingin karena berasal dari daratan Australia yang saat ini sedang mengalami musim dingin. Karena bersifat kering itulah maka angin tersebut mengakibatkan musim kemarau pada saat melewati benua maritim Indonesia. Periode musim kemarau ini dalam setahun berlangsung sejak Juni hingga Agustus, meskipun dapat juga terjadi dalam rentang yang lebih panjang yaitu sejak Mei hingga November. Meski tampaknya musim kemarau dan musim hujan berlangsung secara periodik dalam setahun, namun ada beberapa faktor yang berpotensi mengganggu periodisitasnya.
Pertama, fenomena El Nino atau La Nina. El Nino yang terjadi pada tahun 1997 telah memperpanjang masa kemarau di Indonesia sehingga mengakibatkan penundaan masa tanam padi (Tjasyono, 2006). Pada masa itu, musim kemarau terjadi hampir merata di wilayah Indonesia selama sembilan bulan sejak Juni 1997 hingga Februari 1998, yang ditandai dengan nilai anomali curah hujan antara negatif 100-500 milimeter (Yulihastin dkk., 2009). Sebaliknya, La Nina yang terjadi pada saat musim hujan akan mengakibatkan banjir besar. Baik El Nino maupun La Nina, keduanya dapat mengganggu periode dan intensitas musim hujan atau musim kemarau di Indonesia.
Kedua, Dipole Mode di Samudera Hindia. Dipole mode positif di Samudera Hindia akan memberi pengaruh yang sama seperti El Nino, yaitu kekeringan di Indonesia (terutama di bagian barat Indonesia). Hal ini pernah dibuktikan pada 1997, di mana fenomena El Nino dan Dipole Mode positif bergabung sehingga memberikan efek kekeringan yang lebih dahsyat di Indonesia. Sebaliknya, Dipole Mode negatif juga akan berakibat sama seperti La Nina, yaitu menambah sifat kebasahan musim yang sedang berlangsung.
Faktor El Nino, La Nina, Dipole Mode memberikan efek utama dalam gangguan berskala iklim (musim) di wilayah Indonesia. Adapun gangguan lain seperti fenomena osilasi Madden-Julian, badai tropis, seruak dingin, dan sejenisnya tidak berpengaruh besar pada iklim melainkan lebih kepada gangguan cuaca yang berskala lokal.
Hujan di Musim Kemarau
Mendung dan hujan lebat ternyata tidak hanya terjadi di Bandung namun merata di pulau Jawa. Berdasarkan pantauan satelit pemantau hujan TRMM (Tropical Rainfall Measuring Mission), curah hujan di Jawa selama satu bulan terakhir (15 Mei-15 Juni) berkisar antara 5 hingga 10 milimeter per hari. Lalu, apa sebenarnya penyebab hujan yang masih sering terjadi di musim kemarau?
Pertama, peningkatan suhu permukaan laut di lautan Indonesia antara 0.5 sampai 2 derajat Celcius. Peningkatan suhu permukaan laut yang paling tinggi terjadi di Samudra Hindia selatan Jawa dan barat laut Sumatra serta di sekitar selat Makasar.
Pemanasan suhu permukaan laut inilah yang telah berpotensi menciptakan daerah konvergensi (pusat tekanan rendah) di wilayah Indonesia, menyedot awan-awan konvektif (jenis awan tinggi yang berpotensi menimbulkan hujan lebat disertai petir) dari Samudra Hindia.
Kedua, penurunan suhu di Samudra Pasifik. Peningkatan suhu permukaan laut di lautan Indonesia tersebut di atas ternyata seiring dengan penurunan suhu di Samudra Pasifik sekitar -0.5 derajat Celcius. Meskipun penurunan suhu di Samudra Pasifik ini masih normal dan belum tergolong La Nina, namun sinyal dingin yang dikirimkan dari Samudra Pasifik ini cukup efektif memblokir awan-awan konvektif agar tidak lekas meninggalkan wilayah Indonesia. Buktinya, mendung dan hujan masih mendera di atas atmosfer Indonesia selama bulan Juni ini.
Ketiga, hujan yang masih sering terjadi di Indonesia juga dipengaruhi oleh dinamika atmosfer pada skala regional. Terjadinya Badai Tropis di Teluk Bengala (India) selama sepekan terakhir Mei ikut mempengaruhi proses pembentukan awan dan hujan di Indonesia (terutama di Jawa dan Sumatra). Pada awal Juni, Badai Tropis muncul kembali di sekitar Laut Arab dan Oman.
Catatan: tulisan ini dimuat di Koran Tribun Jabar, 26 Juni 2010.
26 Mei 2010
Musim Hujan atau Kemarau
Musim Hujan atau Kemarau?
SELAMA sepekan terakhir (9-17 Mei), hujan deras disertai angin kencang terjadi setiap hari hampir merata di Jawa bagian barat. Tak ayal, hujan deras tersebut membuat sebagian wilayah di Jawa Barat tergenang banjir. Hujan telah menenggelamkan ratusan rumah, sejumlah tempat penggilingan padi dan penyimpanan gabah di Jamblang dan Suranenggala, Cirebon (Pikiran Rakyat, 13 Mei). Banjir juga merendam ratusan rumah di Cibadak, Astanaanyar Bandung karena luapan suangai Citepus (Pikiran Rakyat, 14 Mei).
Anomali iklim menunjukkan suatu kondisi iklim yang menyimpang dari karakteristik kondisi iklim pada umumnya, yang dinyatakan dengan nilai rata-rata jangka panjang pada satu atau beberapa unsur iklim. Unsur iklim yang dimaksud seperti suhu, tekanan, curah hujan, kelembapan, kecepatan dan arah angin.
Anomali Curah Hujan
Gejala anomali iklim pada bulan Mei ini sebetulnya telah terekam dengan cukup baik oleh hasil model iklim regional (Darlam-Autsralia) yang dikembangkan Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional (Lapan). Berdasarkan hasil luaran (output) model Darlam Lapan, prediksi selama bulan Mei menunjukkan curah hujan di atas Jawa berkisar 300-500 milimeter. Lihat Gambar 2. Prediksi ini meningkat jika dibandingkan bulan April yaitu 200-300 milimeter.
Hasil prediksi model selama Mei juga menunjukkan bahwa di sekitar Samudra Hindia bagian selatan Jawa serta di bagian utara Sumatra, curah hujan bahkan mencapai 600-900 milimeter yang jauh lebih besar dibandingkan bulan sebelumnya yaitu 400-600 milimeter.
Anomali Angin dan MJO
Pada bulan Mei, seharusnya secara klimatologis, angin yang bertiup di atas pulau Jawa adalah angin timur yang kuat. Angin timur ini berasal dari benua Australia yang pada saat ini mengalami musim gugur dan hendak memasuki musim dingin. Oleh karena itu, angin ini bersifat kering sehingga Indonesia pun bersiap menghadapi kemarau.
Namun kenyataannya, hasil pengamatan terhadap pola angin yang dikeluarkan International Pacific Research Center, University of Hawaii, menunjukkan hal yang berbeda. Sejak akhir April 2010, angin yang bertiup di atas Indonesia sebagian besar masih memiliki pola yang acak. Angin barat masih terlihat cukup kuat bertiup di atas Kalimantan bagian selatan dan laut Jawa, sehingga awan dan hujan masih berpeluang terbentuk di kawasan tersebut. Kelembapan di wilayah tersebut juga relatif lebih tinggi daripada wilayah lainnya. Pola ini juga berbeda jika dibandingkan dengan akhir April 2009 yang telah didominasi angin timur (terutama di bagian selatan Indonesia).
Angin barat yang masih cukup kuat di atas Jawa hingga pertengahan Mei inilah yang telah menyebabkan hujan masih banyak turun. Pola angin ini juga didukung dengan penguatan monsun India (saat ini sedang mengalami musim hujan), yang ditunjukkan dengan nilai indeks monsun India positif 4 pada pertengahan Mei. Pengaruh penguatan monsun India ini berdampak pada bertiupnya angin barat yang bersifat cukup basah sehingga berpengaruh pada pembentukan awan yang lebih intensif di atas Jawa selama pertengahan Mei. Sementara indeks monsun Australia selama Mei berada di kisaran nilai normal.
Anomali lain yang mengakibatkan hujan masih berpeluang turun secara intensif di Indonesia adalah aktivitas gelombang Madden Julian Oscillation (MJO) yang menguat dan terjadi di kawasan benua Maritim Indonesia. Aktivitas MJO ini mengakibatkan terbentuknya sekumpulan besar awan-awan tinggi (super cloud cluster) yang berasal dari penguapan di atas Samudra Hindia. Kumpulan mega-awan ini selanjutnya berarak ke timur menuju kawasan Indonesia. Awan-awan inilah yang menyuplai uap air dalam jumlah yang amat besar bagi pembentukan konveksi yang menimbulkan banyak hujan di bulan Mei. Menurut prediksi MJO yang dirilis Climate Prediction Center, Amerika Serikat, hingga 1 Juni mendatang, MJO tetap berada di kawasan Indonesia meskipun statusnya melemah dan kemudian berpindah menuju kawasan Samudra Hindia dalam status yang aktif dan kuat.
Selama April hingga Mei, ketiganya berada dalam status yang normal sehingga tidak berpengaruh pada anomali iklim. Selama April 2010, indeks Nino 3.4 memiliki kecenderungan menurun menjadi 0.680C lebih rendah dibandingkan bulan lalu, yaitu 0.940C, sementara indeks Nino 3 (+0.740C) dan Nino 2 (+0.820C). Keadaan ini menunjukkan El Nino cenderung melemah menuju normal. Saat ini bahkan indeks telah mendekati nilai nol, yang menunjukkan kondisi normal.
Indeks SOI selama April menunjukkan kenaikan positif yaitu mencapai +15.5, jauh lebih tinggi dibandingkan bulan lalu yaitu +2.9. Kenaikan indeks SOI ini tampak konsisten dengan pelemahan El Nino di Samudra Pasifik. Nilai indeks SOI yang positif menunjukkan bahwa tekanan permukaan di kawasan Tahiti lebih tinggi dibandingkan dengan tekanan permukaan di kawasan Darwin. Akibatnya, pergerakan angin akan terjadi dari Tahiti menuju Darwin.
Peluang terjadinya El Nino berdasarkan model statistik International Research Institute, Columbia, pada Mei 2010 menjadi 38 persen, turun dibandingkan bulan sebelumnya, yaitu 85 persen. Pada bulan-bulan selanjutnyanya, peluang terjadinya El Nino terus berkurang menjadi 28 persen, 20 persen, 15 persen, berturut-turut pada Juni, Juli, Agustus.
Suhu permukaan laut di Samudra Hindia indeks Dipole Mode yaitu +0.49, menunjukkan tidak ada anomali (normal). Sehingga pembentukan awan dari Samudra Hindia dan proses konveksi di kawasan barat Indonesia akan berlangsung normal. Berdasarkan model POAMA BOM (Bureau of Meteorology), Australia, kondisi Dipole Mode ini diprediksi akan berlangsung normal hingga November 2010.
Analisis ENSO dan Dipole Mode ini menunjukkan bahwa biang keladi keanehan iklim di bulan Mei dalam skala regional pada dasarnya disebabkan oleh dua hal: MJO dan penguatan angin monsun India.***
Erma Yulihastin, peneliti pada Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim LAPAN
Catatan: tulisan ini dimuat di Pikiran Rakyat 27 Mei 2010.
Langganan:
Entri (Atom)
