<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-1824214246344813752</id><updated>2012-01-27T02:59:32.159-08:00</updated><title type='text'>Membumi, mengangkasa...</title><subtitle type='html'>Sesungguhnya Tuhan menantang manusia untuk menembus bumi dan menjelajahi angkasa. Maka, manusia tak mungkin sanggup melakukannya kecuali dengan kekuatan.</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://yulihastin.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1824214246344813752/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yulihastin.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>yulihastin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07384503929845779248</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SLenWZrNyfI/AAAAAAAAACs/Yr2e67BQLw0/S220/sekar-erma.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>69</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1824214246344813752.post-6297144398852011134</id><published>2011-05-24T02:57:00.000-07:00</published><updated>2011-05-24T03:00:22.377-07:00</updated><title type='text'>Iklim Mendukung Pertanian</title><content type='html'>Oleh: Erma Yulihastin*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menarik menyimak tulisan berjudul “Pertanian Masih Terabaikan” yang menjadi headline Pikiran Rakyat senin, 21 Februari lalu. Laporan tersebut menyoroti menurunnya produksi pertanian di sebagian besar wilayah sentra pangan di Indonesia selama tiga tahun terakhir (2008-2010). Meskipun penyebab penurunan berkisar persoalan teknis seperti rusaknya irigasi, lemahnya teknologi, mahalnya pupuk, berkurangnya lahan pertanian, tapi iklim juga disebut-sebut sebagai salah satu penyebab. Bagaimana sebetulnya kondisi iklim selama tiga tahun terakhir di Indonesia? Apakah iklim merupakan faktor utama yang pantas disalahkan terhadap menurunnya produksi pertanian? Tulisan ini bermaksud mengulas kondisi iklim di Indonesia selama beberapa tahun terakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iklim Ekstrem    &lt;br /&gt;Kondisi iklim ekstrem yang paling berpengaruh terhadap pertanian adalah kekeringan dan banjir. Kekeringan mengakibatkan padi gagal panen. Banjir membuat padi mati muda alias puso. Namun, dibandingkan dengan banjir, dampak kekeringan terhadap pengurangan produksi pangan lebih mengkhawatirkan. Hal ini seperti kemarau panjang dan kekeringan ekstrem yang pernah terjadi pada 1997-1998. &lt;br /&gt;Lalu, bagaimanakah kondisi sesudah periode tersebut? Apakah iklim di Indonesia menunjukkan kondisi ekstrem yang berdampak pada produksi pangan? &lt;br /&gt;Selama sepuluh tahun terakhir sejak bencana kekeringan pada 1997-1998, tidak terjadi lagi kekeringan serupa di wilayah Indonesia yang ditengarai dapat berdampak signifikan pada pertanian. Kasus kekeringan hebat pada 1997 terjadi karena pengaruh El Nino kuat (di Samudera Pasifik) yang bersamaan dengan Dipole Mode positif yang juga kuat (di Samudera Hindia). Selain intensitasnya yang sama-sama kuat, El Nino dan Dipole Mode positif pada waktu itu juga berlangsung dalam periode waktu yang panjang, hampir setahun penuh (Mei 1997-Mei 1998).   &lt;br /&gt;Memang, pada 2002-2003 (Agustus 2002-Desember 2003) terjadi lagi kejadian El Nino dan Dipole Mode positif dengan intensitas yang sama moderat, tapi tidak berpengaruh terhadap kekeringan. Hal ini karena intensitasnya hanya moderat dan berlangsung relatif singkat. Demikian pula pada 2006-2007 (Agustus 2006-Januari 2007), berulang lagi peristiwa yang sama yakni El Nino moderat berkolaborasi dengan Dipole Mode positif moderat. Namun, efek kekeringan juga tidak terasa karena periode kejadian tidak berlangsung lama dan bebarengan dengan periode musim hujan.  &lt;br /&gt;Setelah kemarau panjang 1997, musim kemarau di Indonesia setiap tahun berlangsung normal bahkan pada beberapa kasus cenderung bersifat basah. Artinya, pada periode musim kemarau tersebut hujan masih kerap kali turun. Musim kemarau yang cenderung bersifat basah ini terjadi pada 2008. Musim kemarau pada saat itu sangat dipengaruhi oleh terjadinya La-Nina meskipun lemah sejak Februari hingga Agustus 2008. Hal ini tentu saja menguntungkan karena secara umum musim kemarau di Indonesia akan berakhir pada September.&lt;br /&gt;Anomali iklim yang lebih menguntungkan lagi terjadi pada tahun 2010. sepanjang tahun di sebagian besar wilayah Indonesia tidak terjadi musim kemarau. Artinya, hujan turun sepanjang tahun, bahkan di wilayah-wilayah yang semestinya mengalami musim kemarau lebih kering dibandingkan wilayah lain (Nusa Tenggara dan sekitarnya). &lt;br /&gt;Hampir sepanjang tahun 2010, pulau Jawa kerap mengalami hujan lebat. Hal ini  berdasarkan pengamtan intensif terhadap satelit pemantau hujan TRMM (Tropical Rainfall Measuring Mission). Tidak adanya kemarau pada 2010 disebabkan oleh setidaknya tiga hal utama: menghangatnya suhu permukaan laut di perairan Indonesia, mendinginnya suhu di permukaan laut Samudera Pasifik ekuator, dan badai tropis. &lt;br /&gt;Pertama, peningkatan suhu permukaan laut di lautan Indonesia antara 0.5 sampai 2 derajat Celcius. Peningkatan suhu permukaan laut yang paling tinggi terjadi di Samudra Hindia selatan Jawa dan barat laut Sumatra serta di sekitar selat Makasar. Pemanasan suhu permukaan laut inilah yang telah berpotensi menciptakan daerah konvergensi (pusat tekanan rendah) di wilayah Indonesia, menyedot awan-awan konvektif (jenis awan tinggi yang berpotensi menimbulkan hujan lebat disertai petir) dari Samudra Hindia. &lt;br /&gt;Kedua, penurunan suhu di Samudra Pasifik. Peningkatan suhu permukaan laut di lautan Indonesia tersebut di atas ternyata seiring dengan penurunan suhu di Samudra Pasifik sekitar -0.5 derajat Celcius. Meskipun penurunan suhu di Samudra Pasifik ini masih normal dan belum tergolong La Nina, namun sinyal dingin yang dikirimkan dari Samudra Pasifik ini cukup efektif memblokir awan-awan konvektif agar tidak lekas meninggalkan wilayah Indonesia. Buktinya, mendung dan hujan masih mendera di atas atmosfer Indonesia selama bulan Juni ini. &lt;br /&gt;Ketiga, hujan yang masih sering terjadi di Indonesia juga dipengaruhi oleh dinamika atmosfer pada skala regional. Terjadinya Badai Tropis di Teluk Bengala (India) selama sepekan terakhir Mei ikut mempengaruhi proses pembentukan awan dan hujan di Indonesia (terutama di Jawa dan Sumatra). Pada awal Juni, Badai Tropis muncul kembali di sekitar Laut Arab dan Oman. &lt;br /&gt;Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa berdasarkan pengamatan terhadap data curah hujan melalui satelit, kondisi musim kemarau dan musim hujan selama sepuluh tahun terakhir normal bahkan cenderung bersifat basah. Tiadanya kekeringan atau kemarau ekstrem, seharusnya dapat dijadikan faktor pemicu bertambahnya stok pangan nasional. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peneliti Sains Atmosfer pada Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim, &lt;br /&gt;Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan: artikel ini dimuat di koran Pikiran Rakyat, 3 Maret 2011.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;iframe src="http://www.hothotsoftware.com/freestuff/counterView.php?counterid=yulihastin" width=100 height=100 frameborder=0&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1824214246344813752-6297144398852011134?l=yulihastin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yulihastin.blogspot.com/feeds/6297144398852011134/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1824214246344813752&amp;postID=6297144398852011134' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1824214246344813752/posts/default/6297144398852011134'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1824214246344813752/posts/default/6297144398852011134'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yulihastin.blogspot.com/2011/05/iklim-mendukung-pertanian.html' title='Iklim Mendukung Pertanian'/><author><name>yulihastin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07384503929845779248</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SLenWZrNyfI/AAAAAAAAACs/Yr2e67BQLw0/S220/sekar-erma.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1824214246344813752.post-1165887536383139957</id><published>2011-04-11T07:18:00.000-07:00</published><updated>2011-04-11T20:26:35.526-07:00</updated><title type='text'>Musim Hujan Kenapa Kering?</title><content type='html'>Oleh: Erma Yulihastin*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Curah hujan minim terjadi pada musim hujan tahun ini. Hal ini karena pengaruh kuat depresi atau badai tropis di Samudera Hindia serta terjadinya iklim ekstrem di Australia bagian utara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga, musim hujan di Indonesia pun bersifat kering. Mungkin terdengar aneh, musim hujan tapi, kok, kering? Kata lain yang mewakilinya yaitu musim hujan namun hujan jarang turun. Buktinya, selama satu bulan terakhir (31 Desember – 31 Januari), curah hujan akumulatif di sebagian besar wilayah Indonesia menunjukkan nilai anomali hingga negatif delapan milimeter per hari (-8 mm/hari). Kondisi ini menyerupai musim kemarau. Keadaan kurang hujan tersebut tentu saja menggambarkan musim hujan yang tidak normal. Seharusnya selama bulan Januari, curah hujan yang turun terutama di pulau Jawa dan sekitarnya berlimpah bahkan memiliki surplus antara 10-15 milimeter per hari (+10 hingga +15 mm/hari). Demikian pula pada bulan Desember, curah hujan berlebih seharusnya terjadi di sebagian besar wilayah Indonesia dengan nilai positif antara 5 sampai 20 milimeter per hari (antara +5 sampai +20 mm/hari). &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Kenapa musim hujan pada tahun ini terasa kering? Musim hujan yang cenderung kering sejak Desember hingga Januari rupanya terkait erat dengan angin barat yang juga mengalami anomali atau keanehan (keadaan yang tidak normal atau tidak sesuai dengan rata-rata jangka panjangnya). Angin barat bertiup sangat kuat namun bersifat kering. Padahal, pada periode musim hujan, angin barat semestinya mengandung banyak sekali uap air karena berasal dari benua Asia (daratan China dan sekitarnya) yang mengalami musim dingin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anomali angin barat ini sebenarnya telah berlangsung sejak satu bulan terakhir. Menurut satelit NOAA (National Oceanic and Atmospheric Administration), Amerika Serikat (31 Desember 2010 – 29 Januari 2011), angin barat dengan nilai anomali antara 8 hingga 12 meter per detik terpantau di wilayah Indonesia bagian selatan (Jawa dan sekitarnya) dan barat daya (Sumatera)  serta di perairan Samudera Hindia bagian selatan pulau Jawa. Bahkan pada seminggu terakhir (8-14 Januari 2011), anomali angin barat mencapai kekuatan 10 hingga 16 meter per detik lebih kencang dari biasanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena angin barat yang kencang ini agaknya dipengaruhi oleh kondisi iklim di benua Australia yang ekstrem. Sejak November 2010, Australia mengalami musim dingin yang ekstrem. Pada akhir Desember 2010, Australia bagian utara dan timur laut bahkan mengalami banjir besar. Badan Meteorologi Australia mencatat bulan Desember 2010 sebagai bulan terbasah di kota Queensland (timur laut Australia) sepanjang sejarah. Mereka menyatakan, banjir besar yang melanda sebagian besar utara Australia terkait dengan fenomena La Nina kuat pada bulan Desember. Indeks SOI pada saat itu menunjukkan nilai tertinggi (+27.1) sejak tahun 1974. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Badai Tropis&lt;br /&gt;Angin barat yang kencang di wilayah Indonesia terjadi karena pengaruh pusat konvergensi yang terbentuk di bagian selatan perairan Samudera Hindia dan Australia barat daya. Pusat konvergensi ini dapat dikenali dari anomali suhu permukaan laut di Samudera Hindia yang mengalami anomali panas melebihi 3 derajat Celcius. Hal ini memicu pembentukan badai tropis di kawasan tersebut. Buktinya, sejak akhir Desember 2010 berulang kali terjadi Badai tropis. Tercatat pada akhir Desember hingga awal Januari terjadi badai tropis Tasha, Vince. Lalu baru-baru ini (28 Januari) badai tropis Wilma terjadi di sekitar New Zealand dan siklon Anthony terbentuk di sekitar timur laut Australia. Sementara pada 30 Januari terjadi siklon Yasi.   &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Terjadinya depresi tropis yang intensif ini telah terbukti secara efektif menyedot awan-awan konvektif yang berseliweran di atas wilayah Indonesia sehingga menggagalkan proses konveksi dan meniadakan hujan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gabungan antara dinamika iklim ekstrem di Australia, pusat konvergensi di Samudera Hindia, dan badai tropis inilah yang antara lain menyebabkan angin kencang masih kerap terjadi di wilayah Indonesia. Nyatanya pula, meski La Nina terekam kuat (dengan indeks +1,5 derajat Celcius), namun tidak memberikan dampak pada curah hujan yang besar di Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) Peneliti Sains Atmosfer pada Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim, LAPAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan: tulisan ini diterbitkan di Pikiran Rakyat, 17 Februari 2011&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;iframe src="http://www.hothotsoftware.com/freestuff/counterView.php?counterid=yulihastin" width=100 height=100 frameborder=0&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1824214246344813752-1165887536383139957?l=yulihastin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yulihastin.blogspot.com/feeds/1165887536383139957/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1824214246344813752&amp;postID=1165887536383139957' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1824214246344813752/posts/default/1165887536383139957'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1824214246344813752/posts/default/1165887536383139957'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yulihastin.blogspot.com/2011/04/musim-hujan-kenapa-kering.html' title='Musim Hujan Kenapa Kering?'/><author><name>yulihastin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07384503929845779248</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SLenWZrNyfI/AAAAAAAAACs/Yr2e67BQLw0/S220/sekar-erma.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1824214246344813752.post-7645761300802137696</id><published>2011-01-24T18:42:00.000-08:00</published><updated>2011-01-24T23:25:34.480-08:00</updated><title type='text'>Hamilku Bahagia, Bagaimana dengan Anda?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/TT48YhaAf1I/AAAAAAAAAMg/DRLy9zZSWOc/s1600/Hamilku%2BBahagiaku.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 281px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/TT48YhaAf1I/AAAAAAAAAMg/DRLy9zZSWOc/s400/Hamilku%2BBahagiaku.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5565952581458493266" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;===========================================&lt;br /&gt;Judul: Hamilku Bahagiaku&lt;br /&gt;Penerbit: Leutika Publisher &lt;br /&gt;Halaman: 205&lt;br /&gt;Harga: Rp 40.000 (empat puluh ribu rupiah)&lt;br /&gt;===========================================&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah, buku "Hamilku Bahagiaku" telah terbit di pertengahan Januari 2011.&lt;br /&gt;Berikut ini sekelumit pengantar yang saya tulis untuk buku ketujuh saya ini,&lt;br /&gt;yang ditulis bersama dengan enam orang lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku “Hamilku bahagiaku” ini saya tulis bukan karena saya adalah orang yang mahir dalam mengelola emosi di kala hamil dan nifas. Sebaliknya, ide ini terlintas di kepala karena saya mengalami banyak masalah dalam meredam dan mengelola emosi selama hamil dan nifas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dugaan saya, ada sekian banyak wanita yang bernasib sama seperti saya. Para ibu muda yang merasa shock saat menyadari bahwa bayi mereka selain membentangkan begitu banyak harapan dan kebahagiaan, ternyata juga menyita sangat banyak energi, waktu dan perhatian. Sehingga bayi mungil yang lucu bisa saja berubah menjadi “monster” yang mengerikan ketika makhluk kecil itu sangat rewel, sering menangis tanpa sebab, dan terjaga sepanjang hari menuntut perhatian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini memberikan ulasan yang cerdas dan lugas mengenai perilaku emosional para ibu  hamil dan nifas. Sebuah buku hamil yang fokus pada uraian psikologis wanita hamil dan nifas, baik teori maupun praktek. Para pembaca tak hanya diajak memahami emosi wanita hamil, tapi juga disuguhi cara-cara mudah untuk mengelolanya. Tak ayal, buku ini membimbing para wanita menjadi cerdas emosi tatkala hamil dan nifas. Sebab penulisannya mengacu pada referensi para pakar psikologi wanita yang valid dan ilmiah.&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;Selain itu, buku ini memuat kumpulan kisah nyata yang dialami para ibu dan calon ibu saat mereka harus menjalani momen yang indah sekaligus “merepotkan” itu. Kisah-kisah dalam buku ini, sebagian ada yang begitu dramatis, penuh gejolak, dan mengaduk emosi. Sebagian lainnya terasa menggelikan, sedikit aneh, dan kelihatan tak nyata. Sebagiannya lagi mungkin akan membuat Anda terkekeh dan terpingkal-pingkal. Yang pasti, buku ini memicu Anda mencari jawaban atas pertanyaan, ”seperti itukah hamil? begitukah rasanya melahirkan? demikiankah nifas?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir semua kisah yang dituturkan dalam buku ini menunjukkan bahwa ada seribu satu kemungkinan yang bakal dihadapi setiap wanita hamil seputar kehamilan dan persalinannya. Adagium bahwa persalinan anak pertama adalah yang terberat, runtuh seketika. Karena setiap peristiwa kehamilan laksana magnet yang mampu menyedot sekumpulan kendala datang mengelilinginya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin Anda memiliki pengalaman yang sama, lebih ringan, atau malah lebih dahsyat dibandingkan kisah-kisah yang ada di buku ini. Apapun itu, dengan membaca buku ini, Anda akan merasa menjadi wanita yang kuat dan tidak pernah sendiri. Anda bersama-sama jutaan wanita lainnya yang pernah hamil, melahirkan, dan mengalami nifas yang berat. Buku ini membantu Anda menemukan diri sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benarkah? Anda akan tahu setelah membacanya.    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Erma Yulihastin&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;iframe src="http://www.hothotsoftware.com/freestuff/counterView.php?counterid=yulihastin" width=100 height=100 frameborder=0&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1824214246344813752-7645761300802137696?l=yulihastin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yulihastin.blogspot.com/feeds/7645761300802137696/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1824214246344813752&amp;postID=7645761300802137696' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1824214246344813752/posts/default/7645761300802137696'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1824214246344813752/posts/default/7645761300802137696'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yulihastin.blogspot.com/2011/01/hamilku-bahagia-bagaimana-dengan-anda.html' title='Hamilku Bahagia, Bagaimana dengan Anda?'/><author><name>yulihastin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07384503929845779248</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SLenWZrNyfI/AAAAAAAAACs/Yr2e67BQLw0/S220/sekar-erma.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/TT48YhaAf1I/AAAAAAAAAMg/DRLy9zZSWOc/s72-c/Hamilku%2BBahagiaku.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1824214246344813752.post-8086177401831783281</id><published>2011-01-24T18:04:00.000-08:00</published><updated>2011-01-24T18:14:17.324-08:00</updated><title type='text'>Fenomena Angin Kencang di Musim Hujan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/TT4xaJXw1uI/AAAAAAAAAMY/G-fhiycF1Lg/s1600/angin%2Bkencang%2Bdi%2Bmusim%2Bhujan.GIF"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 202px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/TT4xaJXw1uI/AAAAAAAAAMY/G-fhiycF1Lg/s320/angin%2Bkencang%2Bdi%2Bmusim%2Bhujan.GIF" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5565940514738460386" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Erma Yulihastin*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak awal Januari, Jawa Barat didera angin kencang. Uniknya, angin kencang ini terasa kering layaknya musim kemarau. Hujan lebat pun tidak turun pada saat terjadinya angin kencang tersebut. Di beberapa wilayah di Jawa Barat, angin kencang bahkan memorak-porandakan perumahan warga dan menumbangkan sejumlah pohon, seperti terjadi di Sukabumi (Pikiran Rakyat, 3/1). Angin kencang juga disebut-sebut sebagai biang keladi tewasnya dua orang akibat tertimpa pohon yang tumbang di Sukabumi (Pikiran Rakyat, 14/1).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angin Kencang&lt;br /&gt;Fenomena terjadinya angin barat yang bertiup sangat kencang dan terasa kering ini sesungguhnya bukanlah hal yang lumrah terjadi pada musim hujan. Kenapa? Sebab, pada saat musim hujan seharusnya angin yang bergerak vertikal (proses konveksi) lebih dominan dibandingkan angin zonal (angin yang bergerak secara horisontal dengan arah barat-timur). Angin vertikal yang menandai terjadinya proses konveksi itu merupakan ciri khas musim hujan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu terjadi karena pengaruh aktifitas awan-awan konvektif (awan-awan tinggi yang berpotensi menimbulkan hujan deras) yang jauh lebih banyak terjadi di musim hujan dibandingkan pada periode musim yang lain (kemarau atau transisi). Meskipun memang benar bahwa musim hujan di wilayah Indonesia sebagian besar terjadi karena pengaruh angin monsunal yang bertiup dari barat ke timur, yang selama ini dikenal sebagai angin barat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angin barat ini terjadi karena pengaruh perbedaan panas yang diterima oleh lautan (samudera) dan daratan (benua). Pada periode Desember hingga Februari, matahari (seakan-akan) bergerak dan berada di bumi bagian selatan, sehingga benua Australia lebih panas dibandingkan benua Asia. Akibatnya, bertiuplah angin dari utara ke selatan, yang dalam perjalanannya yang sangat jauh itu membawa banyak sekali uap air dari Samudera Pasifik. Lalu, setibanya di wilayah Indonesia, angin utara (atau barat daya) tersebut mengalami pembelokan menjadi angin barat (bertiup dari barat ke timur).       &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Monsun Barat yang Kuat&lt;br /&gt;Berdasarkan pemantauan satelit NOAA (National Oceanic and Atmospheric Administration), Amerika Serikat, selama satu bulan terakhir, rata-rata angin barat di wilayah Indonesia bagian barat (Jawa dan Sumatera bagian selatan) sangat kuat, dan memiliki anomali (keadaan di luar kondisi normalnya) sekitar 7-8 meter/detik. Angin barat yang berhembus sangat kuat ini hanya terjadi di sekitar Jawa dan Sumatera bagian selatan. Anomali angin barat yang kuat ini selaras dengan kondisi monsun Australia yang juga menguat bahkan melebihi kondisi normalnya, dengan anomali indeks mencapai positif 6 pada pertengahan Januari 2011. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini menandakan, terjadinya angin monsun barat pada bulan ini terutama di kawasan Indonesia bagian barat daya (Jawa dan Sumatera bagian selatan) tidaklah normal. Perlu diketahui, angin monsun adalah angin yang bertiup pada ketinggian sekitar 4 kilometer atau pada tekanan 850 milibar dari permukaan tanah. Angin monsun barat tampaknya bertiup terlalu kuat, dan ini dipengaruhi oleh terjadinya pusat konvergensi (tekanan rendah) di wilayah Samudera Hindia sebelah selatan pulau Jawa dan bagian barat laut benua Australia atau tepatnya pada lokasi 10-30 Lintang Selatan, 100 Bujur Timur. Pusat konvergensi ini terbentuk sangat kuat sehingga mempengaruhi angin barat di wilayah Indonesia. Jadilah angin barat di wilayah Indonesia menjadi semakin kuat karena tertarik oleh pusat konvergensi tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa terjadi pusat konvergensi? Pusat konvergensi di Samudera Hindia dekat barat laut Australia terjadi karena ada anomali pemanasan suhu permukaan laut hingga lebih dari 3 derajat Celcius. Sementara itu, di bagian tenggara wilayah Indonesia (Maluku, Nusa Tenggara dan sekitarnya) suhu permukaan laut juga mengalami anomali panas dengan kenaikan antara 1-2 derajat Celcius. Adapun di sebagian besar wilayah Indonesia suhu permukaan laut berada dalam keadaan yang normal.    &lt;br /&gt;Di samping itu, gelombang atmosfer MJO (Madden Julian Oscillation), yang juga merupakan salah satu pemicu terbentuknya awan-awan konvektif tidaklah aktif di wilayah Benua Maritim Indonesia. Berdasarkan pemantauan, sejak awal Januari, MJO tampak aktif dan kuat di wilayah Samudera Pasifik bagian barat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut prediksi yang dirilis NOAA, Amerika Serikat, gelombang MJO bakal tetap aktif di kawasan Samudera Pasifik barat hingga akhir Januari. Dengan demikian, gabungan antara terbentuknya pusat konvergensi di Samudera Hindia dan pasifnya gelombang MJO inulah yang menyebabkan angin monsun barat yang sangat kencang tersebut tidak mampu menghasilkan banyak hujan di bagian barat Indonesia sejak awal Januari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) Peneliti Sains Atmosfer pada Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim, LAPAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan: artikel ini dimuat di Pikiran Rakyat, 20 Januari 2011.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;iframe src="http://www.hothotsoftware.com/freestuff/counterView.php?counterid=yulihastin" width=100 height=100 frameborder=0&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1824214246344813752-8086177401831783281?l=yulihastin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yulihastin.blogspot.com/feeds/8086177401831783281/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1824214246344813752&amp;postID=8086177401831783281' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1824214246344813752/posts/default/8086177401831783281'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1824214246344813752/posts/default/8086177401831783281'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yulihastin.blogspot.com/2011/01/fenomena-angin-kencang-di-musim-hujan.html' title='Fenomena Angin Kencang di Musim Hujan'/><author><name>yulihastin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07384503929845779248</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SLenWZrNyfI/AAAAAAAAACs/Yr2e67BQLw0/S220/sekar-erma.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/TT4xaJXw1uI/AAAAAAAAAMY/G-fhiycF1Lg/s72-c/angin%2Bkencang%2Bdi%2Bmusim%2Bhujan.GIF' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1824214246344813752.post-36902648026816895</id><published>2011-01-24T07:54:00.000-08:00</published><updated>2011-01-24T18:15:09.993-08:00</updated><title type='text'>Kemarau Basah Seharusnya Untungkan Petani</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/TT4um2x8FLI/AAAAAAAAAMQ/nNEDNnrDgS0/s1600/kemarau%2Bbasah%2Bseharusnya%2Buntungkan%2Bpetani.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 202px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/TT4um2x8FLI/AAAAAAAAAMQ/nNEDNnrDgS0/s320/kemarau%2Bbasah%2Bseharusnya%2Buntungkan%2Bpetani.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5565937434551391410" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh ERMA YULIHASTIN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sifat musim kemarau yang basah tahun ini semestinya menguntungkan petani. Bayangkan saja, pada Juli yang seharusnya merupakan puncak musim kemarau, intensitas curah hujan bulanan di sebagian besar wilayah Indonesia masih tergolong tinggi, yakni 75 hingga 575 milimeter berdasarkan pengamatan Satelit TRMM (Tropical Rainfall Measuring Mission).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini berarti dengan curah hujan sepanjang tahun yang cukup bahkan berlebih seharusnya petani dapat melakukan panen lebih sering sebab musim tanam pun akan lebih intens dibandingkan biasanya terutama untuk sawah tadah hujan. Untuk persawahan yang dikelola dengan sistem irigasi, panen padi seharusnya akan lebih banyak diperoleh mengingat ketersediaan air untuk irigasi melimpah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara umum, dalam setahun terdapat tiga kali periode musim tanam dan tiga kali panen untuk pertanian yang memiliki pola irigasi. Hal ini berdasarkan kalender musim tanam yang dikeluarkan oleh PSDA (Pengelolaan Sumber Daya Air), Kementerian Pekerjaan Umum. Musim tanam pertama dilakukan pada Oktober dan panen pada Januari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musim tanam kedua dilakukan pada Februari dan panen pada Mei. Musim tanam ketiga diawali pada Juni dan panen pada September. Hujan yang berlimpah pada periode musim kemarau (April hingga September) seharusnya akan berdampak pada peningkatan produksi panen pada musim tanam ketiga (Juni-September). Sayangnya, ini tidak terjadi. Petani justru mengalami kerugian karena gagal panen akibat banjir dan serangan hama (Kompas, 19/7).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bencana tersebut bahkan mengakibatkan turunnya produksi dan melonjaknya harga akibat spekulasi. Meski terjadi lonjakan harga padi, hal ini tidak berbanding lurus dengan pendapatan petani yang justru menurun, bahkan ada yang menderita kerugian total. Secara nasional bahkan keadaan semacam ini dipercaya berpotensi mengancam ketersediaan pangan (Kompas, 19/7). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Informasi iklim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa hal yang menyebabkan ancaman terhadap menurunnya produksi pertanian. Pertama, minimnya pengetahuan dan pemahaman petani mengenai anomali iklim yang terjadi pada musim kemarau tahun ini. Hal ini sekaligus membuktikan bahwa informasi akurat mengenai iklim dan cuaca sangat dibutuhkan petani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama ini mereka melakukan masa tanam hanya berbekal dari pengetahuan sederhana mengenai pergantian musim yang dikaitkan dengan tanda-tanda alam. Misalnya, petani di Tatar Sunda mengamati rasi bintang, masa berbunga tanaman randu, nyanyian suara serangga dan tenggoret sebagai tanda pergantian musim (Johan Iskandar; Kompas, 2/7).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu-satunya pengetahuan modern yang menjadi andalan petani adalah kalender musim tanam yang dikeluaran Kementerian Pertanian dan Kementerian Pekerjaan Umum. Kalender yang menjadi acuan petani untuk memulai tanam padi tersebut dibuat berdasarkan hasil pencatatan alat penakar curah hujan yang dipasang di area persawahan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, untuk fenomena yang bersifat anomali seperti kemarau basah yang terjadi saat ini, kalender semacam itu tidak lagi bisa menjadi panduan tepercaya. Apalagi, tingkat ketidakpastian kondisi iklim semakin besar dalam beberapa tahun terakhir. Oleh karena itu, informasi iklim yang akurat sangat diperlukan petani dalam menghadapi ketidakpastian tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, minimnya sosialisasi dari pemerintah, dalam hal ini lembaga atau kementerian terkait yang dapat menjelaskan anomali iklim yang sedang terjadi. Seharusnya, pemerintah melalui beberapa kementerian terkait mengintegrasikan dan memublikasikan informasi kepada petani, yang tidak hanya bersifat pengetahuan ilmiah mengenai kondisi iklim dewasa ini, tetapi juga tentang informasi yang bersifat arahan teknis dan aplikatif yang langsung dapat diterapkan petani untuk beradaptasi dengan kondisi yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya, informasi mengenai kemarau basah juga dibarengi dengan arahan nyata agar petani mengubah jenis tanaman dari jagung atau kedelai yang biasa ditanam pada saat kemarau menjadi padi. La Nina&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hujan agaknya masih akan terus membayangi wilayah Indonesia hingga beberapa bulan mendatang. Hal ini karena munculnya satu fenomena baru yang terjadi pada pertengahan Juli lalu. Fenomena tersebut adalah La Nina, yang menunjukkan periode di mana suhu permukaan laut di kawasan Samudra Pasifik ekuator mendingin dengan anomali suhu lebih rendah dari negatif 0.5 derajat celcius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indeks Nino 3.4 menunjukkan La Nina terjadi dengan nilai mendekati negatif 1 derajat celcius (-0.97 derajat celcius). Nino 3.4 adalah kawasan di bagian tengah Samudra Pasifik ekuator yang selama ini disimpulkan para ahli meteorologi berpengaruh paling signifikan terhadap gangguan iklim di wilayah Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan data, terbentuknya La Nina di Samudra Pasifik selama ini telah nyata memiliki pengaruh bagi terbentuknya banyak hujan di Indonesia. La Nina terkuat tercatat terjadi pada 1998. Pada saat itu iklim di Indonesia mengalami ekstrem basah yang ditandai dengan turunnya hujan lebat sehingga memperpanjang musim hujan dan mengakibatkan terjadinya banjir besar di sebagian besar wilayah Indonesia. Oleh karena itu, terjadinya La Nina, meskipun masih dalam intensitas lemah (indeks 0.5-1 derajat celcius), patut diwaspadai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peluang terjadinya La Nina di Samudra Pasifik pada Agustus, September, dan Oktober adalah 80 persen. Peluang terjadinya kondisi normal menurun menjadi 20, 20, 19 persen berturut-turut. Demikian seperti yang dilansir IRI (International Research Institute for Climate and Society), Columbia. Peluang terjadinya La Nina berdasarkan model dinamik POAMA, Australia, juga menunjukkan terjadinya La Nina kisaran nilai -0.5 hingga -1 derajat celcius akan berlangsung hingga Februari 2011.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka jelaslah, kemunculan La Nina ini telah memperkuat faktor pemicu kemarau basah lainnya yang telah terjadi sejak lebih awal (sekitar Maret). Faktor tersebut di antaranya adalah pemanasan suhu permukaan laut lokal di wilayah Indonesia, peningkatan temperatur di daratan Indonesia, osilasi MJO (Madden Julian Oscillation) di kawasan Indonesia dan Samudra Hindia, badai tropis di Samudra Hindia dan Pasifik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan melihat kondisi ini, sebaiknya petani segera mempersiapkan diri menyongsong musim tanam padi selanjutnya. Sepanjang musim kemarau yang umumnya terjadi hingga Oktober, hujan masih akan sering terjadi dengan intensitas ringan hingga sedang. Pada November musim hujan akan menjelang sehingga curah hujan akan mengalami peningkatan signifikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ERMA YULIHASTIN Peneliti Sains Atmosfer pada Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim Lapan Bandung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan: Artikel ini telah dimuat Kompas, 14 September 2010.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;iframe src="http://www.hothotsoftware.com/freestuff/counterView.php?counterid=yulihastin" width=100 height=100 frameborder=0&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1824214246344813752-36902648026816895?l=yulihastin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yulihastin.blogspot.com/feeds/36902648026816895/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1824214246344813752&amp;postID=36902648026816895' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1824214246344813752/posts/default/36902648026816895'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1824214246344813752/posts/default/36902648026816895'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yulihastin.blogspot.com/2011/01/kemarau-basah-seharusnya-untungkan.html' title='Kemarau Basah Seharusnya Untungkan Petani'/><author><name>yulihastin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07384503929845779248</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SLenWZrNyfI/AAAAAAAAACs/Yr2e67BQLw0/S220/sekar-erma.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/TT4um2x8FLI/AAAAAAAAAMQ/nNEDNnrDgS0/s72-c/kemarau%2Bbasah%2Bseharusnya%2Buntungkan%2Bpetani.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1824214246344813752.post-5357562757824467083</id><published>2010-08-19T07:02:00.000-07:00</published><updated>2010-08-19T21:07:07.736-07:00</updated><title type='text'>Waspadai Hujan Ekstrem</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/TG3-2j6aGBI/AAAAAAAAAL4/9DdHOsmhL7E/s1600/waspadai+hujan+ekstrem.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/TG3-2j6aGBI/AAAAAAAAAL4/9DdHOsmhL7E/s320/waspadai+hujan+ekstrem.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5507338132650596370" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banjir kembali melanda beberapa daerah di Jawa Barat. Puluhan rumah di Tasikmalaya terendam banjir sementara ratusan hektare sawah serta kolam rusak dan jebol (Pikiran Rakyat, 16/8). Banjir juga melanda beberapa kelurahan di wilayah Ciamis (MetroTV, 15/8). Seperti diberitakan, hujan yang turun dengan frekuensi dan intensitas tinggi dikatakan sebagai penyebab utama terjadinya banjir yang kembali marak bulan ini. Apa yang menyebabkan hujan kembali terjadi pada bulan Agustus? Apakah hujan pada bulan Agustus akan meningkat atau menurun dibandingkan dengan bulan lalu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;La Nina lemah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sela-sela musim kemarau yang didera banyak hujan, fenomena La Nina muncul pada pertengahan Juli lalu. La Nina atau disebut juga dengan fase dingin, yakni periode di mana suhu permukaan laut di kawasan Samudra Pasifik ekuator mendingin dengan anomali suhu lebih rendah dari negatif 0.5 derajat Celsius. Bahkan, status terakhir di bulan Juli, indeks Nino 3.4 menunjukkan nilai mendekati negatif 1 derajat Celsius (-0.97 derajat Celsius). Nino 3.4 adalah kawasan di bagian tengah Samudra Pasifik ekuator yang selama ini diteliti para ahli meteorologi memiliki pengaruh paling signifikan terhadap gangguan iklim di wilayah Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terbentuknya La Nina di Samudra Pasifik selama ini memiliki pengaruh bagi terbentuknya banyak hujan di Indonesia. La Nina terkuat yang tercatat terjadi pada tahun 1998. Pada saat itu, iklim di Indonesia mengalami ekstrem basah yang ditandai dengan turunnya hujan lebat sehingga memperpanjang musim hujan dan mengakibatkan terjadinya banjir di sebagian besar wilayah Indonesia. Oleh karena itu, terjadinya La Nina, meskipun masih dalam intensitas lemah (indeks antara 0.5-1 derajat Celsius), patut diwaspadai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan data anomali temperatur permukaan laut di wilayah ekuator yang dikeluarkan oleh Satelit NOAA (National Oceanic and Atmospheric Administration), Amerika Serikat, kolam dingin dengan anomali suhu negatif 1-5 derajat Celcius terjadi di wilayah Samudra Pasifik ekuator bagian tengah dan bagian timur. Kolam dingin ini terbentuk dari permukaan hingga kedalaman sekitar 200 meter di bawah permukaan laut. Secara kontras, kolam hangat dengan nilai anomali sekitar positif 1.5 derajat Celcius terjadi di wilayah Indonesia (Papua dan sekitarnya) dengan kedalaman antara 250 hingga 450 meter. Perbedaan yang kontras antara kolam hangat di sekitar Papua dan kolam dingin di Samudra Pasifik akan menambah peningkatan aktivitas konveksi di wilayah Indonesia. Akibatnya, suplai awan dari Samudra Pasifik akan semakin banyak menuju Indonesia sehingga iklim di wilayah benua maritim akan semakin basah oleh hujan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Data yang menunjukkan La Nina lemah tersebut diperkuat data indeks SOI (Southern Oscillation Index) yang dikeluarkan Badan Meteorologi Australia. Indeks menunjukkan lonjakan drastis hingga mencapai nilai positif 19.4 pada akhir Juli. Indeks SOI ini tercatat merupakan nilai tertinggi sejak dua tahun terakhir. Hal ini menunjukkan tekanan atmosfer di level permukaan yang berada di atas wilayah Tahiti jauh lebih besar dibandingkan dengan tekanan di atas wilayah Darwin. Akibatnya, terbentuklah angin yang sangat kuat dari Tahiti menuju Darwin melalui Indonesia. Angin ini bersifat lembap dan membawa banyak uap air karena dalam perjalanan panjangnya dari Tahiti menuju Darwin melewati Samudra Pasifik yang luas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peluang terjadinya La Nina di Samudra Pasifik pada bulan Agustus, September, dan Oktober adalah 80 persen. Sementara peluang terjadinya kondisi normal menurun menjadi 20, 20, 19 persen berturut-turut. Demikian seperti yang dilansir IRI (International Research Institute for Climate and Society), Columbia. Peluang terjadinya La Nina berdasarkan model dinamik POAMA, Australia juga menunjukkan terjadinya La Nina kisaran nilai -0.5 hingga -1 derajat Celsius yang akan berlangsung hingga Februari 2011.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hujan meningkat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hujan pada bulan Agustus secara umum akan mengalami peningkatan di Pulau Jawa. Hal ini sebagaimana tampak dari hasil prediksi model Darlam Lapan. Curah hujan di Pulau Jawa selama Agustus akan bertambah secara akumulatif antara 100-200 milimeter dibandingkan dengan bulan Juli yang berkisar antara 50-150 milimeter. Curah hujan yang mengalami peningkatan antara 150-200 milimeter pada bulan Agustus terjadi di sebagian besar Jawa Timur dan Jawa Barat bagian utara. Peningkatan curah hujan pada bulan Agustus ini kemungkinan besar disebabkan oleh pengaruh terjadinya La Nina. Sementara itu, berdasarkan pantauan satelit TRMM (Tropical Rainfall Measuring Mission), Jepang-Amerika Serikat, curah hujan selama bulan Juli di pulau Jawa berkisar antara 25 hingga 225 milimeter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prediksi terjadinya peningkatan curah hujan pada bulan Agustus memiliki setidaknya tiga kemungkinan terkait dengan proses pembentukannya. Pertama, peningkatan frekuensi hujan. Hujan di Pulau Jawa akan sering terjadi dengan intensitas antara ringan dan sedang pada Agustus. Kedua, peningkatan intensitas hujan. Hujan yang meningkat di pulau Jawa selama Agustus meskipun jarang tetapi merupakan jenis hujan dengan intensitas besar atau bahkan ekstrem. Ketiga, hujan ekstrem dan sering. Kemungkinan ketiga inilah yang patut diwaspadai karena jika hujan di bulan Agustus terjadi secara sering dengan intensitas yang besar bahkan ekstrem, tak ayal banjir pun bakal terjadi pada bulan Agustus. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Erma Yulihastin, peneliti sains atmosfer pada Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim, Lapan Bandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan: artikel ini dimuat di Pikiran Rakyat, 19 Agustus 2010.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;iframe src="http://www.hothotsoftware.com/freestuff/counterView.php?counterid=yulihastin" width=100 height=100 frameborder=0&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1824214246344813752-5357562757824467083?l=yulihastin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yulihastin.blogspot.com/feeds/5357562757824467083/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1824214246344813752&amp;postID=5357562757824467083' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1824214246344813752/posts/default/5357562757824467083'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1824214246344813752/posts/default/5357562757824467083'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yulihastin.blogspot.com/2010/08/waspadai-hujan-ekstrem.html' title='Waspadai Hujan Ekstrem'/><author><name>yulihastin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07384503929845779248</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SLenWZrNyfI/AAAAAAAAACs/Yr2e67BQLw0/S220/sekar-erma.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/TG3-2j6aGBI/AAAAAAAAAL4/9DdHOsmhL7E/s72-c/waspadai+hujan+ekstrem.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1824214246344813752.post-90536568154120954</id><published>2010-07-18T21:47:00.000-07:00</published><updated>2010-07-18T21:50:52.939-07:00</updated><title type='text'>Sekar dan Kecerdasan Mekanik</title><content type='html'>“Bunda, aku tahu bagaimana caranya air itu bisa keluar dari galon.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu kami berdua sedang bersantai di ruang tengah yang juga merangkap sebagai ruang makan keluarga. Di pojok ruang ada sebuah galon air mineral yang ditempatkan di atas sebuah penampungan air yang terbuat dari keramik. Kran penampungan air minum tersebut memiliki cara kerja tertentu sehingga air akan keluar ketika keran ditarik ke arah atas.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh, ya? Gimana?” Tanya saja sembari makan.&lt;br /&gt;“Sebentar ya…”&lt;br /&gt;Bergegas putri pertamaku  mengambil sebuah spidol warna hitam dan kertas A4 bekas yang telah ia gambari sebelumnya dengan krayon. Lalu, dengan tangkas dan cekatan, ia pun mulai menggoreskan sketsa menggunakan tangan kirinya, dengan pandangan yang sesekali melirik ke arah galon. Gayanya menggambar sangat meyakinkan, setiap sketsa hanya digoreskan sekali saja tanpa harus diulang atau ditebalkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama-tama, ia menggambar kran lengkap dengan bagian-bagiannya. Selanjutnya ia menggambar bagian (semacam selang) yang menghubungkan antara kran dan galon. Di dalam selang tersebut, ia menggambar alat sumbatan atau penghalang dalam posisi vertikal.  Ketiga, ia menggambar galon lalu ia menggambar penampungan keramik dan kaki-kaki yang menyangga di bagian bawahnya. Terakhir, ia menulis “AKUA” di bagian atas gambarnya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nah, gini Bunda. Kalau ujung kran sebelah sini ditarik ke atas, maka penghalang ini akan berubah posisinya menjadi begini.” Ia  pun mengubah posisi sumbatan tersebut dari vertikal menjadi horisontal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi kan kalau begini, air dari galon bisa ngalir…,” ujarnya dengan bersemangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kok kamu tahu? Siapa yang ngajari?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu karena aku berpikir Bunda… berpikir…” pilihan kata “berpikir” yang diungkapkannya membuat saya menahan geli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya membatin dalam hati, dulu rasanya waktu saya seumur Sekar (5 tahun 9 bulan), saya tidak secerdas itu. Ah, jangankan sampai berpikir cara kerja sebuah alat, menjelaskan kepada orang lain dengan bantuan gambar pun rasanya dulu tak pernah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Sekar, jika saya menanyakannya tentang apapun, ia akan menggunakan kalimat panjang untuk bercerita dan tak lupa mempertegasnya dengan gambar. Seperti saat saya bertanya, “Kamu duduk di barisan pertama atau kedua di kelas?” Atau pertanyaan saya, “Kelas kamu yang sebelah mana, sih?” Maka Sekar dengan antusias mengambil alat gambar dan mulai menggambarkan apa yang saya tanyakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya percaya, ia tidak mempelajari kecerdasannya itu dari sekolah. Sebab, selama duduk di bangku Taman Kanak-kanak, kegiatannya sehari-hari adalah bermain dan bermain baik sendiri maupun dalam kelompok. Saya memang memilihkan TK yang berorientasi pada “bermain” daripada “belajar” yang kerap diartikan sebagai belajar dalam hal membaca, menulis, berhitung (calistung).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uniknya, ternyata dengan lingkungan pembelajaran TK yang membebaskan itulah justru yang membuat anak saya dapat berpikir secara kreatif dan cerdas.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara saya pun yakin, pada usia yang sama, anak saya ternyata  memiliki kecerdasarn spasial, pandang ruang, dan mekanik yang lebih baik daripada saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi, aku nggak tahu caranya kalau krannya ditekan ke bawah..”&lt;br /&gt;Jawabnya mengakhiri penjelasannya yang panjang lebar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada yang lebih membahagiakan bagi orang tua selain mengenali potensi kecerdasan anaknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-Bunda Inspirana-&lt;br /&gt;Bandung, 19 Juli 2010.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;iframe src="http://www.hothotsoftware.com/freestuff/counterView.php?counterid=yulihastin" width=100 height=100 frameborder=0&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1824214246344813752-90536568154120954?l=yulihastin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yulihastin.blogspot.com/feeds/90536568154120954/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1824214246344813752&amp;postID=90536568154120954' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1824214246344813752/posts/default/90536568154120954'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1824214246344813752/posts/default/90536568154120954'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yulihastin.blogspot.com/2010/07/sekar-dan-kecerdasan-mekanik.html' title='Sekar dan Kecerdasan Mekanik'/><author><name>yulihastin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07384503929845779248</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SLenWZrNyfI/AAAAAAAAACs/Yr2e67BQLw0/S220/sekar-erma.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1824214246344813752.post-2313776732173589226</id><published>2010-07-07T01:28:00.000-07:00</published><updated>2010-07-07T18:32:39.432-07:00</updated><title type='text'>Pemanasan Global dan Anomali Kemarau</title><content type='html'>Hujan pada bulan Juni merupakan hal yang absurd di masa lalu. Namun saat ini absurdisitas tersebut tak berlaku lagi. Kenyataannya, di bulan Juni wilayah Indonesia masih sering diguyur hujan. Gara-gara itu pula, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika bergegas merevisi awal musim kemarau tahun 2010 yang tadinya sekitar Maret-April menjadi Juli-Agustus dengan kecenderu-ngan musim kemarau lebih pendek dari normalnya. Dengan kata lain, tahun ini telah terjadi anomali musim kemarau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hujan mendera&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hujan yang masih sering turun di bulan Juni terekam oleh satelit pemantau hujan TRMM (Tropical Rainfall Measuring Mission) milik Badan Penerbangan Jepang (JAXA) dan Amerika Serikat (NASA). Tak tanggung-tanggung, hujan lebat dengan intensitas antara 200 hingga 575 milimeter selama Juni terjadi merata di seluruh Indonesia, kecuali wilayah tenggara Indonesia (Nusa Tenggara dan sekitarnya) yang memiliki curah hujan kurang dari 25 milimeter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara lebih detail dapat dijelaskan bahwa sepanjang Juni tampak terjadi pengura-ngan hujan secara bertahap di Pulau Jawa. Pada periode dasarian pertama (1-10 Juni) dan dasarian kedua (11-20 Juni), curah hujan di Jawa ber-kisar antara 25 sampai 125 milimeter, kecuali Jawa Timur bagian timur (Jember, Banyuwangi, dan sekitarnya) yang memiliki curah hujan kurang dari 25 milimeter. Sementara pada dasarian ketiga (21-30 Juni), curah hujan kurang dari 25 milimeter terjadi di sebagian besar Jawa (Jawa Timur, Jawa Barat bagian tengah dan timur, Jawa Tengah bagian barat).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemarau tertunda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang tidak sesuai antara pola angin dan pola hujan pada bulan Juni tahun ini. Data angin pada Juni menunjukkan angin timur (tenggara) terjadi cukup kuat dan homogen di atas wilayah Indonesia. Angin timur ini bersifat kering dan dingin karena berasal dari daratan Australia yang saat ini sedang mengalami musim dingin. Karena bersifat kering itulah, angin tersebut menga-kibatkan musim kemarau pada saat melewati benua maritim Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seharusnya, pola angin timur yang kering ini juga didukung oleh data hujan yang semakin berkurang di bulan Juni. Secara klimatologis hujan selama sepuluh hari berturut-turut (1-10 Juni) seharusnya memiliki intensitas kurang dari 50 milimeter, yang secara konsisten diikuti oleh dua dasarian berikutnya (11-20 Juni, 21-30 Juni). Dengan kata lain, total curah hujan selama Juni haruslah kurang dari 150 milimeter. Kenya-taannya, seperti diungkapkan sebelumnya di atas, curah hujan di wilayah Indonesia selama Juni masih sekitar 200 hingga 575 milimeter. Inilah kemudian yang menjadi dasar keputusan BMKG untuk menunda awal musim kemarau menjadi Juli-Agustus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemanasan global&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama bulan Juni tidak terjadi La Nina, Dipole Mode, dan MJO. Dengan kata lain, kondisi suhu permukaan laut di Samudra Pasifik dan Samudra Hindia berada dalam rentang yang normal. Seperti diketahui, anomali suhu yang terjadi di Samudra Pasifik dan Samudra Hindia dapat mempengaruhi variasi atau bahkan perubahan musim di wilayah Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas apa penyebab hujan yang masih sering terjadi di musim kemarau?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, terjadi pemanasan suhu permukaan laut di lautan Indonesia yang meningkat antara 0.5 sampai 2 derajat Celsius. Peningkatan suhu permukaan laut yang paling tinggi terjadi di Samudra Hindia selatan Jawa dan barat laut Sumatra serta di sekitar selat Makasar. Pemanasan suhu permukaan laut inilah rupanya yang telah berpotensi menciptakan daerah konvergensi (pusat tekanan rendah) di wilayah Indonesia, menyedot awan-awan konvektif (jenis awan-awan tinggi yang berpotensi menimbulkan hujan lebat disertai petir) dari Samudra Hindia. Peningkatan suhu permukaan laut ini bahkan telah berkolaborasi dengan peningkatan suhu permukaan di atas daratan sehingga Sumatra dan Jawa selama bulan Mei mengalami suhu yang ekstrem panas. Juga pada pekan pertama Juni, suhu ekstrem panas masih berlangsung di Jawa, Bali, Kalimantan, Sulawesi. Pema-nasan suhu permukaan laut dan suhu daratan di sejumlah wilayah di Indonesia ini ke-mungkinan berhubungan dengan terjadinya anomali pe-ningkatan suhu permukaan (antara 2 hingga 6 derajat Celsius) pada sekitar 80 persen daratan di seluruh dunia selama Mei. Sementara anomali penurunan suhu (minus 2-6 derajat Celsius) terjadi meliputi tak lebih dari 5 persen daratan di dunia. Hal ini sebagaimana dilansir oleh IRI (The International Research Institute for Climate and Society), Columbia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, penurunan suhu di Samudra Pasifik. Peningkatan suhu permukaan laut di lautan Indonesia tersebut ternyata seiring dengan penurunan suhu di Samudra Pasifik sekitar -0.5 derajat Celsius. Meskipun penurunan suhu di Samudra Pasifik ini masih normal dan belum tergolong La Nina, tetapi sinyal dingin yang dikirimkan dari Samudra Pasifik ini cukup efektif memblokir awan-awan konvektif agar tidak lekas meninggalkan wilayah Indonesia. Buktinya, mendung dan hujan masih mendera di atas atmosfer Indonesia selama bulan Juni ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, tidak bisa dimungkiri, hujan yang masih sering terjadi di Indonesia juga dipengaruhi oleh dinamika atmosfer pada skala regional. Terjadinya Badai Tropis di Teluk Bengala (India) selama sepekan terakhir Mei ikut memengaruhi proses pembentukan awan dan hujan di Indonesia (terutama di Jawa dan Sumatra). Pada awal Juni, Badai Tropis muncul kembali di sekitar Laut Arab dan Oman. Demikian pula pada akhir Juni (30 Juni) terdapat badai Tropis di Samudra Hindia dekat Pulau Sumatra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Analisis peningkatan suhu global selama dua bulan terakhir menunjukkan hujan yang masih sering turun di wilayah Indonesia secara utama dipengaruhi oleh terjadinya panas ekstrem di daratan dan peningkatan suhu permukaan laut di perairan lokal Indonesia. Kedua pe-ningkatan suhu tersebut, tak bisa dimungkiri, merupakan fenomena yang menjadi bagian dari pemanasan global. Meskipun begitu, untuk me-nyimpulkan adanya kaitan antara anomali kemarau dan pemanasan global dibutuhkan penelitian lebih mendalam dan komprehensif.***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Erma Yulihastin, peneliti pada Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim Lapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan: tulisan ini dimuat di Pikiran Rakyat, 8 Juli 2010.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;iframe src="http://www.hothotsoftware.com/freestuff/counterView.php?counterid=yulihastin" width=100 height=100 frameborder=0&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1824214246344813752-2313776732173589226?l=yulihastin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yulihastin.blogspot.com/feeds/2313776732173589226/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1824214246344813752&amp;postID=2313776732173589226' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1824214246344813752/posts/default/2313776732173589226'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1824214246344813752/posts/default/2313776732173589226'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yulihastin.blogspot.com/2010/07/pemanasan-global-dan-anomali-kemarau.html' title='Pemanasan Global dan Anomali Kemarau'/><author><name>yulihastin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07384503929845779248</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SLenWZrNyfI/AAAAAAAAACs/Yr2e67BQLw0/S220/sekar-erma.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1824214246344813752.post-4899558317501166799</id><published>2010-06-26T23:44:00.000-07:00</published><updated>2010-06-30T23:48:08.186-07:00</updated><title type='text'>HUJAN BADAI DI MUSIM KEMARAU</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/TCw5-AiKddI/AAAAAAAAALw/oSbamKYA6rY/s1600/Hujan+Badai+di+Musim+Kemarau.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 96px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/TCw5-AiKddI/AAAAAAAAALw/oSbamKYA6rY/s200/Hujan+Badai+di+Musim+Kemarau.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5488825783315756498" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;oleh: Erma Yulihastin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hujan badai disertai angin kencang masih kerap melanda Bandung dan sekitarnya selama bulan Juni. Padahal, mestinya saat ini tengah berlangsung musim kemarau di Indonesia, khususnya di wilayah monsunal Indonesia. Wilayah monsunal merupakan sebutan bagi daerah-daerah di selatan Indonesia yang dipengaruhi secara kuat oleh aktivitas angin musiman (monsun) sehingga curah hujan di wilayah ini pun mengikuti pola dan sifat angin tersebut. Termasuk daerah monsunal adalah: pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara dan sekitarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gangguan pada Musim Kemarau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanda bahwa musim kemarau tengah berlangsung saat ini didasarkan pada data pergerakan angin klimatologis pada ketinggian sekitar dua kilometer di atas wilayah Indonesia. Data yang dapat diamatai secara real time melalui http://iprc.soest.hawaii.edu tersebut menunjukkan, angin timur (tenggara) bertiup cukup kuat dan seragam di atas Indonesia (terutama Indonesia bagian selatan). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angin tenggara ini bersifat kering dan dingin karena berasal dari daratan Australia yang saat ini sedang mengalami musim dingin. Karena bersifat kering itulah maka angin tersebut mengakibatkan musim kemarau pada saat melewati benua maritim Indonesia. Periode musim kemarau ini dalam setahun berlangsung sejak Juni hingga Agustus, meskipun dapat juga terjadi dalam rentang yang lebih panjang yaitu sejak Mei hingga November. Meski tampaknya musim kemarau dan musim hujan berlangsung secara periodik dalam setahun, namun ada beberapa faktor yang berpotensi mengganggu periodisitasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, fenomena El Nino atau La Nina. El Nino yang terjadi pada tahun 1997 telah memperpanjang masa kemarau di Indonesia sehingga mengakibatkan penundaan masa tanam padi (Tjasyono, 2006). Pada masa itu, musim kemarau terjadi hampir merata di wilayah Indonesia selama sembilan bulan sejak Juni 1997 hingga Februari 1998, yang ditandai dengan nilai anomali curah hujan antara negatif 100-500 milimeter (Yulihastin dkk., 2009). Sebaliknya, La Nina yang terjadi pada saat musim hujan akan mengakibatkan banjir besar. Baik El Nino maupun La Nina, keduanya dapat mengganggu periode dan intensitas musim hujan atau musim kemarau di Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, Dipole Mode di Samudera Hindia. Dipole mode positif di Samudera Hindia akan memberi pengaruh yang sama seperti El Nino, yaitu kekeringan di Indonesia (terutama di bagian barat Indonesia). Hal ini pernah dibuktikan pada 1997, di mana fenomena El Nino dan Dipole Mode positif bergabung sehingga memberikan efek kekeringan yang lebih dahsyat di Indonesia. Sebaliknya, Dipole Mode negatif juga akan berakibat sama seperti La Nina, yaitu menambah sifat kebasahan musim yang sedang berlangsung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor El Nino, La Nina, Dipole Mode memberikan efek utama dalam gangguan berskala iklim (musim) di wilayah Indonesia. Adapun gangguan lain seperti fenomena osilasi Madden-Julian, badai tropis, seruak dingin, dan sejenisnya tidak berpengaruh besar pada iklim melainkan lebih kepada gangguan cuaca yang berskala lokal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hujan di Musim Kemarau &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendung dan hujan lebat ternyata tidak hanya terjadi di Bandung namun merata di pulau Jawa. Berdasarkan pantauan satelit pemantau hujan TRMM (Tropical Rainfall Measuring Mission), curah hujan di Jawa selama satu bulan terakhir (15 Mei-15 Juni) berkisar antara 5 hingga 10 milimeter per hari. Lalu, apa sebenarnya penyebab hujan yang masih sering terjadi di musim kemarau? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, peningkatan suhu permukaan laut di lautan Indonesia antara 0.5 sampai 2 derajat Celcius. Peningkatan suhu permukaan laut yang paling tinggi terjadi di Samudra Hindia selatan Jawa dan barat laut Sumatra serta di sekitar selat Makasar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemanasan suhu permukaan laut inilah yang telah berpotensi menciptakan daerah konvergensi (pusat tekanan rendah) di wilayah Indonesia, menyedot awan-awan konvektif (jenis awan tinggi yang berpotensi menimbulkan hujan lebat disertai petir) dari Samudra Hindia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, penurunan suhu di Samudra Pasifik. Peningkatan suhu permukaan laut di lautan Indonesia tersebut di atas ternyata seiring dengan penurunan suhu di Samudra Pasifik sekitar -0.5 derajat Celcius. Meskipun penurunan suhu di Samudra Pasifik ini masih normal dan belum tergolong La Nina, namun sinyal dingin yang dikirimkan dari Samudra Pasifik ini cukup efektif memblokir awan-awan konvektif agar tidak lekas meninggalkan wilayah Indonesia. Buktinya, mendung dan hujan masih mendera di atas atmosfer Indonesia selama bulan Juni ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, hujan yang masih sering terjadi di Indonesia juga dipengaruhi oleh dinamika atmosfer pada skala regional. Terjadinya Badai Tropis di Teluk Bengala (India) selama sepekan terakhir Mei ikut mempengaruhi proses pembentukan awan dan hujan di Indonesia (terutama di Jawa dan Sumatra). Pada awal Juni, Badai Tropis muncul kembali di sekitar Laut Arab dan Oman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan: tulisan ini dimuat di Koran Tribun Jabar, 26 Juni 2010.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;iframe src="http://www.hothotsoftware.com/freestuff/counterView.php?counterid=yulihastin" width=100 height=100 frameborder=0&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1824214246344813752-4899558317501166799?l=yulihastin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yulihastin.blogspot.com/feeds/4899558317501166799/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1824214246344813752&amp;postID=4899558317501166799' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1824214246344813752/posts/default/4899558317501166799'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1824214246344813752/posts/default/4899558317501166799'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yulihastin.blogspot.com/2010/06/hujan-badai-di-musim-kemarau.html' title='HUJAN BADAI DI MUSIM KEMARAU'/><author><name>yulihastin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07384503929845779248</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SLenWZrNyfI/AAAAAAAAACs/Yr2e67BQLw0/S220/sekar-erma.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/TCw5-AiKddI/AAAAAAAAALw/oSbamKYA6rY/s72-c/Hujan+Badai+di+Musim+Kemarau.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1824214246344813752.post-4135084811505976624</id><published>2010-05-26T17:49:00.000-07:00</published><updated>2010-06-30T23:42:10.692-07:00</updated><title type='text'>Musim Hujan atau Kemarau</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/TCw4p1M6E4I/AAAAAAAAALg/xiKwJLRfqf0/s1600/musim+hujan+atau+kemarau.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 96px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/TCw4p1M6E4I/AAAAAAAAALg/xiKwJLRfqf0/s200/musim+hujan+atau+kemarau.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5488824337164800898" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musim Hujan atau Kemarau?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SELAMA sepekan terakhir (9-17 Mei), hujan deras disertai angin kencang terjadi setiap hari hampir merata di Jawa bagian barat. Tak ayal, hujan deras tersebut membuat sebagian wilayah di Jawa Barat tergenang banjir. Hujan telah menenggelamkan ratusan rumah, sejumlah tempat penggilingan padi dan penyimpanan gabah di Jamblang dan Suranenggala, Cirebon (Pikiran Rakyat, 13 Mei). Banjir juga merendam ratusan rumah di Cibadak, Astanaanyar Bandung karena luapan suangai Citepus (Pikiran Rakyat, 14 Mei).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anomali iklim menunjukkan suatu kondisi iklim yang menyimpang dari karakteristik kondisi iklim pada umumnya, yang dinyatakan dengan nilai rata-rata jangka panjang pada satu atau beberapa unsur iklim. Unsur iklim yang dimaksud seperti suhu, tekanan, curah hujan, kelembapan, kecepatan dan arah angin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anomali Curah Hujan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gejala anomali iklim pada bulan Mei ini sebetulnya telah terekam dengan cukup baik oleh hasil model iklim regional (Darlam-Autsralia) yang dikembangkan Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional (Lapan). Berdasarkan hasil luaran (output) model Darlam Lapan, prediksi selama bulan Mei menunjukkan curah hujan di atas Jawa berkisar 300-500 milimeter. Lihat Gambar 2. Prediksi ini meningkat jika dibandingkan bulan April yaitu 200-300 milimeter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil prediksi model selama Mei juga menunjukkan bahwa di sekitar Samudra Hindia bagian selatan Jawa serta di bagian utara Sumatra, curah hujan bahkan mencapai 600-900 milimeter yang jauh lebih besar dibandingkan bulan sebelumnya yaitu 400-600 milimeter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anomali Angin dan MJO&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bulan Mei, seharusnya secara klimatologis, angin yang bertiup di atas pulau Jawa adalah angin timur yang kuat. Angin timur ini berasal dari benua Australia yang pada saat ini mengalami musim gugur dan hendak memasuki musim dingin. Oleh karena itu, angin ini bersifat kering sehingga Indonesia pun bersiap menghadapi kemarau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun kenyataannya, hasil pengamatan terhadap pola angin yang dikeluarkan International Pacific Research Center, University of Hawaii, menunjukkan hal yang berbeda. Sejak akhir April 2010, angin yang bertiup di atas Indonesia sebagian besar masih memiliki pola yang acak. Angin barat masih terlihat cukup kuat bertiup di atas Kalimantan bagian selatan dan laut Jawa, sehingga awan dan hujan masih berpeluang terbentuk di kawasan tersebut. Kelembapan di wilayah tersebut juga relatif lebih tinggi daripada wilayah lainnya. Pola ini juga berbeda jika dibandingkan dengan akhir April 2009 yang telah didominasi angin timur (terutama di bagian selatan Indonesia).