07 Juli 2010

Pemanasan Global dan Anomali Kemarau

Hujan pada bulan Juni merupakan hal yang absurd di masa lalu. Namun saat ini absurdisitas tersebut tak berlaku lagi. Kenyataannya, di bulan Juni wilayah Indonesia masih sering diguyur hujan. Gara-gara itu pula, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika bergegas merevisi awal musim kemarau tahun 2010 yang tadinya sekitar Maret-April menjadi Juli-Agustus dengan kecenderu-ngan musim kemarau lebih pendek dari normalnya. Dengan kata lain, tahun ini telah terjadi anomali musim kemarau.

Hujan mendera

Hujan yang masih sering turun di bulan Juni terekam oleh satelit pemantau hujan TRMM (Tropical Rainfall Measuring Mission) milik Badan Penerbangan Jepang (JAXA) dan Amerika Serikat (NASA). Tak tanggung-tanggung, hujan lebat dengan intensitas antara 200 hingga 575 milimeter selama Juni terjadi merata di seluruh Indonesia, kecuali wilayah tenggara Indonesia (Nusa Tenggara dan sekitarnya) yang memiliki curah hujan kurang dari 25 milimeter.

Secara lebih detail dapat dijelaskan bahwa sepanjang Juni tampak terjadi pengura-ngan hujan secara bertahap di Pulau Jawa. Pada periode dasarian pertama (1-10 Juni) dan dasarian kedua (11-20 Juni), curah hujan di Jawa ber-kisar antara 25 sampai 125 milimeter, kecuali Jawa Timur bagian timur (Jember, Banyuwangi, dan sekitarnya) yang memiliki curah hujan kurang dari 25 milimeter. Sementara pada dasarian ketiga (21-30 Juni), curah hujan kurang dari 25 milimeter terjadi di sebagian besar Jawa (Jawa Timur, Jawa Barat bagian tengah dan timur, Jawa Tengah bagian barat).

Kemarau tertunda

Ada yang tidak sesuai antara pola angin dan pola hujan pada bulan Juni tahun ini. Data angin pada Juni menunjukkan angin timur (tenggara) terjadi cukup kuat dan homogen di atas wilayah Indonesia. Angin timur ini bersifat kering dan dingin karena berasal dari daratan Australia yang saat ini sedang mengalami musim dingin. Karena bersifat kering itulah, angin tersebut menga-kibatkan musim kemarau pada saat melewati benua maritim Indonesia.

Seharusnya, pola angin timur yang kering ini juga didukung oleh data hujan yang semakin berkurang di bulan Juni. Secara klimatologis hujan selama sepuluh hari berturut-turut (1-10 Juni) seharusnya memiliki intensitas kurang dari 50 milimeter, yang secara konsisten diikuti oleh dua dasarian berikutnya (11-20 Juni, 21-30 Juni). Dengan kata lain, total curah hujan selama Juni haruslah kurang dari 150 milimeter. Kenya-taannya, seperti diungkapkan sebelumnya di atas, curah hujan di wilayah Indonesia selama Juni masih sekitar 200 hingga 575 milimeter. Inilah kemudian yang menjadi dasar keputusan BMKG untuk menunda awal musim kemarau menjadi Juli-Agustus.

Pemanasan global

Selama bulan Juni tidak terjadi La Nina, Dipole Mode, dan MJO. Dengan kata lain, kondisi suhu permukaan laut di Samudra Pasifik dan Samudra Hindia berada dalam rentang yang normal. Seperti diketahui, anomali suhu yang terjadi di Samudra Pasifik dan Samudra Hindia dapat mempengaruhi variasi atau bahkan perubahan musim di wilayah Indonesia.

Lantas apa penyebab hujan yang masih sering terjadi di musim kemarau?

Pertama, terjadi pemanasan suhu permukaan laut di lautan Indonesia yang meningkat antara 0.5 sampai 2 derajat Celsius. Peningkatan suhu permukaan laut yang paling tinggi terjadi di Samudra Hindia selatan Jawa dan barat laut Sumatra serta di sekitar selat Makasar. Pemanasan suhu permukaan laut inilah rupanya yang telah berpotensi menciptakan daerah konvergensi (pusat tekanan rendah) di wilayah Indonesia, menyedot awan-awan konvektif (jenis awan-awan tinggi yang berpotensi menimbulkan hujan lebat disertai petir) dari Samudra Hindia. Peningkatan suhu permukaan laut ini bahkan telah berkolaborasi dengan peningkatan suhu permukaan di atas daratan sehingga Sumatra dan Jawa selama bulan Mei mengalami suhu yang ekstrem panas. Juga pada pekan pertama Juni, suhu ekstrem panas masih berlangsung di Jawa, Bali, Kalimantan, Sulawesi. Pema-nasan suhu permukaan laut dan suhu daratan di sejumlah wilayah di Indonesia ini ke-mungkinan berhubungan dengan terjadinya anomali pe-ningkatan suhu permukaan (antara 2 hingga 6 derajat Celsius) pada sekitar 80 persen daratan di seluruh dunia selama Mei. Sementara anomali penurunan suhu (minus 2-6 derajat Celsius) terjadi meliputi tak lebih dari 5 persen daratan di dunia. Hal ini sebagaimana dilansir oleh IRI (The International Research Institute for Climate and Society), Columbia.

Kedua, penurunan suhu di Samudra Pasifik. Peningkatan suhu permukaan laut di lautan Indonesia tersebut ternyata seiring dengan penurunan suhu di Samudra Pasifik sekitar -0.5 derajat Celsius. Meskipun penurunan suhu di Samudra Pasifik ini masih normal dan belum tergolong La Nina, tetapi sinyal dingin yang dikirimkan dari Samudra Pasifik ini cukup efektif memblokir awan-awan konvektif agar tidak lekas meninggalkan wilayah Indonesia. Buktinya, mendung dan hujan masih mendera di atas atmosfer Indonesia selama bulan Juni ini.

Ketiga, tidak bisa dimungkiri, hujan yang masih sering terjadi di Indonesia juga dipengaruhi oleh dinamika atmosfer pada skala regional. Terjadinya Badai Tropis di Teluk Bengala (India) selama sepekan terakhir Mei ikut memengaruhi proses pembentukan awan dan hujan di Indonesia (terutama di Jawa dan Sumatra). Pada awal Juni, Badai Tropis muncul kembali di sekitar Laut Arab dan Oman. Demikian pula pada akhir Juni (30 Juni) terdapat badai Tropis di Samudra Hindia dekat Pulau Sumatra.

Analisis peningkatan suhu global selama dua bulan terakhir menunjukkan hujan yang masih sering turun di wilayah Indonesia secara utama dipengaruhi oleh terjadinya panas ekstrem di daratan dan peningkatan suhu permukaan laut di perairan lokal Indonesia. Kedua pe-ningkatan suhu tersebut, tak bisa dimungkiri, merupakan fenomena yang menjadi bagian dari pemanasan global. Meskipun begitu, untuk me-nyimpulkan adanya kaitan antara anomali kemarau dan pemanasan global dibutuhkan penelitian lebih mendalam dan komprehensif.***

Erma Yulihastin, peneliti pada Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim Lapan.

Catatan: tulisan ini dimuat di Pikiran Rakyat, 8 Juli 2010.

0 komentar: