15 Mei 2009

Puting Beliung, Small Tornado yang Sulit Diprediksi

Puting beliung kembali marak terjadi Indonesia pada musim peralihan hujan menuju kemarau (Maret, April, Mei). Puting beliung yang melanda Cilacap telah meruntuhkan sekitar empat puluh rumah dalam sekejap (Pikiran Rakyat, 3 April 2009). Puting beliung di Banyumas menerjang empat desa dan merobohkan puluhan rumah serta menumbangkan pohon-pohon besar. Kerugian materi diperkirakan mencapai ratusan juta juta rupiah (Pikiran Rakyat, 2 April 2009).

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika bahkan telah mengeluarkan peringatan agar masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap kejadian puting beliung di musim peralihan hingga Juni mendatang (Pikiran Rakyat, 3 April 2009).

Tornado
Tornado yang garang didemonstrasikan dalam film "Twister" yang dirilis tahun 1996. Film tersebut secara dramatis menggambarkan lika-liku para meteorologis dalam memburu awan badai (storm chaser). Dalam lingkup meteorologi, fenomena-fenomena ini dikenal dengan kejadian aliran vorteks. Vorteks adalah suatu aliran udara yang membentuk rotasi atau pusaran.

Ukuran besar-kecilnya suatu pusaran atau rotasi aliran udara disebut vortisitas. Besaran vortisitas ini merupakan fungsi dari parameter kelengkungan dan geser (shear) yaitu laju perubahan kecepatan angin dalam arah normal terhadap arah gerak. Aliran pusaran ini berputar cepat di sekitar pusat gerakan. Laju rotasi pada aliran pusaran lebih besar di pusat dan menurun semakin menjauhi pusat.

Dalam fenomena zat alir ada dua jenis aliran yaitu aliran laminer dan aliran turbulen. Nah, di dalam aliran turbulen inilah sering kali muncul aliran-aliran vorteks berupa aliran yang berotasi seputar lintasan tertutup. Aliran turbelensi ini sering terjadi di lapisan batas (boundary layer, sekitar 3 km dari permukaan).Vorteks-vorteks muncul sebagai akibat dari gesekan angin permukaan dengan permukaan tanah, pertemuan atau tabrakan angin dan angin dengan karakter berbeda atau dengan adanya angin gunting (wind shear).

Saudara kecil puting beliung adalah apa yang sering disebut "dust devil" atau setan debu dimana debu-debu atau sampah plastik sering beterbangan membentuk pusaran horisontal yang disebabkan aliran vorteks. Sedangkan saudara besarnya adalah gustnado, waterspout, landspout dan tornado, sehingga orang menyebut puting beliung sebagai "small tornado." Dalam skala sinoptik dan regional (yang meliputi beberapa wilayah tertentu), aliran vorteks udara disebut sebagai aliran siklon atau antisiklon seperti hurricane di Amerika atau typhoon di Asia dengan berbagai penamaannya.

Kenapa puting beliung dikatakan sebagai "tornado kecil?" Hal ini karena kecepatan angin dan dampak kerusakan yang ditimbulkan puting beliung masih berada pada kisaran di bawah skala F2 (Skala Fujita2, menurut ahli tornado keturunan Jepang Tetsuya Fujita dari Universitas Chicago). Dengan demikian, puting beliung memiliki lintasan kurang dari satu kilometer dengan durasi hidup di bawah satu jam. Biasanya, seorang ahli meteorologi mengukur kekuatan tornado dengan mengukur kecepatan angin dan dampak kerusakan yang ditimbulkannya.

Hingga saat ini, kajian dan penelitian mengenai puting beliung masih dihadapkan pada beberapa kendala utama, seperti terbatasnya data, peralatan yang tidak memadai untuk melakukan pengamatan secara jeli, serta kejadian puting beliung yang begitu cepat.
Sebagaimana terbentuknya tornado, puting beliung pada awalnya juga terbentuk dari parsel udara yang berputar secara vertikal yang sebelumnya telah muncul dekat permukaan sebagai akibat gesekan angin permukaan dengan permukaan tanah.

Hal ini umumnya terjadi akibat pertemuan atau tabrakan antara dua angin yang memiliki karakter berbeda atau karena terjadinya angin gunting (wind shear). Angin kemudian terangkat (updraft) dan diperkuat oleh kondisi ketidakstabilan udara di sekitarnya. Angin ini biasanya terbentuk di wilayah yang bertopografi dataran dan daerah pantai, pada bulan-bulan di musim transisi (dari musim kemarau ke hujan atau sebaliknya). Aktivitas awan kumulonimbus atau kumulus kongestus yang intens di suatu tempat juga perlu diwaspadai karena keadaan ini berpotensi membangkitkan puting beliung.

Memprediksi
Dapatkah kejadian puting beliung diprediksi? Ini merupakan pertanyaan sederhana dengan jawaban yang tidak sederhana. Sebab, ketika hendak memprediksi cuaca ekstrem (termasuk puting beliung) satu hari atau dua hari mendatang, kita harus mencari data perubahan temperatur dan pola aliran angin di atmosfer. Data ini sangat penting agar kita dapat memantau tingkat kelembapan, ketidakstabilan (updraft), pengangkatan (lift), dan angin gunting (wind shear) pembangkit awan badai yang berpotensi menimbulkan puting beliung.

Pola-pola perubahan cuaca yang besar dapat membawa serta kejadian tornado, tetapi sering juga pola-pola tersebut sama sekali tidak menimbulkan cuaca ekstrem. Berbagai model komputer yang digunakan untuk memprediksi cuaca ekstrem beberapa hari mendatang dapat memiliki bias dan kekurangan ketika prakirawan cuaca mencoba menerjemahkan keadaan cuaca tersebut pada skala awan badai kilat (thunderstorm).
Prediksi membutuhkan pengamatan cuaca pada skala waktu yang nyata (real-time) melalui satelit ( dengan resolusi tinggi secara ruang dan waktu), radiometer, stasiun cuaca, balon, dan kapal udara. Membuat skema profiler angin dan pola cuaca yang diturunkan dari radar (C-band, X-band, W-band, dual polarisasi radar) juga sangat penting untuk melakukan prediksi.

Penggunaan model cuaca (Numerical Weather Prediction) untuk memprediksi potensi terjadinya cuaca ekstrem sebenarnya dapat dilakukan, namun tidak secara langsung dapat menduga kejadian tornado. Hasil model itu pun sebelumnya harus telah diperkecil sampai skala minimal di bawah satu kilometer dengan selang waktu di bawah satu jam.
Kejadian awan badai (storm atau thunderstorm) yang berpotensi menimbulkan cuaca ektrem seperti tornado dapat diturunkan dan diduga dari parameter-parameter cuaca seperti kecepatan angin, pola angin, temperatur, CAPE (Convective Availabel Potential Energy), VGP (Vorticity Generation Potential), BRN (Bulk Richardson Number), EHI (Energy Helicity Index) dan SREH (Surface Relative Enviromental Helicity). Dari beberapa parameter tersebut, yang terpenting untuk mengidentifikasi awan badai penghasil puting beliung atau tornado adalah CAPE, EHI dan SREH.

Dari penelitian simulasi dua kejadian cuaca ekstrem yaitu siklon tropis (severe weather) dan hujan lebat (normal weather) yang penulis lakukan, didapatkan nilai SREH berkisar antara 100 m2/s2 sampai 300 m2/s2 dan EHI berkisar pada nilai 1.8 sampai 6 pada kejadian siklon tropis. Sedangkan nilai SREH berkisar antara 5 hingga 30 m2/s2 dan EHI berkisar pada nilai 0 sampai 0.3 pada kejadian hujan lebat normal.
Meski memprediksi puting beliung masih sulit , tetapi eksperimen menggunakan model cuaca untuk meneliti tornado secara intensif terus dikerjakan para meteorologis i.

***
Dadang Subarna dan Erma Yulihastin, tulisan ini merupakan bagian dari penelitian yang dilakukan di Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim, LAPAN.

Catatan: tulisan ini diterbitkan oleh Pikiran Rakyat,

04 Maret 2009

BANJIR BUKAN KARENA HUJAN EKSTREM


BANJIR BUKAN KARENA HUJAN EKSTREM
Oleh: Erma Yulihastin*)


Berita banjir menghiasi halaman utama Koran ini selama sepekan terakhir. Banjir yang melanda wilayah Jawa Barat dikabarkan terus meluas. Selasa, 24 Februari lalu, banjir besar menenggelamkan 700 rumah warga dan merusak 500 hektar tambak udang di Tawangsari, Kecamatan Losari, Cirebon (Pikiran Rakyat, 25 Februari 2009). Sebelumnya, banjir merendam 653 rumah warga di Cieunteung, Baleendah, Kabupaten Bandung (Pikiran Rakyat, 22 Februari 2009). Banjir juga terjadi di Sukaresik Tasikmalaya dan Ngamprah Bandung Barat.

Pertanyaan yang mengemuka adalah, apakah penyebab banjir di Jawa Barat? Benarkah banjir disebabkan oleh tingginya curah hujan yang turun di Jawa Barat pada bulan Februari? Tulisan ini berupaya meninjau kondisi meteorologi di wilayah Jawa Barat selama bulan Februari serta memperkirakan keadaan musim di bulan Maret 2009.

Curah Hujan Februari Tidak Ekstrem
Curah hujan rata-rata selama enam hari terakhir yang mengguyur sebagian besar wilayah Jawa Barat (termasuk Bandung dan sekitarnya) mencapai 300 milimeter dari pengamatan Satelit TRMM. Hanya beberapa wilayah Jawa Barat sepanjang Pantai Utara seperti Pamanukan, Losarang, Indramayu, Cirebon yang bercurah hujan lebih rendah yaitu 100 milimeter. Sementara itu, wilayah Jawa Barat bagian selatan seperti Ciracap, Sindangbarang, Pameungpeuk, Cikalong memiliki curah hujan rata-rata sekitar 150 milimeter. Bagaimana dengan curah hujan selama bulan Februari? Berdasarkan pantauan satelit MODIS, rata-rata curah hujan di Jawa Barat selama bulan Februari (1-21 Februari) memiliki rentang antara 120-155 milimeter.

Curah hujan 100-300 milimeter yang mengguyur Jawa Barat selama seminggu terakhir dan curah hujan rata-rata 120-155 milimeter selama bulan Februari termasuk kategori curah hujan di bawah normal pada musim hujan. Meskipun begitu, curah hujan sebanyak ini ternyata telah menyebabkan beberapa sungai (Citarum, Cisanggarung, Citanduy) meluap sehingga mendatangkan banjir besar. Maka, dapat disimpulkan bahwa banjir yang terjadi di beberapa wilayah Jawa Barat bukan karena curah hujan ekstrem yang turun di bulan Februari. Tetapi, banjir lebih disebabkan oleh menurunnya daya dukung lingkungan dalam menyerap dan menampung air hujan. Banjir kemungkinan terjadi karena kemampuan tanah dalam menyerap air hujan semakin berkurang karena lahan terbuka hijau (hutan dan pepohonan) yang semakin tergerus. Banjir juga mungkin terjadi karena pendangkalan (sedimentasi) yang terjadi di sungai-sungai. Barangkali pula, banjir terjadi karena saluran pengairan mengalami penyumbatan, pendangkalan, atau pemampatan.

Prediksi Musim Maret di Jawa Barat
Dengan mengamati anomali curah hujan yang terjadi selama Bulan Februari yang dilansir oleh JAMSTEC, dapat diketahui bahwa anomali curah hujan di Jawa Barat memiliki nilai negatif (-6 hingga -9). Artinya, curah hujan di Jawa Barat yang terjadi selama bulan Februari memang berada di bawah nilai rata-ratanya. Hal ini juga dibuktikan dengan besarnya nilai suhu permukaan laut di sekitar Indonesia yang mencapai 29-30 derajat Celcius. Suhu permukaan laut yang meningkat di sekitar laut Indonesia ini akan sedikit menguntungkan karena dapat memicu terbentuknya awan yang lebih banyak sehingga kemungkinan pada Bulan Maret hujan masih akan turun meskipun dengan curahan yang tidak sebanyak Februari.

Sementara itu, peluang kejadian La Nina lemah hingga Maret 2009 adalah 55 persen, sementara kemungkinan terjadinya El Nino di bawah 0.5 persen. Fenomena La Nina meskipun lemah dapat dimaknai sebagai fenomena yang membawa peruntungan di Bulan Maret pada saat Indonesia memasuki masa peralihan (pancaroba) dari musim hujan ke musim kemarau. Sebab, La Nina akan menghembuskan uap air basah dari Pasifik sehingga terbentuklah banyak awan di atas Indonesia. Sementara itu, ancaman terjadinya kekeringan parah karena El Nino pada musim kemarau 2009 adalah sangat kecil. Kesimpulannya, Jawa Barat akan memasuki musim peralihan pada Bulan Maret dengan curah hujan yang masih akan terjadi di bulan ini meskipun tidak sesering dan sebanyak bulan Januari dan Februari.

*) Penulis, Peneliti Bidang Pemodelan Iklim
Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim
Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN)

Catatan: tulisan ini diterbitkan Pikiran Rakyat, 5 Maret 2009

08 Februari 2009

Bekerja Sebagai Polisi




Referensi Bimbingan Karier Polisi Terlengkap dan Terkurat

Kenapa saya tertarik mengupas profesi polisi? Sebab saya memandang, polisi di Indonesia sedang berproses menuju sosok polisi ideal. Polisi yang ideal adalah polisi sipil yang demokratis. Polisi yang santun, menghargai hak asasi manusia, mengedepankan cara-cara yang dialogis dan berorientasi konsensus dalam memecahkan problem kejahatan dan masalah sosial.

Buku ini, adalah salah satu upaya saya mendukung proses perubahan paradigma polisi tersebut. Buku ini, secara tidak langsung ikut mendorong terwujudnya polisi sebagai sosok yang dekat dan dicintai rakyat.

-----------------------------------------------------------------------------------------------------
Penerbit: Esensi (Erlangga Group)
Tahun Terbit: Januari 2009
Ukuran buku: 23X15 cm, full color
Jumlah halaman: 144 halaman
Harga: Rp. 48.000

Sebuah buku referensi bimbingan karier yang terperinci, lengkap dan cermat dalam menguraikan profesi polisi. Sangat tepat sebagai panduan bagi remaja (SMP/SMU) yang bercita-cita menjadi polisi dan ingin menekuni profesi yang sarat dengan tindakan kepahlawanan ini.

Apa saja isi buku ini? Buku ini menjelaskan apa itu polisi, termasuk filosofi, lambang, doktrin, seragam, dan sejarahnya dari zaman prapenjajahan hingga era reformasi di Indonesia. Ada juga ulasan profil polisi di luar negeri seperti di Inggris, Jepang, Amerika Serikat.

Tak lupa dikupas secara detail tentang pendidikan kepolisian. Seluk-beluk pekerjaan polisi dari menilang hingga bertempur pun diuraikan satu-satu dengan lengkap, plus gambaran suka dan duka dalam menjalankan profesi ini.

Bahkan jenjang pangkat, karier, sampai gajinya pun dijelaskan secara gamblang. Tips lolos tes seleksi dan bocoran soal-soalnya pun ada. Terakhir, wawancara eksklusif profil tokoh polisi Indonesia.

Desain kovernya menarik mata dan hati pembaca; warna cokelat muda terlihat harmonis dengan seragam polisi lelaki yang menjadi model kover buku; membuatnya tampak elegan dan kuat, sehingga enak dipandang.

Warna kuning police line yang melintang melatarbelakangi model, mengesankan kecerahan masa depan yang kurang lebih bermakna kemakmuran dan kesejahteraan bagi profesi ini di masa kini dan masa depan.

Kover buku ini setidaknyaa mencerminkan gambaran profesi polisi sebagai yang, “perkasa, kuat, ramah, dan sejahtera.”

Setting dan lay-out yang sempurna: tak ada kesalahan kata, desain halamannya dibuat dinamis (ada boks-boks lucu yang bertebaran), bertabur gambar-gambar penuh warna (full color), jenis hurufnya juga sangat sesuai dengan psikologis remaja, judul bab dan subbab ditulis dengan warna oranye memberi efek lincah nan menawan.

Buku ini benar-benar disajikan dengan cita rasa tinggi seorang desainer grafis dibawah kontrol ketat seorang editor, sehingga tak meninggalkan sedikit pun cacat teks maupun grafis.

Sebagai penulis, saya merasa sangat puas dengan kerja tim editor dan lay-out Penerbit Esensi (Erlangga Group) yang mampu meruntuhkan kejemuan saya dalam masa menunggu terbitnya buku ini yang menelan waktu sekitar dua tahun.

Terima kasih Erlangga dan syukur kepada Allah buku ketigaku terbit sempurna,
Semoga membawa berkah dan manfaat yang sempurna pula,
Amin,

Erma Yulihastin-

04 Februari 2009

Puncak Musim Hujan Bergeser


Selama sepuluh tahun terakhir, curah hujan rata-rata di Indonesia cenderung berkurang. Puncak musim hujan juga diperkirakan mengalami pergeseran. Hal ini ditunjukkan oleh data curah hujan dari 1999 hingga 2008 pantauan Satelit TRMM (Tropical Rainfall Measuring Mission), satelit yang memiliki misi khusus untuk mendukung studi pengukuran curah hujan di wilayah tropis. Data sepuluh tahun ini menunjukkan telah terjadi penurunan curah hujan rata-rata selama musim hujan (Desember-Januari-Februari), yakni sekitar tujuh persen.

2008 melebihi normal
Dari data satelit TRMM diketahui, curah hujan rata-rata pada musim hujan selama sepuluh tahun terakhir di Indonesia adalah 0.1848 milimeter per jam. Sementara itu, selama musim hujan 2008 (Desember 2007-Januari 2008-Februari 2008), curah hujan rata-rata melebihi nilai rata-rata, yaitu mencapai 0.1998 milimeter per jam. Nilai ini menunjukkan curah hujan tertinggi jika dibandingkan dengan tahun-tahun lain selama sepuluh tahun terakhir.

Meski demikian, curah hujan yang melebihi normal ini tidak terjadi secara merata di seluruh Indonesia pada musim hujan 2008. Hal ini karena curah hujan di Indonesia memiliki karakteristik yang khas untuk tiap daerah. Pola curah hujan di Bandung, misalnya, tidak bisa disamakan dengan pola curah hujan di Jakarta.

Secara umum, pola curah hujan di Indonesia terdiri dari tiga macam. Pertama, pola curah hujan monsunal, yang memiliki satu nilai puncak dan satu nilai nadir curah hujan. Pola curah hujan monsunal ini terjadi karena pengaruh dominan dari angin musiman. Sebagian besar wilayah di Indonesia mengalami pola curah hujan monsunal. Kedua, pola curah hujan ekuatorial, yakni pola curah hujan yang mengalami dua kali puncak curah hujan dan dua kali nilai minimum curah hujan. Pola ekuatorial ini biasanya dialami oleh daerah-daerah di Indonesia yang terletak tepat di garis ekuator seperti Pontianak. Ketiga, pola curah hujan lokal, yaitu curah hujan yang sangat khas untuk suatu wilayah karena pengaruh topografi dan kondisi geografis wilayah tersebut.

Jadi, kendati pada musim hujan tahun 2008 curah hujan rata-rata melebihi curah hujan rata-rata selama sepuluh tahun terakhir, namun banjir besar tidak melanda kota-kota besar di Jawa seperti Jakarta dan Bandung.

Bergeser
Indonesia merupakan wilayah yang terletak di sekitar garis khatulistiwa, yang mendapat sinar matahari sepanjang tahun. Hal ini membuat musim di Indonesia tidak ditentukan oleh tinggi rendahnya suhu udara (seperti negara-negara empat musim), melainkan oleh banyak sedikitnya curah hujan.

Itu sebabnya, Indonesia hanya mengenal dua musim, musim hujan ketika banyak turun hujan, dan musim kemarau ketika curah hujan sangat sedikit atau tidak ada. Jika curah hujan ini dibuat grafiknya, secara umum curah hujan di Indonesia memiliki satu nilai maksimum dan satu nilai minimum. Nilai puncak terjadi pada bulan Januari, dan nilai nadir terdapat pada bulan Juli. Dengan demikian, berdasarkan grafik curah hujan monsunal ini, puncak musim hujan umumnya terjadi pada Januari. Sementara itu, puncak musim kemarau terjadi pada Juli.

Di antara musim hujan dan musim kemarau, ada musim peralihan atau pancaroba. Musim peralihan ada dua yaitu, peralihan dari musim hujan ke musim kemarau dan sebaliknya peralihan dari musim kemarau menuju musim hujan.

Para pakar meteorologi membuat pengelompokan sifat curah hujan di Indonesia dalam periode tiga bulanan (triwulan). Desember-Januari-Februari merupakan musim hujan. Maret-April-Mei digolongkan musim peralihan dari musim hujan menuju musim kemarau. Juni-Juli-Agustus sebagai musim kemarau. September-Oktober-November adalah musim peralihan dari musim kemarau menuju musim hujan.

Dari data pengamatan Satelit TRMM dapat diketahui, puncak curah hujan tahun 2008 tidak terjadi pada Januari 2008 melainkan pada 12 Desember 2007 dengan nilai curah hujan rata-rata 0.2623 milimeter per jam. Selama sepuluh tahun terakhir, angka kejadian puncak curah hujan terjadi pada bulan Desember adalah 50 persen. Hal ini menunjukkan terjadi pergeseran puncak curah hujan selama sepuluh tahun terakhir, dari bulan Januari menjadi bulan Desember, dengan peluang muncul sebanyak lima kali (lima tahun dalam waktu sepuluh tahun).

Pergeseran puncak musim hujan ini dapat dijadikan tanda awal terjadinya pergeseran musim di Indonesia. Oleh karena itu, penelitian mengenai pergeseran musim perlu dikaji lebih dalam lagi dan harus melibatkan penggunaan data meteorologi yang komprehensif, dengan membandingkan antara data satelit dan data pengukuran melalui radar meteorologi. Pergeseran musim hujan, jika benar terjadi, sangat penting diketahui terutama menyangkut perubahan pola tanam pertanian. Jika benar terjadi indikasi pergeseran puncak musim hujan, para petani harus mengubah waktu tanam padi mereka.***

Erma Yulihastin, peneliti Bidang Pemodelan Iklim
Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan).

Catatan: Artikel ini dimuat di Pikiran Rakyat, 5 Februari 2009

03 Februari 2009

Meremas Sampah Menjadi Emas




Judul di atas adalah judul buku keduaku. Aku bahagia karena buku keduaku, yang ditulis keroyokan bareng teman-teman FLP (Forum Lingkar Pena) -sebuah organisasi pengkaderan penulis- telah terbit.

Buku ini memuat kisah-kisah inspiratif mengenai berbagai persoalan hidup, dan bagaimana cara menyelesaikannya, serta mengambil hikmah dibalik kejadian tersebut.
Ditulis keroyokan oleh banyak penulis, kami berharap buku ini menyuguhkan analisis persoalan hidup yang lebih beragam, lebih komplit.

Judul yang sangat "eye cathing" (Meremas Sampah Menjadi Emas), dan cover yang sangat menarik, menjadikan buku ini lebih istimewa dibandingkan buku-buku inspiratif sejenis yang telah terbit sebelumnya. Penerbitnya adalah Indiva Media Kreasi, sebuah penerbit dari Solo yang baru tumbuh, tapi sudah mencetak banyak prestasi (terutama dalam menyuguhkan buku-buku berkualitas dengan tampilan yang sangat menarik.

Smoga mencerahkan, dan bermanfaat...

Erma Yulihastin-

16 Januari 2009

Indonesia Penentu Iklim Dunia



Oleh ERMA YULIHASTIN

TAK banyak orang tahu kaitan antara hutan dan iklim. Kecuali pemahaman sederhana bahwa keberadaan hutan bermanfaat menyejukkan udara, menyediakan sumber mata air, menyerap air hujan, dan mencegah longsor. Pendek kata, hutan sangat berguna untuk mencegah timbulnya bencana iklim seperti banjir dan longsor. Lebih dari itu tahukah Anda, hutan Indonesia juga berperan penting dalam menjaga iklim dunia? Kenapa Indonesia dikatakan penentu iklim dunia? Lantas, cara tepat apa yang selayaknya dilakukan untuk mengatur laju pengurangan hutan yang kini mencapai 1,7 juta hektare per tahun (Pikiran Rakyat, 12 Januari 2009)?

