14 Januari 2010

ElNino Vs badai Ketsana


Ada yang menarik saat mencermati cuaca di Bandung sejak pertengahan September 2009. Pola cuaca harian di Bandung menunjukkan pemanasan maksimum terjadi hingga tengah hari (pukul 12.00 WIB), berikutnya cuaca berubah drastis: mendung tebal dan hujan cukup deras turun hingga sore hari. Keadaan yang sama berulang setiap hari sampai awal Oktober. Padahal, El Nino masih stabil pada suhu +0.70C, cukup untuk memanaskan Samudra Pasifik secara merata sehingga membentuk pusat tekanan rendah yang berefek pada pelemahan sirkulasi Walker dan memicu kekeringan berlebihan di Indonesia pada musim kemarau. Tapi, pada kenyataanya, kemarau panjang tidak terjadi di Bandung. Apakah yang menyebabkan hujan cukup banyak terjadi di Bandung pada musim peralihan ini? Kenapa El Nino tidak berefek pada kekeringan panjang di Bandung? Artikel ini mengulas fenomena melemahnya efek El Nino tersebut dan kaitannya dengan fenomena cuaca dalam skala regional yang sedang terjadi saat ini.

Badai Ketsana dan El Nino
Pada waktu yang bersamaan, sejak 25 September 2009 terjadi depresi (pusat tekanan rendah) di Laut China Selatan dekat dengan Filipina (140 Lintang Utara 1280 Bujur Timur). Depresi yang terjadi di laut ini membesar dan menguat membentuk pusaran dengan diameter lebih dari 1000 kilometer. Pusaran yang biasa dikenal dengan istilah siklon tropis (selanjutnya dinamai siklon tropis Ketsana) ini terus membesar dari hari ke hari dan bergerak ke arah barat (menjauhi Filipina). Lihat Gambar 1 di bawah.











Gambar 1. Siklon tropis Ketsana yang ditunjukkan oleh pusaran putih awan di Laut China Selatan (dekat Filipina) tertangkap oleh citra Satelit MT SAT
25-29 September 2009.

Akibat Ketsana ini, pada 27 September lalu, di Filipina terjadi banjir besar dan angin kencang dengan korban tewas 70 orang lebih (Kompas, 27 September). Korban jiwa ini terus bertambah hingga mencapai 140 orang (Metrotvnews, 29 September). Jika diperhatikan lagi Gambar Badai Ketsana di atas (terutama pada tanggal 27 dan 28 September), terlihat bahwa pengaruh cuaca yang ditimbulkan oleh Badai Ketsana ini juga menghampiri beberapa wilayah di Indonesia, terutama di sebagian besar Sumatra. Terbukti, selama bulan September, Sumatra bagian utara mengalami iklim ekstrem berupa hujan lebat dan banjir dengan curah hujan rata-rata selama sebulan yang terukur oleh Satelit TRMM mencapai 20 milimeter per hari. Sementara di Sumatra bagian tengah curah hujan rata-rata yang terjadi berada di rentang 5-12 milimeter per hari. Di Sumatra bagian selatan (Lampung dan sekitarnya) curah hujan mencapai 2-3 milimeter per hari. Jawa Barat pun ternyata bercurah hujan cukup tinggi selama September yaitu sekitar 3 milimeter per hari. Padahal di wilayah lainnya di Indonesia, curah hujan rata-rata selama September hanya berkisar antara 0-3 milimeter per hari. Secara visual, curah hujan di wilayah Indonesia bulan September dapat dicermati pada Gambar 2.








Gambar 2. Curah hujan di wilayah Indonesia dipantau oleh Satelit TRMM menunjukkan bahwa Jawa Barat mengalami curah hujan rata-rata harian cukup tinggi yaitu 3 mm/hari

MJO Aktif
Namun, Badai Ketsana bukan satu-satunya yang menyebabkan cuaca di Bandung terus menerus diguyur hujan meskipun sebetulnya Indonesia belum memasuki musim hujan. Fenomena MJO (Madden Julian Oscillation) juga mempengaruhi. MJO selama September hingga awal Oktober aktif dan terjadi di wilayah Indonesia. MJO merupakan fenomena penjalaran gelombang di atmosfer dari barat ke timur yang memiliki periode antara 30-60 hari. Penjalaran gelombang ini juga diikuti dengan bergeraknya kumpulan superbesar awan-awan tinggi (Cumulonimbus) yang berpotensi besar membangkitkan konveksi yang membentuk hujan. Melalui pengamatan mengenai MJO Updates dari website NOAA, dapat dicermati bahwa sinyal MJO dideteksi aktif dan terjadi di Benua Maritim Indonesia selama September. Dengan mengamati Gambar 2 dapat juga dipahami bahwa hujan besar terjadi di Samudra Hindia bagian barat Sumatra dengan intensitas rata-rata 15-20 milimeter/hari. Kondisi ini terjadi karena ada kaitannya dengan MJO yang telah memicu pergerakan awan-awan di Samudra Hindia menuju ke timur (mendekati Sumatra). Maka, konveksi pun banyak terjadi di Sumatra dan Jawa Barat.
Selain MJO, ternyata pengamatan pada kondisi suhu permukaan laut di Samudra Hindia menunjukkan bahwa Dipole Mode berada dalam kondisi normal cenderung negatif. Hal ini menunjukkan bahwa tekanan yang lebih tinggi terjadi Samudra Hindia sebelah timur India sementara di Samudra Hindia bagian barat Sumatra justru terbentuk tekanan rendah. Kondisi ini lagi-lagi memicu tertariknya awan-awan konvektif menuju wilayah Sumatra dan Jawa Barat. Lalu, bagaimana halnya dengan angin monsun? Pola angin wilayah selatan Indonesia masih menunjukkan menurunnya konsistensi pengaruh daratan Australia, dan ini menjadi tanda awal peralihan musim kemarau menuju musim hujan.
Gabungan antara Badai Ketsana, MJO aktif, Dipole Mode yang normal cenderung negatif, dan angin monsun yang mulai berubah inilah tampaknya yang membuat cuaca Bandung hingga Oktober masih akan dibayang-bayangi oleh hujan beruntun. Jadi bersiaplah dengan payung atau jas hujan kemana pun Anda pergi.

Artikel ini dimuat di Pikiran Rakyat, 15 Oktober 2009

0 komentar: