
Kejadian ini berlangsung sekitar sebulan yang lalu.
“Bunda, aku hari ini nggak shalat, ah.”
“Kenapa?”
“Ya, nggak mau aja. Masak shalat harus tiap hari, sih?”
Protes Sekar, lima tahun, suatu kali saat datang ritual shalat Maghrib berjamaah di rumah.
“Sekar, sini deh. Bunda mau bicara,” kugamit lengannya dan kududukkan dia di atas kasur.
“Sekar pengen masuk surga, gak?”
“Mau.”
“Nah, untuk masuk surga kita harus punya tiket, sama seperti kalau kita mau masuk bioskop. Surga juga punya banyak sekali pintu, dan salah satu pintunya adalah pintu shalat. Untuk bisa masuk pintu shalat, kita harus shalat setiap hari.”
“Mengerti, nggak?”
“Ya, ya. Ngerti…”
“Kalau begitu, yuk, kita shalat.”
Anakku yang kritis itu pun akhirnya menurut. Ia mengambil mukena mungilnya, lalu kami pun shalat bersama.
***
Kini, tiap malam sehabis ritual shalat maghrib berjama'ah, Sekar dengan mandiri membuka buku Iqro' dan membacanya, lalu membuka buku belajar membaca, dan ditutup dengan "qur'anku sahabatku" yang saya bacakan untuknya. Banyak sekali cerita hari kiamat, hari pembalasan, surga, neraka, yang secara lamat-lamat ia cerna dalam pikirannya melalui buku tafsir anak-anak tersebut.

0 komentar:
Poskan Komentar