Indonesia penentu iklim

Indonesia menjadi penentu iklim dunia karena posisi strategis negeri ini. Indonesia adalah negeri kepulauan terbesar dan terpanjang di dunia, yang membentang di wilayah khatulistiwa. Posisi inilah yang membuat Indonesia menerima energi matahari yang melimpah ruah sepanjang tahun. Energi panas ini selanjutnya dipakai untuk menggerakkan atmosfer secara global ke seluruh dunia.

Atmosfer Indonesia merupakan salah satu dari tiga wilayah di khatulistiwa yang menjadi pusat pertumbuhan awan dan pembentukan hujan di seluruh dunia. Dua wilayah penting lain yang memicu pembentukan awan dan hujan di dunia yaitu, Afrika Tengah dan Amerika Selatan. Di antara ketiga wilayah ini, atmosfer Indonesia merupakan daerah konveksi yang sangat aktif. Konveksi (proses peralihan panas di atmosfer secara vertikal) merupakan faktor yang sangat penting dalam pembentukan awan cumuliform yang berperan membentuk hujan di seluruh dunia sekitar 75 persen (Tjasyono, 2006). Di Indonesia, pembentukan awan jenis ini sangat sering, sangat banyak, dan sangat beragam. Penelitian meteorologi terkini juga menemukan, sekitar 70 persen hujan di dunia turun di khatulistiwa.

Tak berlebihan jika ilmuwan menyebut atmosfer Indonesia sebagai penentu iklim dunia. Sekecil apa pun perubahan yang terjadi di atmosfer Indonesia, seluruh dunia akan ikut merasakan dampaknya. Inilah sesungguhnya makna dari Indonesia sebagai paru-paru dunia. Sejarah pernah mencatat, kebakaran hutan dahsyat merebak di Indonesia pada Oktober 1997 hingga Mei 1998. Bencana ini telah melenyapkan delapan juta hektare hutan Indonesia (Strait Times, 1998). Selama delapan bulan, asap kabut tebal menyelubungi atmosfer negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, Brunei Darussalam, Thailand, Filipina, dan Vietnam. Dunia bahkan mencatat musibah itu sebagai "tahun terperangkapnya dunia dalam kebakaran" (Emil Salim, 2002). Keadaan ini mudah dipahami sebab atmosfer Indonesia memiliki peran utama dalam menyuplai awan ke seluruh dunia.

Mengurangi emisi
Oleh karena itu, dapatlah dimengerti kekhawatiran dunia yang begitu besar saat mengetahui bahwa Indonesia merupakan negara penyumbang karbon dioksida ketiga terbesar di dunia. Disebut pula, sumber utama emisi gas rumah kaca di Indonesia paling besar berasal dari hasil pembakaran hutan yaitu 85 persen. Emisi yang berasal dari energi yakni 9 persen, pertanian 4,6 persen dan emisi limbah 1 persen. Meskipun kesimpulan yang merujuk pada data IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change) ini masih diperdebatkan kelayakan ilmiahnya, tetapi data tersebut telah menjadi rujukan dunia dalam membuat skema pengaturan emisi karbon Internasional.
Dunia, yang diwakili negara-negara maju, selanjutnya menawarkan program REDD (Reduced Emissions from Deforestation and Forest Degradation) untuk "menolong" negara-negara berkembang agar dapat menekan emisi karbonnya. Seperti namanya, program ini bertujuan untuk mengurangi emisi karbon yang diakibatkan oleh perusakan dan pembabatan hutan.

Yang perlu dipahami dari REDD adalah program ini hanya berlaku bagi pengalihfungsian (konversi) hutan yang tidak direncanakan. Sebagai negara berkembang, dunia harus memahami bahwa Indonesia sedang giat membangun sehingga konversi hutan menjadi perkebunan, permukiman, dan sejenisnya tidak mungkin dicegah. Konversi yang demikian termasuk jenis konversi yang direncanakan. Sementara itu, konversi yang tidak direncanakan contohnya kebakaran hutan yang tiba-tiba atau perilaku masyarakat melakukan tebas-bakar sembarangan di luar kontrol pemerintah.. Dalam hal ini, ketentuan yang disepakati dunia mengenai REDD yaitu kompensasi diberikan kepada negara-negara berkembang yang dapat menurunkan konversi hutan mereka yang tidak direncanakan tersebut.

Persoalannya kini, bagaimana cara menentukan nilai acuan konsentrasi (baseline) untuk memantau keberhasilan upaya REDD? Acuan nilai untuk REDD didasarkan pada penelitian Matsuoka (1994) dan sebuah hipotesis bahwa jika pemanasan global dibiarkan terjadi tanpa ada upaya pencegahan, suhu bumi pada tahun 2050 akan meningkat lebih dari 6 derajat Celsius. Keadaan ini harus dicegah karena menurut analisis IPCC, peningkatan suhu 6 derajat Celsius akan memusnahkan sebagian besar kehidupan di bumi seperti tenggelamnya pulau-pulau di Indonesia. Mereka memerinci, peningkatan 1 derajat Celsius dapat memusnahkan sejumlah batu karang dan gunung es. Sementara itu, kenaikan 3 derajat Celsius akan mengganggu ekosistem di Hutan Amazon, Brasil, dan melenyapkan lapisan-lapisan es di Greenland.

Itu sebabnya, sejumlah ilmuwan menyarankan agar peningkatan suhu di bumi pada tahun 2050 dicegah agar tidak melebihi 2 derajat Celsius. Pencegahan terhadap peningkatan suhu global ini memerlukan komitmen jangka panjang dari semua negara. Kesepakatan yang sementara ini sedang ramai dibicarakan adalah ketentuan yang mengikat negara maju dan negara berkembang. Negara maju harus menekan emisi karbonnya hingga 50 persen pada tahun 2050. Sementara negara berkembang masih diperbolehkan meningkatkan emisi tapi tidak boleh melebihi 30 persen pada tahun 2050.

