Oleh: Erma Yulihastin*)
Curah hujan minim terjadi pada musim hujan tahun ini. Hal ini karena pengaruh kuat depresi atau badai tropis di Samudera Hindia serta terjadinya iklim ekstrem di Australia bagian utara.
Sehingga, musim hujan di Indonesia pun bersifat kering. Mungkin terdengar aneh, musim hujan tapi, kok, kering? Kata lain yang mewakilinya yaitu musim hujan namun hujan jarang turun. Buktinya, selama satu bulan terakhir (31 Desember – 31 Januari), curah hujan akumulatif di sebagian besar wilayah Indonesia menunjukkan nilai anomali hingga negatif delapan milimeter per hari (-8 mm/hari). Kondisi ini menyerupai musim kemarau. Keadaan kurang hujan tersebut tentu saja menggambarkan musim hujan yang tidak normal. Seharusnya selama bulan Januari, curah hujan yang turun terutama di pulau Jawa dan sekitarnya berlimpah bahkan memiliki surplus antara 10-15 milimeter per hari (+10 hingga +15 mm/hari). Demikian pula pada bulan Desember, curah hujan berlebih seharusnya terjadi di sebagian besar wilayah Indonesia dengan nilai positif antara 5 sampai 20 milimeter per hari (antara +5 sampai +20 mm/hari).
Kenapa musim hujan pada tahun ini terasa kering? Musim hujan yang cenderung kering sejak Desember hingga Januari rupanya terkait erat dengan angin barat yang juga mengalami anomali atau keanehan (keadaan yang tidak normal atau tidak sesuai dengan rata-rata jangka panjangnya). Angin barat bertiup sangat kuat namun bersifat kering. Padahal, pada periode musim hujan, angin barat semestinya mengandung banyak sekali uap air karena berasal dari benua Asia (daratan China dan sekitarnya) yang mengalami musim dingin.
Anomali angin barat ini sebenarnya telah berlangsung sejak satu bulan terakhir. Menurut satelit NOAA (National Oceanic and Atmospheric Administration), Amerika Serikat (31 Desember 2010 – 29 Januari 2011), angin barat dengan nilai anomali antara 8 hingga 12 meter per detik terpantau di wilayah Indonesia bagian selatan (Jawa dan sekitarnya) dan barat daya (Sumatera) serta di perairan Samudera Hindia bagian selatan pulau Jawa. Bahkan pada seminggu terakhir (8-14 Januari 2011), anomali angin barat mencapai kekuatan 10 hingga 16 meter per detik lebih kencang dari biasanya.
Fenomena angin barat yang kencang ini agaknya dipengaruhi oleh kondisi iklim di benua Australia yang ekstrem. Sejak November 2010, Australia mengalami musim dingin yang ekstrem. Pada akhir Desember 2010, Australia bagian utara dan timur laut bahkan mengalami banjir besar. Badan Meteorologi Australia mencatat bulan Desember 2010 sebagai bulan terbasah di kota Queensland (timur laut Australia) sepanjang sejarah. Mereka menyatakan, banjir besar yang melanda sebagian besar utara Australia terkait dengan fenomena La Nina kuat pada bulan Desember. Indeks SOI pada saat itu menunjukkan nilai tertinggi (+27.1) sejak tahun 1974.
Badai Tropis
Angin barat yang kencang di wilayah Indonesia terjadi karena pengaruh pusat konvergensi yang terbentuk di bagian selatan perairan Samudera Hindia dan Australia barat daya. Pusat konvergensi ini dapat dikenali dari anomali suhu permukaan laut di Samudera Hindia yang mengalami anomali panas melebihi 3 derajat Celcius. Hal ini memicu pembentukan badai tropis di kawasan tersebut. Buktinya, sejak akhir Desember 2010 berulang kali terjadi Badai tropis. Tercatat pada akhir Desember hingga awal Januari terjadi badai tropis Tasha, Vince. Lalu baru-baru ini (28 Januari) badai tropis Wilma terjadi di sekitar New Zealand dan siklon Anthony terbentuk di sekitar timur laut Australia. Sementara pada 30 Januari terjadi siklon Yasi.
Terjadinya depresi tropis yang intensif ini telah terbukti secara efektif menyedot awan-awan konvektif yang berseliweran di atas wilayah Indonesia sehingga menggagalkan proses konveksi dan meniadakan hujan.
Gabungan antara dinamika iklim ekstrem di Australia, pusat konvergensi di Samudera Hindia, dan badai tropis inilah yang antara lain menyebabkan angin kencang masih kerap terjadi di wilayah Indonesia. Nyatanya pula, meski La Nina terekam kuat (dengan indeks +1,5 derajat Celcius), namun tidak memberikan dampak pada curah hujan yang besar di Indonesia.
*) Peneliti Sains Atmosfer pada Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim, LAPAN
Catatan: tulisan ini diterbitkan di Pikiran Rakyat, 17 Februari 2011
11 April 2011
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)

0 komentar:
Poskan Komentar