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angin barat yang masih cukup kuat di atas Jawa hingga pertengahan Mei inilah yang telah menyebabkan hujan masih banyak turun. Pola angin ini juga didukung dengan penguatan monsun India (saat ini sedang mengalami musim hujan), yang ditunjukkan dengan nilai indeks monsun India positif 4 pada pertengahan Mei. Pengaruh penguatan monsun India ini berdampak pada bertiupnya angin barat yang bersifat cukup basah sehingga berpengaruh pada pembentukan awan yang lebih intensif di atas Jawa selama pertengahan Mei. Sementara indeks monsun Australia selama Mei berada di kisaran nilai normal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anomali lain yang mengakibatkan hujan masih berpeluang turun secara intensif di Indonesia adalah aktivitas gelombang Madden Julian Oscillation (MJO) yang menguat dan terjadi di kawasan benua Maritim Indonesia. Aktivitas MJO ini mengakibatkan terbentuknya sekumpulan besar awan-awan tinggi (super cloud cluster) yang berasal dari penguapan di atas Samudra Hindia. Kumpulan mega-awan ini selanjutnya berarak ke timur menuju kawasan Indonesia. Awan-awan inilah yang menyuplai uap air dalam jumlah yang amat besar bagi pembentukan konveksi yang menimbulkan banyak hujan di bulan Mei. Menurut prediksi MJO yang dirilis Climate Prediction Center, Amerika Serikat, hingga 1 Juni mendatang, MJO tetap berada di kawasan Indonesia meskipun statusnya melemah dan kemudian berpindah menuju kawasan Samudra Hindia dalam status yang aktif dan kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama April hingga Mei, ketiganya berada dalam status yang normal sehingga tidak berpengaruh pada anomali iklim. Selama April 2010, indeks Nino 3.4 memiliki kecenderungan menurun menjadi 0.680C lebih rendah dibandingkan bulan lalu, yaitu 0.940C, sementara indeks Nino 3 (+0.740C) dan Nino 2 (+0.820C). Keadaan ini menunjukkan El Nino cenderung melemah menuju normal. Saat ini bahkan indeks telah mendekati nilai nol, yang menunjukkan kondisi normal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indeks SOI selama April menunjukkan kenaikan positif yaitu mencapai +15.5, jauh lebih tinggi dibandingkan bulan lalu yaitu +2.9. Kenaikan indeks SOI ini tampak konsisten dengan pelemahan El Nino di Samudra Pasifik. Nilai indeks SOI yang positif menunjukkan bahwa tekanan permukaan di kawasan Tahiti lebih tinggi dibandingkan dengan tekanan permukaan di kawasan Darwin. Akibatnya, pergerakan angin akan terjadi dari Tahiti menuju Darwin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peluang terjadinya El Nino berdasarkan model statistik International Research Institute, Columbia, pada Mei 2010 menjadi 38 persen, turun dibandingkan bulan sebelumnya, yaitu 85 persen. Pada bulan-bulan selanjutnyanya, peluang terjadinya El Nino terus berkurang menjadi 28 persen, 20 persen, 15 persen, berturut-turut pada Juni, Juli, Agustus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suhu permukaan laut di Samudra Hindia indeks Dipole Mode yaitu +0.49, menunjukkan tidak ada anomali (normal). Sehingga pembentukan awan dari Samudra Hindia dan proses konveksi di kawasan barat Indonesia akan berlangsung normal. Berdasarkan model POAMA BOM (Bureau of Meteorology), Australia, kondisi Dipole Mode ini diprediksi akan berlangsung normal hingga November 2010.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Analisis ENSO dan Dipole Mode ini menunjukkan bahwa biang keladi keanehan iklim di bulan Mei dalam skala regional pada dasarnya disebabkan oleh dua hal: MJO dan penguatan angin monsun India.***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Erma Yulihastin, peneliti pada Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim LAPAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan: tulisan ini dimuat di Pikiran Rakyat 27 Mei 2010.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;iframe src="http://www.hothotsoftware.com/freestuff/counterView.php?counterid=yulihastin" width=100 height=100 frameborder=0&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1824214246344813752-4135084811505976624?l=yulihastin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yulihastin.blogspot.com/feeds/4135084811505976624/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1824214246344813752&amp;postID=4135084811505976624' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1824214246344813752/posts/default/4135084811505976624'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1824214246344813752/posts/default/4135084811505976624'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yulihastin.blogspot.com/2010/05/musim-hujan-atau-kemarau.html' title='Musim Hujan atau Kemarau'/><author><name>yulihastin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07384503929845779248</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SLenWZrNyfI/AAAAAAAAACs/Yr2e67BQLw0/S220/sekar-erma.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/TCw4p1M6E4I/AAAAAAAAALg/xiKwJLRfqf0/s72-c/musim+hujan+atau+kemarau.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1824214246344813752.post-4722682871772449356</id><published>2010-04-01T00:09:00.000-07:00</published><updated>2010-06-30T23:44:00.433-07:00</updated><title type='text'>CUACA EKSTREM PENYEBAB BANJIR</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/TCw5Fc0b7II/AAAAAAAAALo/DqvR1nOJPXw/s1600/cuaca+ekstrem+penyebab+banjir.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 160px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/TCw5Fc0b7II/AAAAAAAAALo/DqvR1nOJPXw/s200/cuaca+ekstrem+penyebab+banjir.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5488824811656047746" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sering kita mendengar istilah cuaca buruk dari berita yang disiarkan di media massa. Entah dari mana asal padanan kata ”cuaca buruk” ini, tetapi penggunaannya telah menyebar luas di kalangan masyarakat. Padahal, penyebutan ”cuaca buruk” ini tidak sepenuhnya benar. Sebab, definisi ilmiah mengenai cuaca buruk (bad weather) sebetulnya tidak ada. Yang mirip dengan penyebutan cuaca buruk yaitu cuaca dahsyat, keras, berbahaya (severe weather). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cuaca dahsyat ini mengacu pada fenomena cuaca yang berbahaya dan bersifat merusak serta dapat menimbulkan korban. Bentuk cuaca dahsyat ini berbeda-beda tergantung lintang wilayah, ketinggian, topografi, dan tentu saja kondisi atmosfer setempat. Contoh cuaca dahsyat adalah: badai guruh (thunderstorm), angin topan (hurricanes), siklon tropis (tropical cyclone) badai salju, badai pasir, badai es, angin puting beliung (tornadoes), hujan deras, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cuaca dahsyat seringkali rancu dengan istilah cuaca ekstrem. Itu karena kedua hal tersebut memiliki definisi yang berbeda. Cuaca ekstrem adalah fenomena cuaca yang tidak biasa atau tidak umum terjadi di suatu wilayah. Ketidakbiasaan atau ketidakumuman tersebut digolongkan atau diukur dari keadaan cuaca rata-rata yang terjadi di sana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya, apabila suhu maksimum rata-rata di suatu wilayah pada bulan Maret pada siang hari adalah 33 derajat Celsius, dan suatu saat suhu di siang hari pada bulan Maret di wilayah tersebut adalah 35 derajat Celsius, fenomena cuaca ini dapat digolongkan sebagai cuaca ekstrem. Contoh lain, apabila di Kota Bandung suatu saat terjadi hujan es atau salju, fenomena ini juga disebut sebagai cuaca ekstrem meskipun hujan tersebut tidak menimbulkan kerusakan apa pun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada prinsipnya, ada empat macam cuaca ekstrem yang diukur dari parameter meteorologi berupa suhu dan curah hujan. Empat cuaca ekstrem tersebut yakni ekstrem panas, ekstrem dingin, ekstrem kering, dan ekstrem basah.     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ekstrem basah dan banjir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayong Tjasyono dalam ”Meteorologi Indonesia 2” membuat skema hubungan logis antara cuaca ekstrem dan terjadinya banjir. Ia menjelaskan bahwa fenomena cuaca ekstrem basah di suatu tempat pada suatu waktu akan menciptakan daerah konvergensi, atau disebut dengan sel tekanan rendah. Sel tekanan rendah ini, jika terjadi dalam waktu berhari-hari atau bahkan hingga berminggu-minggu maka akan menyebabkan anomali unsur iklim. Artinya, terjadi penyimpangan terhadap unsur-unsur iklim (dibandingkan dengan kondisi rata-ratanya) seperti curah hujan, suhu, kelembapan, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anomali unsur iklim yang dihasilkan oleh cuaca ekstrem basah adalah, kelembapan udara menjadi tinggi karena penguapan yang terjadi di wilayah tersebut meningkat tajam. Hal ini mengakibatkan jumlah uap air di atmosfer menjadi besar sehingga pembentukan awan pun meningkat pesat. Karena banyak terdapat awan, penyinaran matahari pun terhalang, sehingga biasanya dalam kondisi ini, durasi penyinaran matahari menjadi pendek atau singkat. Akibatnya, curah hujan yang turun di wilayah tersebut pun berlebihan atau mangalami surplus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan sejumlah peristiwa banjir dan tanah longsor yang terjadi di Indonesia, faktor meteorologis ternyata menjadi penyebab utama. Faktor meteorologis tersebut berkaitan dengan intensitas (jumlah atau volume), distribusi (sebaran), dan durasi (lama atau singkatnya), serta frekuensi (sering atau jarang) curah hujan. Faktor penyebab lainnya tentu berkaitan dengan sifat-sifat fisis permukaan tanah dalam menyerap air hujan, kontur atau topografi, serta drainase.***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Erma Yulihastin, peneliti sains atmosfer pada Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim, Lapan Bandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini dimuat di Pikiran Rakyat, 1 April 2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;iframe src="http://www.hothotsoftware.com/freestuff/counterView.php?counterid=yulihastin" width=100 height=100 frameborder=0&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1824214246344813752-4722682871772449356?l=yulihastin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yulihastin.blogspot.com/feeds/4722682871772449356/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1824214246344813752&amp;postID=4722682871772449356' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1824214246344813752/posts/default/4722682871772449356'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1824214246344813752/posts/default/4722682871772449356'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yulihastin.blogspot.com/2010/04/cuaca-ekstrem-penyebab-banjir.html' title='CUACA EKSTREM PENYEBAB BANJIR'/><author><name>yulihastin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07384503929845779248</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SLenWZrNyfI/AAAAAAAAACs/Yr2e67BQLw0/S220/sekar-erma.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/TCw5Fc0b7II/AAAAAAAAALo/DqvR1nOJPXw/s72-c/cuaca+ekstrem+penyebab+banjir.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1824214246344813752.post-7723513434275484218</id><published>2010-03-03T01:23:00.000-08:00</published><updated>2010-03-03T01:29:28.469-08:00</updated><title type='text'>Pintu Shalat</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/S44r78EluBI/AAAAAAAAAKw/nwKvJP4_tFo/s1600-h/quran2.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 155px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/S44r78EluBI/AAAAAAAAAKw/nwKvJP4_tFo/s200/quran2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5444337308275161106" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kejadian ini berlangsung sekitar sebulan yang lalu.&lt;br /&gt;“Bunda, aku hari ini nggak shalat, ah.”&lt;br /&gt;“Kenapa?”&lt;br /&gt;“Ya, nggak mau aja. Masak shalat harus tiap hari, sih?”&lt;br /&gt;Protes Sekar, lima tahun, suatu kali saat datang ritual shalat Maghrib berjamaah di rumah.&lt;br /&gt;“Sekar, sini deh. Bunda mau bicara,” kugamit lengannya dan kududukkan dia di atas kasur.&lt;br /&gt;“Sekar pengen masuk surga, gak?”&lt;br /&gt;“Mau.”&lt;br /&gt;“Nah, untuk masuk surga kita harus punya tiket, sama seperti kalau kita mau masuk bioskop. Surga juga punya banyak sekali pintu, dan salah satu pintunya adalah pintu shalat. Untuk bisa masuk pintu shalat, kita harus shalat setiap hari.”&lt;br /&gt;“Mengerti, nggak?”&lt;br /&gt;“Ya, ya. Ngerti…”&lt;br /&gt;“Kalau begitu, yuk, kita shalat.”&lt;br /&gt;Anakku yang kritis itu pun akhirnya menurut. Ia mengambil mukena mungilnya, lalu kami pun shalat bersama.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Kini, tiap malam sehabis ritual shalat maghrib berjama'ah, Sekar dengan mandiri membuka buku Iqro' dan membacanya, lalu membuka buku belajar membaca, dan ditutup dengan "qur'anku sahabatku" yang saya bacakan untuknya. Banyak sekali cerita hari kiamat, hari pembalasan, surga, neraka, yang secara lamat-lamat ia cerna dalam pikirannya melalui buku tafsir anak-anak tersebut.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;iframe src="http://www.hothotsoftware.com/freestuff/counterView.php?counterid=yulihastin" width=100 height=100 frameborder=0&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1824214246344813752-7723513434275484218?l=yulihastin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yulihastin.blogspot.com/feeds/7723513434275484218/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1824214246344813752&amp;postID=7723513434275484218' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1824214246344813752/posts/default/7723513434275484218'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1824214246344813752/posts/default/7723513434275484218'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yulihastin.blogspot.com/2010/03/pintu-shalat.html' title='Pintu Shalat'/><author><name>yulihastin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07384503929845779248</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SLenWZrNyfI/AAAAAAAAACs/Yr2e67BQLw0/S220/sekar-erma.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/S44r78EluBI/AAAAAAAAAKw/nwKvJP4_tFo/s72-c/quran2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1824214246344813752.post-3702977629715857915</id><published>2010-03-03T01:12:00.000-08:00</published><updated>2010-03-03T01:19:30.350-08:00</updated><title type='text'>Qur'an Sahabat Anak</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/S44phcFTPqI/AAAAAAAAAKo/b3ZrJd5KRn8/s1600-h/quran3.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 153px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/S44phcFTPqI/AAAAAAAAAKo/b3ZrJd5KRn8/s200/quran3.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5444334653988355746" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sejak pertanyaan protes Sekar mengenai shalat dan kemujaraban jawaban saya mengenai hubungan shalat dan surga, saya pun bertekad untuk membeli buku tafsir qur’an untuk anak-anak. Saya ingin sekali menanamkan pemahaman qur’an kepada anak saya karena saya yakin, jika dia semakin memahami isi qur’an maka dia juga akan rajin beramal shalih dan beribadah.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ada dua jenis buku yang ingin saya beli, yaitu cerita 25 Nabi untuk anak dan tafsir qur’an untuk anak. Jadilah kami sekeluarga berburu buku tersebut saat Pameran Buku di Braga, Bandung , 22 Februari yang lalu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Setelah hunting ke beberapa stand penerbit mencari-cari buku qur’an untuk anak-anak, sampailah saya pada kesimpulan bahwa buku “Quranku Sahabatku” yang diterbitkan Mizan adalah buku tafsir untuk anak-anak satu-satunya yang mengulas juz 30 dalam 4 jilid dengan kemasan yang luar biasa menarik dan penuh warna (full color).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tafsir ini juga ditulis oleh seorang yang sangat mumpuni di bidang ilmu tafsir, Prof. Dr. Afif Muhammad. Sehingga kandungan materi tafsir insya Allah terjaga kualitasnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Saya mengatakan tafsir qur’an anak-anak ini sangat menarik bukan tanpa alasan. Pertama, bahasanya sangat ringan dan enak sekali untuk dibaca, disertai contoh-contoh nyata kehidupan anak-anak sehari-hari.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kedua, banyak gambar yang ditampilkan sebagai penjelasan cerita, sehingga merangsang pembaca untuk berimajinasi, sehingga dapat memberikan cerita yang lebih hidup, lebih kaya, dan lebih mendalam.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ketiga, beberapa bagian juga disertai cerita komik untuk mempertajam penafsiran suatu ayat. Misalnya, saat menafsirkan ayat pertama dari surat Alfatihah, “Bismillahirrahmaanirrahiim,” maka dijelaskan juga dalam bentuk komik cerita mengenai “setan gemuk” dan “setan kurus.”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Keempat, kualitas kertasnya tebal dan bagus sekali seperti buku ensiklopedia dari Luar Negeri, dijilid dan diberi kover tebal, serta diberi pita sebagai tanda baca. Kualitas yang sangat bagus ini membuat buku menjadi awet sehingga dapat diwariskan secara turun temurun kepada adik-adiknya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kelima, yang juga menyenangkan dari buku ini adalah, halaman panduan orang tua, yang salah satunya menganjurkan agar orang tua membacakan buku ini dengan gaya berdongeng agar anak suka, banyak berimprovisasi agar anak semakin memahami, dan agar orang tua tidak melarang anak-anak mempertanyakan materi tafsir. Jika anak yang dibacakan mempertanyakan isi qur’an, sebaiknya orang tua tidak melarangnya, sebab hal ini bukanlah sesuatu yang tabu. Kekritisan anak-anak harus diapresiasi dengan baik oleh orang tua.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Keenam, saya merekomendasikan kepada setiap orang tua untuk memiliki buku ini sebab menurut saya jalan terbaik menanamkan pemahaman qur’an kepada anak sejak balita adalah dengan membacakan buku tafsir qur’an ini ayat per ayat secara kontinyu, setiap hari, seiring dengan bertambahnya hapalan si balita terhadap surat-surat pendek.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;tanpa bermaksud untuk promosi, buku tersebut dapat Anda dapatkan di toko-toko buku terdekat dengan harga bandrol Rp. 97.000. Saya membelinya dengan harga pameran Rp 58.000.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;25 Februari 2010, Erma Yulihastin&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;iframe src="http://www.hothotsoftware.com/freestuff/counterView.php?counterid=yulihastin" width=100 height=100 frameborder=0&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1824214246344813752-3702977629715857915?l=yulihastin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yulihastin.blogspot.com/feeds/3702977629715857915/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1824214246344813752&amp;postID=3702977629715857915' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1824214246344813752/posts/default/3702977629715857915'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1824214246344813752/posts/default/3702977629715857915'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yulihastin.blogspot.com/2010/03/quran-sahabat-anak.html' title='Qur&apos;an Sahabat Anak'/><author><name>yulihastin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07384503929845779248</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SLenWZrNyfI/AAAAAAAAACs/Yr2e67BQLw0/S220/sekar-erma.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/S44phcFTPqI/AAAAAAAAAKo/b3ZrJd5KRn8/s72-c/quran3.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1824214246344813752.post-1960554139030079150</id><published>2010-02-16T07:17:00.000-08:00</published><updated>2010-02-17T17:28:33.719-08:00</updated><title type='text'>HUJAN HARIAN DI BANDUNG</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/S3yWIkudCHI/AAAAAAAAAKg/tc8-3S0IfLc/s1600-h/hujan+harian+di+bdg.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 277px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/S3yWIkudCHI/AAAAAAAAAKg/tc8-3S0IfLc/s320/hujan+harian+di+bdg.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5439387523998353522" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Erma Yulihastin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banjir dan longsor kerap terjadi lagi di Bandung dan sekitarnya selama beberapa pekan terakhir. Seperti diberitakan, longsor terjadi di beberapa wilayah di Bandung Barat (15/2) dan banjir telah merendam ribuan rumah di empat kecamatan (Baleendah, Dayeuhkolot, Bojongsoang, Rancaekek) selama dua pekan terakhir dengan ketinggian air sekitar dua meter (”PR”, 16/2). Hujan deras yang mengguyur kota Bandung setiap hari memang dapat menjadi ancaman serius bagi terjadinya bencana longsor dan banjir di wilayah dengan kontur topografi perbukitan dan daerah di sekitar bantaran sungai.&lt;br /&gt;Perilaku hujan harian di Bandung menjadi menarik untuk diamati. Itu karena selama dua pekan terakhir, pola hujan harian di Kota Bandung dan sekitarnya terbilang unik. Pada 1-5 Februari, hujan deras terjadi pada malam hari, dimulai pukul 19.00 WIB dan berakhir menjelang tengah malam (23.00 WIB). Kemudian, pola ini berubah. Pada 6-12 Februari, hujan deras berlangsung lebih awal, yakni sekitar pukul 16.30 WIB hingga menjelang waktu Isya sekitar 19.30 WIB. Pergeseran waktu hujan kembali terjadi sejak 13 Februari sampai pada saat tulisan ini dibuat (15 Februari). Apakah pola hujan harian ini, yang dalam ilmu meteorologi disebut dengan istilah siklus harian (diurnal cycle), akan kembali bergeser waktunya? Sebetulnya, apakah penyebab siklus harian semacam ini? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siklus harian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umumnya, hujan harian di wilayah Indonesia secara dominan dipengaruhi oleh aktivitas awan-awan konvektif yang berpeluang besar mendatangkan hujan deras di suatu tempat dalam waktu yang singkat (hujan konvektif). Lokasi strategis Indonesia yang berada di antara Samudra Hindia dan Samudra Pasifik membuat pemanasan konvektif yang terjadi di atas Indonesia sangat kuat dan berperan dominan dalam memengaruhi sirkulasi atmosfer di negara-negara lintang menengah dan tinggi (Neale dan Slingo, 2003). Dua samudra besar tersebut, di tambah laut-laut kecil yang mengelilingi kepulauan Indonesia, telah membuat proses pemanasan atmosfer di atas wilayah Indonesia menjadi kompleks dan tidak seragam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hujan harian terjadi karena ada perbedaan proses pemanasan antara daratan dan lautan. Terbentuknya hujan harian bahkan secara sederhana dapat dikaitkan dengan peristiwa pembentukan angin darat (malam hari)  dan angin laut (siang hari) yang terjadi setiap hari. Dalam kaitan itu, pembentukan awan pada awalnya terjadi di atas lautan sebab di sanalah terdapat persediaan air terbesar sehingga penguapan terbanyak pun terjadi di atas lautan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Awan-awan yang terbentuk di atas lautan inilah yang perlahan-lahan berarak menuju daratan dan terjadilah hujan. Hujan yang terjadi setiap hari, karena pengaruh perbedaaan pemanasan di atas lautan dan daratan serta pengaruh topografi di suatu wilayah inilah yang disebut siklus harian curah hujan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu bagaimana dengan siklus harian untuk wilayah Jawa Barat (termasuk Bandung)? Pada jam berapakah hujan harian akan terjadi di wilayah tersebut? Berdasarkan penelitian menggunakan data curah hujan satelit TRMM yang dilakukan oleh M. Hara dkk. (2009) dapat disimpulkan bahwa siklus harian atau hujan maksimum di Jawa Barat (termasuk Bandung) akan terjadi pada sore sampai malam hari, yaitu sejak pukul 15.00 WIB hingga 20.00 WIB..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hujan yang terjadi pada sore hingga malam menunjukkan bahwa suplai awan-awan yang terbentuk di atas lautan pada siang hari membutuhkan waktu untuk berpindah ke atas daratan dan berproses menjadi awan yang matang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Siklus harian ini, pada musim hujan (Desember-Januari-Februari) dipengaruhi oleh awan-awan yang terbentuk di Samudra Hindia yang bergerak menuju ke timur karena dorongan angin monsun barat yang kuat. Meskipun demikian, untuk kasus lokal Bandung, topografi wilayah cekungan Bandung  yang dikepung oleh deretan pegunungan turut memengaruhi siklus harian ini sehingga sering kali hujan yang turun di cekungan Bandung juga merupakan hujan orografis (hujan yang berasal dari kumpulan awan di atas pegunungan). Pergeseran waktu terjadinya hujan yang cukup konsisten sejak pekan pertama Februari yakni malam hari, kemudian pekan kedua sore hari, dan pekan ketiga siang hari, menunjukkan fenomena perambatan gelombang di  atmosfer, yang dapat kita amati secara fisik sebagai perambatan awan. Sebagaimana bentuk gelombang sinusoidal yang memiliki puncak dan lembah, peristiwa hujan merupakan perwujudan dari puncak gelombang. Karena ada pergeseran fase gelombang, pergeseran waktu hujan pun terjadi. Pergeseran waktu hujan ini tampaknya terkait dengan pola angin monsun yang juga berubah dari hari ke hari selama bulan Februari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Monsun musim hujan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada Februari, seharusnya angin monsun yang bertiup di atas wilayah Indonesia merupakan angin monsun barat yang kuat. Angin barat yang kuat ini terjadi karena pengaruh angin monsun musim dingin dari Benua Asia yang bertiup dari utara menuju pusat tekanan rendah di sekitar Australia (yang sedang mengalami musim panas), melewati kepulauan Indonesia. Monsun barat tersebut sekaligus menjadi ciri khas angin pada musim hujan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun ternyata, berdasarkan pengamatan terhadap kondisi angin monsun harian yang dirilis International Pacific Research Center, Hawaii, tampak bahwa pola angin monsun barat di atas Pulau Jawa mengalami perubahan yang konsisten dari waktu ke waktu.  Angin monsun yang bertiup di atas Pulau Jawa selama Februari yang diamati pada level ketinggian 850 milibar atau sekitar 2 kilometer dari permukaan air laut rata-rata (Mean Sea Level) selama bulan Februari menunjukkan bahwa angin monsun barat kuat terjadi sejak 1 sampai 5 Februari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, pola angin berubah menjadi angin utara yang cukup kuat di atas Selat Sunda dan laut Jawa, sementara di atas pulau Jawa bertiup angin timur yang lemah. Angin timur ini, meskipun lemah, menjadi penanda semakin berkurangnya pengaruh konveksi di atas Samudra Hindia serta melemahnya pengaruh monsun musim dingin dari Asia. Apabila perubahan pola angin (dari angin barat menjadi angin timur) ini secara konsisten terjadi hingga akhir Februari, pada Bulan Maret terdapat peluang yang cukup bahwa Jawa Barat akan memasuki musim peralihan. Ini artinya, intensitas dan volume hujan akan berkurang saat memasuki awal Maret.***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Erma Yulihastin, peneliti sains atmosfer pada Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim, Lapan Bandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan: artikel ini dimuat di Pikiran Rakyat, Kamis, 18 Februari 2010.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;iframe src="http://www.hothotsoftware.com/freestuff/counterView.php?counterid=yulihastin" width=100 height=100 frameborder=0&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1824214246344813752-1960554139030079150?l=yulihastin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yulihastin.blogspot.com/feeds/1960554139030079150/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1824214246344813752&amp;postID=1960554139030079150' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1824214246344813752/posts/default/1960554139030079150'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1824214246344813752/posts/default/1960554139030079150'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yulihastin.blogspot.com/2010/02/hujan-harian-di-bandung.html' title='HUJAN HARIAN DI BANDUNG'/><author><name>yulihastin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07384503929845779248</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SLenWZrNyfI/AAAAAAAAACs/Yr2e67BQLw0/S220/sekar-erma.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/S3yWIkudCHI/AAAAAAAAAKg/tc8-3S0IfLc/s72-c/hujan+harian+di+bdg.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1824214246344813752.post-9041945809050524902</id><published>2010-01-21T07:15:00.000-08:00</published><updated>2010-01-20T17:19:01.549-08:00</updated><title type='text'>Prakiraan Iklim Indonesia 2010</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/S1erKV4mF-I/AAAAAAAAAKY/T3izwNeF7YU/s1600-h/iklim+2010.GIF"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 186px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/S1erKV4mF-I/AAAAAAAAAKY/T3izwNeF7YU/s200/iklim+2010.GIF" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5428996069979985890" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Erma Yulihastin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah mafhum diketahui, tahun baru merupakan momentum untuk menayangkan ulang peristiwa penting yang terjadi sepanjang tahun lalu. Bagaikan membuka lagi rekaman lama, kejadian penting di berbagai bidang disorot kembali oleh media massa melalui berbagai acara semacam ”kaleidoskop” dengan tujuan untuk menyegarkan ingatan, mengambil pelajaran serta peringatan bahwa peristiwa yang sama dapat saja berulang meski tahun telah berganti. Bencana alam yang sama buruknya atau bahkan lebih buruk dari tahun lalu dapat terjadi kembali. Mengevaluasi kondisi iklim di Indonesia sepanjang tahun 2009 menjadi penting sebab bencana alam terkait dengan iklim seperti banjir dan kekeringan merupakan bencana yang paling sering terjadi dengan tingkat risiko nomor wahid berdasarkan peringkat kebencanaan di negeri khatulistiwa ini. Jadi bagaimanakah kondisi iklim di indonesia selama 2009 lalu? Bagaimana pula prediksi Iklim di Indonesia pada 2010? Artikel ini bermaksud mengulasnya secara ringkas dalam tinjauan ilmiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iklim ekstrem&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada April 2009, iklim ekstrem berupa kekeringan yang berlebihan terjadi di wilayah tenggara Indonesia, seperti Lombok, NTB, NTT, Kupang, dan Maluku bagian selatan. Pada saat yang sama, kekeringan ekstrem juga melanda Australia bagian utara. Ekstrem kering ini didasarkan pada analisis iklim ekstrem yang dikeluarkan JMA (Japan Meteorological Agency) yang membagi kondisi ekstrem menjadi empat kelompok, yakni ekstrem panas, ekstrem dingin, ekstrem kering, dan ekstrem basah. Pengelompokan ini dilakukan berdasarkan pengukuran satelit terhadap besar suhu dan kadar curah hujan di suatu wilayah. Satelit juga memantau terjadinya siklon tropis yang juga dikategorikan sebagai iklim ekstrem. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekeringan ekstrem yang terjadi di bagian tenggara Indonesia selama bulan April memiliki hubungan yang erat dengan kondisi angin monsun selama April 2009. Sejak awal April 2009, angin monsun barat (yang mendapat pengaruh dari monsun Asia bersifat basah dan membawa uap air hujan dari Samudra Pasifik) melemah di bagian tenggara Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angin monsun timur (yang berasal dari Australia, bersifat kering) justru telah masuk ke Indonesia melalui celah timur dan berembus kuat di atas wilayah tersebut. Penyimpangan sirkulasi angin monsun di bulan April ini (yang seharusnya masih merupakan musim hujan karena pengaruh monsun barat Asia) terjadi karena terdapat depresi tekanan yang kuat di wilayah Filipina akibat dari pertumbuhan dan pembentukan siklon tropis Kujira.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kondisi hujan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hujan pada bulan-bulan awal tahun 2009 berada dalam kondisi normal berdasarkan pengamatan satelit TRMM (Tropical Rainfall Measuring Mission) milik Jepang (JAXA) dan Amerika Serikat (NASA). Dengan demikian, hujan yang cukup terjadi pada hampir seluruh wilayah Indonesia. Namun mulai April, curah hujan di bawah normal (anomali negatif 5 milimeter/hari) terjadi di Indonesia bagian timur (Papua), tenggara (Lombok, NTB, NTT, Kupang), timur laut (Sulawesi, Maluku, Halmahera). Pada bulan Mei, kondisi kurang hujan meluas di sebagian besar wilayah Indonesia kecuali Jawa sebagai tanda dimulainya musim kemarau tahun 2009. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama Juni, kekeringan meluas ke seluruh wilayah Indonesia dengan anomali curah hujan yang semakin negatif (-10 milimeter/hari). Namun pada Juli, sebagian Sumatra Utara, Kalimantan Utara, Papu bagian barat, serta Maluku dan Sulawesi Selatan mulai mengalami hujan yang normal. Pada bulan September dan Oktober, curah hujan normal mulai turun tidak hanya di bagian utara wilayah Indonesia tetapi juga di bagian selatan, termasuk Jawa bagian barat. Meskipun demikian, Indonesia belum memasuki musim hujan karena wilayah Jawa Timur dan beberapa pulau kecil yang terletak di bagian timurnya masih belum hujan. Barulah pada November, Jawa Timur dan bagian tenggara Indonesia sudah mengalami hujan yang cukup merata, menandakan dimulainya musim hujan 2009. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Moderat hingga kuat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciri khas yang paling utama dari iklim Indonesia 2009 adalah terjadinya El Nino dengan intensitas sedang yang berlangsung sejak pertengahan Juni 2009. El Nino atau pemanasan terjadi di Samudra Pasifik bagian tengah ekuator sejak Juni dengan suhu sekitar 1 derajat Celsius dan terus naik hingga mendekati 2 derajat Celsius pada Januari 2010. Namun, meskipun terjadi El Nino sepanjang 2009 tetapi iklim di wilayah Benua Maritim Indonesia tidak menunjukkan kekeringan yang berlebihan. Sebagian besar Pulau Jawa bagian barat bahkan mengalami kondisi hujan lebat di musim kemarau. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi ini karena dipengaruhi kuat oleh dinamika badai tropis yang terjadi di Samudra Pasifik dan Hindia pada musim transisi dari kemarau menjadi hujan. Lagi pula, selama 2009 suhu permukaan laut di Samudra Hindia berada dalam kondisi normal yang diperlihatkan dengan indeks Dipole Mode yang normal. Jika indeks Dipole Mode bernilai positif, maka pendinginan suhu permukaan laut sedang terjadi di Samudra Hindia dekat (barat) Sumatra, menyebabkan aktivitas konveksi di barat Indonesia (Sumatra dan sekitarnya) menjadi berkurang sehingga hujan tidak terjadi. Gabungan Dipole Mode positif dan El Nino inilah yang terjadi pada 1997/1998 ketika Indonesia mengalami kekeringan panjang dan berlebihan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, fluktuasi gelombang MJO (Madden Julian Oscillation) yang sering menguat dan terjadi di Benua Maritim Indonesia sepanjang 2009 juga memberikan akibat pada pembentukan kelompok awan cumulonimbus yang sangat efektif dalam menghasilkan hujan secara sporadis (turun tiba-tiba dalam jumlah besar) di wilayah Indonesia selama 2009. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;El Nino kuat dengan nilai mendekati 2 derajat Celsius bahkan diprediksi oleh model gabungan (ensamble) Badan Meteorologi Australia (BOM) akan terjadi sampai Februari 2010. Selanjutnya El Nino melemah dengan suhu sekitar 1 derajat Celsius hingga Agustus 2010. Dengan demikian, El Nino diprediksi masih membayang-bayangi kondisi iklim Indonesia 2010. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prediksi iklim 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prediksi iklim 2010 dapat dijelaskan dalam beberapa poin. Pertama, El Nino sedang dan lemah akan terjadi hingga Juli 2010 (Model BOM, Australia). El Nino kuat hingga sedang akan terjadi hingga Februari 2010 dengan peluang sebesar 98 persen (Model IRI, Columbia). Kondisi ini akan memberikan efek pada tidak adanya hujan yang cukup di wilayah Indonesia bagian timur pada 2010. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, suhu permukaan laut di Samudra Hindia akan berada dalam kondisi normal hingga pertengahan 2010. Hal ini menunjukkan pembentukan awan yang berasal dari Samudra Hindia akan tetap banyak terjadi dan memengaruhi pola hujan di wilayah Indonesia, terutama Indonesia bagian barat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, pada Februari mendatang angin monsun barat laut akan bertiup semakin kuat di sebagian besar wilayah Indonesia sehingga hujan secara sporadis akan melanda sebagian besar wilayah Indonesia, terutama di bagian barat dan selatan. Monsun barat laut yang bersifat lembap dan berangin ini berasal dari benua Asia yang saat ini sedang mengalami musim dingin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sebagian Cina dan Korea bahkan terjadi badai salju yang memburuk sejak awal Januari. Kondisi ini membuat angin monsun barat laut yang terjadi di wilayah Indonesia bertiup dengan kekuatan yang semakin besar tetapi tidak stabil sehingga berpengaruh pada cuaca di Indonesia akhir-akhir ini yang didominasi hujan besar dan angin yang kuat (puting beliung).