Namun, hingga sekarang belum ada skema yang jelas mengenai pengaturan REDD. Sejauh ini terdapat dua pendekatan utama dalam mengatur REDD. Pertama, pendekatan pasar. Negara yang memiliki hutan akan mendapat kompensasi berupa kredit jika dapat menjaga hutan mereka. Kredit ini bisa dijual di pasar karbon internasional kepada negara-negara yang memiliki industri beremisi karbon. Kedua, pendekatan dana publik. Negara-negara maju memberi dana bantuan kepada negara yang memiliki hutan agar dapat mengurangi pembukaan hutan.

Dalam beberapa kesempatan, Menteri Lingkungan Hidup menyatakan Indonesia adalah satu-satunya negara yang paling siap dalam menghadapi REDD. Meski begitu, ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam proposal REDD. Pertama, proposal itu sebaiknya melibatkan persetujuan penduduk lokal atau adat yang hidup di sekitar hutan yang menumpukan hidup mereka selama ini pada hutan. Kedua, menghindari cara-cara yang mengedepankan kekuasaan dan kekerasan dalam menjaga hutan, seperti menambah jumlah para penjaga hutan dan mempersenjatai mereka. Ketiga, membuat sistem pertanggungjawaban dana REDD yang ketat dan transparan sehingga menutup semua celah untuk melakukan korupsi atau penyelewengan anggaran. ***

Penulis, peneliti Bidang Pemodelan Iklim Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan).

Catatan: artikel ini dimuat di Pikiran Rakyat, 16 Januari 2009

11 Januari 2009

Gempita di Dakota


Gempita di Dakota

“Gang itu pengap dan gelap, meski sebenarnya matahari tengah bersinar terik dan jam pada saat itu menunjuk angka dua belas tepat. Bisa diyakini, sinar matahari tak hanya sulit menerobos rumah-rumah itu untuk menerangi gang. Tapi benar-benar telah gagal bersinar di sana sehingga gang itu tak ubahnya sebuah gua gulita...”

Telah resmi kepindahan kami di rumah kontrakan yang baru sejak Jumat, 9 Januari 2009. Kami telah memulai malam pertama di rumah baru kami pada malam Sabtu kemarin. Kami merasa lega kini, meskipun badan remuk redam --karena tiap pagi kami memindahkan barang-barang ke rumah baru ini selama lima hari berturut-turut.

Rumah Simpel Minimalis
Rumah kontrakan yang baru kami jelas jauh lebih baik keadaannya dibandingkan kontrakan kami sebelumnya di Sukagalih. Rumah kami yang sekarang adalah rumah yang baru selesai dibangun dan belum sempat dihuni pemiliknya. Modelnya minimalis, sederhana tapi cantik sekali. Cat rumahnya perpaduan abu-abu dan hitam. Sementara cat di dalam rumahnya merupakan paduan antara kuning muda pucat dan cokelat tua. Manis betul.

Bangunannya simpel, tidak banyak ornamen, sehingga kami pun menyesuaikan diri menyelaraskan rumah ini dengan barang-barang kami yang juga simpel (atau lebih tepatnya) ala kadarnya. Untuk menyambut rumah mungil dan indah kami ini, kami membeli rak buku segiempat tiga tingkat yang berwarna cokelat muda. Barang ini sangat berguna untuk mewadahi banyak sekali buku, tape, dan beberapa mainan milik Sekar, supaya terkesan lebih rapi dan mencegahnya beredar di sana-sini. Rak yang lebarnya semeter dan tinggi sekitar semeter setengah ini dibeli dengan harga cuma Rp 299 ribu.

Barang kedua yang kami beli adalah satu set meja makan dengan empat kursi. Bahan kursinya terdiri atas aluminium ringan dan kayu yang juga ringan. Mejanya terdiri dari kayu cokelat muda disangga empat batang aluminium ringan yang memberi kesan lapang sehingga memperluas ruangan. Seperangkat meja makan ini kami beli dengan harga murah untuk zaman krisis saat ini: Rp 545 ribu.

Makan di meja makan adalah furniture impian kami yang sempat tertunda hingga enam tahun setelah menikah. Bahkan di rumah kami di Gunung Putri pun, kami tidak memiliki kursi untuk makan. Yang ada hanyalah meja sederhana yang kami sulap sebagai meja makan, meskipun kondisi mejanya jauh dari membanggakan jika disebut sebagai meja makan (meja itu hanya sebuah meja murahan yang digarap kasar dan diwarnai ala kadarnya dengan warna biru muda menyolok yang tidak rata).

Saya ngotot ingin membeli seperangkat meja makan untuk mengajarkan kepada anak saya makan secara madiri pada waktu dan tempat yang tepat (di meja makan) bukan di atas kasur, bukan sambil bermain dan berlarian kesana-kemari, juga bukan sambil berlompatan di luar rumah.

Furniture yang Sederhana
Sejak menikah memang kami tidak pernah membeli furniture yang mahal-mahal. Kami hidup sesederhana mungkin sebagai pasangan keluarga muda, dan lebih gemar mengoleksi buku daripada membeli rak atau bufet berkaca yang setiap tahun selalu berganti model.

Satu-satunya barang mahal di rumah kami adalah sofa multiguna yang bisa disulap sebagai kasur, yang kami beli sekitar Rp 900 ribu. Itu pun dibeli karena motivasi sedikit terdesak ketika mertua mau berkunjung ke rumah baru kami, sementara kami hanya memiliki satu kasur yang terhampar di atas lantai tanpa dipan. Saat itu kami juga tidak memiliki sofa atau kursi apapun di ruang tamu. Akhirnya, kami pun membeli sofa multiguna, yang bisa dipakai duduk tapi juga bisa disulap untuk tidur jika ada tamu bertandang.

Selanjutnya, setelah dua tahun menempati rumah baru, kami pun membeli semacam spring bed yang melekat pada dipannya langsung, harganya sekitar Rp 400 ribu (lebih murah dari sofa). Dan, sesuai dengan harganya tentu, tempat tidur itu kini kasurnya terasa kasar, karena ada beberapa kawat di bagian tengah yang memburai di sana-sini. Selain itu, permukaan kasur tidak rata, cekung di bagian tengah, jika kami pakai tidur. Keadaan ini membuat punggung kami terasa sakit, tapi kami tetap tidur di atasnya selama lebih dari tiga tahun lamanya, sampai sekarang, tanpa sedikit pun berpikir hendak membeli kasur dan dipan yang jauh lebih baik.

