Oleh ERMA YULIHASTIN
Sifat musim kemarau yang basah tahun ini semestinya menguntungkan petani. Bayangkan saja, pada Juli yang seharusnya merupakan puncak musim kemarau, intensitas curah hujan bulanan di sebagian besar wilayah Indonesia masih tergolong tinggi, yakni 75 hingga 575 milimeter berdasarkan pengamatan Satelit TRMM (Tropical Rainfall Measuring Mission).
Ini berarti dengan curah hujan sepanjang tahun yang cukup bahkan berlebih seharusnya petani dapat melakukan panen lebih sering sebab musim tanam pun akan lebih intens dibandingkan biasanya terutama untuk sawah tadah hujan. Untuk persawahan yang dikelola dengan sistem irigasi, panen padi seharusnya akan lebih banyak diperoleh mengingat ketersediaan air untuk irigasi melimpah.
Secara umum, dalam setahun terdapat tiga kali periode musim tanam dan tiga kali panen untuk pertanian yang memiliki pola irigasi. Hal ini berdasarkan kalender musim tanam yang dikeluarkan oleh PSDA (Pengelolaan Sumber Daya Air), Kementerian Pekerjaan Umum. Musim tanam pertama dilakukan pada Oktober dan panen pada Januari.
Musim tanam kedua dilakukan pada Februari dan panen pada Mei. Musim tanam ketiga diawali pada Juni dan panen pada September. Hujan yang berlimpah pada periode musim kemarau (April hingga September) seharusnya akan berdampak pada peningkatan produksi panen pada musim tanam ketiga (Juni-September). Sayangnya, ini tidak terjadi. Petani justru mengalami kerugian karena gagal panen akibat banjir dan serangan hama (Kompas, 19/7).
Bencana tersebut bahkan mengakibatkan turunnya produksi dan melonjaknya harga akibat spekulasi. Meski terjadi lonjakan harga padi, hal ini tidak berbanding lurus dengan pendapatan petani yang justru menurun, bahkan ada yang menderita kerugian total. Secara nasional bahkan keadaan semacam ini dipercaya berpotensi mengancam ketersediaan pangan (Kompas, 19/7).
Informasi iklim
Ada beberapa hal yang menyebabkan ancaman terhadap menurunnya produksi pertanian. Pertama, minimnya pengetahuan dan pemahaman petani mengenai anomali iklim yang terjadi pada musim kemarau tahun ini. Hal ini sekaligus membuktikan bahwa informasi akurat mengenai iklim dan cuaca sangat dibutuhkan petani.
Selama ini mereka melakukan masa tanam hanya berbekal dari pengetahuan sederhana mengenai pergantian musim yang dikaitkan dengan tanda-tanda alam. Misalnya, petani di Tatar Sunda mengamati rasi bintang, masa berbunga tanaman randu, nyanyian suara serangga dan tenggoret sebagai tanda pergantian musim (Johan Iskandar; Kompas, 2/7).
Satu-satunya pengetahuan modern yang menjadi andalan petani adalah kalender musim tanam yang dikeluaran Kementerian Pertanian dan Kementerian Pekerjaan Umum. Kalender yang menjadi acuan petani untuk memulai tanam padi tersebut dibuat berdasarkan hasil pencatatan alat penakar curah hujan yang dipasang di area persawahan mereka.
Sayangnya, untuk fenomena yang bersifat anomali seperti kemarau basah yang terjadi saat ini, kalender semacam itu tidak lagi bisa menjadi panduan tepercaya. Apalagi, tingkat ketidakpastian kondisi iklim semakin besar dalam beberapa tahun terakhir. Oleh karena itu, informasi iklim yang akurat sangat diperlukan petani dalam menghadapi ketidakpastian tersebut.
Kedua, minimnya sosialisasi dari pemerintah, dalam hal ini lembaga atau kementerian terkait yang dapat menjelaskan anomali iklim yang sedang terjadi. Seharusnya, pemerintah melalui beberapa kementerian terkait mengintegrasikan dan memublikasikan informasi kepada petani, yang tidak hanya bersifat pengetahuan ilmiah mengenai kondisi iklim dewasa ini, tetapi juga tentang informasi yang bersifat arahan teknis dan aplikatif yang langsung dapat diterapkan petani untuk beradaptasi dengan kondisi yang ada.
Misalnya, informasi mengenai kemarau basah juga dibarengi dengan arahan nyata agar petani mengubah jenis tanaman dari jagung atau kedelai yang biasa ditanam pada saat kemarau menjadi padi. La Nina
Hujan agaknya masih akan terus membayangi wilayah Indonesia hingga beberapa bulan mendatang. Hal ini karena munculnya satu fenomena baru yang terjadi pada pertengahan Juli lalu. Fenomena tersebut adalah La Nina, yang menunjukkan periode di mana suhu permukaan laut di kawasan Samudra Pasifik ekuator mendingin dengan anomali suhu lebih rendah dari negatif 0.5 derajat celcius.
Indeks Nino 3.4 menunjukkan La Nina terjadi dengan nilai mendekati negatif 1 derajat celcius (-0.97 derajat celcius). Nino 3.4 adalah kawasan di bagian tengah Samudra Pasifik ekuator yang selama ini disimpulkan para ahli meteorologi berpengaruh paling signifikan terhadap gangguan iklim di wilayah Indonesia.
Berdasarkan data, terbentuknya La Nina di Samudra Pasifik selama ini telah nyata memiliki pengaruh bagi terbentuknya banyak hujan di Indonesia. La Nina terkuat tercatat terjadi pada 1998. Pada saat itu iklim di Indonesia mengalami ekstrem basah yang ditandai dengan turunnya hujan lebat sehingga memperpanjang musim hujan dan mengakibatkan terjadinya banjir besar di sebagian besar wilayah Indonesia. Oleh karena itu, terjadinya La Nina, meskipun masih dalam intensitas lemah (indeks 0.5-1 derajat celcius), patut diwaspadai.
Peluang terjadinya La Nina di Samudra Pasifik pada Agustus, September, dan Oktober adalah 80 persen. Peluang terjadinya kondisi normal menurun menjadi 20, 20, 19 persen berturut-turut. Demikian seperti yang dilansir IRI (International Research Institute for Climate and Society), Columbia. Peluang terjadinya La Nina berdasarkan model dinamik POAMA, Australia, juga menunjukkan terjadinya La Nina kisaran nilai -0.5 hingga -1 derajat celcius akan berlangsung hingga Februari 2011.
Maka jelaslah, kemunculan La Nina ini telah memperkuat faktor pemicu kemarau basah lainnya yang telah terjadi sejak lebih awal (sekitar Maret). Faktor tersebut di antaranya adalah pemanasan suhu permukaan laut lokal di wilayah Indonesia, peningkatan temperatur di daratan Indonesia, osilasi MJO (Madden Julian Oscillation) di kawasan Indonesia dan Samudra Hindia, badai tropis di Samudra Hindia dan Pasifik.
Dengan melihat kondisi ini, sebaiknya petani segera mempersiapkan diri menyongsong musim tanam padi selanjutnya. Sepanjang musim kemarau yang umumnya terjadi hingga Oktober, hujan masih akan sering terjadi dengan intensitas ringan hingga sedang. Pada November musim hujan akan menjelang sehingga curah hujan akan mengalami peningkatan signifikan.
ERMA YULIHASTIN Peneliti Sains Atmosfer pada Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim Lapan Bandung
Catatan: Artikel ini telah dimuat Kompas, 14 September 2010.

0 komentar:
Poskan Komentar