*** &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini dimuat di Pikiran Rakyat, 21 Januari 2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;iframe src="http://www.hothotsoftware.com/freestuff/counterView.php?counterid=yulihastin" width=100 height=100 frameborder=0&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1824214246344813752-9041945809050524902?l=yulihastin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yulihastin.blogspot.com/feeds/9041945809050524902/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1824214246344813752&amp;postID=9041945809050524902' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1824214246344813752/posts/default/9041945809050524902'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1824214246344813752/posts/default/9041945809050524902'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yulihastin.blogspot.com/2010/01/prakiraan-iklim-indonesia-2010.html' title='Prakiraan Iklim Indonesia 2010'/><author><name>yulihastin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07384503929845779248</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SLenWZrNyfI/AAAAAAAAACs/Yr2e67BQLw0/S220/sekar-erma.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/S1erKV4mF-I/AAAAAAAAAKY/T3izwNeF7YU/s72-c/iklim+2010.GIF' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1824214246344813752.post-108162743508705914</id><published>2010-01-14T10:17:00.000-08:00</published><updated>2010-01-14T10:17:00.431-08:00</updated><title type='text'>ElNino Vs badai Ketsana</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/S06qhqWlQmI/AAAAAAAAAKQ/Q2QKDrjB25E/s1600-h/elnino+vs+ketsana.bmp"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 176px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/S06qhqWlQmI/AAAAAAAAAKQ/Q2QKDrjB25E/s200/elnino+vs+ketsana.bmp" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5426462096309437026" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ada yang menarik saat mencermati cuaca di Bandung sejak pertengahan September 2009. Pola cuaca harian di Bandung menunjukkan pemanasan maksimum terjadi hingga tengah hari (pukul 12.00 WIB), berikutnya cuaca berubah drastis: mendung tebal dan hujan cukup deras turun hingga sore hari. Keadaan yang sama berulang setiap hari sampai awal Oktober. Padahal, El Nino masih stabil pada suhu +0.70C, cukup untuk memanaskan Samudra Pasifik secara merata sehingga membentuk pusat tekanan rendah yang berefek pada pelemahan sirkulasi Walker dan memicu kekeringan berlebihan di Indonesia pada musim kemarau. Tapi, pada kenyataanya, kemarau panjang tidak terjadi di Bandung. Apakah yang menyebabkan hujan cukup banyak terjadi di Bandung pada musim peralihan ini? Kenapa El Nino tidak berefek pada kekeringan panjang di Bandung? Artikel ini mengulas fenomena melemahnya efek El Nino tersebut dan kaitannya dengan fenomena cuaca dalam skala regional yang sedang terjadi saat ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Badai Ketsana dan El Nino&lt;br /&gt;Pada waktu yang bersamaan, sejak 25 September 2009 terjadi depresi (pusat tekanan rendah) di Laut China Selatan dekat dengan Filipina (140 Lintang Utara 1280 Bujur Timur). Depresi yang terjadi di laut ini membesar dan menguat membentuk pusaran dengan diameter lebih dari 1000 kilometer. Pusaran yang biasa dikenal dengan istilah siklon tropis (selanjutnya dinamai siklon tropis Ketsana) ini terus membesar dari hari ke hari dan bergerak ke arah barat (menjauhi Filipina). Lihat Gambar 1 di bawah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gambar 1. Siklon tropis Ketsana yang ditunjukkan oleh pusaran putih awan di Laut China Selatan (dekat Filipina) tertangkap oleh citra Satelit MT SAT  &lt;br /&gt;25-29 September 2009.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibat Ketsana ini, pada 27 September lalu, di Filipina terjadi banjir besar dan angin kencang dengan korban tewas 70 orang lebih (Kompas, 27 September). Korban jiwa ini terus bertambah hingga mencapai 140 orang (Metrotvnews, 29 September). Jika diperhatikan lagi Gambar Badai Ketsana di atas (terutama pada tanggal 27 dan 28 September), terlihat bahwa pengaruh cuaca yang ditimbulkan oleh Badai Ketsana ini juga menghampiri beberapa wilayah di Indonesia, terutama di sebagian besar Sumatra. Terbukti, selama bulan September, Sumatra bagian utara mengalami iklim ekstrem berupa hujan lebat dan banjir dengan curah hujan rata-rata selama sebulan yang terukur oleh Satelit TRMM mencapai 20 milimeter per hari. Sementara di Sumatra bagian tengah curah hujan rata-rata yang terjadi berada di rentang 5-12 milimeter per hari. Di Sumatra bagian selatan (Lampung dan sekitarnya) curah hujan mencapai 2-3 milimeter per hari. Jawa Barat pun ternyata bercurah hujan cukup tinggi selama September yaitu sekitar 3 milimeter per hari. Padahal di wilayah lainnya di Indonesia, curah hujan rata-rata selama September hanya berkisar antara 0-3 milimeter per hari. Secara visual, curah hujan di wilayah Indonesia bulan September dapat dicermati pada Gambar 2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gambar 2. Curah hujan di wilayah Indonesia dipantau oleh Satelit TRMM menunjukkan bahwa Jawa Barat mengalami curah hujan rata-rata harian cukup tinggi yaitu 3 mm/hari  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MJO Aktif&lt;br /&gt;Namun, Badai Ketsana bukan satu-satunya yang menyebabkan cuaca di Bandung terus menerus diguyur hujan meskipun sebetulnya Indonesia belum memasuki musim hujan. Fenomena MJO (Madden Julian Oscillation) juga mempengaruhi. MJO selama September hingga awal Oktober aktif dan terjadi di wilayah Indonesia. MJO merupakan fenomena penjalaran gelombang di atmosfer dari barat ke timur yang memiliki periode antara 30-60 hari. Penjalaran gelombang ini juga diikuti dengan bergeraknya kumpulan superbesar awan-awan tinggi (Cumulonimbus) yang berpotensi besar membangkitkan konveksi yang membentuk hujan. Melalui pengamatan mengenai MJO Updates dari website NOAA, dapat dicermati bahwa sinyal MJO dideteksi aktif dan terjadi di Benua Maritim Indonesia selama September. Dengan mengamati Gambar 2 dapat juga dipahami bahwa hujan besar terjadi di Samudra Hindia bagian barat Sumatra dengan intensitas rata-rata 15-20 milimeter/hari. Kondisi ini terjadi karena ada kaitannya dengan MJO yang telah memicu pergerakan awan-awan di Samudra Hindia menuju ke timur (mendekati Sumatra). Maka, konveksi pun banyak terjadi di Sumatra dan Jawa Barat. &lt;br /&gt;Selain MJO, ternyata pengamatan pada kondisi suhu permukaan laut di Samudra Hindia menunjukkan bahwa Dipole Mode berada dalam kondisi normal cenderung negatif. Hal ini menunjukkan bahwa tekanan yang lebih tinggi terjadi Samudra Hindia sebelah timur India sementara di Samudra Hindia bagian barat Sumatra justru terbentuk tekanan rendah. Kondisi ini lagi-lagi memicu tertariknya awan-awan konvektif menuju wilayah Sumatra dan Jawa Barat. Lalu, bagaimana halnya dengan angin monsun? Pola angin wilayah selatan Indonesia masih menunjukkan menurunnya konsistensi pengaruh daratan Australia, dan ini menjadi tanda awal peralihan musim kemarau menuju musim hujan.&lt;br /&gt;Gabungan antara Badai Ketsana, MJO aktif, Dipole Mode yang normal cenderung negatif, dan angin monsun yang mulai berubah inilah tampaknya yang membuat cuaca Bandung hingga Oktober masih akan dibayang-bayangi oleh hujan beruntun. Jadi bersiaplah dengan payung atau jas hujan kemana pun Anda pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel ini dimuat di Pikiran Rakyat, 15 Oktober 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;iframe src="http://www.hothotsoftware.com/freestuff/counterView.php?counterid=yulihastin" width=100 height=100 frameborder=0&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1824214246344813752-108162743508705914?l=yulihastin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yulihastin.blogspot.com/feeds/108162743508705914/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1824214246344813752&amp;postID=108162743508705914' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1824214246344813752/posts/default/108162743508705914'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1824214246344813752/posts/default/108162743508705914'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yulihastin.blogspot.com/2010/01/elnino-vs-badai-ketsana.html' title='ElNino Vs badai Ketsana'/><author><name>yulihastin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07384503929845779248</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SLenWZrNyfI/AAAAAAAAACs/Yr2e67BQLw0/S220/sekar-erma.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/S06qhqWlQmI/AAAAAAAAAKQ/Q2QKDrjB25E/s72-c/elnino+vs+ketsana.bmp' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1824214246344813752.post-9160968091258137228</id><published>2010-01-13T21:11:00.000-08:00</published><updated>2010-01-13T21:17:08.851-08:00</updated><title type='text'>Kemarau Lebih Kering dan Lama</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/S06ou51usYI/AAAAAAAAAKI/GMWVlAPBVyk/s1600-h/kemarau+kering+dan+lama.bmp"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 166px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/S06ou51usYI/AAAAAAAAAKI/GMWVlAPBVyk/s200/kemarau+kering+dan+lama.bmp" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5426460124781654402" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kemarau tahun ini diperkirakan lebih kering dan lebih panjang dari biasanya karena pengaruh El Nino. Pihak Badan Meteorologi Klimatologi Geofisika (BMKG) bahkan telah memperingatkan agar masyarakat mulai menghemat air dan mengubah pola tanam (Kompas, 23 Juni 2009). Benarkah El Nino tengah berlangsung saat ini? Seberapa besar intensitas El Nino tersebut? Wilayah mana saja di Indonesia yang bakal mengalami kekeringan parah karena pengaruh El Nino? Artikel ini bertujuan mengulas kondisi El Nino berdasarkan sudut pandang ilmiah.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;El Nino Lemah Menuju Moderat&lt;br /&gt;Suhu permukaan laut di wilayah Samudra Pasifik ekuator tengah (wilayah ini disebut Nino 3.4), sejak pertengahan Juni 2009 telah menunjukkan terjadinya peningkatan melebihi 0.5 derajat Celcius. Pada awal Juli 2009, suhu bahkan telah merangkak melebihi angka 0.8 derajat Celcius. Keadaan semacam ini digolongkan sebagai El Nino lemah (Consensus of Strong El Nino NOAA, Amerika Serikat, 2007). &lt;br /&gt;Peningkatan suhu di Samudra Pasifik yang melebihi kondisi normal ini berakibat pada pelemahan sirkulasi Walker. Sirkulasi Walker adalah sirkulasi angin zonal (sejajar lintang) timur-barat yang terjadi dari Samudra Pasifik timur menuju Pasifik barat (dekat wilayah Indonesia). Pada keadaan normal, berhembus angin dari timur (Pasifik) ke barat (Indonesia). Angin yang berhembus dari Pasifik ini membawa banyak uap air sehingga bila telah sampai di wilayah Indonesia maka angin tersebut akan bergerak naik (terjadi konveksi) sehingga terbentuklah awan dan hujan. &lt;br /&gt;Namun, apabila terjadi El Nino, angin timur yang dihasilkan oleh sirkulasi Walker dari Samudra Pasifik menuju Indonesia akan melemah. Pelemahan angin timur ini akan menghentikan terjadinya konveksi di atas Indonesia, sebaliknya konveksi yang berlebihan terjadi di wilayah Pasifik. Tidak adanya konveksi di wilayah Indonesia akan berefek pada kekeringan yang berlebihan pada musim kemarau tahun ini. &lt;br /&gt;Peluang terjadinya El Nino lemah (weak El Nino) hingga sedang (moderate El Nino) diprediksi bakal terjadi hingga Bulan September, dengan peluang sebesar 63 persen (The International Research Institute for Climate and Society, Columbia, 2009). Sementara peluang terjadinya keadaan normal adalah 36 persen sementara La Nina hanya 1 persen. Hasil model dinamik POAMA dari Badan Meteorologi Australia (BOM) bahkan memprediksikan bahwa El Nino sedang akan berlangsung hingga Oktober 2009 kemudian berubah menjadi El Nino kuat hingga Februari 2010 (lihat Gambar 1). Berdasarkan konsensus, El Nino lemah jika indeks lebih dari  0.5 sampai 1. El Nino sedang jika indeks melebihi 1 hingga 1.4. Sementara El Nino dikatakan kuat jika mencapai indeks 1.5 atau lebih.  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Gambar 1. Prediksi anomali suhu permukaan laut &lt;br /&gt;(Indeks Nino 3.4) Juli 2009-Februari 2010 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Berdasarkan data arus permukaan dari Oscar, NOAA, Amerika Serikat, juga tampak bahwa arus timur ekuator (menuju timur) di Samudra Pasifik menguat terutama di wilayah 140-180 Bujur Timur (lihat Gambar 2). Rupanya, efek dari pemanasan yang meningkat di Pasifik telah mengakibatkan terbentuknya daerah konvergensi di Samudra Pasifik sehingga arus timur ekuator pun menguat bergerak dari wilayah Indonesia menuju Samudra Pasifik. Hal yang mirip terjadi pada saat Indonesia mengalami El Nino kuat pada Juni 1997. Arus timur ekuator di Samudra Pasifik pada saat itu sangat kuat, dengan cakupan yang sangat luas (lihat Gambar 3). &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Gambar (2) Arus balik di lintang ekuator (20E-100W) selama 20-27 Juni 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Gambar (3) Arus balik di lintang ekuator (20E-100W) selama 20-27 Juni 1997&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angin Monsun Asia-Pasifik Melemah&lt;br /&gt; Pola angin di bagian selatan Indonesia menunjukkan konsistensi adanya pengaruh daratan Australia yang menyebabkan kurangnya uap air di atas Indonesia bagian selatan meliputi Jawa, Sulawesi selatan dan sebagian Sumatera selatan. Fluktuasi indeks monsun Asia timur diprediksi melemah di bawah normal sampai pertengahan Juli sehingga dapat menyebabkan anomali hujan dibawah normal bagi wilayah timur Indonesia. Indeks monsun Australia diprediksi berfluktuasi di sekitar normal dengan simpangan cenderung di bawah normal menyebabkan sedikit hujan dan kecil kemungkinan adanya hujan dengan intensitas tinggi. Indeks monsun India diprediksi berfluktuasi sekitar normal di mana pada awal Juli menguat yang ditandai dengan kondisi cukup hujan, kemudian di pertengahan bulan melemah sehingga menyebabkan anomali hujan di bawah normal di barat laut wilayah Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis, Erma Yulihastin dan Nurzaman Adikusumah&lt;br /&gt;Tulisan ini diterbitkan oleh Pikiran Rakyat merupakan bagian dari kegiatan penelitian di Bidang Pemodelan Iklim, 9 Juli 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;iframe src="http://www.hothotsoftware.com/freestuff/counterView.php?counterid=yulihastin" width=100 height=100 frameborder=0&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1824214246344813752-9160968091258137228?l=yulihastin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yulihastin.blogspot.com/feeds/9160968091258137228/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1824214246344813752&amp;postID=9160968091258137228' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1824214246344813752/posts/default/9160968091258137228'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1824214246344813752/posts/default/9160968091258137228'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yulihastin.blogspot.com/2010/01/kemarau-lebih-kering-dan-lama.html' title='Kemarau Lebih Kering dan Lama'/><author><name>yulihastin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07384503929845779248</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SLenWZrNyfI/AAAAAAAAACs/Yr2e67BQLw0/S220/sekar-erma.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/S06ou51usYI/AAAAAAAAAKI/GMWVlAPBVyk/s72-c/kemarau+kering+dan+lama.bmp' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1824214246344813752.post-8931899686974827629</id><published>2009-05-15T04:09:00.000-07:00</published><updated>2010-01-13T21:10:52.662-08:00</updated><title type='text'>Puting Beliung, Small Tornado yang Sulit Diprediksi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/S06nIJHXNlI/AAAAAAAAAKA/uUMkEMc2vNo/s1600-h/small+tornado.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 180px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/S06nIJHXNlI/AAAAAAAAAKA/uUMkEMc2vNo/s200/small+tornado.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5426458359355618898" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Puting beliung kembali marak terjadi Indonesia pada musim peralihan hujan menuju kemarau (Maret, April, Mei). Puting beliung yang melanda Cilacap telah meruntuhkan sekitar empat puluh rumah dalam sekejap (Pikiran Rakyat, 3 April 2009). Puting beliung di Banyumas menerjang empat desa dan merobohkan puluhan rumah serta menumbangkan pohon-pohon besar. Kerugian materi diperkirakan mencapai ratusan juta juta rupiah (Pikiran Rakyat, 2 April 2009).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika bahkan telah mengeluarkan peringatan agar masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap kejadian puting beliung di musim peralihan hingga Juni mendatang (Pikiran Rakyat, 3 April 2009).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tornado&lt;br /&gt;Tornado yang garang didemonstrasikan dalam film "Twister" yang dirilis tahun 1996. Film tersebut secara dramatis menggambarkan lika-liku para meteorologis dalam memburu awan badai (storm chaser). Dalam lingkup meteorologi, fenomena-fenomena ini dikenal dengan kejadian aliran vorteks. Vorteks adalah suatu aliran udara yang membentuk rotasi atau pusaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ukuran besar-kecilnya suatu pusaran atau rotasi aliran udara disebut vortisitas. Besaran vortisitas ini merupakan fungsi dari parameter kelengkungan dan geser (shear) yaitu laju perubahan kecepatan angin dalam arah normal terhadap arah gerak. Aliran pusaran ini berputar cepat di sekitar pusat gerakan. Laju rotasi pada aliran pusaran lebih besar di pusat dan menurun semakin menjauhi pusat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam fenomena zat alir ada dua jenis aliran yaitu aliran laminer dan aliran turbulen. Nah, di dalam aliran turbulen inilah sering kali muncul aliran-aliran vorteks berupa aliran yang berotasi seputar lintasan tertutup. Aliran turbelensi ini sering terjadi di lapisan batas (boundary layer, sekitar 3 km dari permukaan).Vorteks-vorteks muncul sebagai akibat dari gesekan angin permukaan dengan permukaan tanah, pertemuan atau tabrakan angin dan angin dengan karakter berbeda atau dengan adanya angin gunting (wind shear).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudara kecil puting beliung adalah apa yang sering disebut "dust devil" atau setan debu dimana debu-debu atau sampah plastik sering beterbangan membentuk pusaran horisontal yang disebabkan aliran vorteks. Sedangkan saudara besarnya adalah gustnado, waterspout, landspout dan tornado, sehingga orang menyebut puting beliung sebagai "small tornado." Dalam skala sinoptik dan regional (yang meliputi beberapa wilayah tertentu), aliran vorteks udara disebut sebagai aliran siklon atau antisiklon seperti hurricane di Amerika atau typhoon di Asia dengan berbagai penamaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa puting beliung dikatakan sebagai "tornado kecil?" Hal ini karena kecepatan angin dan dampak kerusakan yang ditimbulkan puting beliung masih berada pada kisaran di bawah skala F2 (Skala Fujita2, menurut ahli tornado keturunan Jepang Tetsuya Fujita dari Universitas Chicago). Dengan demikian, puting beliung memiliki lintasan kurang dari satu kilometer dengan durasi hidup di bawah satu jam. Biasanya, seorang ahli meteorologi mengukur kekuatan tornado dengan mengukur kecepatan angin dan dampak kerusakan yang ditimbulkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga saat ini, kajian dan penelitian mengenai puting beliung masih dihadapkan pada beberapa kendala utama, seperti terbatasnya data, peralatan yang tidak memadai untuk melakukan pengamatan secara jeli, serta kejadian puting beliung yang begitu cepat.&lt;br /&gt;Sebagaimana terbentuknya tornado, puting beliung pada awalnya juga terbentuk dari parsel udara yang berputar secara vertikal yang sebelumnya telah muncul dekat permukaan sebagai akibat gesekan angin permukaan dengan permukaan tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini umumnya terjadi akibat pertemuan atau tabrakan antara dua angin yang memiliki karakter berbeda atau karena terjadinya angin gunting (wind shear). Angin kemudian terangkat (updraft) dan diperkuat oleh kondisi ketidakstabilan udara di sekitarnya. Angin ini biasanya terbentuk di wilayah yang bertopografi dataran dan daerah pantai, pada bulan-bulan di musim transisi (dari musim kemarau ke hujan atau sebaliknya). Aktivitas awan kumulonimbus atau kumulus kongestus yang intens di suatu tempat juga perlu diwaspadai karena keadaan ini berpotensi membangkitkan puting beliung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memprediksi&lt;br /&gt;Dapatkah kejadian puting beliung diprediksi? Ini merupakan pertanyaan sederhana dengan jawaban yang tidak sederhana. Sebab, ketika hendak memprediksi cuaca ekstrem (termasuk puting beliung) satu hari atau dua hari mendatang, kita harus mencari data perubahan temperatur dan pola aliran angin di atmosfer. Data ini sangat penting agar kita dapat memantau tingkat kelembapan, ketidakstabilan (updraft), pengangkatan (lift), dan angin gunting (wind shear) pembangkit awan badai yang berpotensi menimbulkan puting beliung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pola-pola perubahan cuaca yang besar dapat membawa serta kejadian tornado, tetapi sering juga pola-pola tersebut sama sekali tidak menimbulkan cuaca ekstrem. Berbagai model komputer yang digunakan untuk memprediksi cuaca ekstrem beberapa hari mendatang dapat memiliki bias dan kekurangan ketika prakirawan cuaca mencoba menerjemahkan keadaan cuaca tersebut pada skala awan badai kilat (thunderstorm).&lt;br /&gt;Prediksi membutuhkan pengamatan cuaca pada skala waktu yang nyata (real-time) melalui satelit ( dengan resolusi tinggi secara ruang dan waktu), radiometer, stasiun cuaca, balon, dan kapal udara. Membuat skema profiler angin dan pola cuaca yang diturunkan dari radar (C-band, X-band, W-band, dual polarisasi radar) juga sangat penting untuk melakukan prediksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penggunaan model cuaca (Numerical Weather Prediction) untuk memprediksi potensi terjadinya cuaca ekstrem sebenarnya dapat dilakukan, namun tidak secara langsung dapat menduga kejadian tornado. Hasil model itu pun sebelumnya harus telah diperkecil sampai skala minimal di bawah satu kilometer dengan selang waktu di bawah satu jam.&lt;br /&gt;Kejadian awan badai (storm atau thunderstorm) yang berpotensi menimbulkan cuaca ektrem seperti tornado dapat diturunkan dan diduga dari parameter-parameter cuaca seperti kecepatan angin, pola angin, temperatur, CAPE (Convective Availabel Potential Energy), VGP (Vorticity Generation Potential), BRN (Bulk Richardson Number), EHI (Energy Helicity Index) dan SREH (Surface Relative Enviromental Helicity). Dari beberapa parameter tersebut, yang terpenting untuk mengidentifikasi awan badai penghasil puting beliung atau tornado adalah CAPE, EHI dan SREH.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari penelitian simulasi dua kejadian cuaca ekstrem yaitu siklon tropis (severe weather) dan hujan lebat (normal weather) yang penulis lakukan, didapatkan nilai SREH berkisar antara 100 m2/s2 sampai 300 m2/s2 dan EHI berkisar pada nilai 1.8 sampai 6 pada kejadian siklon tropis. Sedangkan nilai SREH berkisar antara 5 hingga 30 m2/s2 dan EHI berkisar pada nilai 0 sampai 0.3 pada kejadian hujan lebat normal.&lt;br /&gt;Meski memprediksi puting beliung masih sulit , tetapi eksperimen menggunakan model cuaca untuk meneliti tornado secara intensif terus dikerjakan para meteorologis i.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Dadang Subarna dan Erma Yulihastin, tulisan ini merupakan bagian dari penelitian yang dilakukan di Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim, LAPAN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan: tulisan ini diterbitkan oleh Pikiran Rakyat, 23 April 2009.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;iframe src="http://www.hothotsoftware.com/freestuff/counterView.php?counterid=yulihastin" width=100 height=100 frameborder=0&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1824214246344813752-8931899686974827629?l=yulihastin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yulihastin.blogspot.com/feeds/8931899686974827629/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1824214246344813752&amp;postID=8931899686974827629' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1824214246344813752/posts/default/8931899686974827629'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1824214246344813752/posts/default/8931899686974827629'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yulihastin.blogspot.com/2009/05/puting-beliung-small-tornado-yang-sulit.html' title='Puting Beliung, Small Tornado yang Sulit Diprediksi'/><author><name>yulihastin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07384503929845779248</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SLenWZrNyfI/AAAAAAAAACs/Yr2e67BQLw0/S220/sekar-erma.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/S06nIJHXNlI/AAAAAAAAAKA/uUMkEMc2vNo/s72-c/small+tornado.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1824214246344813752.post-5494591734280384095</id><published>2009-03-10T23:14:00.000-07:00</published><updated>2010-02-17T17:26:33.933-08:00</updated><title type='text'>Cuaca Bandung Berubah Cepat</title><content type='html'>Cuaca Bandung Berubah Cepat&lt;br /&gt;Selasa, 10 Maret 2009 | 15:05 WIB &lt;br /&gt;Oleh Erma Yulihastin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama dua pekan terakhir, cuaca di Bandung berubah cepat. Dari pagi hingga siang menjelang, cuaca cerah dan terik. Selepas siang, mendung tiba-tiba menggelayut. Kemudian, nyaris tanpa jeda, hujan pun "menghajar" Bandung tanpa ampun sederas-derasnya hingga malam larut. Apakah penyebab dari perubahan cuaca yang lekas ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satelit TRMM merekam, curah hujan rata-rata selama enam hari terakhir yang mengguyur wilayah Jawa Barat mencapai 300 milimeter kecuali wilayah Jabar sepanjang pantai utara yang bercurah hujan lebih rendah yaitu 100 milimeter. Memang, curah hujan 300 milimeter selama seminggu masih termasuk kategori di bawah normal pada musim hujan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski demikian, untuk beberapa tempat yang topografinya lebih rendah, seperti kawasan Bandung selatan, curah hujan sebanyak ini merupakan ancaman nyata karena dapat mengakibatkan banjir cukup besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena La Nina&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mencari petunjuk yang dapat mengungkap perubahan cuaca ini, kita perlu mengkaji status iklim global terkini. Bagaimanapun, cuaca (selokal apa pun) punya keterkaitan dengan iklim global dan regional. Setidaknya, ada dua fenomena global yang mencuat sejak awal musim hujan Desember 2008.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, fenomena La Nina. Pengamatan Satelit NOAA Amerika Serikat menyatakan, saat ini indeks La Nina menyentuh level -1 derajat celcius. Hal tersebut bermakna suhu muka laut di Pasifik barat wilayah ekuator lebih rendah 1 derajat celcius dibandingkan dengan suhu rata-rata yang pernah terjadi di sana selama 30 tahun lebih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun nilai indeks -1 telah berada di bawah indeks normal, yang memiliki rentang indeks -0,5 sampai 0, dan disebut La Nina lemah. Mengapa lemah? Sebab, indeksnya belum berada di bawah -1,5 derajat celcius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terjadinya La Nina lemah ini, berdasarkan model statistik keluaran Institut Riset Internasional, diprediksi berlangsung hingga April 2009. Peluang kejadian La Nina hingga Maret 2009 adalah 55 persen, sementara kemungkinan terjadinya El Nino di bawah 0,5 persen. La Nina sebenarnya telah berlangsung sejak Desember 2008 dengan nilai indeks -0,5. Namun, perlu dipahami bahwa akibat dari mendinginnya suhu di Samudra Pasifik barat khatulistiwa dibutuhkan waktu penjalaran (legtime) sekitar 3 bulan untuk sampai ke Indonesia. Dengan demikian, kemungkinan besar pengaruh La Nina ini (yang ditandai dengan intensitas curah hujan yang tinggi) akan melanda kawasan Indonesia pada Maret 2009.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada Maret, Indonesia telah memasuki awal masa transisi dari musim hujan menuju kemarau. Posisi matahari pada saat itu tepat berada di garis khatulistiwa (nol derajat lintang), dan penduduk di belahan bumi utara bersiap-siap menyambut musim semi. Dengan demikian, dapat disimpulkan, La Nina lemah tak punya pengaruh signifikan terhadap musim hujan di Indonesia hingga akhir Februari 2009.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dipole Mode&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, fenomena Dipole Mode cenderung positif. Apakah Dipole Mode positif? Dipole Mode menunjukkan gejala berubahnya suhu muka laut di Samudra Hindia. Dipole Mode positif memperlihatkan adanya kenaikan suhu permukaan laut Samudra Hindia di kawasan barat (dekat India) dan penurunan suhu di kawasan timur Samudra Hindia (dekat Sumatera). Tercatat oleh pengamatan Satelit NOAA, anomali suhu permukaan laut di kawasan timur Samudra Hindia (dekat Sumatera) adalah -5 derajat celcius. Adapun suhu permukaan laut di kawasan barat Samudra Hindia naik sebesar +5 derajat celcius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski tidak terlalu signifikan, nilai tersebut cukup mengakibatkan terbentuknya pusat tekanan rendah di dekat India sehingga angin monsun basah yang terbentuk di kawasan Indonesia bagian barat akan tersedot ke India. Inilah mungkin yang menyebabkan hujan di Indonesia bagian barat pada musim hujan tahun ini tidak tercurah secara ekstrem.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agaknya, perpaduan antara La Nina lemah dan Dipole Mode yang cenderung positif telah berdampak pada pola cuaca akhir-akhir ini. Suhu panas dan terik merupakan efek dari fenomena Dipole Mode. Keadaan ini sekaligus memicu maraknya konveksi (pergerakan massa udara ke atas).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, fenomena La Nina, meskipun lemah (selain pengaruh angin monsun utara yang basah), telah berperan mengembuskan uap air basah dari Pasifik sehingga terbentuklah banyak awan di atas Indonesia. Tak mengherankan, akhir-akhir ini kita merasakan cuaca cerah pada pagi hingga siang, dan hujan deras selepas siang hingga malam. Keadaan ini kemungkinan akan berlangsung hingga pertengahan Maret 2009.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ERMA YULIHASTIN Peneliti Bidang Pemodelan Iklim, Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel ini dimuat Pikiran Rakyat, 10 Maret 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;iframe src="http://www.hothotsoftware.com/freestuff/counterView.php?counterid=yulihastin" width=100 height=100 frameborder=0&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1824214246344813752-5494591734280384095?l=yulihastin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yulihastin.blogspot.com/feeds/5494591734280384095/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1824214246344813752&amp;postID=5494591734280384095' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1824214246344813752/posts/default/5494591734280384095'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1824214246344813752/posts/default/5494591734280384095'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yulihastin.blogspot.com/2009/03/cuaca-bandung-berubah-cepat.html' title='Cuaca Bandung Berubah Cepat'/><author><name>yulihastin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07384503929845779248</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SLenWZrNyfI/AAAAAAAAACs/Yr2e67BQLw0/S220/sekar-erma.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1824214246344813752.post-4045121737410584459</id><published>2009-03-04T07:33:00.000-08:00</published><updated>2009-03-05T17:44:53.992-08:00</updated><title type='text'>BANJIR BUKAN KARENA HUJAN EKSTREM</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SbB_6aXFJpI/AAAAAAAAAJ4/jg_Bvx_wNdM/s1600-h/banjirbukanhujan.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 399px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SbB_6aXFJpI/AAAAAAAAAJ4/jg_Bvx_wNdM/s400/banjirbukanhujan.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5309884602155083410" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;BANJIR BUKAN KARENA HUJAN EKSTREM&lt;br /&gt;Oleh: Erma Yulihastin*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berita banjir menghiasi halaman utama Koran ini selama sepekan terakhir. Banjir yang melanda wilayah Jawa Barat dikabarkan terus meluas. Selasa, 24 Februari lalu, banjir besar menenggelamkan 700 rumah warga dan merusak 500 hektar tambak udang di Tawangsari, Kecamatan Losari, Cirebon (Pikiran Rakyat, 25 Februari 2009). Sebelumnya, banjir merendam 653 rumah warga di Cieunteung, Baleendah, Kabupaten Bandung (Pikiran Rakyat, 22 Februari 2009). Banjir juga terjadi di Sukaresik Tasikmalaya dan Ngamprah Bandung Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan yang mengemuka adalah, apakah penyebab banjir di Jawa Barat? Benarkah banjir disebabkan oleh tingginya curah hujan yang turun di Jawa Barat pada bulan Februari? Tulisan ini berupaya meninjau kondisi meteorologi di wilayah Jawa Barat selama bulan Februari serta memperkirakan keadaan musim di bulan Maret 2009.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Curah Hujan Februari Tidak Ekstrem&lt;br /&gt;Curah hujan rata-rata selama enam hari terakhir yang mengguyur sebagian besar wilayah Jawa Barat (termasuk Bandung dan sekitarnya) mencapai 300 milimeter dari pengamatan Satelit TRMM. Hanya beberapa wilayah Jawa Barat sepanjang Pantai Utara seperti Pamanukan, Losarang, Indramayu, Cirebon yang bercurah hujan lebih rendah yaitu 100 milimeter. Sementara itu, wilayah Jawa Barat bagian selatan seperti Ciracap, Sindangbarang, Pameungpeuk, Cikalong memiliki curah hujan rata-rata sekitar 150 milimeter. Bagaimana dengan curah hujan selama bulan Februari? Berdasarkan pantauan satelit MODIS, rata-rata curah hujan di Jawa Barat selama bulan Februari (1-21 Februari) memiliki rentang antara 120-155 milimeter.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Curah hujan 100-300 milimeter yang mengguyur Jawa Barat selama seminggu terakhir dan curah hujan rata-rata 120-155 milimeter selama bulan Februari termasuk kategori curah hujan di bawah normal pada musim hujan. Meskipun begitu, curah hujan sebanyak ini ternyata telah menyebabkan beberapa sungai (Citarum, Cisanggarung, Citanduy) meluap sehingga mendatangkan banjir besar. Maka, dapat disimpulkan bahwa banjir yang terjadi di beberapa wilayah Jawa Barat bukan karena curah hujan ekstrem yang turun di bulan Februari. Tetapi, banjir lebih disebabkan oleh menurunnya daya dukung lingkungan dalam menyerap dan menampung air hujan. Banjir kemungkinan terjadi karena kemampuan tanah dalam menyerap air hujan semakin berkurang karena lahan terbuka hijau (hutan dan pepohonan) yang semakin tergerus. Banjir juga mungkin terjadi karena pendangkalan (sedimentasi) yang terjadi di sungai-sungai. Barangkali pula, banjir terjadi karena saluran pengairan mengalami penyumbatan, pendangkalan, atau pemampatan.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prediksi Musim Maret di Jawa Barat&lt;br /&gt;Dengan mengamati anomali curah hujan yang terjadi selama Bulan Februari yang dilansir oleh JAMSTEC, dapat diketahui bahwa anomali curah hujan di Jawa Barat memiliki nilai negatif (-6 hingga -9). Artinya, curah hujan di Jawa Barat yang terjadi selama bulan Februari memang berada di bawah nilai rata-ratanya. Hal ini juga dibuktikan dengan besarnya nilai suhu permukaan laut di sekitar Indonesia yang mencapai 29-30 derajat Celcius. Suhu permukaan laut yang meningkat di sekitar laut Indonesia ini akan sedikit menguntungkan karena dapat memicu terbentuknya awan yang lebih banyak sehingga kemungkinan pada Bulan Maret hujan masih akan turun meskipun dengan curahan yang tidak sebanyak Februari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, peluang kejadian La Nina lemah hingga Maret 2009 adalah 55 persen, sementara kemungkinan terjadinya El Nino di bawah 0.5 persen. Fenomena La Nina meskipun lemah dapat dimaknai sebagai fenomena yang membawa peruntungan di Bulan Maret pada saat Indonesia memasuki masa peralihan (pancaroba) dari musim hujan ke musim kemarau. Sebab, La Nina akan menghembuskan uap air basah dari Pasifik sehingga terbentuklah banyak awan di atas Indonesia. Sementara itu, ancaman terjadinya kekeringan parah karena El Nino pada musim kemarau 2009 adalah sangat kecil. Kesimpulannya, Jawa Barat akan memasuki musim peralihan pada Bulan Maret dengan curah hujan yang masih akan terjadi di bulan ini meskipun tidak sesering dan sebanyak bulan Januari dan Februari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) Penulis, Peneliti Bidang Pemodelan Iklim &lt;br /&gt;Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim &lt;br /&gt;Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan: tulisan ini diterbitkan Pikiran Rakyat, 5 Maret 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;iframe src="http://www.hothotsoftware.com/freestuff/counterView.php?counterid=yulihastin" width=100 height=100 frameborder=0&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1824214246344813752-4045121737410584459?l=yulihastin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yulihastin.blogspot.com/feeds/4045121737410584459/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1824214246344813752&amp;postID=4045121737410584459' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1824214246344813752/posts/default/4045121737410584459'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1824214246344813752/posts/default/4045121737410584459'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yulihastin.blogspot.com/2009/03/banjir-bukan-karena-hujan-ekstrem.html' title='BANJIR BUKAN KARENA HUJAN EKSTREM'/><author><name>yulihastin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07384503929845779248</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SLenWZrNyfI/AAAAAAAAACs/Yr2e67BQLw0/S220/sekar-erma.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SbB_6aXFJpI/AAAAAAAAAJ4/jg_Bvx_wNdM/s72-c/banjirbukanhujan.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1824214246344813752.post-2123542236242161398</id><published>2009-02-08T18:07:00.000-08:00</published><updated>2009-02-09T17:43:39.330-08:00</updated><title type='text'>Bekerja Sebagai Polisi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SZDbnEp27iI/AAAAAAAAAJo/eHBVx-gz0Ec/s1600-h/Polisi2.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 261px; height: 400px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SZDbnEp27iI/AAAAAAAAAJo/eHBVx-gz0Ec/s400/Polisi2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5300978225725763106" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Referensi Bimbingan Karier Polisi Terlengkap dan Terkurat &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa saya tertarik mengupas profesi polisi? Sebab saya memandang, polisi di Indonesia sedang berproses menuju sosok polisi ideal. Polisi yang ideal adalah polisi sipil yang demokratis. Polisi yang santun, menghargai hak asasi manusia, mengedepankan cara-cara yang dialogis dan berorientasi konsensus dalam memecahkan problem kejahatan dan masalah sosial. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini, adalah salah satu upaya saya mendukung proses perubahan paradigma polisi tersebut. Buku ini, secara tidak langsung ikut mendorong terwujudnya polisi sebagai sosok yang dekat dan dicintai rakyat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;Penerbit: Esensi (Erlangga Group)&lt;br /&gt;Tahun Terbit: Januari 2009&lt;br /&gt;Ukuran buku: 23X15 cm, full color&lt;br /&gt;Jumlah halaman: 144 halaman&lt;br /&gt;Harga: Rp. 48.000&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah buku referensi bimbingan karier yang terperinci, lengkap dan cermat dalam menguraikan profesi polisi. Sangat tepat sebagai panduan bagi remaja (SMP/SMU) yang bercita-cita menjadi polisi dan ingin menekuni profesi yang sarat dengan tindakan kepahlawanan ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa saja isi buku ini? Buku ini menjelaskan apa itu polisi, termasuk filosofi, lambang, doktrin, seragam, dan sejarahnya dari zaman prapenjajahan hingga era reformasi di Indonesia. Ada juga ulasan profil polisi di luar negeri seperti di Inggris, Jepang, Amerika Serikat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lupa dikupas secara detail tentang pendidikan kepolisian. Seluk-beluk pekerjaan polisi dari menilang hingga bertempur pun diuraikan satu-satu dengan lengkap, plus  gambaran suka dan duka dalam menjalankan profesi ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan jenjang pangkat, karier, sampai gajinya pun dijelaskan secara gamblang. Tips lolos tes seleksi dan bocoran soal-soalnya pun ada. Terakhir, wawancara eksklusif profil tokoh polisi Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Desain kovernya menarik mata dan hati pembaca; warna cokelat muda terlihat harmonis dengan seragam polisi lelaki yang menjadi model kover buku; membuatnya tampak elegan dan kuat, sehingga enak dipandang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warna kuning police line yang melintang melatarbelakangi model, mengesankan kecerahan masa depan yang kurang lebih bermakna kemakmuran dan kesejahteraan bagi profesi ini di masa kini dan masa depan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kover buku ini setidaknyaa mencerminkan gambaran profesi polisi sebagai yang, “perkasa, kuat, ramah, dan sejahtera.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setting dan lay-out yang sempurna: tak ada kesalahan kata, desain halamannya dibuat dinamis (ada boks-boks lucu yang bertebaran), bertabur gambar-gambar penuh warna (full color), jenis hurufnya juga sangat sesuai dengan psikologis remaja, judul bab dan subbab ditulis dengan warna oranye memberi efek lincah nan menawan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini benar-benar disajikan dengan cita rasa tinggi seorang desainer grafis dibawah kontrol ketat seorang editor, sehingga tak meninggalkan sedikit pun cacat teks maupun grafis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai penulis, saya merasa sangat puas dengan kerja tim editor dan lay-out Penerbit Esensi (Erlangga Group) yang mampu meruntuhkan kejemuan saya dalam masa menunggu terbitnya buku ini yang menelan waktu sekitar dua tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih Erlangga dan syukur kepada Allah buku ketigaku terbit sempurna,&lt;br /&gt;Semoga membawa berkah dan manfaat yang sempurna pula,&lt;br /&gt;Amin,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Erma Yulihastin-&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;iframe src="http://www.hothotsoftware.com/freestuff/counterView.php?counterid=yulihastin" width=100 height=100 frameborder=0&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1824214246344813752-2123542236242161398?l=yulihastin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yulihastin.blogspot.com/feeds/2123542236242161398/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1824214246344813752&amp;postID=2123542236242161398' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1824214246344813752/posts/default/2123542236242161398'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1824214246344813752/posts/default/2123542236242161398'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yulihastin.blogspot.com/2009/02/bekerja-sebagai-polisi.html' title='Bekerja Sebagai Polisi'/><author><name>yulihastin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07384503929845779248</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SLenWZrNyfI/AAAAAAAAACs/Yr2e67BQLw0/S220/sekar-erma.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SZDbnEp27iI/AAAAAAAAAJo/eHBVx-gz0Ec/s72-c/Polisi2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1824214246344813752.post-3605309521100109644</id><published>2009-02-04T18:28:00.000-08:00</published><updated>2009-02-08T18:14:07.813-08:00</updated><title type='text'>Puncak Musim Hujan Bergeser</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SY-Q_GXkFeI/AAAAAAAAAJY/tKt2O1UFP-c/s1600-h/puncak+musim+bergeser2.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 387px; height: 400px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SY-Q_GXkFeI/AAAAAAAAAJY/tKt2O1UFP-c/s400/puncak+musim+bergeser2.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5300614700153968098" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Selama sepuluh tahun terakhir, curah hujan rata-rata di Indonesia cenderung berkurang. Puncak musim hujan juga diperkirakan mengalami pergeseran. Hal ini ditunjukkan oleh data curah hujan dari 1999 hingga 2008 pantauan Satelit TRMM (Tropical Rainfall Measuring Mission), satelit yang memiliki misi khusus untuk mendukung studi pengukuran curah hujan di wilayah tropis. Data sepuluh tahun ini menunjukkan telah terjadi penurunan curah hujan rata-rata selama musim hujan (Desember-Januari-Februari), yakni sekitar tujuh persen. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2008 melebihi normal&lt;br /&gt;Dari data satelit TRMM diketahui, curah hujan rata-rata pada musim hujan selama sepuluh tahun terakhir di Indonesia adalah 0.1848 milimeter per jam. Sementara itu, selama musim hujan 2008 (Desember 2007-Januari 2008-Februari 2008), curah hujan rata-rata melebihi nilai rata-rata, yaitu mencapai 0.1998 milimeter per jam. Nilai ini menunjukkan curah hujan tertinggi jika dibandingkan dengan tahun-tahun lain selama sepuluh tahun terakhir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski demikian, curah hujan yang melebihi normal ini tidak terjadi secara merata di seluruh Indonesia pada musim hujan 2008. Hal ini karena curah hujan di Indonesia memiliki karakteristik yang khas untuk tiap daerah. Pola curah hujan di Bandung, misalnya, tidak bisa disamakan dengan pola curah hujan di Jakarta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara umum, pola curah hujan di Indonesia terdiri dari tiga macam. Pertama, pola curah hujan monsunal, yang memiliki satu nilai puncak dan satu nilai nadir curah hujan. Pola curah hujan monsunal ini terjadi karena pengaruh dominan dari angin musiman. Sebagian besar wilayah di Indonesia mengalami pola curah hujan monsunal. Kedua, pola curah hujan ekuatorial, yakni pola curah hujan yang mengalami dua kali puncak curah hujan dan dua kali nilai minimum curah hujan. Pola ekuatorial ini biasanya dialami oleh daerah-daerah di Indonesia yang terletak tepat di garis ekuator seperti Pontianak. Ketiga, pola curah hujan lokal, yaitu curah hujan yang sangat khas untuk suatu wilayah karena pengaruh topografi dan kondisi geografis wilayah tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, kendati pada musim hujan tahun 2008 curah hujan rata-rata melebihi curah hujan rata-rata selama sepuluh tahun terakhir, namun banjir besar tidak melanda kota-kota besar di Jawa seperti Jakarta dan Bandung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bergeser&lt;br /&gt;Indonesia merupakan wilayah yang terletak di sekitar garis khatulistiwa, yang mendapat sinar matahari sepanjang tahun. Hal ini membuat musim di Indonesia tidak ditentukan oleh tinggi rendahnya suhu udara (seperti negara-negara empat musim), melainkan oleh banyak sedikitnya curah hujan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu sebabnya, Indonesia hanya mengenal dua musim, musim hujan ketika banyak turun hujan, dan musim kemarau ketika curah hujan sangat sedikit atau tidak ada. Jika curah hujan ini dibuat grafiknya, secara umum curah hujan di Indonesia memiliki satu nilai maksimum dan satu nilai minimum. Nilai puncak terjadi pada bulan Januari, dan nilai nadir terdapat pada bulan Juli. Dengan demikian, berdasarkan grafik curah hujan monsunal ini, puncak musim hujan umumnya terjadi pada Januari. Sementara itu, puncak musim kemarau terjadi pada Juli. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara musim hujan dan musim kemarau, ada musim peralihan atau pancaroba. Musim peralihan ada dua yaitu, peralihan dari musim hujan ke musim kemarau dan sebaliknya peralihan dari musim kemarau menuju musim hujan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pakar meteorologi membuat pengelompokan sifat curah hujan di Indonesia dalam periode tiga bulanan (triwulan). Desember-Januari-Februari merupakan musim hujan. Maret-April-Mei digolongkan musim peralihan dari musim hujan menuju musim kemarau. Juni-Juli-Agustus sebagai musim kemarau. September-Oktober-November adalah musim peralihan dari musim kemarau menuju musim hujan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari data pengamatan Satelit TRMM dapat diketahui, puncak curah hujan tahun 2008 tidak terjadi pada Januari 2008 melainkan pada 12 Desember 2007 dengan nilai curah hujan rata-rata 0.2623 milimeter per jam. Selama sepuluh tahun terakhir, angka kejadian puncak curah hujan terjadi pada bulan Desember adalah 50 persen. Hal ini menunjukkan terjadi pergeseran puncak curah hujan selama sepuluh tahun terakhir, dari bulan Januari menjadi bulan Desember, dengan peluang muncul sebanyak lima kali (lima tahun dalam waktu sepuluh tahun).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pergeseran puncak musim hujan ini dapat dijadikan tanda awal terjadinya pergeseran musim di Indonesia. Oleh karena itu, penelitian mengenai pergeseran musim perlu dikaji lebih dalam lagi dan harus melibatkan penggunaan data meteorologi yang komprehensif, dengan membandingkan antara data satelit dan data pengukuran melalui radar meteorologi. Pergeseran musim hujan, jika benar terjadi, sangat penting diketahui terutama menyangkut perubahan pola tanam pertanian. Jika benar terjadi indikasi pergeseran puncak musim hujan, para petani harus mengubah waktu tanam padi mereka.***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Erma Yulihastin, peneliti Bidang Pemodelan Iklim &lt;br /&gt;Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan: Artikel ini dimuat di Pikiran Rakyat, 5 Februari 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;iframe src="http://www.hothotsoftware.com/freestuff/counterView.php?counterid=yulihastin" width=100 height=100 frameborder=0&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1824214246344813752-3605309521100109644?l=yulihastin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yulihastin.blogspot.com/feeds/3605309521100109644/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1824214246344813752&amp;postID=3605309521100109644' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1824214246344813752/posts/default/3605309521100109644'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1824214246344813752/posts/default/3605309521100109644'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yulihastin.blogspot.com/2009/02/puncak-musim-hujan-bergeser.html' title='Puncak Musim Hujan Bergeser'/><author><name>yulihastin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07384503929845779248</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SLenWZrNyfI/AAAAAAAAACs/Yr2e67BQLw0/S220/sekar-erma.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SY-Q_GXkFeI/AAAAAAAAAJY/tKt2O1UFP-c/s72-c/puncak+musim+bergeser2.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1824214246344813752.post-9218327961106261981</id><published>2009-02-03T22:53:00.000-08:00</published><updated>2009-02-03T23:05:56.954-08:00</updated><title type='text'>Meremas Sampah Menjadi Emas</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SYk-H--Q8nI/AAAAAAAAAJI/dLfpcyrJlKo/s1600-h/cover-sampah-emas.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 273px; height: 400px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SYk-H--Q8nI/AAAAAAAAAJI/dLfpcyrJlKo/s400/cover-sampah-emas.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5298834743462261362" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul di atas adalah judul buku keduaku. Aku bahagia karena buku keduaku, yang ditulis keroyokan bareng teman-teman FLP (Forum Lingkar Pena) -sebuah organisasi pengkaderan penulis- telah terbit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini memuat kisah-kisah inspiratif mengenai berbagai persoalan hidup, dan bagaimana cara menyelesaikannya, serta mengambil hikmah dibalik kejadian tersebut.&lt;br /&gt;Ditulis keroyokan oleh banyak penulis, kami berharap buku ini menyuguhkan analisis persoalan hidup yang lebih beragam, lebih komplit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul yang sangat "eye cathing" (Meremas Sampah Menjadi Emas), dan cover yang sangat menarik, menjadikan buku ini lebih istimewa dibandingkan buku-buku inspiratif sejenis yang telah terbit sebelumnya. Penerbitnya adalah Indiva Media Kreasi, sebuah penerbit dari Solo yang baru tumbuh, tapi sudah mencetak banyak prestasi (terutama dalam menyuguhkan buku-buku berkualitas dengan tampilan yang sangat menarik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Smoga mencerahkan, dan bermanfaat...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Erma Yulihastin-&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;iframe src="http://www.hothotsoftware.com/freestuff/counterView.php?counterid=yulihastin" width=100 height=100 frameborder=0&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1824214246344813752-9218327961106261981?l=yulihastin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yulihastin.blogspot.com/feeds/9218327961106261981/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1824214246344813752&amp;postID=9218327961106261981' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1824214246344813752/posts/default/9218327961106261981'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1824214246344813752/posts/default/9218327961106261981'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yulihastin.blogspot.com/2009/02/meremas-sampah-menjadi-emas.html' title='Meremas Sampah Menjadi Emas'/><author><name>yulihastin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07384503929845779248</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SLenWZrNyfI/AAAAAAAAACs/Yr2e67BQLw0/S220/sekar-erma.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SYk-H--Q8nI/AAAAAAAAAJI/dLfpcyrJlKo/s72-c/cover-sampah-emas.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1824214246344813752.post-3150022977488750445</id><published>2009-01-16T07:19:00.000-08:00</published><updated>2009-01-21T21:13:31.917-08:00</updated><title type='text'>Indonesia Penentu Iklim Dunia</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SXf_rEb9pPI/AAAAAAAAAIk/8Eu0yJ63IA4/s1600-h/penentu+iklim.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 309px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SXf_rEb9pPI/AAAAAAAAAIk/8Eu0yJ63IA4/s400/penentu+iklim.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5293981002387793138" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh ERMA YULIHASTIN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TAK banyak orang tahu kaitan antara hutan dan iklim. Kecuali pemahaman sederhana bahwa keberadaan hutan bermanfaat menyejukkan udara, menyediakan sumber mata air, menyerap air hujan, dan mencegah longsor. Pendek kata, hutan sangat berguna untuk mencegah timbulnya bencana iklim seperti banjir dan longsor. Lebih dari itu tahukah Anda, hutan Indonesia juga berperan penting dalam menjaga iklim dunia? Kenapa Indonesia dikatakan penentu iklim dunia? Lantas, cara tepat apa yang selayaknya dilakukan untuk mengatur laju pengurangan hutan yang kini mencapai 1,7 juta hektare per tahun (Pikiran Rakyat, 12 Januari 2009)? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia penentu iklim &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia menjadi penentu iklim dunia karena posisi strategis negeri ini. Indonesia adalah negeri kepulauan terbesar dan terpanjang di dunia, yang membentang di wilayah khatulistiwa. Posisi inilah yang membuat Indonesia menerima energi matahari yang melimpah ruah sepanjang tahun. Energi panas ini selanjutnya dipakai untuk menggerakkan atmosfer secara global ke seluruh dunia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atmosfer Indonesia merupakan salah satu dari tiga wilayah di khatulistiwa yang menjadi pusat pertumbuhan awan dan pembentukan hujan di seluruh dunia. Dua wilayah penting lain yang memicu pembentukan awan dan hujan di dunia yaitu, Afrika Tengah dan Amerika Selatan. Di antara ketiga wilayah ini, atmosfer Indonesia merupakan daerah konveksi yang sangat aktif. Konveksi (proses peralihan panas di atmosfer secara vertikal) merupakan faktor yang sangat penting dalam pembentukan awan cumuliform yang berperan membentuk hujan di seluruh dunia sekitar 75 persen (Tjasyono, 2006). Di Indonesia, pembentukan awan jenis ini sangat sering, sangat banyak, dan sangat beragam. Penelitian meteorologi terkini juga menemukan, sekitar 70 persen hujan di dunia turun di khatulistiwa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak berlebihan jika ilmuwan menyebut atmosfer Indonesia sebagai penentu iklim dunia. Sekecil apa pun perubahan yang terjadi di atmosfer Indonesia, seluruh dunia akan ikut merasakan dampaknya. Inilah sesungguhnya makna dari Indonesia sebagai paru-paru dunia. Sejarah pernah mencatat, kebakaran hutan dahsyat merebak di Indonesia pada Oktober 1997 hingga Mei 1998. Bencana ini telah melenyapkan delapan juta hektare hutan Indonesia (Strait Times, 1998). Selama delapan bulan, asap kabut tebal menyelubungi atmosfer negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, Brunei Darussalam, Thailand, Filipina, dan Vietnam. Dunia bahkan mencatat musibah itu sebagai "tahun terperangkapnya dunia dalam kebakaran" (Emil Salim, 2002). Keadaan ini mudah dipahami sebab atmosfer Indonesia memiliki peran utama dalam menyuplai awan ke seluruh dunia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengurangi emisi&lt;br /&gt;Oleh karena itu, dapatlah dimengerti kekhawatiran dunia yang begitu besar saat mengetahui bahwa Indonesia merupakan negara penyumbang karbon dioksida ketiga terbesar di dunia. Disebut pula, sumber utama emisi gas rumah kaca di Indonesia paling besar berasal dari hasil pembakaran hutan yaitu 85 persen. Emisi yang berasal dari energi yakni 9 persen, pertanian 4,6 persen dan emisi limbah 1 persen. Meskipun kesimpulan yang merujuk pada data IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change) ini masih diperdebatkan kelayakan ilmiahnya, tetapi data tersebut telah menjadi rujukan dunia dalam membuat skema pengaturan emisi karbon Internasional.&lt;br /&gt;Dunia, yang diwakili negara-negara maju, selanjutnya menawarkan program REDD (Reduced Emissions from Deforestation and Forest Degradation) untuk "menolong" negara-negara berkembang agar dapat menekan emisi karbonnya. Seperti namanya, program ini bertujuan untuk mengurangi emisi karbon yang diakibatkan oleh perusakan dan pembabatan hutan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang perlu dipahami dari REDD adalah program ini hanya berlaku bagi pengalihfungsian (konversi) hutan yang tidak direncanakan. Sebagai negara berkembang, dunia harus memahami bahwa Indonesia sedang giat membangun sehingga konversi hutan menjadi perkebunan, permukiman, dan sejenisnya tidak mungkin dicegah. Konversi yang demikian termasuk jenis konversi yang direncanakan. Sementara itu, konversi yang tidak direncanakan contohnya kebakaran hutan yang tiba-tiba atau perilaku masyarakat melakukan tebas-bakar sembarangan di luar kontrol pemerintah.. Dalam hal ini, ketentuan yang disepakati dunia mengenai REDD yaitu kompensasi diberikan kepada negara-negara berkembang yang dapat menurunkan konversi hutan mereka yang tidak direncanakan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalannya kini, bagaimana cara menentukan nilai acuan konsentrasi (baseline) untuk memantau keberhasilan upaya REDD? Acuan nilai untuk REDD didasarkan pada penelitian Matsuoka (1994) dan sebuah hipotesis bahwa jika pemanasan global dibiarkan terjadi tanpa ada upaya pencegahan, suhu bumi pada tahun 2050 akan meningkat lebih dari 6 derajat Celsius. Keadaan ini harus dicegah karena menurut analisis IPCC, peningkatan suhu 6 derajat Celsius akan memusnahkan sebagian besar kehidupan di bumi seperti tenggelamnya pulau-pulau di Indonesia. Mereka memerinci, peningkatan 1 derajat Celsius dapat memusnahkan sejumlah batu karang dan gunung es. Sementara itu, kenaikan 3 derajat Celsius akan mengganggu ekosistem di Hutan Amazon, Brasil, dan melenyapkan lapisan-lapisan es di Greenland.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu sebabnya, sejumlah ilmuwan menyarankan agar peningkatan suhu di bumi pada tahun 2050 dicegah agar tidak melebihi 2 derajat Celsius. Pencegahan terhadap peningkatan suhu global ini memerlukan komitmen jangka panjang dari semua negara. Kesepakatan yang sementara ini sedang ramai dibicarakan adalah ketentuan yang mengikat negara maju dan negara berkembang. Negara maju harus menekan emisi karbonnya hingga 50 persen pada tahun 2050. Sementara negara berkembang masih diperbolehkan meningkatkan emisi tapi tidak boleh melebihi 30 persen pada tahun 2050. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, hingga sekarang belum ada skema yang jelas mengenai pengaturan REDD. Sejauh ini terdapat dua pendekatan utama dalam mengatur REDD. Pertama, pendekatan pasar. Negara yang memiliki hutan akan mendapat kompensasi berupa kredit jika dapat menjaga hutan mereka. Kredit ini bisa dijual di pasar karbon internasional kepada negara-negara yang memiliki industri beremisi karbon. Kedua, pendekatan dana publik. Negara-negara maju memberi dana bantuan kepada negara yang memiliki hutan agar dapat mengurangi pembukaan hutan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam beberapa kesempatan, Menteri Lingkungan Hidup menyatakan Indonesia adalah satu-satunya negara yang paling siap dalam menghadapi REDD. Meski begitu, ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam proposal REDD. Pertama, proposal itu sebaiknya melibatkan persetujuan penduduk lokal atau adat yang hidup di sekitar hutan yang menumpukan hidup mereka selama ini pada hutan. Kedua, menghindari cara-cara yang mengedepankan kekuasaan dan kekerasan dalam menjaga hutan, seperti menambah jumlah para penjaga hutan dan mempersenjatai mereka. Ketiga, membuat sistem pertanggungjawaban dana REDD yang ketat dan transparan sehingga menutup semua celah untuk melakukan korupsi atau penyelewengan anggaran. *** &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis, peneliti Bidang Pemodelan Iklim Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan: artikel ini dimuat di Pikiran Rakyat, 16 Januari 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;iframe src="http://www.hothotsoftware.com/freestuff/counterView.php?counterid=yulihastin" width=100 height=100 frameborder=0&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1824214246344813752-3150022977488750445?l=yulihastin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yulihastin.blogspot.com/feeds/3150022977488750445/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1824214246344813752&amp;postID=3150022977488750445' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1824214246344813752/posts/default/3150022977488750445'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1824214246344813752/posts/default/3150022977488750445'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yulihastin.blogspot.com/2009/01/indonesia-penentu-iklim-dunia.html' title='Indonesia Penentu Iklim Dunia'/><author><name>yulihastin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07384503929845779248</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SLenWZrNyfI/AAAAAAAAACs/Yr2e67BQLw0/S220/sekar-erma.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SXf_rEb9pPI/AAAAAAAAAIk/8Eu0yJ63IA4/s72-c/penentu+iklim.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1824214246344813752.post-5637729651675175035</id><published>2009-01-11T09:38:00.000-08:00</published><updated>2009-01-11T17:43:07.927-08:00</updated><title type='text'>Gempita di Dakota</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SWqf-OOx6II/AAAAAAAAAIE/wm8pXhxPDx0/s1600-h/Nokia054.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SWqf-OOx6II/AAAAAAAAAIE/wm8pXhxPDx0/s400/Nokia054.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5290216603620862082" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Gempita di Dakota&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gang itu pengap dan gelap, meski sebenarnya matahari tengah bersinar terik dan jam pada saat itu menunjuk angka dua belas tepat. Bisa diyakini, sinar matahari tak hanya sulit menerobos rumah-rumah itu untuk menerangi gang. Tapi benar-benar telah gagal bersinar di sana sehingga gang itu tak ubahnya sebuah gua gulita...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telah resmi kepindahan kami di rumah kontrakan yang baru sejak Jumat, 9 Januari 2009. Kami telah memulai malam pertama di rumah baru kami pada malam Sabtu kemarin. Kami merasa lega kini, meskipun badan remuk redam --karena tiap pagi kami memindahkan barang-barang ke rumah baru ini selama lima hari berturut-turut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah Simpel Minimalis&lt;br /&gt;Rumah kontrakan yang baru kami jelas jauh lebih baik keadaannya dibandingkan kontrakan kami sebelumnya di Sukagalih. Rumah kami yang sekarang adalah rumah yang baru selesai dibangun dan belum sempat dihuni pemiliknya. Modelnya minimalis, sederhana tapi cantik sekali. Cat rumahnya perpaduan abu-abu dan hitam. Sementara cat di dalam rumahnya merupakan paduan antara kuning muda pucat dan cokelat tua. Manis betul. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangunannya simpel, tidak banyak ornamen, sehingga kami pun menyesuaikan diri  menyelaraskan rumah ini dengan barang-barang kami yang juga simpel (atau lebih tepatnya) ala kadarnya. Untuk menyambut rumah mungil dan indah kami ini, kami membeli rak buku segiempat tiga tingkat yang berwarna cokelat muda. Barang ini sangat berguna untuk mewadahi banyak sekali buku, tape, dan beberapa mainan milik Sekar, supaya terkesan lebih rapi dan mencegahnya beredar di sana-sini. Rak yang lebarnya semeter dan tinggi sekitar semeter setengah ini dibeli dengan harga cuma Rp 299 ribu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barang kedua yang kami beli adalah satu set meja makan dengan empat kursi. Bahan kursinya terdiri atas aluminium ringan dan kayu yang juga ringan. Mejanya terdiri dari kayu cokelat muda disangga empat batang aluminium ringan yang memberi kesan lapang sehingga memperluas ruangan. Seperangkat meja makan ini kami beli dengan harga murah untuk zaman krisis saat ini: Rp 545 ribu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makan di meja makan adalah furniture impian kami yang sempat tertunda hingga enam tahun setelah menikah. Bahkan di rumah kami di Gunung Putri pun, kami tidak memiliki kursi untuk makan. Yang ada hanyalah meja sederhana yang kami sulap sebagai meja makan, meskipun kondisi mejanya jauh dari membanggakan jika disebut sebagai meja makan (meja itu hanya sebuah meja murahan yang digarap kasar dan diwarnai ala kadarnya dengan warna biru muda menyolok yang tidak rata).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ngotot ingin membeli seperangkat meja makan untuk mengajarkan kepada anak saya makan secara madiri pada waktu dan tempat yang tepat (di meja makan) bukan di atas kasur, bukan sambil bermain dan berlarian kesana-kemari, juga bukan sambil berlompatan di luar rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Furniture yang Sederhana&lt;br /&gt;Sejak menikah memang kami tidak pernah membeli furniture yang mahal-mahal. Kami hidup sesederhana mungkin sebagai pasangan keluarga muda, dan lebih gemar mengoleksi buku daripada membeli rak atau bufet berkaca yang setiap tahun selalu berganti model. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu-satunya barang mahal di rumah kami adalah sofa multiguna yang bisa disulap sebagai kasur, yang kami beli sekitar Rp 900 ribu. Itu pun dibeli karena motivasi sedikit terdesak ketika mertua mau berkunjung ke rumah baru kami, sementara kami hanya memiliki satu kasur yang terhampar di atas lantai tanpa dipan. Saat itu kami juga tidak memiliki sofa atau kursi apapun di ruang tamu. Akhirnya, kami pun membeli sofa multiguna, yang bisa dipakai duduk tapi juga bisa disulap untuk tidur jika ada tamu bertandang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, setelah dua tahun menempati rumah baru, kami pun membeli semacam spring bed yang melekat pada dipannya langsung, harganya sekitar Rp 400 ribu (lebih murah dari sofa). Dan, sesuai dengan harganya tentu, tempat tidur itu kini kasurnya terasa kasar, karena ada beberapa kawat di bagian tengah yang memburai di sana-sini. Selain itu, permukaan kasur tidak rata, cekung di bagian tengah, jika kami pakai tidur. Keadaan ini membuat punggung kami terasa sakit, tapi kami tetap tidur di atasnya selama lebih dari tiga tahun lamanya, sampai sekarang, tanpa sedikit pun berpikir hendak membeli kasur dan dipan yang jauh lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Gua menuju Rumah&lt;br /&gt;Kembali ke rumah kontrakan baru, lingkungan rumah (karena di perumahan) jauh lebih sepi dibandingkan dengan kontrakan lama. Udara di sini jauh lebih sejuk karena udara yang bertiup tidak terhalang oleh bangunan yang penuh sesak dan berdempet-dempetan seperti kontrakan kami sebelumnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang lebih menggembirakan lagi, di sini tidak ada got-got yang mengalir terbuka, tidak ada tikus-tikus got yang berkeliaran, tidak ada bau got yang memuakkan, dan udara yang kami hirup tidak lagi terperangkap oleh bau masakan berminyak yang bercampur dengan busuknya got.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kontrakan sebelumnya, jalan menuju rumah kami harus memasuki gang yang sempit, di mana di kiri dan kanan rumah berdempetan rumah penduduk yang atap-atapnya saling bertindihan satu sama lain, sehingga mirip sebuah gorong-gorong, di mana kita harus berhati-hati mendongak ke atas, karena mata kita dapat tertimpa air tetesan jemuran, atau bahkan air bekas jemuran yang diguyurkan saja sekenanya oleh ibu-ibu yang menjemur di atas rumah mereka. Agar aman, sebaiknya kita melewati gang tersebut seraya berlari atau berlindung di bawah payung agar kepala tidak basah oleh “hujan lokal”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gang itu pengap dan gelap, meski sebenarnya matahari tengah bersinar terik dan jam pada saat itu menunjuk angka dua belas tepat. Bisa diyakini, sinar matahari tak hanya sulit menerobos rumah-rumah itu untuk menerangi gang. Tapi benar-benar telah gagal bersinar di sana sehingga gang itu tak ubahnya sebuah gua gulita yang hanya diterangi sedikit pendaran cahaya lampu berjarak tiga kilometer dari gua. Yang lebih memilukan dan mungkin dapat membuat sebagian orang merinding adalah, persis di samping timur rumah itu terdapat kuburan yang cukup luas dan terlihat jelas tanpa dipisahkan oleh tembok tinggi seperti area makam pada umumnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah kami di situ pun, tak lebih baik keadaannya dibandingkan gang menuju ke sana. Rumah tersebut memiliki dua kamar yang luasnya 2X2 meter, dengan jendela masing-masing menuju ke ruang tengah yang sekaligus menjadi ruang tamu. Karena ditutupi oleh rumah-rumah berdempet yang lebih tinggi, dan gang yang mirip gua itu, maka berada dalam rumah pun rasanya seperti berada di dalam gua. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi jika berada di dalam kamar. Rasanya pengap dan benar-benar gelap tanpa ada setitik pun terang, sehingga kami harus selalu menyalakan lampu supaya dapat melihat meskipun saat itu bisa jadi, di luar sana matahari sedang terik-teriknya. Jika berada di dalam kamar, kami merasa seakan-akan berada di dalam gua yang ada di dalam gua dan ada di dalam gua lagi. Gelap yang bertindih-tindih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah, di rumah kontrakan baru kami, cahaya terang menerobos masuk dengan mudahnya. Kamarnya lebih besar-besar ukurannya 3X3 dan 2X3 meter. Setiap kamar memiliki jendela yang langsung melongok ke alam bebas, tidak terhalang oleh dinding rumah orang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di luar itu semua, kami merasa hidup bahagia dengan kesederhanaan, tanpa televisi (yang bisa meracuni Sekar dan melalaikan saya), tanpa kulkas, tanpa mesin cuci. Kami tidur di bawah dengan kasur tipis sehingga kadang punggung kami merasakan betul dinginnya lantai. Saya jadi ingat nasihatnya Hasan Al-Banna dalam Risalah Pergerakan I : “jadilah kalian manusia-manusia yang hidup secukupnya dengan betul-betul mengirit, sehingga harta kalian lebih banyak diinfakkan di jalan Allah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga, rumah kontrakan baru kami ini memiliki keberkahan yang lebih banyak dan dapat mengantarkan penghuninya menjadi manusia-manusia soleh yang semakin taat pada Agama dan lebih banyak bermanfaat untuk masyarakat sekitar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Dakota, 11 Januari 2009)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;iframe src="http://www.hothotsoftware.com/freestuff/counterView.php?counterid=yulihastin" width=100 height=100 frameborder=0&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1824214246344813752-5637729651675175035?l=yulihastin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yulihastin.blogspot.com/feeds/5637729651675175035/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1824214246344813752&amp;postID=5637729651675175035' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1824214246344813752/posts/default/5637729651675175035'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1824214246344813752/posts/default/5637729651675175035'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yulihastin.blogspot.com/2009/01/gempita-di-dakota.html' title='Gempita di Dakota'/><author><name>yulihastin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07384503929845779248</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SLenWZrNyfI/AAAAAAAAACs/Yr2e67BQLw0/S220/sekar-erma.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SWqf-OOx6II/AAAAAAAAAIE/wm8pXhxPDx0/s72-c/Nokia054.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1824214246344813752.post-8844684278485100039</id><published>2009-01-08T02:09:00.000-08:00</published><updated>2009-01-21T21:14:05.412-08:00</updated><title type='text'>Menuju Indonesia Cerdas Iklim</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SXf__XSYSTI/AAAAAAAAAIs/Ma5pOpM_DcE/s1600-h/cerdas+iklim.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 295px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SXf__XSYSTI/AAAAAAAAAIs/Ma5pOpM_DcE/s400/cerdas+iklim.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5293981351045253426" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menuju Indonesia Cerdas Iklim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konferensi Perubahan Iklim sedang berlangsung di Poznan, Polandia. Perundingan yang diikuti 190 negara ini belum juga menemukan titik temu. Kesepakatan belum tercapai, pembahasan justru semakin alot, bahkan menunjukkan gejala perpecahan terutama di kalangan negara-negara Uni Eropa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, alam tak bisa menunggu lama. Data dari Badan Meteorologi Dunia (WMO) menunjukkan, selama dekade terakhir, 90 persen bencana yang melanda dunia terkait perubahan iklim. Lantas, apa yang sebaiknya kita lakukan untuk mengatasi bencana iklim, jika komitmen negara-negara di dunia tak bisa lagi diandalkan? Bagaimana seharusnya Indonesia beradaptasi terhadap bencana terkait perubahan iklim?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bencana iklim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya, perlu dipahami apa yang dimaksud bencana. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, bencana adalah sesuatu yg menyebabkan (menimbulkan) kesusahan, kerugian, atau penderitaan; kecelakaan; bahaya. Dengan demikian, bencana alam adalah penderitaan, kesusahan, kerugian, bahaya yang disebabkan oleh alam. Meskipun disebabkan oleh perilaku alam, tapi dampak yang ditimbulkan telah menyentuh ranah kemanusiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bencana iklim adalah setiap bencana yang terjadi akibat (baik langsung maupun tidak langsung) fenomena di atmosfer yang terkait iklim dan unsur-unsurnya (termasuk cuaca). Bencana iklim meliputi kekeringan (kemarau panjang), banjir, puting beliung, badai guruh, longsor, siklon tropis, kebakaran hutan, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banjir dan longsor&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, bagaimana potensi bencana iklim tersebut di negeri ini? Di Indonesia, banjir dan longsor merupakan bencana iklim terbesar sepanjang sejarah yang terus berulang setiap tahun. Selama tahun 1998-2003, telah terjadi 302 banjir dan 245 longsor. Bencana lainnya, yaitu angin puting beliung terjadi 46 kali, gempa bumi sebanyak 38 kali, dan gunung berapi 16 kali (Badan Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana, 2003).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini menunjukkan bahwa banjir merupakan bencana yang paling sering terjadi di Indonesia dengan persentasi kejadian sebesar 47 persen. Banjir menduduki peringkat pertama bencana tersering dan terbesar (sebelum terjadinya tsunami di Aceh pada 2004) di Indonesia yang melenyapkan 1.066 nyawa dengan kerugian sekitar Rp 191 miliar rupiah. Kerugian akibat banjir adalah 93 persen dari total kerugian yang diakibatkan oleh seluruh bencana (longsor, gempa bumi, gunung berapi). Sementara itu, longsor yang memiliki persentasi kejadian 38 persen telah menimbulkan 645 korban jiwa dan menyisakan kerugian sekitar Rp 14 miliar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibat pemanasan global dan perubahan iklim, diperkirakan banjir, longsor, dan angin puting beliung akan semakin sering dan meluas dampaknya dari tahun ke tahun di Indonesia. Oleh karena itu, perlu ada inisiatif yang kuat dari pemerintah dan masyarakat untuk memperketat jumlah emisi karbon yang dihasilkan negara ini, meskipun negosiasi internasional belum pula menemukan titik terang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerdas iklim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beradaptasi terhadap perubahan iklim adalah upaya terbaik yang harus digiatkan semua pihak. Tujuan dari adaptasi sejatinya sangat gamblang, yakni mengajak setiap individu dan komunitas (perusahaan, negara) agar hidup lebih hemat, sehat, peduli dan empati terhadap lingkungan serta masa depan bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa isu yang mengemuka mengenai adaptasi perubahan iklim adalah apakah sistem pembangunan di negara ini sudah memiliki ketahanan terhadap perubahan iklim? Apakah perencanaan pembangunan di Indonesia sudah mempertimbangkan pembangunan yang "cerdas iklim" (climate smart)?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu dipikirkan pula agar kebijakan pembangunan berorientasi pada pengurangan gas rumah kaca atau pengurangan emisi karbon. Sebab, perubahan iklim memiliki kaitan erat dengan pemanasan global yang diakibatkan bertambahnya gas rumah kaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa saja yang sebaiknya dilakukan pemerintah dan masyarakat? Pertama, rencana pembangunan jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang, harus memasukkan poin "cerdas iklim" sebagai fondasi utama yang harus dimiliki dalam bidang tata kelola ruang dan wilayah, pembangunan infrastruktur, dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, pemerintah dapat membuat kebijakan agar perusahaan berkomitmen mengurangi emisi karbon dari operasional perusahaan mereka. Salah satu caranya dengan membuat skema "pajak karbon" yang dapat dibebankan kepada perusahaan yang mengeluarkan emisi karbon melebihi standar penetapan emisi karbon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, para ilmuwan dan perekayasa harus melakukan inovasi segera di bidang energi untuk menemukan alternatif pengganti minyak bumi dan batu bara. Seperti diketahui, emisi karbon terbesar bersumber dari penggunaan bahan bakar minyak dan batu bara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, meminimalkan sampah karbon yang ditimbulkan dari hasil pembabatan hutan untuk barang komoditas kayu siap pakai. Hanya 10 persen dari bagian pohon yang digunakan sebagai barang komoditas. Selebihnya, 90 persen adalah sampah yang berpotensi mengeluarkan emisi karbon. Oleh karena itu, perusahaan kayu harus memikirkan pula penciptaan teknologi yang dapat meminimalkan sampah karbon ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima, menggalakkan hidup "hemat karbon" di kalangan masyarakat, terutama bagi kalangan masyarakat ekonomi menengah ke atas yang memiliki potensi besar mengeluarkan emisi karbon dari "gaya hidup" mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keenam, melakukan dan mengampanyekan penanaman pohon atau penghijauan di lingkungan tempat tinggal, perkantoran, dan lingkungan publik. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Erma Yulihastin, staf Peneliti Bidang Pemodelan Iklim Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim Lembaga Penerbangan dan Antariksa (Lapan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterangan: Tulisan ini dimuat di Pikiran Rakyat, 8 Januari 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;iframe src="http://www.hothotsoftware.com/freestuff/counterView.php?counterid=yulihastin" width=100 height=100 frameborder=0&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1824214246344813752-8844684278485100039?l=yulihastin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yulihastin.blogspot.com/feeds/8844684278485100039/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1824214246344813752&amp;postID=8844684278485100039' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1824214246344813752/posts/default/8844684278485100039'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1824214246344813752/posts/default/8844684278485100039'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yulihastin.blogspot.com/2009/01/menuju-indonesia-cerdas-iklim.html' title='Menuju Indonesia Cerdas Iklim'/><author><name>yulihastin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07384503929845779248</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SLenWZrNyfI/AAAAAAAAACs/Yr2e67BQLw0/S220/sekar-erma.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SXf__XSYSTI/AAAAAAAAAIs/Ma5pOpM_DcE/s72-c/cerdas+iklim.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1824214246344813752.post-2335929952236816663</id><published>2009-01-07T12:02:00.000-08:00</published><updated>2009-01-06T20:44:45.247-08:00</updated><title type='text'>Mawar Hitam Palestina (2)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SWQy67Vs5GI/AAAAAAAAAH8/9d9NHZ6WYQg/s1600-h/mawar+hitam+untuk+palestina.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SWQy67Vs5GI/AAAAAAAAAH8/9d9NHZ6WYQg/s400/mawar+hitam+untuk+palestina.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5288407850382320738" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mawar Hitam Palestina (2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurengkuh mawar hitam,&lt;br /&gt;Kubiarkan durinya melobangi hatiku,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka esok,&lt;br /&gt;Kala ekinoks matahari menerangi bumi utara,  &lt;br /&gt;akan kubawa &lt;br /&gt;kepingan hati ini&lt;br /&gt;padamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk kau hitung,&lt;br /&gt;dan pastikan,&lt;br /&gt;adakah semiliar?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk kau ingat,&lt;br /&gt;dan camkan,&lt;br /&gt;adakah seabad? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka hitunglah,&lt;br /&gt;Berapa miliar &lt;br /&gt;mawar hitam&lt;br /&gt;tersemai di sana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka pikirlah,&lt;br /&gt;Berapa abad &lt;br /&gt;mawar hitam &lt;br /&gt;bakal tercerabut&lt;br /&gt;dari tanah nabi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;erma yulihastin&lt;br /&gt;(Merdeka, 4 januari 2008)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;iframe src="http://www.hothotsoftware.com/freestuff/counterView.php?counterid=yulihastin" width=100 height=100 frameborder=0&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1824214246344813752-2335929952236816663?l=yulihastin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yulihastin.blogspot.com/feeds/2335929952236816663/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1824214246344813752&amp;postID=2335929952236816663' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1824214246344813752/posts/default/2335929952236816663'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1824214246344813752/posts/default/2335929952236816663'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yulihastin.blogspot.com/2009/01/mawar-hitam-palestina-2.html' title='Mawar Hitam Palestina (2)'/><author><name>yulihastin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07384503929845779248</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SLenWZrNyfI/AAAAAAAAACs/Yr2e67BQLw0/S220/sekar-erma.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SWQy67Vs5GI/AAAAAAAAAH8/9d9NHZ6WYQg/s72-c/mawar+hitam+untuk+palestina.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1824214246344813752.post-2720428496877836418</id><published>2009-01-06T18:55:00.000-08:00</published><updated>2009-01-06T18:58:05.337-08:00</updated><title type='text'>Mawar Hitam Palestina (1)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SWQaDrg1BnI/AAAAAAAAAHc/VO-L7RaWe8Y/s1600-h/black_rose-2057.gif"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 175px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SWQaDrg1BnI/AAAAAAAAAHc/VO-L7RaWe8Y/s200/black_rose-2057.gif" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5288380512962152050" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Mawar Hitam Palestina (1)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi ini,&lt;br /&gt;hendak kutusukkan&lt;br /&gt;sekuntum mawar hitam&lt;br /&gt;pada hatimu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demi kacamata penajam telingaku,&lt;br /&gt;kuingin matamu sejernih embun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demi kerudung pelindung mulutku,&lt;br /&gt;kuingin kepalamu seterang matahari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demi abaya pembungkus jejariku,&lt;br /&gt;Kuingin tubuhmu sebebas angin,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;menjelajahi dunia,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;menjadi saksi, &lt;br /&gt;hancurnya&lt;br /&gt;jutaan hati&lt;br /&gt;manusia di negeri suci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;erma yulihastin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Tamblong, 4 Januari 2009)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;iframe src="http://www.hothotsoftware.com/freestuff/counterView.php?counterid=yulihastin" width=100 height=100 frameborder=0&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1824214246344813752-2720428496877836418?l=yulihastin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yulihastin.blogspot.com/feeds/2720428496877836418/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1824214246344813752&amp;postID=2720428496877836418' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1824214246344813752/posts/default/2720428496877836418'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1824214246344813752/posts/default/2720428496877836418'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yulihastin.blogspot.com/2009/01/mawar-hitam-palestina-1.html' title='Mawar Hitam Palestina (1)'/><author><name>yulihastin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07384503929845779248</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SLenWZrNyfI/AAAAAAAAACs/Yr2e67BQLw0/S220/sekar-erma.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SWQaDrg1BnI/AAAAAAAAAHc/VO-L7RaWe8Y/s72-c/black_rose-2057.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1824214246344813752.post-7998690834571680636</id><published>2009-01-06T18:27:00.000-08:00</published><updated>2009-01-06T18:37:07.005-08:00</updated><title type='text'>Semerah Palestina</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SWQU-lqeHOI/AAAAAAAAAHM/uF61tg3dMiE/s1600-h/palestina-berdarah.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 118px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SWQU-lqeHOI/AAAAAAAAAHM/uF61tg3dMiE/s200/palestina-berdarah.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5288374927934495970" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Semerah Palestina &lt;br /&gt;Semarah Palestina&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seakan ular,&lt;br /&gt;Ia meliuk, melata, merayap.&lt;br /&gt;Mulutnya menyembur,&lt;br /&gt;matanya nanar,&lt;br /&gt;tubuhnya menggelinjang,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sesekali dihentaknya bumi,&lt;br /&gt;ditinjunya langit,&lt;br /&gt;dicengkeramnya gunung,&lt;br /&gt;disayatnya laut,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memejamlah matanya,&lt;br /&gt;Mengucurlah dari sudut-sudutnya,&lt;br /&gt;Merah menderas...&lt;br /&gt;Merah...&lt;br /&gt;Mer.. &lt;br /&gt;Ah...&lt;br /&gt;Semerah Palestina.&lt;br /&gt;Semarah Palestina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;erma yulihastin   &lt;br /&gt;(Teuku Umar, 4 Januari 2008)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;iframe src="http://www.hothotsoftware.com/freestuff/counterView.php?counterid=yulihastin" width=100 height=100 frameborder=0&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1824214246344813752-7998690834571680636?l=yulihastin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yulihastin.blogspot.com/feeds/7998690834571680636/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1824214246344813752&amp;postID=7998690834571680636' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1824214246344813752/posts/default/7998690834571680636'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1824214246344813752/posts/default/7998690834571680636'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yulihastin.blogspot.com/2009/01/semerah-palestina.html' title='Semerah Palestina'/><author><name>yulihastin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07384503929845779248</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SLenWZrNyfI/AAAAAAAAACs/Yr2e67BQLw0/S220/sekar-erma.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SWQU-lqeHOI/AAAAAAAAAHM/uF61tg3dMiE/s72-c/palestina-berdarah.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1824214246344813752.post-1837389292467713592</id><published>2009-01-06T02:22:00.000-08:00</published><updated>2009-01-06T20:48:49.080-08:00</updated><title type='text'>Langit Menetakkan Luka</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SWQXCKrJhKI/AAAAAAAAAHU/CSDVGNg8M7w/s1600-h/escuela+palestina+1.bmp"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 133px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SWQXCKrJhKI/AAAAAAAAAHU/CSDVGNg8M7w/s200/escuela+palestina+1.bmp" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5288377188432315554" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Wahai langit!&lt;br /&gt;Jangan Kau tetak kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidakkah Kau memindai,&lt;br /&gt;tetakanMu menjejakkan luka &lt;br /&gt;hingga ke ceruk-ceruk, &lt;br /&gt;hingga ke lekuk-lekuk,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka tersemailah &lt;br /&gt;benih-benih Al-Qassam&lt;br /&gt;pada jeluk-jeluk,&lt;br /&gt;pada keluk-keluk,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia membelah, &lt;br /&gt;mengganda, &lt;br /&gt;meretas jalan,&lt;br /&gt;mendedah alam, &lt;br /&gt;menuju Al-Qidam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagai galah di tengah arus,&lt;br /&gt;wahai langit!&lt;br /&gt;Kini Kau tampak jerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara kami,&lt;br /&gt;tak patah &lt;br /&gt;meretas kelim.&lt;br /&gt;Sampai Kau berhenti menetakkan luka.&lt;br /&gt;Selamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab azal,&lt;br /&gt;kami tak pernah luka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Pasteur, 6 januari 2009)  &lt;br /&gt;Oleh: Erma Yulihastin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterangan: puisi ini dibuat sebagai saksi ketika Israel mengobrak-abrik jantung Gaza pada 5 Januari 2009.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;iframe src="http://www.hothotsoftware.com/freestuff/counterView.php?counterid=yulihastin" width=100 height=100 frameborder=0&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1824214246344813752-1837389292467713592?l=yulihastin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yulihastin.blogspot.com/feeds/1837389292467713592/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1824214246344813752&amp;postID=1837389292467713592' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1824214246344813752/posts/default/1837389292467713592'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1824214246344813752/posts/default/1837389292467713592'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yulihastin.blogspot.com/2009/01/langit-menetakkan-luka.html' title='Langit Menetakkan Luka'/><author><name>yulihastin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07384503929845779248</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SLenWZrNyfI/AAAAAAAAACs/Yr2e67BQLw0/S220/sekar-erma.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SWQXCKrJhKI/AAAAAAAAAHU/CSDVGNg8M7w/s72-c/escuela+palestina+1.bmp' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1824214246344813752.post-8271495450863060147</id><published>2008-12-17T23:33:00.000-08:00</published><updated>2008-12-17T23:38:58.785-08:00</updated><title type='text'>Hari Kulminasi Matahari</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SUn9-gB9lcI/AAAAAAAAAHE/PYEFBeo5hbE/s1600-h/equinox.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 163px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SUn9-gB9lcI/AAAAAAAAAHE/PYEFBeo5hbE/s200/equinox.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5281031288260498882" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Erma Yulihastin*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Anda yang tinggal di Pontianak, pada hari kulminasi matahari, Anda tidak akan menemukan bayangan Anda kendati matahari bersinar terik. Kenapa? Sebab, pada hari Kulminasi, posisi matahari tepat melintas di atas Pontianak. Pada saat itu biasanya wisatawan mancanegara berbondong-bondong dating ke Pontianak untuk membuktikan bahwa tidak terdapat bayangan di tugu khatulistiwa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerak Semu Matahari&lt;br /&gt;Hari kulminasi atau disebut juga Ekinoks Matahari adalah hari ketika matahari tepat berada di wilayah khatulistiwa. Selama satu tahun, matahari mengalami dua kali Ekinoks, yaitu pada tanggal 21 Maret dan 23 September (Bayong Tjasyono, 2006). Namun, menurut prediksi ekinoks untuk tahun 2000-2010 yang dibuat oleh Astronomical Applications Department Amerika Serikat, Ekinoks pada tahun 2008 jatuh pada 20 Maret dan 22 September 2008.&lt;br /&gt;Apa penyebab terjadinya Ekinoks Matahari? Ekinoks matahari merupakan akibat dari gerak semu matahari. Gerak semu memerlihatkan bahwa matahari seolah-olah bergerak sepanjang tahun terhadap bumi dari arah utara menuju selatan. Pada 21 Juni, matahari berada di belahan bumi utara (23,5 derajat Lintang Utara). Pada 23 September, matahari berada tepat di khatulistiwa. Pada 22 Desember, matahari berada di belahan bumi selatan (-23,5 derajat Lintang Selatan). Pada 21 Maret, matahari kembali berada di khatulistiwa. Pada saat matahari berada di utara dan selatan (21 Juni dan 22 Desember) disebut dengan Solstis Matahari. &lt;br /&gt;Kenapa terjadi gerak semu? Bumi melakukan dua gerakan sekaligus: berotasi pada sumbunya dan berevolusi terhadap matahari. Sumbu rotasi bumi tidak tegak lurus terhadap sumbu revolusi, tapi memiliki kemiringan sebesar 23,5 derajat. Karena kemiringan ini, bagian bumi yang diterangi matahari berbeda-beda selama setahun. Dari Maret hingga September, lebih banyak menerangi bumi utara daripada selatan. Kemudian, dari September hingga Maret terjadi sebaliknya. &lt;br /&gt;Jika fenomena ini dicermati dari bumi, maka terlihat seolah-olah matahari bergerak dari utara ke selatan selama setengah tahun, lalu bergerak dari selatan ke utara pada setengah tahun berikutnya. Gerak semu ini juga berakibat pada terbentuknya empat musim di bumi, yaitu: gugur, dingin, semi, panas.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibat Ekinoks Matahari&lt;br /&gt;Pada saat terjadi Ekinoks, lama waktu antara siang dan malam sama (12 jam) di seluruh permukaan bumi. Bagi kita yang hidup di khatulistiwa, mungkin malam dan siang sama lamanya. Tapi tidak bagi orang yang tinggal di kawasan utara atau selatan. Di musim dingin, orang Eropa merasakan malam lebih panjang dari siang. Sementara pada saat yang bersamaan, orang Australia merasakan siang yang lebih lama. Nah, pada saat ekinoks inilah, orang di utara atau selatan merasakan rentang waktu siang dan malam yang sama.&lt;br /&gt;Selain itu, ekinoks juga digunakan sebagai penanda musim, terutama bagi mereka yang tinggal di kawasan utara dan selatan. Contohnya, di kawasan utara, 21 Maret (Vernal Equinox) adalah penanda awal musim semi, sementara 23 September (Autumnal equinox) merupakan awal musim gugur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengaruh Ekinoks Bagi Atmosfer Indonesia  &lt;br /&gt;  Apa pengaruh ekinoks matahari bagi atmosfer Indonesia? Seperti kita ketahui, Indonesia adalah negeri yang terletak di khatulistiwa (7 derajat Lintang Utara hingga 10 derajat Lintang Selatan). Sementara itu, ekinoks matahari terjadi dua kali di wilayah Indonesia (tepatnya di Pontianak dan daerah lain yang terletak persis di garis khatulistiwa). Akibatnya, negeri ini menerima energi matahari yang melimpah ruah sepanjang tahun. Energi panas ini selanjutnya dipakai untuk menggerakkan atmosfer secara global ke seluruh dunia. &lt;br /&gt;Indonesia merupakan salah satu dari tiga wilayah di khatulistiwa yang menjadi pusat pertumbuhan awan dan pembentukan hujan seluruh dunia. Selain itu, Indonesia juga menjadi wilayah di dunia yang memiliki curah hujan tinggi. Penelitian menyebut, sekitar 70 persen hujan di dunia  turun di khatulistiwa. Tiga wilayah penting di dunia, di mana atmosfernya mengalami konveksi (proses pemanasan dan pembentukan awan di atmosfer) sangat aktif, yaitu Indonesia, Afrika Tengah, Amerika Selatan (Amazon, Brazil) (Bayong Tjasyono, 2006).&lt;br /&gt;Selain itu, Indonesia merupakan wilayah kepulauan terbesar di dunia yang terletak di antara dua benua dan dua samudera. Samudra dan benua tersebut memicu terbentuknya angin musiman (monsun). Monsun ini selanjutnya memengaruhi musim di Indonesia. Akibatnya, di Indonesia hanya terjadi dua musim yang diukur berdasarkan kadar curah hujan, yaitu musim kemarau (curah hujan sangat sedikit) dan musim hujan (curah hujan sangat banyak).  &lt;br /&gt;Ekinoks juga berpengaruh langsung pada pola curah hujan di Pontianak, yang secara umum berbeda dengan pola curah hujan di wilayah Indonesia. Wilayah di Indonesia umumnya mengalami satu puncak curah hujan yaitu pada Desember atau Januari. Sementara di Pontianak, terjadi dua kali puncak curah hujan, yaitu pada Maret dan November. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) Penulis adalah Staf Peneliti Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim&lt;br /&gt;Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN): www.dirgantara-lapan.or.id&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;catatan: artikel ini dimuat di www.beritaiptek.com 17 Desember 2008&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;iframe src="http://www.hothotsoftware.com/freestuff/counterView.php?counterid=yulihastin" width=100 height=100 frameborder=0&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1824214246344813752-8271495450863060147?l=yulihastin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yulihastin.blogspot.com/feeds/8271495450863060147/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1824214246344813752&amp;postID=8271495450863060147' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1824214246344813752/posts/default/8271495450863060147'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1824214246344813752/posts/default/8271495450863060147'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yulihastin.blogspot.com/2008/12/hari-kulminasi-matahari.html' title='Hari Kulminasi Matahari'/><author><name>yulihastin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07384503929845779248</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SLenWZrNyfI/AAAAAAAAACs/Yr2e67BQLw0/S220/sekar-erma.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SUn9-gB9lcI/AAAAAAAAAHE/PYEFBeo5hbE/s72-c/equinox.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1824214246344813752.post-2521335444077092291</id><published>2008-12-17T23:27:00.000-08:00</published><updated>2008-12-17T23:40:46.223-08:00</updated><title type='text'>Bersekutu Menutup Lubang Ozon</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SUn8kLWFqqI/AAAAAAAAAG8/ey1hEOsLGhw/s1600-h/ozone+hole.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SUn8kLWFqqI/AAAAAAAAAG8/ey1hEOsLGhw/s200/ozone+hole.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5281029736519543458" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Bersekutu Menutup Lubang Ozon &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warga dunia kembali memeringati Hari Ozon Internasional pada tanggal 16 September 2008. Tema yang diangkat pada peringatan ozon tahun ini adalah, “Protokol Montreal: Kerja sama Global untuk Kemanfaatan Global.” (Montreal Protocol: Global Partnership for Global Benefits). Tema ini menjadi menarik sebab ada kata “partnership” yang mengutamakan pendekatan kesejajaran dan kerjasama antarnegara dalam melindungi ozon. Lalu, seberapa besar peran nyata Indonesia dalam melaksanakan Protokol Montreal tersebut? Benarkah mulai menutupnya lubang ozon menjadi penanda keberhasilan program perlindungan ozon yang telah dijalankan serentak di seluruh dunia sejak 1987? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lubang Ozon Menutup?&lt;br /&gt; Ada hal yang cukup menggembirakan kala mencermati keadaan lubang ozon di Kutub Selatan selama sepuluh tahun terakhir. Data lubang ozon di Kutub Selatan (Satelit NOAA, Amerika Serikat) pada awal musim panas yaitu 5 Agustus menunjukkan bahwa pada 2006 lubang ozon memiliki luas sekitar sepuluh juta kilometer persegi. Pada tanggal yang sama tahun 2007, lubang ozon kian menyusut menjadi tujuh juta kilometer persegi. Lubang ozon bahkan menutup sempurna pada 5 Agustus 2008. &lt;br /&gt;Sementara data rata-rata sepuluh tahun (1998-2007) memerlihatkan, lubang ozon memiliki luas tiga juta kilometer persegi pada 5 Agustus. Luas lubang ozon maksimal rata-rata mencapai Sembilan juta kilometer persegi dan luas minimum adalah nol. Dengan kata lain, meski selama tiga tahun terakhir (2006-2008) lubang ozon cenderung mengecil, tapi nilai penurunannya belum signifikan.  &lt;br /&gt;Bagaimana keadaan lubang ozon selanjutnya di Bulan September? Pada 13 September 2008 tampak, lubang ozon memiliki luas 24 juta kilometer persegi. Pada 2007 tanggal yang sama, luang lubang ozon juga 24 juta kilometer persegi. Luasan ini masih lebih besar daripada tahun sebelumnya (2006) yakni sekitar 23 juta kilometer persegi. &lt;br /&gt;Bagaimana dengan tahun 1980? Pada 1979-1983, selama Agustus hingga September, nyaris tidak ditemukan lubang ozon (nol kilometer). Baru pada 1984, lubang ozon mulai terbentuk, pada awal Agustus luasnya sekitar tiga juta kilometer persegi. Peningkatan luasnya dari waktu ke waktu setelah itu menjadi signifikan hingga sekarang. Fakta terbentuknya lubang ozon ini kemudian menyita perhatian dunia. Maka warga dunia berkongsi membuat suatu kesepakatan dan lahirlah Protokol Montreal.    