Dari Gua menuju Rumah
Kembali ke rumah kontrakan baru, lingkungan rumah (karena di perumahan) jauh lebih sepi dibandingkan dengan kontrakan lama. Udara di sini jauh lebih sejuk karena udara yang bertiup tidak terhalang oleh bangunan yang penuh sesak dan berdempet-dempetan seperti kontrakan kami sebelumnya.

Yang lebih menggembirakan lagi, di sini tidak ada got-got yang mengalir terbuka, tidak ada tikus-tikus got yang berkeliaran, tidak ada bau got yang memuakkan, dan udara yang kami hirup tidak lagi terperangkap oleh bau masakan berminyak yang bercampur dengan busuknya got.

Pada kontrakan sebelumnya, jalan menuju rumah kami harus memasuki gang yang sempit, di mana di kiri dan kanan rumah berdempetan rumah penduduk yang atap-atapnya saling bertindihan satu sama lain, sehingga mirip sebuah gorong-gorong, di mana kita harus berhati-hati mendongak ke atas, karena mata kita dapat tertimpa air tetesan jemuran, atau bahkan air bekas jemuran yang diguyurkan saja sekenanya oleh ibu-ibu yang menjemur di atas rumah mereka. Agar aman, sebaiknya kita melewati gang tersebut seraya berlari atau berlindung di bawah payung agar kepala tidak basah oleh “hujan lokal”.

Gang itu pengap dan gelap, meski sebenarnya matahari tengah bersinar terik dan jam pada saat itu menunjuk angka dua belas tepat. Bisa diyakini, sinar matahari tak hanya sulit menerobos rumah-rumah itu untuk menerangi gang. Tapi benar-benar telah gagal bersinar di sana sehingga gang itu tak ubahnya sebuah gua gulita yang hanya diterangi sedikit pendaran cahaya lampu berjarak tiga kilometer dari gua. Yang lebih memilukan dan mungkin dapat membuat sebagian orang merinding adalah, persis di samping timur rumah itu terdapat kuburan yang cukup luas dan terlihat jelas tanpa dipisahkan oleh tembok tinggi seperti area makam pada umumnya.

Rumah kami di situ pun, tak lebih baik keadaannya dibandingkan gang menuju ke sana. Rumah tersebut memiliki dua kamar yang luasnya 2X2 meter, dengan jendela masing-masing menuju ke ruang tengah yang sekaligus menjadi ruang tamu. Karena ditutupi oleh rumah-rumah berdempet yang lebih tinggi, dan gang yang mirip gua itu, maka berada dalam rumah pun rasanya seperti berada di dalam gua.

Apalagi jika berada di dalam kamar. Rasanya pengap dan benar-benar gelap tanpa ada setitik pun terang, sehingga kami harus selalu menyalakan lampu supaya dapat melihat meskipun saat itu bisa jadi, di luar sana matahari sedang terik-teriknya. Jika berada di dalam kamar, kami merasa seakan-akan berada di dalam gua yang ada di dalam gua dan ada di dalam gua lagi. Gelap yang bertindih-tindih.

Alhamdulillah, di rumah kontrakan baru kami, cahaya terang menerobos masuk dengan mudahnya. Kamarnya lebih besar-besar ukurannya 3X3 dan 2X3 meter. Setiap kamar memiliki jendela yang langsung melongok ke alam bebas, tidak terhalang oleh dinding rumah orang.

Di luar itu semua, kami merasa hidup bahagia dengan kesederhanaan, tanpa televisi (yang bisa meracuni Sekar dan melalaikan saya), tanpa kulkas, tanpa mesin cuci. Kami tidur di bawah dengan kasur tipis sehingga kadang punggung kami merasakan betul dinginnya lantai. Saya jadi ingat nasihatnya Hasan Al-Banna dalam Risalah Pergerakan I : “jadilah kalian manusia-manusia yang hidup secukupnya dengan betul-betul mengirit, sehingga harta kalian lebih banyak diinfakkan di jalan Allah.”

Semoga, rumah kontrakan baru kami ini memiliki keberkahan yang lebih banyak dan dapat mengantarkan penghuninya menjadi manusia-manusia soleh yang semakin taat pada Agama dan lebih banyak bermanfaat untuk masyarakat sekitar.

(Dakota, 11 Januari 2009)

08 Januari 2009

Menuju Indonesia Cerdas Iklim



Menuju Indonesia Cerdas Iklim

Konferensi Perubahan Iklim sedang berlangsung di Poznan, Polandia. Perundingan yang diikuti 190 negara ini belum juga menemukan titik temu. Kesepakatan belum tercapai, pembahasan justru semakin alot, bahkan menunjukkan gejala perpecahan terutama di kalangan negara-negara Uni Eropa.

Padahal, alam tak bisa menunggu lama. Data dari Badan Meteorologi Dunia (WMO) menunjukkan, selama dekade terakhir, 90 persen bencana yang melanda dunia terkait perubahan iklim. Lantas, apa yang sebaiknya kita lakukan untuk mengatasi bencana iklim, jika komitmen negara-negara di dunia tak bisa lagi diandalkan? Bagaimana seharusnya Indonesia beradaptasi terhadap bencana terkait perubahan iklim?

Bencana iklim

Sebelumnya, perlu dipahami apa yang dimaksud bencana. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, bencana adalah sesuatu yg menyebabkan (menimbulkan) kesusahan, kerugian, atau penderitaan; kecelakaan; bahaya. Dengan demikian, bencana alam adalah penderitaan, kesusahan, kerugian, bahaya yang disebabkan oleh alam. Meskipun disebabkan oleh perilaku alam, tapi dampak yang ditimbulkan telah menyentuh ranah kemanusiaan.

Bencana iklim adalah setiap bencana yang terjadi akibat (baik langsung maupun tidak langsung) fenomena di atmosfer yang terkait iklim dan unsur-unsurnya (termasuk cuaca). Bencana iklim meliputi kekeringan (kemarau panjang), banjir, puting beliung, badai guruh, longsor, siklon tropis, kebakaran hutan, dan sebagainya.

Banjir dan longsor

Lalu, bagaimana potensi bencana iklim tersebut di negeri ini? Di Indonesia, banjir dan longsor merupakan bencana iklim terbesar sepanjang sejarah yang terus berulang setiap tahun. Selama tahun 1998-2003, telah terjadi 302 banjir dan 245 longsor. Bencana lainnya, yaitu angin puting beliung terjadi 46 kali, gempa bumi sebanyak 38 kali, dan gunung berapi 16 kali (Badan Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana, 2003).

Hal ini menunjukkan bahwa banjir merupakan bencana yang paling sering terjadi di Indonesia dengan persentasi kejadian sebesar 47 persen. Banjir menduduki peringkat pertama bencana tersering dan terbesar (sebelum terjadinya tsunami di Aceh pada 2004) di Indonesia yang melenyapkan 1.066 nyawa dengan kerugian sekitar Rp 191 miliar rupiah. Kerugian akibat banjir adalah 93 persen dari total kerugian yang diakibatkan oleh seluruh bencana (longsor, gempa bumi, gunung berapi). Sementara itu, longsor yang memiliki persentasi kejadian 38 persen telah menimbulkan 645 korban jiwa dan menyisakan kerugian sekitar Rp 14 miliar.

Akibat pemanasan global dan perubahan iklim, diperkirakan banjir, longsor, dan angin puting beliung akan semakin sering dan meluas dampaknya dari tahun ke tahun di Indonesia. Oleh karena itu, perlu ada inisiatif yang kuat dari pemerintah dan masyarakat untuk memperketat jumlah emisi karbon yang dihasilkan negara ini, meskipun negosiasi internasional belum pula menemukan titik terang.

Cerdas iklim

Beradaptasi terhadap perubahan iklim adalah upaya terbaik yang harus digiatkan semua pihak. Tujuan dari adaptasi sejatinya sangat gamblang, yakni mengajak setiap individu dan komunitas (perusahaan, negara) agar hidup lebih hemat, sehat, peduli dan empati terhadap lingkungan serta masa depan bumi.

Beberapa isu yang mengemuka mengenai adaptasi perubahan iklim adalah apakah sistem pembangunan di negara ini sudah memiliki ketahanan terhadap perubahan iklim? Apakah perencanaan pembangunan di Indonesia sudah mempertimbangkan pembangunan yang "cerdas iklim" (climate smart)?

Perlu dipikirkan pula agar kebijakan pembangunan berorientasi pada pengurangan gas rumah kaca atau pengurangan emisi karbon. Sebab, perubahan iklim memiliki kaitan erat dengan pemanasan global yang diakibatkan bertambahnya gas rumah kaca.

Apa saja yang sebaiknya dilakukan pemerintah dan masyarakat? Pertama, rencana pembangunan jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang, harus memasukkan poin "cerdas iklim" sebagai fondasi utama yang harus dimiliki dalam bidang tata kelola ruang dan wilayah, pembangunan infrastruktur, dan lain sebagainya.

Kedua, pemerintah dapat membuat kebijakan agar perusahaan berkomitmen mengurangi emisi karbon dari operasional perusahaan mereka. Salah satu caranya dengan membuat skema "pajak karbon" yang dapat dibebankan kepada perusahaan yang mengeluarkan emisi karbon melebihi standar penetapan emisi karbon.

Ketiga, para ilmuwan dan perekayasa harus melakukan inovasi segera di bidang energi untuk menemukan alternatif pengganti minyak bumi dan batu bara. Seperti diketahui, emisi karbon terbesar bersumber dari penggunaan bahan bakar minyak dan batu bara.

Keempat, meminimalkan sampah karbon yang ditimbulkan dari hasil pembabatan hutan untuk barang komoditas kayu siap pakai. Hanya 10 persen dari bagian pohon yang digunakan sebagai barang komoditas. Selebihnya, 90 persen adalah sampah yang berpotensi mengeluarkan emisi karbon. Oleh karena itu, perusahaan kayu harus memikirkan pula penciptaan teknologi yang dapat meminimalkan sampah karbon ini.

Kelima, menggalakkan hidup "hemat karbon" di kalangan masyarakat, terutama bagi kalangan masyarakat ekonomi menengah ke atas yang memiliki potensi besar mengeluarkan emisi karbon dari "gaya hidup" mereka.

Keenam, melakukan dan mengampanyekan penanaman pohon atau penghijauan di lingkungan tempat tinggal, perkantoran, dan lingkungan publik. ***

Erma Yulihastin, staf Peneliti Bidang Pemodelan Iklim Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim Lembaga Penerbangan dan Antariksa (Lapan).

Keterangan: Tulisan ini dimuat di Pikiran Rakyat, 8 Januari 2009

07 Januari 2009

Mawar Hitam Palestina (2)



Mawar Hitam Palestina (2)

Kurengkuh mawar hitam,
Kubiarkan durinya melobangi hatiku,

Maka esok,
Kala ekinoks matahari menerangi bumi utara,
akan kubawa
kepingan hati ini
padamu.

Untuk kau hitung,
dan pastikan,
adakah semiliar?

Untuk kau ingat,
dan camkan,
adakah seabad?

Maka hitunglah,
Berapa miliar
mawar hitam
tersemai di sana?

Maka pikirlah,
Berapa abad
mawar hitam
bakal tercerabut
dari tanah nabi?

erma yulihastin
(Merdeka, 4 januari 2008)

06 Januari 2009

Mawar Hitam Palestina (1)


Mawar Hitam Palestina (1)

Pagi ini,
hendak kutusukkan
sekuntum mawar hitam
pada hatimu.

Demi kacamata penajam telingaku,
kuingin matamu sejernih embun.

Demi kerudung pelindung mulutku,
kuingin kepalamu seterang matahari.

Demi abaya pembungkus jejariku,
Kuingin tubuhmu sebebas angin,

menjelajahi dunia,

menjadi saksi,
hancurnya
jutaan hati
manusia di negeri suci.

erma yulihastin

(Tamblong, 4 Januari 2009)