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peran Indonesia&lt;br /&gt;Protokol Montreal ditengarai telah berhasil mengurangi penggunaan Bahan Perusak Ozon (BPO) hingga lebih dari 95 persen (Kementerian Lingkungan Hidup, 2008). &lt;br /&gt;Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Lingkungan Hidup melaksanakan Indonesia Country Programme sejak Februari 1994 dengan menyertakan berbagai pihak: pelaku industri pengguna BPO, asosiasi industri, lembaga pemerintah, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), perguruan tinggi. &lt;br /&gt;Berdasarkan Country Programme, konsumsi BPO di Indonesia pada tahun 1992 adalah sebesar 6.567 ton, sekitar 0,03 kg per kapita tiap tahun. Indonesia termasuk dalam kelompok negara Artikel-5. Negara-negara yang tergolong dalam kelompok Artikel-5 masih diperbolehkan mengkonsumsi CFC dan Halon sampai tahun 2010. Akan tetapi Pemerintah Indonesia telah menetapkan untuk mempercepat penghapusan CFC menjadi akhir tahun 1997 dan Halon pada akhir tahun 1996 (Kementerian Lingkungan Hidup, 2008). &lt;br /&gt;Country Programme telah dilaksanakan dengan berbagai program, di antaranya: penguatan institusi dan koordinasi dengan pelaku industri, penerbitan aturan mengenai pembatasan dan pengawasan impor BPO, pemberlakuan insentif atau sebaliknya kepada pelaku industri yang dapat menghapus BPO, meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya ozon melalui seminar dan pelatihan, dan sebagainya (Keberhasilan Program Perlindungan Ozon, Kementerian Lingkunga Hidup, 2008).&lt;br /&gt;Namun, keberhasilan program ini masih belum terukur secara nyata. Karena evaluasi program yang dibuat Kementerian Lingkungan Hidup hanya pada rentang 1992-2002. Setelahnya, publik tidak bisa menemukan data tersebut. Pada laporan tersebut juga tidak ditemukan kuantitas terukur mengenai program-program yang telah dijalankan. Sehingga masyarakat menemukan kesulitan untuk mengetahui sejauh mana peran nyata Indonesia dalam mengurangi konsumsi BPO.&lt;br /&gt;Terakhir, efektivitas Country Programme perlu ditinjau ulang mengingat program ini menyedot dana hibah dari Multilateral Fund yang tidak sedikit. Penggunaan istilah dana hibah tersebut juga menimbulkan kerancuan, sekaligus agak menyimpang dari tema Hari Ozon tahun ini yang mengedepankan kerjasama dan hubungan yang saling menguntungkan. Jangan sampai “bersekutu menutup lubang ozon” berubah menjadi “mengeruk untung dengan menutup lubang ozon.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) Penulis adalah Staf Peneliti Bidang Pemodelan Iklim&lt;br /&gt;Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim&lt;br /&gt;Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan: artikel ini dimuat di www.beritaiptek.com 29 September 2008&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;iframe src="http://www.hothotsoftware.com/freestuff/counterView.php?counterid=yulihastin" width=100 height=100 frameborder=0&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1824214246344813752-2521335444077092291?l=yulihastin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yulihastin.blogspot.com/feeds/2521335444077092291/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1824214246344813752&amp;postID=2521335444077092291' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1824214246344813752/posts/default/2521335444077092291'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1824214246344813752/posts/default/2521335444077092291'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yulihastin.blogspot.com/2008/12/bersekutu-menutup-lubang-ozon.html' title='Bersekutu Menutup Lubang Ozon'/><author><name>yulihastin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07384503929845779248</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SLenWZrNyfI/AAAAAAAAACs/Yr2e67BQLw0/S220/sekar-erma.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SUn8kLWFqqI/AAAAAAAAAG8/ey1hEOsLGhw/s72-c/ozone+hole.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1824214246344813752.post-7287545277777393452</id><published>2008-10-21T01:57:00.000-07:00</published><updated>2008-10-23T01:15:58.520-07:00</updated><title type='text'>Bandung Tidak Dingin Lagi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SQAuWoqfbjI/AAAAAAAAAE4/Vr3HXIx74hk/s1600-h/scan0006.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 244px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SQAuWoqfbjI/AAAAAAAAAE4/Vr3HXIx74hk/s320/scan0006.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5260255331176377906" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SP2cJI9OCAI/AAAAAAAAAEI/fEMUwNYbIoM/s1600-h/cerah2.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SP2cJI9OCAI/AAAAAAAAAEI/fEMUwNYbIoM/s320/cerah2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5259531620675618818" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Bandung Tidak Dingin Lagi&lt;br /&gt;Oleh: Erma Yulihastin*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepuluh tahun lalu, Bandung adalah kota yang selalu mampu membuat saya menggigil kedinginan. Di pagi hari, ketika saya menyusuri Jalan Ganesha untuk mengikuti kuliah Pukul 7.00, uap air basah keluar dari hidung setiap kali saya menghembuskan napas. Sebuah kenangan yang tak lagi bisa saya rasakan di Bandung dewasa ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suhu Menaik&lt;br /&gt;Kesan awal yang saya rasakan saat menjejakkan kaki kembali di Bandung pada 2007 silam membuat saya terperangah. Pusat belanja berjajar menyesaki kota. Tiap jarak satu kilometer, ada mal baru yang dibangun. Suhu di Bandung pada siang hari yang dahulu terasa lembab dan berangin, kini berubah menjadi panas menyengat. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Benarkah telah terjadi kenaikan suhu di Bandung? Untuk mengetahuinya, data mengenai suhu di Bandung perlu diamati. Data suhu rata-rata jangka panjang (30 tahun) dari BMG menunjukkan, kota parahyangan ini bersuhu sekitar 23 derajat Celcius sepanjang tahun. Baik di musim hujan maupun kemarau. Suhu terendah adalah 16 derajat Celcius, sedangkan suhu tertinggi tak pernah melebihi 29 derajat Celcius.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, jika kita mengamati suhu di Bandung selama sepuluh tahun terakhir maka kita akan dibuat tercengang. Pada 1998, ketika Indonesia mengalami El Nino yang hebat (indeks 2.5), suhu di Bandung pada Juli, Agustus, September, adalah 23.1, 23.4, dan 23.6. Sembilan tahun kemudian, pada 2007 ketika Indonesia juga didera El Nino tapi tak sedahsyat 1998 (indeks 1), suhu di Bandung pada Juli, Agustus, September adalah 23.3, 23.6, dan 24.4. Maka, dapat disimpulkan bahwa suhu di Bandung selama sepuluh tahun terakhir di musim kemarau pada kejadian Elnino yang sama, mengalami peningkatan antara dua hingga delapan persen. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil pengamatan data prakiraan cuaca harian BMG untuk pekan terakhir Agustus di Bandung menunjukkan, kisaran suhu di Bandung adalah 18-30 derajat celcius. Sementara rata-rata suhu di Bandung Agustus yaitu 17-29 derajat celcius. Artinya, suhu tertinggi untuk bulan Agustus memang melebihi suhu tertinggi rata-rata. Dengan demikian, peningkatan suhu di Bandung memang terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyebab&lt;br /&gt;Ada beberapa hal yang menyebabkan terjadinya kenaikan suhu di Bandung selama sepuluh tahun terakhir. Pertama, viariasi iklim. Variasi iklim adalah perubahan iklim baik secara lokal maupun global yang dipengaruhi oleh aktivitas alam. Aktivitas alam yang dimaksud antara lain: El Nino, La Nina, Dipole Mode. Pendek kata, variasi iklim merujuk kepada keadaan iklim yang berubah secara alami. Suhu di Bandung meningkat pesat saat Indonesia mengalami El Nino. El Nino adalah peristiwa menaiknya suhu di Laut Pasifik yang memicu terjadinya angin kering. Di Indonesia, kemarau parah karena El Nino pernah terjadi pada 1997-1998. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, pemanasan global. Kecenderungan suhu yang semakin naik memang terjadi secara global di bumi. Maka tak heran jika Bandung pun semakin panas. Pendapat para ilmuwan yang ramai dianut menyatakan, pemanasan global terjadi karena meningkatnya jumlah gas rumah kaca di atmosfer. Keadaan ini terjadi karena kegiatan manusia di bidang industri tumbuh pesat selama dua abad terakhir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, pemanasan lokal. Setidaknya, ada dua hal yang memicu pemanasan lokal di Bandung yaitu, kualitas udara dan tata guna lahan. Kualitas udara dapat diukur dari kadar polusi di Bandung. Semakin banyak polutan di udara, semakin buruk kualitasnya. Kualitas udara yang kian buruk mengakibatkan udara semakin panas. Sebab, partikel polutan telah memerangkap sinar matahari sehingga suhu pun meningkat. Polutan ini sebagian besar berasal dari asap kendaraan bermotor dan industri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, polutan seperti karbon dioksida dapat diredam oleh proses fotosintesis yang dilakukan pepohonan di siang hari. Oleh karena itu, banyaknya ruang terbuka hijau di Bandung sangat membantu memulihkan pemanasan lokal ini. Kenyataanya, selama sepuluh tahun terakhir, pepohonan di Bandung mengalami penggerusan. Sebaliknya, mal-mal berskala besar dibangun terus. &lt;br /&gt;*** &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) Penulis adalah Staf Peneliti Bidang Pemodelan Iklim &lt;br /&gt;Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim &lt;br /&gt;Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Bandung&lt;br /&gt;[Artikel ini dimuat di Kompas, 18 September 2008]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;iframe src="http://www.hothotsoftware.com/freestuff/counterView.php?counterid=yulihastin" width=100 height=100 frameborder=0&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1824214246344813752-7287545277777393452?l=yulihastin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yulihastin.blogspot.com/feeds/7287545277777393452/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1824214246344813752&amp;postID=7287545277777393452' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1824214246344813752/posts/default/7287545277777393452'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1824214246344813752/posts/default/7287545277777393452'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yulihastin.blogspot.com/2008/10/bandung-tidak-dingin-lagi.html' title='Bandung Tidak Dingin Lagi'/><author><name>yulihastin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07384503929845779248</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SLenWZrNyfI/AAAAAAAAACs/Yr2e67BQLw0/S220/sekar-erma.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SQAuWoqfbjI/AAAAAAAAAE4/Vr3HXIx74hk/s72-c/scan0006.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1824214246344813752.post-2332515185393805939</id><published>2008-09-16T01:35:00.000-07:00</published><updated>2008-10-21T02:14:05.512-07:00</updated><title type='text'>Oleh-Oleh dari Kompas...</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SP2dSOYZdxI/AAAAAAAAAEQ/RFW3_mHsRqw/s1600-h/kompas1.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SP2dSOYZdxI/AAAAAAAAAEQ/RFW3_mHsRqw/s320/kompas1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5259532876262242066" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Beberapa waktu lalu saya mendapat undangan dari Kompas untuk hadir dalam acara “Buka Puasa Bersama Penulis.” Ada 140 penulis yang diundang. Mereka adalah para penulis yang Kompas sebut sebagai “orang-orang yang ajeg menulis di Kompas.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara ini adalah acara rutin setahun sekali yang diadakan oleh Harian Kompas (Jabar). Acara tersebut setidaknya bertujuan menjalin komunikasi yang baik antara penulis dan redaktur, menyamakan persepsi antara apa yang diinginkan Kompas dan apa yang seharusnya ditulis penulis. Juga, saya pikir, memiliki tujuan untuk melakukan pembinaan bagi para penulis (khususnya para penulis pemula seperti saya). Bagi saya, ini merupakan hal yang sangat istimewa, apalagi saya adalah pendatang baru yang mengikuti acara ini pertama kali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan mengenai Bandung&lt;br /&gt;Ada dua orang dari Kompas Pusat yang mengisi acara: Pak Tonny Widyastono [Redaktur Opini], Pak Hariadi Saptono [Kepala Desk. Nusantara]. Pak Tonny mengatakan, Bandung merupakan kota yang menjadi sumber lahirnya para intelektual. Di Bandung ada banyak kampus seperti: ITB, UNPAD, IAIN, dll. Bandung berperan penting dalam melahirkan para intelektual, seniman, dan pemimpin. Sementara selama ini, belum klop antara apa yang diinginkan Kompas dan artikel yang ditulis oleh para penulis.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel bagi Kompas, adalah pergulatan pemikiran atas masalah yang berkembang di masyarakat, yang disoroti sesuai dengan kompetensi atau kepakaran penulis. Jadi, kata Pak Tonny, artikel yang ditulis di Kompas bukan lintasan sesaat atau sekadar memberi informasi. Kata kuncinya adalah: pergulatan pemikiran. Hasil dari perenungan, pemikiran mendalam, terhadap fenomena yang terjadi di masyarakat.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5 Hal Penting Mengenai Artikel Kompas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Artikel di Kompas harus ditulis oleh orang yang memiliki kompetensi di bidangnya.&lt;br /&gt;2. Artikel di Kompas merupakan sarana untuk melakukan asah intelektual (intellectual exercise).&lt;br /&gt;3. Jangan memiliki tujuan utama menulis di Kompas untuk mencari uang. [Karena secara tidak sadar akan mengurangi kualitas artikel dari waktu ke waktu].&lt;br /&gt;4. Jangan memiliki tujuan utama menulis di Kompas untuk mencari ketenaran. [Sebab, penulis yang mencari ketenaran akan melakukan segala hal agar menjadi cepat terkenal, seperti menulis hal-hal kontroversia, terlalu bombastis, dll].&lt;br /&gt;5. Berani untuk memulai menulis dan jangan putus asa jika dikembalikan. Artinya, berani maju, punya keinginan untuk membuka wawasan, dan belajar menerima kritik atau komentar orang lain atas artikel yang dimuat.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kriteria Umum artikel di Kompas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Harus asli karya sendiri. Jika artikel terbukti plagiasi, penulis akan di-black list selama-lamanya.&lt;br /&gt;2. Artikel belum pernah dimuat di media mana pun termasuk blog.&lt;br /&gt;3. Topik yang dibahas aktual, relevan, dan menjadi pembicaraan hangat di masyarakat.&lt;br /&gt;4. Substansi yang dibahas menyangkut kepentingan umum dan bukan kepentingan komunitas tertentu.&lt;br /&gt;5. Artikel tidak boleh ditulis berdua atau lebih. Kecuali untuk hasil penelitian.&lt;br /&gt;6. Penyajian menggunakan bahasa popular, luwes, mudah dipahami oleh pembaca yang heterogen dengan latar belakang pendidikan beragam.&lt;br /&gt;7. Panjang artikel: 4500-5300 karakter dengan spasi.       &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa artikel ditolak Kompas?&lt;br /&gt;1. Tema tidak aktual.&lt;br /&gt;2. Penyajian terlalu panjang.&lt;br /&gt;3. Cakupan bahasan terlalu mikro atau lokal.&lt;br /&gt;4. Konteks yang disajikan kurang jelas.&lt;br /&gt;5. Bahasa tidak populer, dan isi sulit ditangkap.&lt;br /&gt;6. Uraian terlalu sumir.&lt;br /&gt;7. Cara penyajian atau gaya tulisan seperti menulis pidato, makalah, teks kuliah.&lt;br /&gt;8. Sumber kutipan tidak jelas.&lt;br /&gt;9. Terlalu banyak kutipan ayat.&lt;br /&gt;10. Alur uraian tidak runtut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah-langkah menulis artikel:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Buat tema yang hangat dan harus sesuai kompetensi penulis.&lt;br /&gt;2. Cara meramu referensi yang ada dalam tulisan harus menghindari terjadinya ide yang melompat-lompat.&lt;br /&gt;3. Gunakan kaidah Bahasa Indonesia yang benar, termasuk istilah, idiom, pemakaian bahasa asing, dan lain-lain.&lt;br /&gt;4. Usai menulis, baca ulang isi seluruh artikel.&lt;br /&gt;5. Cek sekali lagi, apakah penggunaan bahasa asing sudah ditulis dengan benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih untuk Kompas atas kemurahan hatinya mengundang para penulis...&lt;br /&gt;erma yulihastin-&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;iframe src="http://www.hothotsoftware.com/freestuff/counterView.php?counterid=yulihastin" width=100 height=100 frameborder=0&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1824214246344813752-2332515185393805939?l=yulihastin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yulihastin.blogspot.com/feeds/2332515185393805939/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1824214246344813752&amp;postID=2332515185393805939' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1824214246344813752/posts/default/2332515185393805939'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1824214246344813752/posts/default/2332515185393805939'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yulihastin.blogspot.com/2008/09/oleh-oleh-dari-kompas.html' title='Oleh-Oleh dari Kompas...'/><author><name>yulihastin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07384503929845779248</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SLenWZrNyfI/AAAAAAAAACs/Yr2e67BQLw0/S220/sekar-erma.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SP2dSOYZdxI/AAAAAAAAAEQ/RFW3_mHsRqw/s72-c/kompas1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1824214246344813752.post-7789331078993441477</id><published>2008-09-15T00:37:00.001-07:00</published><updated>2008-09-15T00:41:33.483-07:00</updated><title type='text'>Terbitnya buku Peranan Atmosfer Bumi</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SM4RIk0wrvI/AAAAAAAAADY/sDVvwzOty0w/s1600-h/Peran-atmosfer-bumi.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5246149454954802930" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SM4RIk0wrvI/AAAAAAAAADY/sDVvwzOty0w/s320/Peran-atmosfer-bumi.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Alhamdulillah, syukur yang mendalam, atas terbitnya buku pertama saya berjudul: “Peranan Atmosfer Bumi.” Sebuah buku ensiklopedia untuk anak dan remaja yang murah meriah, dikemas penuh warna dan menarik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang khas dari buku ini, yang tidak ditemukan pada buku sejenis (mengenai atmosfer di buku-buku sekolah)?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini menyodorkan fakta paling mutakhir iptek atmosfer dan meteorologi, yang jarang disertakan dalam buku teks pelajaran sekolah. Berbagai peralatan terkini untuk menyelidiki atmosfer di dunia juga dikupas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, buku ini juga menyingkap hasil penelitian terkini mengenai atmosfer Indonesia. Buku ini dengan lugas menyampaikan rahasia penting atmosfer di Indonesia, yang (saya berani jamin) tidak pernah disinggung dalam buku-buku sekolah yang beredar selama ini (dari SD hingga SMU).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku semacam ini, setahu saya adalah buku pertama yang ditulis oleh seorang Sarjana Geofisika dan Meteorologi. Buku-buku untuk anak dan remaja mengenai atmosfer selama ini ditulis oleh para Sarjana Geografi atau Sarjana Keguruan di Bidang Geografi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, buku ini adalah bentuk dedikasi saya untuk memasyarakatkan sains atmosfer dan salah satu bukti kecintaan saya pada profesi peneliti...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ulasan bukunya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam,&lt;br /&gt;Erma Yulihastin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------------------------------&lt;br /&gt;Judul Buku: Peranan Atmosfer Bumi&lt;br /&gt;Jumlah halaman: 52 plus vi&lt;br /&gt;Penulis: Erma Yulihastin&lt;br /&gt;Penerbit: Azka Press (Ganeca Exact Group)&lt;br /&gt;Spesifikasi Buku: B5 Full colour, kertas isi MP 100 gram, cover AC/Ivory 210 gram, jilid block lem.&lt;br /&gt;Harga buku: Rp. 30.000&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name="4627002236912299935"&gt;&lt;/a&gt;Anda mengalami kesulitan untuk menjawab pertanyaan mengenai fenomena alam yang terkait dengan cuaca dan iklim dari anak, murid, keponakan, atau rekan? Atau bahkan Anda mengalami kesulitan untuk memahami berita seputar iklim, atmosfer, dan pemanasan global di media massa? Barangkali buku berjudul 'Peranan Atmosfer Bumi' bisa membantu Anda. Buku karya Erma Yulihastin ini ditulis dengan gaya bahasa yang mudah dipahami anak dan remaja. Tampilan full colour dengan gambar-gambar indah di setiap halaman membuat buku terbitan Azka Press (Grup Ganeca Exact) ini lebih memikat dan mudah dicerna. Latar belakang penulis yang alumnus Geofisika dan Meteorologi ITB, serta pekerjaannya sebagai staf peneliti pada Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional menjadi jaminan tersendiri terhadap kualitas konten buku ini.Adapun pengalaman penulisnya sebagai mantan wartawan (Tempo News Room), aktivitasnya sebagai Ketua Forum Lingkar Pena Kabupaten Bogor, serta konsistensinya dalam membuat tulisan ilmiah populer untuk koran (PR, Tribun, Kompas Jabar, Sindo) membuat penyajian masalah rumit menjadi mudah dimengerti. Buku itu terdiri atas 52 halaman dalam tujuh bab sebagai berikut.Satu, menjelaskan mengenai Bumi kita, atmosfer yang selalu bergerak, apa yang menggerakkan atmosfer, bagaimana atmosfer bergerak, manfaat atmosfer, dan susunan atmosfer. Dua, menguraikan beberapa rahasia penting mengenai atmosfer Indonesia.Tiga, mengupas singkat tentang ilmu meteorologi dan perkembangan teknologi terkini dari ilmu tersebut.Empat, menceritakan apa yang dimaksud cuaca dan iklim serta apa saja yang membentuk cuaca dan iklim.Lima, menggambarkan gejala cuaca dan iklim yang tampak sehari-hari seperti hujan, awan, angin, badai, banjir.Enam, menerangkan pentingnya informasi cuaca dan iklim untuk keperluan di berbagai bidang seperti penerbangan, pelayaran, transportasi darat, pertanian, perkebunan, kehutanan, peternakan, kesehatan, industri, lingkungan hidup. Di bagian ini juga dijelaskan tentang kantor cuaca dan iklim yang memberikan layanan informasi cuaca dan iklim di Indonesia.Tujuh, menjelaskan seputar perubahan iklim dan pemanasan global. Betulkah iklim dunia berubah? Apakah yang menyebabkannya? Bagaimana dengan pemanasan global? Apakah ada kaitan antara pemanasan global dan perubahan iklim? Lalu apa yang bisa dilakukan untuk mengurangi pemanasan global? Semoga buku ini bermanfaat.&lt;br /&gt;(ditulis oleh Setyardi Widodo di blog: www.inspirana.blogspot.com)&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;iframe src="http://www.hothotsoftware.com/freestuff/counterView.php?counterid=yulihastin" width=100 height=100 frameborder=0&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1824214246344813752-7789331078993441477?l=yulihastin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yulihastin.blogspot.com/feeds/7789331078993441477/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1824214246344813752&amp;postID=7789331078993441477' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1824214246344813752/posts/default/7789331078993441477'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1824214246344813752/posts/default/7789331078993441477'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yulihastin.blogspot.com/2008/09/terbitnya-buku-peranan-atmosfer-bumi.html' title='Terbitnya buku Peranan Atmosfer Bumi'/><author><name>yulihastin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07384503929845779248</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SLenWZrNyfI/AAAAAAAAACs/Yr2e67BQLw0/S220/sekar-erma.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SM4RIk0wrvI/AAAAAAAAADY/sDVvwzOty0w/s72-c/Peran-atmosfer-bumi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1824214246344813752.post-6647167218825788526</id><published>2008-09-15T00:35:00.000-07:00</published><updated>2008-10-23T01:00:35.870-07:00</updated><title type='text'>Kekeringan di Jawa Tidak Terkait El-Nino</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SQAu3ozvQ5I/AAAAAAAAAFA/sj16GjPddCM/s1600-h/scan0005.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 224px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SQAu3ozvQ5I/AAAAAAAAAFA/sj16GjPddCM/s320/scan0005.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5260255898150847378" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SP2i0ncLAlI/AAAAAAAAAEY/pic1J81P-cs/s1600-h/pohon-kering.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SP2i0ncLAlI/AAAAAAAAAEY/pic1J81P-cs/s320/pohon-kering.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5259538964662649426" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh Erma Yulihastin*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekeringan cukup parah melanda berbagai wilayah di Jawa. Sejak Januari hingga Juli 2008, terdapat 182.995 hektar sawah yang mengalami kekeringan di Jawa. Parahnya, dari 7,6 juta hektar sawah yang tersebar di Jawa, seluas 3,1 juta hektar adalah sawah tadah hujan atau tidak beririgasi teknis. (Kompas, 29 Juli). Apakah sebetulnya penyebab kekeringan di Jawa? Apakah kekeringan yang melanda Jawa dipengaruhi oleh El-Nino? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekeringan&lt;br /&gt;Kering punya beberapa arti. Kering yaitu tidak ada air, tidak basah, tidak lembab (Kamus Besar Bahasa Indonesia). Kering pun dapat dilihat dari berbagai sudut pandang, yakni meteorologi, hidrologi, dan keadaan lahan. Kering secara meteorologi berarti curah hujan yang terjadi sangat kecil atau bahkan tidak ada. Kering meteorologi ini dapat diamati dari suhu yang sangat panas di siang hari, sangat dingin di pagi hari, dan tidak ada awan di atmosfer. Kering hidrologi mengandung arti, tidak tersedianya air yang cukup, baik di permukaan maupun di dalam tanah. Sedangkan kering lahan, secara kasat mata tampak dari tanah yang retak-retak, karena sedikitnya air yang dikandung oleh lahan tersebut. &lt;br /&gt;Penyebab&lt;br /&gt;Musim kemarau adalah penyebab utama kekeringan yang kini mendera berbagai area persawahan. Kemarau terjadi karena pengaruh angin monsun, yakni angin musiman yang bertiup setiap enam bulan sekali di Indonesia. Angin musiman ini terbentuk karena posisi matahari terhadap bumi berubah-ubah. Akibatnya, pemanasan di bumi tidak merata.&lt;br /&gt;Monsun terjadi sebab ada perbedaan pemanasan antara lautan dan daratan. Pada Juni-Juli-Agustus, matahari berada di belahan bumi Utara. Itu sebabnya, bagian bumi di sebelah utara Indonesia lebih panas daripada selatan. Perbedaan panas tentu saja menimbulkan perbedaan tekanan. Semakin panas udara, tekanannya pun semakin rendah. Perbedaan tekanan ini membangkitkan angin yang bergerak dari selatan ke utara. Karena di bagian selatan Indonesia terdapat daratan Australia, maka angin ini pun bersifat kering. Angin kering inilah yang membangkitkan musim kemarau di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak Terkait El-Nino&lt;br /&gt;Apakah musim kemarau tahun ini dipengaruhi El-Nino? Untuk mengetahuinya, para pakar meteorologi umumnya menggunakan data keadaan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik Selatan khatulistiwa sebagai acuan. Data global yang terpercaya dan selama ini dijadikan referensi para ilmuwan adalah data Climate Prediction Center. Data ini diperoleh dari pengamatan satelit NOAA milik Amerika Serikat.&lt;br /&gt;Data tersebut mengeluarkan indeks osilasi selatan yang terjadi di lautan Pasifik, yang ditulis dengan indeks ENSO (El-Nino Southern Oscillation). Indeks tersebut menunjukkan besarnya anomali suhu permukaan laut (SST, Sea Surface Temperature) di Psifik yang menjadi indikator terjadinya El-Nino atau La-Nina. Nilai indeks antara -1 sampai +1 berarti normal, artinya tidak terjadi El-Nino atau La-Nina. Jika nilai indeks di atas +1 maka terjadi El-Nino. Sebab, hal ini menunjukkan bahwa di Pasifik telah terjadi pemanasan suhu yang melebihi suhu rata-rata. Sebaliknya, jika nilai indeks di bawah -1, maka La-Nina sedang berlangsung. La-Nina menunjukkan telah terjadi penurunan suhu di Pasifik yang melebihi suhu rata-rata. El-Nino membangkitkan angin panas sehingga berdampak pada kekeringan yang berkepanjangan. Sementara La-Nina membawa uap air yang berlimpah sehingga hujan akan turun secara ekstrem dan banjir pun terjadi.&lt;br /&gt;Pengamatan terhadap indeks ENSO di wilayah Nino 3.4 (Nino 3.4 adalah daerah di tengah Pasifik yang paling dominan mempengaruhi wilayah Indonesia) menunjukkan, nilai indeks pada 1 Agustus 2008 berada di kisaran +0,1. Artinya, suhu permukaan laut di Pasifik normal. Bahkan, berdasarkan prediksi model International Research Institute Columbia, peluang terjadinya kondisi normal ini adalah 75 persen, El-Nino 15 persen, La-Nina 10 persen hingga Oktober mendatang. Dengan demikian, peluang musim kemarau normal sangat dominan yaitu 75 persen. Sementara munculnya El-Nino sangat kecil, dan dapat diabaikan. &lt;br /&gt;Kekeringan di Jawa&lt;br /&gt;Kendati tidak terjadi El Nino, namun Jawa merupakan pulau terkering tahun ini. Hal ini dibuktikan dari curah hujan di bawah normal (0-33 persen). Sementara curah hujan normal (33-67 persen) terjadi di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Papua. Pengamatan dari satelit juga menunjukkan hal yang serupa. Jawa tampak bersih dari awan. Hasil pengamatan data satelit TRMM, Pulau Jawa memiliki nilai nol untuk curah hujan rata-rata, selama sebulan terakhir. Padahal curah hujan di pulau-pulau besar lainnya masih berada di rentang 5-10 milimeter per hari, kecuali 0 untuk Sumatra Selatan.&lt;br /&gt;Kekeringan di Jawa kemungkinan terjadi karena angin monsun tenggara yang melintasi Jawa tersedot ke arah barat (Samudra Hindia). Hal ini karena pengaruh Dipole Mode positif, di mana terjadi pemanasan di dekat Afrika dan pendinginan di dekat Sumatra. Pemanasan laut di dekat Afrika inilah yang telah menyeret kumpulan awan yang terbentuk di atas Jawa. Sehingga, Jawa mengalami kekeringan yang lebih parah dibandingkan pulau lain di Indonesia. Keadaan ini perlu diwaspadai. Karena kelembaban udara yang sangat rendah di atmosfer akan memicu terbentuknya titik api yang meyulut kebakaran. Berdasarkan potensi kekeringannya, Jawa seluruhnya saat ini berada di peringkat kekeringan yang ekstrem. Peringkat kekeringan ekstrem (nilai indeks lebih besar 350) menunjukkan bahwa Jawa mengalami kondisi bahaya kekeringan, di mana pembakaran lahan dalam bentuk apapun, sepenuhnya dilarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) Penulis adalah Staf Peneliti&lt;br /&gt;Bidang Pemodelan Iklim&lt;br /&gt;Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim&lt;br /&gt;Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Bandung&lt;br /&gt;Catatan: artikel dimuat di Kompas, 14 Agustus 2008.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;iframe src="http://www.hothotsoftware.com/freestuff/counterView.php?counterid=yulihastin" width=100 height=100 frameborder=0&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1824214246344813752-6647167218825788526?l=yulihastin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yulihastin.blogspot.com/feeds/6647167218825788526/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1824214246344813752&amp;postID=6647167218825788526' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1824214246344813752/posts/default/6647167218825788526'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1824214246344813752/posts/default/6647167218825788526'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yulihastin.blogspot.com/2008/09/kekeringan-di-jawa-tidak-terkait-el.html' title='Kekeringan di Jawa Tidak Terkait El-Nino'/><author><name>yulihastin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07384503929845779248</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SLenWZrNyfI/AAAAAAAAACs/Yr2e67BQLw0/S220/sekar-erma.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SQAu3ozvQ5I/AAAAAAAAAFA/sj16GjPddCM/s72-c/scan0005.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1824214246344813752.post-2183039078654279825</id><published>2008-08-29T00:45:00.000-07:00</published><updated>2008-10-23T01:02:50.945-07:00</updated><title type='text'>Dewan Perubahan Iklim Versus Peneliti</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SQAvmC_-GLI/AAAAAAAAAFI/LrteAmvkT24/s1600-h/scan0003.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 243px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SQAvmC_-GLI/AAAAAAAAAFI/LrteAmvkT24/s320/scan0003.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5260256695455455410" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SP2ljpiNJSI/AAAAAAAAAEo/MWL8buroqII/s1600-h/Weather_Forecasting.gif"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SP2ljpiNJSI/AAAAAAAAAEo/MWL8buroqII/s320/Weather_Forecasting.gif" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5259541971701933346" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;i style=""&gt;Oleh: Erma Yulihastin*)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Dewan Nasional Perubahan Iklim secara terbuka mengundang para pakar iklim untuk bergabung. Hal ini berarti, para peneliti ditantang untuk memberikan ide, kreatifitas, dan inovasi terkait program perubahan iklim. Peneliti juga diajak untuk turut serta aktif melakukan penelitian dan pelayanan masyarakat mengenai perubahan iklim. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Dana perubahan iklim yang dianggarkan untuk Dewan Iklim kabarnya Rp. 1,7 Triliun (SINDO, 23/7). Berdasarkan program kerjanya, Dewan akan menggulirkan enam Pokja yaitu: Adaptasi, Mitigasi, Transfer Teknologi, Pendanaan, Pascaprotokol Kyoto, Reduksi Emisi dari Deforestasi dan Degradasi Lahan. Dengan demikian, sesuai dengan kompetensinya, para peneliti dapat berkontribusi pada salah satu bidang yang menjadi garapan Dewan tersebut. Apa saja yang dapat dilakukan oleh para peneliti? Bagaimana peranan lembaga penelitian dalam mendukung kinerja Dewan Perubahan Iklim? &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;Mitigasi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dan Adaptasi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Hal utama dari perubahan iklim adalah bagaimana melakukan mitigasi dan adaptasi. Mitigasi adalah upaya pencegahan dan antisipasi sebelum terjadi bencana. Mitigasi dilakukan untuk memperkirakan terjadinya bencana atau bahkan untuk menghindari agar tidak terjadi bencana. Mitigasi perubahan iklim misalnya dengan memprediksi terjadinya perubahan iklim, melakukan aksi nyata untuk mengurangi pemanasan global seperti menanam pohon, menghemat energi, mengelola sampah, mengelola hutan, mencegah kebakaran hutan, dan sebagainya. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Sedangkan adaptasi adalah melakukan upaya penyesuaian setelah bencana terjadi. Adaptasi berarti menanggulangi, mengatasi, dan mengurangi dampak perubahan iklim. Misalnya, mengkaji ulang penataan suatu &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;kota&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt;, membuat &lt;span style="color: black;" lang="SV"&gt;sumur resapan untuk menjaga persediaan air tanah, melarang daerah pemukiman di lereng bukit, dan sebagainya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Kebijakan pemerintah sejatinya bertitik tolak pada dua hal tersebut. Program-program terkait perubahan iklim harus diarahkan untuk melakukan mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim secara terencana, terarah, dan terpadu. Tugas Dewan adalah membuat arahan dan prioritas program serta menjadi koordinator seluruh proyek adaptasi dan mitigasi perubahan iklim yang selama ini telah dikerjakan di tiap departemen atau lembaga. &lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;Peranan Lembaga Iklim&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Lembaga penelitian dapat mengambil peran yang cukup signifikan dalam membantu kinerja Dewan Perubahan Iklim. Seperti diketahui, Dewan ini akan mengoordinasi beberapa departemen atau kementerian yang terkait dengan perubahan iklim. Di antaranya, Kementerian Lingkungan Hidup, Departemen Kehutanan, Departemen Pertanian, Departemen Pekerjaan Umum, Departemen Kesehatan, Departemen Kelautan dan Perikanan. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Dalam hal ini, lembaga penelitian dapat memberikan dukungan secara teknis sesuai kompetensi masing-masing. Di bawah koordinasi kementerian atau departemen tertentu, para peneliti di lembaga penelitian dapat bergabung ke kelompok-kelompok kerja yang dibentuk untuk melakukan kajian dan penelitian terkait perubahan iklim. Bidang penelitian tersebut antara lain, memprediksi iklim, kajian skenario perubahan iklim, pengukuran dan penelitian konsentrasi CO2, penelitian ozon permukaan, inventarisasi data Gas Rumah Kaca, kajian dampak perubahan iklim di berbagai sektor, sosialisasi dampak perubahan iklim kepada masyarakat, dan lain sebagainya. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Beberapa lembaga di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; yang selama ini sangat konsern melakukan penelitian iklim antara lain, Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG), Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), Institut Teknologi Bandung (ITB), Balai Penelitian Agroklimat dan Hidrologi Departemen Pertanian (Balitklimat Deptan). Tak hanya konsern meneliti iklim, keempat lembaga di atas juga secara kontinyu menyajikan informasi seputar iklim. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Bagaimana sebenarnya potensi keempat lembaga di atas dalam mendukung kinerja Dewan Perubahan Iklim? BMG merupakan lembaga resmi pemerintah yang bertugas memberikan layanan informasi kepada masyarakat terkait cuaca dan iklim. Tidak tanggung-tanggung, BMG didukung oleh 137 stasiun pemantau cuaca yang tersebar di seluruh &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;. Dengan demikian BMG sangat unggul dalam menyajikan data hasil pengukuran dari permukaan tanah (&lt;em&gt;ground based&lt;/em&gt;). &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Sementara ITB melalui Laboratorium Prediksi Cuaca dan Iklim, selama ini unggul dalam pemodelan dinamik mengenai iklim. Dengan menggunakan model dinamik NCEP AVN atau GFS model global, laboratorium ini menyuguhkan website weather.geoph.itb.ac.id yang menyuguhkan peta cuaca harian di &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Balitklimat Deptan aktif melakukan analisis iklim global dan iklim &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;. Analisis tersebut antara lain meliputi kondisi El-Nino dan La-Nina. Balitklimat juga memiliki data dari AWS (&lt;em&gt;Automatic Weather Station&lt;/em&gt;) yang secara rutin disajikan melalui website &lt;a href="http://www.balitklimat.litbang.deptan/"&gt;&lt;span style="color: windowtext; text-decoration: none;"&gt;www.balitklimat.litbang.deptan&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;. Balitklimat juga membuat peta musim (kemarau dan hujan) di sentra-sentra produksi pertanian di Pulau Jawa. Peta ini selanjutnya digunakan  untuk membuat peta musim tanam bagi para petani. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Sedangkan ciri khas LAPAN adalah dalam hal kepemilikan data dari alat yang dipasang di atas bumi (&lt;em&gt;space-based&lt;/em&gt;). LAPAN didukung oleh tujuh Stasiun Pengamat Dirgantara. Stasiun pengamat tersebut bertugas antara lain, memantau satelit dan lingkungannya, mengamati atmosfer dan cuaca, dan lainnya. LAPAN bahkan memiliki radar atmosfer ekuator terbesar di Asia Tenggara yaitu EAR (&lt;em&gt;Equathorial Atmospheric Radar&lt;/em&gt;) yang terletak di Kototabang, &lt;st1:place st="on"&gt;Sumatra&lt;/st1:place&gt;. Kemampuan memodelkan iklim juga telah dimiliki oleh LAPAN. Lembaga ini memiliki model GCM (&lt;i style=""&gt;Global Circulation Model&lt;/i&gt;) dan DARLAM (&lt;i style=""&gt;Limited Area Model&lt;/i&gt;). Kedua model tersebut dapat melakukan prediksi beberapa bulan ke depan bahkan hingga beratus tahun mendatang. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Kompetensi yang tersebar di tiap lembaga itulah yang harus diintegrasikan oleh Dewan Perubahan Iklim. Dengan manajeman dan koordinasi yang baik, kompetensi tersebut dapat dilejitkan menjadi sebuah kekuatan yang unggul. Sehingga, program-program yang dirancang Dewan ke depan, memiliki daya dukung yang tangguh dari sisi teknis keilmuan dan kepakaran. Sementara bagi para peneliti, tantangan terbesar adalah bagaimana agar hasil karya mereka membumi dan hasilnya dapat dirasakan masyarakat secara langsung.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right; line-height: 150%;" align="right"&gt;&lt;i style=""&gt;*) Artikel ini dimuat di Kompas, 28 Agustus 2008 &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;iframe src="http://www.hothotsoftware.com/freestuff/counterView.php?counterid=yulihastin" width=100 height=100 frameborder=0&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1824214246344813752-2183039078654279825?l=yulihastin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yulihastin.blogspot.com/feeds/2183039078654279825/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1824214246344813752&amp;postID=2183039078654279825' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1824214246344813752/posts/default/2183039078654279825'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1824214246344813752/posts/default/2183039078654279825'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yulihastin.blogspot.com/2008/08/dewan-perubahan-iklim-versus-peneliti.html' title='Dewan Perubahan Iklim Versus Peneliti'/><author><name>yulihastin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07384503929845779248</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SLenWZrNyfI/AAAAAAAAACs/Yr2e67BQLw0/S220/sekar-erma.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SQAvmC_-GLI/AAAAAAAAAFI/LrteAmvkT24/s72-c/scan0003.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1824214246344813752.post-6894659483827520550</id><published>2008-08-07T00:41:00.001-07:00</published><updated>2008-10-23T01:04:46.858-07:00</updated><title type='text'>Kekeringan Ekstrem di Jawa</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SQAv_DuUknI/AAAAAAAAAFQ/9KGT36m2lJk/s1600-h/scan0002.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 230px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SQAv_DuUknI/AAAAAAAAAFQ/9KGT36m2lJk/s320/scan0002.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5260257125146595954" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SP2k7WOwNKI/AAAAAAAAAEg/9JiDaUk1GFY/s1600-h/lapindo_kering.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SP2k7WOwNKI/AAAAAAAAAEg/9JiDaUk1GFY/s320/lapindo_kering.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5259541279325303970" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;Oleh: Erma Yulihastin*)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Pikiran Rakyat menurunkan berita mengenai munculnya El-Nino yang ditengarai memperparah kekeringan di Jawa Barat (“El-Nino Perparah Kekeringan di Jabar,” 29/7). Sayangnya, dasar pemikiran yang menyebutkan bahwa sekarang telah terjadi El-Nino, sama sekali tidak disinggung dalam tulisan yang menjadi &lt;i style=""&gt;headline&lt;/i&gt; itu. Parahnya lagi, El-Nino dikatakan sebagai biang keladi kekeringan yang bakal berkepanjangan dan kini melanda sejumlah wilayah di Jawa Barat. Betulkah telah terjadi El-Nino pada musim kemarau tahun ini? Apa sebetulnya penyebab terjadinya kekeringan di Jawa?&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right; line-height: 150%;" align="right"&gt;&lt;b style=""&gt;Kekeringan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Kering memiliki banyak arti. Secara umum, kering berarti tidak ada air, tidak basah, tidak lembab (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2008). Kering juga bisa ditinjau dari berbagai sisi, meteorologi, hidrologi, dan keadaan lahan. Kering secara meteorologi merujuk pada curah hujan yang sangat kecil atau bahkan sama sekali tidak ada. Kering meteorologi tampak dari suhu yang sangat panas di siang hari, sangat dingin di pagi hari, dan tidak adanya awan di atmosfer. Kering secara hidrologi bermakna, tidak tersedianya air yang cukup, baik di permukaan maupun di dalam tanah. Sedangkan kering lahan secara kasat mata tampak dari tanah yang retak-retak, akibat sedikitnya air yang dikandung lahan tersebut.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Penyebab utama kekeringan adalah musim kemarau. Musim kemarau terjadi karena pengaruh angin monsun, yaitu angin musiman yang bertiup setiap enam bulan sekali di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;. &lt;span style="color: rgb(51, 51, 51);" lang="SV"&gt;Angin musiman ini terbentuk karena posisi matahari terhadap bumi berubah-ubah. Akibatnya, pemanasan di bumi tidak merata. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 51);" lang="SV"&gt;Monsun terbentuk karena ada perbedaan pemanasan antara lautan dan daratan. Di Bulan Juni-Juli-Agustus, matahari berada di belahan bumi Utara. Itu sebabnya, bagian bumi di sebelah utara Indonesia lebih panas daripada selatan. Perbedaan panas tentu saja menimbulkan perbedaan tekanan. Semakin panas udara, tekanannya pun semakin rendah. Perbedaan tekanan ini membangkitkan angin yang bergerak dari selatan ke utara. Karena di bagian selatan Indonesia terdapat daratan Australia, maka angin ini pun bersifat kering. Angin kering inilah yang membangkitkan musim kemarau di Indonesia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right; line-height: 150%;" align="right"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 51);" lang="SV"&gt;El-Nino?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 51);" lang="SV"&gt;Benarkah telah terjadi El-Nino pada musim kemarau tahun ini? Untuk mengetahuinya, para pakar meteorologi bersepakat menggunakan data keadaan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik Selatan khatulistiwa sebagai acuannya. Salah satu data global yang terpercaya dan dijadikan referensi para ilmuwan adalah data keluaran &lt;i style=""&gt;Climate Prediction Center&lt;/i&gt;, NOAA, Amerika Serikat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 51);" lang="SV"&gt;Jika data suhu laut menunjukkan kenaikan, yang diperlihatkan dengan indeks anomali di atas +1 maka disebut El-Nino. Sebaliknya, menurunnya suhu dinamakan La-Nina, yang ditunjukkan dengan nilai indeks di bawah -1. Sementara nilai indeks -1 sampai +1 disebut kondisi normal, artinya tidak terjadi El-Nino atau La-Nina. Sejak tahun 1950, Kejadian El-Nino atau La-Nina berulang tiap 2-7 tahun. El-Nino disebut juga fase panas (&lt;i style=""&gt;warm fase&lt;/i&gt;) dan La-Nina sering dinamakan fase dingin (&lt;i style=""&gt;cool fase&lt;/i&gt;). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 51);" lang="SV"&gt;Pengamatan terhadap indeks El-Nino/La-Nina di wilayah Nino 3.4 (Nino 3.4 adalah daerah di tengah Pasifik yang paling dominan mempengaruhi wilayah Indonesia) menunjukkan, nilai indeks berada di kisaran +0.1 hingga 30 Juli 2008. Artinya, kondisi yang normal saat ini sedang berlangsung. Berdasarkan prediksi model &lt;i style=""&gt;International Research Institute&lt;/i&gt; Columbia, hingga Oktober (awal musim hujan) peluang terjadinya kondisi normal ini adalah 75 persen, El-Nino 15 persen, La-Nina 10 persen. Dengan demikian, peluang musim kemarau normal sangat dominan yaitu 75 persen. Sementara munculnya El-Nino sangat kecil, bahkan dapat diabaikan. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;" align="right"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 51);" lang="SV"&gt;Kekeringan di Jawa&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 51);" lang="SV"&gt;Jika tidak terjadi El-Nino pada musim kemarau tahun ini, lantas apa yang menyebabkan Jawa didera kekeringan cukup parah dibandingkan tahun sebelumnya? Seperti diberitakan, tahun ini terdapat 48 kabupaten di Indonesia yang mengalami kekeringan, dan 35 kabupaten diantaranya terletak di Pulau Jawa. Di jawa Barat, terdapat 109 desa yang mengalami kekeringan (&lt;i style=""&gt;Pikiran Rakyat&lt;/i&gt;, 29/7).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 51);" lang="SV"&gt;Meskipun tidak terjadi El Nino, namun tahun ini Jawa adalah pulau yang memiliki curah hujan di bawah normal (0-33 persen). Sementara curah hujan normal (33-67 persen) terjadi di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Papua. Pengamatan dari satelit juga menunjukkan hal yang serupa. Jawa tampak bersih dari awan. Hasil pengamatan data satelit TRMM, &lt;/span&gt;Pulau Jawa memiliki nilai nol untuk curah hujan rata-rata, selama sebulan terakhir. Padahal curah hujan di pulau-pulau besar lainnya masih berada di rentang 5-10 milimeter per hari, kecuali 0 untuk Sumatra Selatan. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Secara meteorologi, kekeringan di Jawa kemungkinan terjadi karena angin monsun tenggara yang melalui Jawa tersedot ke arah barat (Samudra Hindia). Hal ini karena pengaruh Dipole Mode positif, di mana terjadi pemanasan di dekat Afrika dan pendinginan di dekat &lt;st1:place st="on"&gt;Sumatra&lt;/st1:place&gt;. Pemanasan laut di dekat Afrika inilah yang telah menyeret kumpulan awan yang terbentuk di atas Jawa. Sehingga, Jawa mengalami kekeringan yang lebih parah dibandingkan pulau lain di Indonesia. Keadaan ini perlu diwaspadai. Karena kelembaban udara yang sangat rendah di atmosfer akan memicu terbentuknya titik api yang meyulut kebakaran. Berdasarkan potensi kekeringannya, Jawa seluruhnya saat ini berada di peringkat kekeringan yang ekstrem. Peringkat kekeringan ekstrem (nilai indeks lebih besar 350) menunjukkan bahwa Jawa mengalami kondisi bahaya kekeringan, di mana pembakaran lahan dalam bentuk apapun, sepenuhnya dilarang.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;" align="right"&gt;&lt;i style=""&gt;*) Artikel ini dimuat di Pikiran Rakyat, 7 Agustus 2008&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;iframe src="http://www.hothotsoftware.com/freestuff/counterView.php?counterid=yulihastin" width=100 height=100 frameborder=0&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1824214246344813752-6894659483827520550?l=yulihastin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yulihastin.blogspot.com/feeds/6894659483827520550/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1824214246344813752&amp;postID=6894659483827520550' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1824214246344813752/posts/default/6894659483827520550'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1824214246344813752/posts/default/6894659483827520550'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yulihastin.blogspot.com/2008/08/kekeringan-ekstrem-di-jawa.html' title='Kekeringan Ekstrem di Jawa'/><author><name>yulihastin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07384503929845779248</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SLenWZrNyfI/AAAAAAAAACs/Yr2e67BQLw0/S220/sekar-erma.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SQAv_DuUknI/AAAAAAAAAFQ/9KGT36m2lJk/s72-c/scan0002.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1824214246344813752.post-7359252289854331859</id><published>2008-07-31T02:49:00.000-07:00</published><updated>2008-10-23T01:12:51.892-07:00</updated><title type='text'>Jawa, Pulau Terkering Tahun Ini</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SQAw7uqI1XI/AAAAAAAAAFY/Yna7bzOd2R0/s1600-h/scan0001.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 281px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SQAw7uqI1XI/AAAAAAAAAFY/Yna7bzOd2R0/s320/scan0001.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5260258167463925106" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SP2mFSZUE-I/AAAAAAAAAEw/wjHGuvaIL24/s1600-h/sawah-cianjur-kering.gif"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SP2mFSZUE-I/AAAAAAAAAEw/wjHGuvaIL24/s320/sawah-cianjur-kering.gif" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5259542549606175714" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Oleh: Erma Yulihastin&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Berita kekeringan mengemuka akhir-akhir ini. Kekeringan melanda berbagai wilayah di Pulau Jawa yang selama ini menjadi sentra pertanian. Dampak kekeringan tak hanya menimpa para petani, tapi juga mulai dirasakan warga pemukim. Tujuh kecamatan di Kabupaten Majalengka mengalami krisis air bersih (Sindo, 9 Juli 2008). Petaka kekeringan juga dialami sepuluh desa di Kabupaten &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Cirebon&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt;. Pembangunan waduk Jatigede yang telah direncanakan sejak 1963, disebut-sebut sebagai solusi ampuh untuk mengairi 90 ribu hektar sawah yang tersebar di Indramayu, Majalengka, &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Cirebon&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; (Sindo, 8 Juli 2008). &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;Kemarau dan Kekeringan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Kemarau dan kekeringan merupakan dua hal yang saling identik. Keduanya juga memiliki hubungan sebab-akibat. Sebetulnya, kekeringan memiliki banyak pengertian. Arti kekeringan dapat dikaitkan dengan meteorologi, hidrologi, dan keadaan lahan. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Dari sudut meteorologi, kering merujuk pada curah hujan yang sangat kecil atau bahkan sama sekali tidak ada. Kering meteorologi tampak dari suhu yang sangat panas di siang hari, sangat dingin di pagi hari, dan tidak adanya awan di atmosfer. Kering secara hidrologi bermakna tidak tersedianya air yang cukup, baik di permukaan maupun di dalam tanah. Sedangkan kering lahan secara kasat mata tampak dari tanah yang retak-retak, akibat sedikitnya air yang dikandung lahan tersebut.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Penyebab utama kekeringan adalah musim kemarau. Musim kemarau terjadi karena pengaruh angin monsun, yaitu angin musiman yang bertiup setiap enam bulan sekali di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;. &lt;span style="color: rgb(51, 51, 51);" lang="SV"&gt;Angin musiman ini terbentuk karena posisi matahari terhadap bumi berubah-ubah. Akibatnya, pemanasan di bumi tidak merata. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 51);" lang="SV"&gt;Monsun terbentuk karena ada perbedaan pemanasan antara lautan dan daratan. Di Bulan Juni-Juli-Agustus, matahari berada di belahan bumi Utara. Itu sebabnya, bagian bumi di sebelah utara Indonesia lebih panas daripada selatan. Perbedaan panas tentu saja menimbulkan perbedaan tekanan. Semakin panas udara, tekanannya pun semakin rendah. Perbedaan tekanan ini membangkitkan angin yang bergerak dari selatan ke utara. Karena di bagian selatan Indonesia terdapat daratan Australia, maka angin ini pun bersifat kering (tidak membawa banyak uap air). Angin kering inilah yang membangkitkan musim kemarau di Indonesia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;Kemarau Cenderung Basah &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 51);" lang="SV"&gt;Bagaimana keadaan kemarau tahun ini? Untuk mengetahuinya, setidaknya kita perlu mengamati tiga hal. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 51);" lang="SV"&gt;Pertama&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 51);" lang="SV"&gt;, monsun. Dari pengamatan &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;International Pacific Research Center,&lt;/i&gt; Hawai,&lt;i style=""&gt; &lt;/i&gt;tampak bahwa angin monsun di Indonesia adalah monsun timur dan monsun tenggara. &lt;st1:city st="on"&gt;Tepatnya&lt;/st1:City&gt;, &lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt; timur (Papua, Sulawesi, &lt;st1:place st="on"&gt;Halmahera&lt;/st1:place&gt;) mengalami monsun tenggara yang kuat. Sementara di Indonesia barat (Kalimantan, Bali, Jawa, &lt;st1:place st="on"&gt;Sumatra&lt;/st1:place&gt;) terjadi monsun timur yang lemah.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 51);" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 51);" lang="SV"&gt;Kedua&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 51);" lang="SV"&gt;, pergolakan di Samudera Pasifik selatan yang disebut ENSO (&lt;i style=""&gt;El-Nino Southern Oscillation)&lt;/i&gt;. Indeks ENSO menunjukkan ada penyimpangan suhu permukaan laut di Samudera Pasifik selatan khatulistiwa. Disebut penyimpangan karena suhu laut di selatan Pasifik menyimpang dari suhu rata-rata. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 51);" lang="SV"&gt;Penyimpangan tersebut tampak dari kenaikan atau penurunan suhu. Jika suhu laut di sana naik, maka disebut El-Nino. Sebaliknya, menurunnya suhu dinamakan La-Nina. Kejadian El-Nino atau La-Nina ini umumnya berulang setiap 3-7 tahun. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 51);" lang="SV"&gt;Tampak dari hasil pengamatan &lt;i style=""&gt;Climate Prediction Center&lt;/i&gt;, Amerika Serikat, &lt;/span&gt;Sejak Februari 2008, La-Nina cenderung melemah mendekati keadaan normal. Sepanjang Juni, nilai indeks La-Nina sekitar -1 (nilai normal adalah -0.5 sampai 0). &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Diperkirakan, La-Nina menuju normal ini akan terus berlangsung hingga Agustus. Sementara kemarau di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; kemungkinan akan mencapai puncak September. La-Nina ini akan memengaruhi kondisi angin yang terbentuk di atas Pasifik. Angin tersebut bersifat basah karena membawa serta banyak uap air.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 51);" lang="SV"&gt;Ketiga&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 51);" lang="SV"&gt;, Dipole Mode. Yaitu pola suhu permukaan laut di Samudera Hindia. Kejadian Dipole Mode berulang tiap 4-5 tahun. Hasil pengamatan &lt;i style=""&gt;Frontier Research Center for Global Change&lt;/i&gt;, Jepang, menunjukkan telah terjadi Dipole Mode positif di Samudra Hindia sejak Mei. &lt;/span&gt;Dipole Mode Positif menunjukkan bahwa di Samudra Hindia timur terjadi pendinginan, sementara di bagian barat mengalami pemanasan. Akibatnya, angin yang bertiup menuju &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; barat akan lebih kering dibandingkan daerah lain. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 51);" lang="SV"&gt;Monsun, ENSO, Dipole Mode, memiliki pengaruh yang berbeda terhadap pola musim di berbagai wilayah di Indonesia. Musim di Indonesia timur lebih banyak dipengaruhi oleh ENSO, karena lebih dekat dengan Samudra Pasifik. Indonesia tengah lebih banyak dikontrol oleh monsun. Sementara Indonesia barat banyak diatur oleh Dipole Mode, mengingat wilayah ini dekat dengan Samudra Hindia. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 51);" lang="SV"&gt;Dari pengamatan monsun, ENSO, Dipole Mode, diperoleh simpulan bahwa musim kemarau tahun ini cenderung basah karena pengaruh La-Nina. Sehingga hujan masih akan terjadi di musim kemarau ini. Indonesia barat dan selatan akan lebih kering dibandingkan Indonesia Indonesia timur dan utara. Lantas, wilayah manakah yang akan menderita kekeringan paling parah? &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;Jawa Bersih dari Awan &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Pengamatan dari satelit menampilkan hasil yang cukup mencengangkan. Jawa adalah pulau paling kering sejak Bulan Juni! &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Tampak dari liputan awan harian yang diamati satelit MT-SAT, sejak Juli 2008, Jawa seluruhnya bersih dari awan. Awan yang cukup banyak masih tampak menyebar di Pulau Sumatra, Kalimantan, &lt;st1:place st="on"&gt;Sulawesi&lt;/st1:place&gt;, dan Papua. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Data curah hujan rata-rata satu bulan hasil besutan satelit TRMM pun menunjukkan hal yang sama. Pulau Jawa memiliki nilai nol untuk curah hujan rata-rata, selama sebulan terakhir. Padahal curah hujan di pulau-pulau besar lainnya masih berada di rentang 5-10 milimeter per hari, kecuali 0 untuk Sumatra Selatan. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Keadaan ini kemungkinan akan berlangsung hingga akhir kemarau yaitu September. Pulau Jawa akan mengalami kekeringan paling parah dibandingkan pulau lainnya, sepanjang musim kemarau tahun ini. Oleh karena itu, upaya-upaya untuk mengatasi kekeringan di Pulau Jawa khususnya di wilayah pantai utara, mendesak untuk segera dilaksanakan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;Artikel ini dimuat di Koran SINDO, Selasa 15 Juli 2008. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;iframe src="http://www.hothotsoftware.com/freestuff/counterView.php?counterid=yulihastin" width=100 height=100 frameborder=0&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1824214246344813752-7359252289854331859?l=yulihastin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yulihastin.blogspot.com/feeds/7359252289854331859/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1824214246344813752&amp;postID=7359252289854331859' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1824214246344813752/posts/default/7359252289854331859'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1824214246344813752/posts/default/7359252289854331859'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yulihastin.blogspot.com/2008/07/jawa-pulau-terkering-tahun-ini.html' title='Jawa, Pulau Terkering Tahun Ini'/><author><name>yulihastin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07384503929845779248</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SLenWZrNyfI/AAAAAAAAACs/Yr2e67BQLw0/S220/sekar-erma.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SQAw7uqI1XI/AAAAAAAAAFY/Yna7bzOd2R0/s72-c/scan0001.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1824214246344813752.post-953949731868533888</id><published>2008-07-16T21:48:00.000-07:00</published><updated>2008-10-23T01:15:32.098-07:00</updated><title type='text'>Cuaca Ekstrem di Bandung</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SQAyhmm4WMI/AAAAAAAAAFg/9rQ33XmbjEs/s1600-h/scan0004.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 308px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SQAyhmm4WMI/AAAAAAAAAFg/9rQ33XmbjEs/s320/scan0004.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5260259917649434818" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;h1&gt;Cuaca Ekstrem di Bandung&lt;br /&gt;&lt;/h1&gt;     &lt;span style="font-size:85%;"&gt; &lt;p align="justify"&gt;Oleh Erma Yulihastin&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Pada 6 Juli lalu, saya menempuh suatu perjalanan di Bandung. Waktu itu sekitar pukul 14.00 WIB. Matahari sangat terik. Udara terasa sangat panas. Ketika melewati tol Pasteur, tanpa sengaja saya melirik angka digital penunjuk suhu yang menempel di tugu selamat datang. Terpampang angka 35 derajat Celsius. Ini cukup mengejutkan. Mengingat Bandung selama ini bersuhu rata-rata bulanan tak pernah lebih dari 29 derajat Celsius. Namun sekarang, suhu udara di siang hari sangat panas hingga melebihi 30 derajat. Sebaliknya, pada pagi hari kondisi berbalik menjadi sangat ekstrem karena suhu terasa sangat dingin (Pikiran Rakyat, 8 Juli 2008). Benarkah telah terjadi cuaca ekstrem di Bandung? Bagaimana hubungan antara cuaca ekstrem dan musim kemarau di Bandung? Apa pula penyebab cuaca ekstrem? Artikel ini secara singkat berupaya menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Kemarau agak basah&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Untuk mengetahui keadaan musim kemarau tahun ini, setidaknya kita perlu meninjau tiga hal yaitu: monsun, ENSO, Dipole Mode.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Pertama, monsun. Dari pengamatan International Pacific Research Center, Hawai, tampak bahwa angin monsun di Indonesia adalah monsun timur dan monsun tenggara. Tepatnya, Indonesia timur (Papua, Sulawesi, Halmahera) mengalami monsun tenggara yang kuat. Sementara itu, di Indonesia barat (Kalimantan, Bali, Jawa, Sumatra) terjadi monsun timur yang lemah. &lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Kedua, pergolakan di Samudra Pasifik selatan yang disebut ENSO (El-Nino Southern Oscillation). Indeks ENSO menunjukkan, ada penyimpangan suhu permukaan laut di Samudera Pasifik selatan khatulistiwa. Disebut penyimpangan karena suhu laut di selatan Pasifik menyimpang dari suhu rata-rata. Penyimpangan tersebut tampak dari kenaikan atau penurunan suhu. Jika suhu laut di sana naik, disebut El-Nino. Sebaliknya, menurunnya suhu dinamakan La-Nina. Kejadian El-Nino atau La-Nina ini umumnya berulang setiap 3-7 tahun.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Tampak dari hasil pengamatan Climate Prediction Center, Amerika Serikat, Sejak Februari 2008, La-Nina cenderung melemah mendekati keadaan normal. Sepanjang Juni, nilai indeks La-Nina sekitar -1 (nilai normal adalah -0.5 sampai 0). Diperkirakan, La-Nina menuju normal ini akan terus berlangsung hingga Agustus. Sementara itu, kemarau di Indonesia kemungkinan akan mencapai puncak September. La-Nina ini akan memengaruhi kondisi angin yang terbentuk di atas Pasifik. Angin tersebut bersifat basah karena membawa serta banyak uap air.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Ketiga, Dipole Mode. Yaitu pola suhu permukaan laut di Samudra Hindia. Kejadian Dipole Mode berulang tiap 4-5 tahun. Hasil pengamatan Frontier Research Center for Global Change, Jepang, menunjukkan telah terjadi Dipole Mode positif di Samudera Hindia sejak Mei. Dipole Mode Positif menunjukkan bahwa di Samudra Hindia timur terjadi pendinginan, sementara di bagian barat mengalami pemanasan. Akibatnya, angin yang bertiup menuju Indonesia barat akan lebih kering dibandingkan daerah lain.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Monsun, ENSO, Dipole Mode, memiliki pengaruh yang berbeda terhadap pola musim di berbagai wilayah di Indonesia. Musim di Indonesia timur lebih banyak dipengaruhi oleh ENSO, karena lebih dekat dengan Samudra Pasifik. Indonesia tengah lebih banyak dikontrol oleh monsun. Sementara itu, Indonesia barat banyak diatur Dipole Mode, mengingat wilayah ini dekat dengan Samudra Hindia.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Dari pengamatan monsun, ENSO, Dipole Mode, diperoleh kesimpulan bahwa musim kemarau tahun ini cenderung basah karena pengaruh La-Nina. Sehingga hujan sesekali masih akan terjadi sepanjang musim kemarau. Indonesia barat dan selatan akan lebih kering dibandingkan Indonesia Indonesia timur dan utara.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Sementara itu, di Bandung, musim kemarau akan berlangsung normal bahkan cenderung sedikit basah. Oleh karena itu, sepanjang Juni hingga Juli, masih cukup sering ditemui awan di atas Bandung meski tak sebanyak di musim hujan. Prakiraan cuaca yang dilansir BMG pun masih menunjukkan bahwa cuaca Bandung berawan nyaris setiap hari. &lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Ekstrem &lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Cuaca ekstrem terjadi di Bandung selama beberapa pekan terakhir. Apakah cuaca ekstrem? Cuaca adalah keadaaan udara dalam waktu sesaat (harian, jaman, menitan). Ekstrem menunjukkan keadaan udara yang melebihi suhu rata-rata atau kurang dari suhu rata-rata. Jadi, cuaca ekstrem tampak dari, suhu yang terlampau tinggi atau terlalu rendah, kelembaban yang sangat tinggi atau sangat rendah, curah hujan yang luar biasa besar, atau sebaliknya kekeringan sangat parah, dan lain-lain yang termasuk unsur cuaca. Oleh karena itu, cuaca ekstrem yang terjadi di Bandung selama dua pekan terakhir terlihat dari suhu yang ekstrem. &lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Untuk membuktikan apakah telah terjadi suhu ekstrem tersebut, pengamatan terhadap data suhu di Bandung perlu dilakukan. Data suhu rata-rata klimatologis (minimal 30 tahun) yang diperoleh stasiun meteorologi BMG Bandung pada Juni-Juli-Agustus menunjukkan suhu antara 21-23 derajat Celsius. Suhu tertinggi maksimum 27-29 derajat celsius, suhu paling rendah 16-19 derajat Celsius.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Ada hal yang menarik pada pola data yang disajikan BMG dalam bentuk grafik tersebut. Selama bulan Juni, suhu terendah di Bandung mencapai 19 derajat Celsius. Suhu ini kemudian menurun drastis pada bulan berikutnya (Juli), karena melorot hingga 16 derajat celsius. Selanjutnya, suhu terendah menaik pada Agustus, yaitu menjadi 17 derajat celcius. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa selama ini selama lebih dari 30 tahun terakhir, suhu terendah di Bandung pada Juli memang memiliki nilai paling rendah jika dibandingkan dengan bulan lainnya di musim kemarau (Juni, Agustus, September).&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Lantas, betulkah telah terjadi cuaca ekstrem di Bandung? Hasil pengamatan data prakiraan cuaca harian BMG untuk dua pekan terakhir di Bandung menunjukkan, kisaran suhu di Bandung adalah 18-30 derajat Celsius. Sementara itu, rata-rata suhu di Bandung di bulan Juli yaitu 16-29 derajat celcius. Artinya, suhu tertinggi untuk bulan ini memang melebihi suhu tertinggi rata-rata. Dengan demikian, dapat dikatakan Bandung kini memang didera cuaca ekstrem meskipun tidak terlampau parah. &lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Kemarau&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Lalu apakah penyebab cuaca ekstrem yang terjadi di Bandung? Musim kemarau adalah penyebab utama munculnya suhu ekstrem di Bandung. Dapat diamati dari satelit, sejak Juni, Pulau Jawa cenderung bersih dari awan, termasuk Bandung. Padahal, pulau-pulau besar lainnya masih diliputi banyak awan. Hal ini menunjukkan bahwa kadar kekeringan yang dialami Pulau Jawa paling parah jika dibandingkan dengan wilayah lain.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Karena sedikitnya awan di musim kemarau, pancaran sinar matahari yang mengenai bumi dapat diterima secara maksimal tanpa terhalang awan. Di pagi hari, radiasi gelombang panas matahari yang sampai ke bumi akan seketika dilepaskan kembali ke angkasa. Karena di atmosfer tidak terdapat awan, tidak ada yang menahan panas tersebut. Akibatnya, pagi terasa sangat dingin. Demikian pula yang terjadi di malam hari, udara terasa begitu dingin. Sementara itu, pada siang hari, sinar matahari dengan jumlah yang semakin banyak mengenai bumi. Sehingga udara di bumi menjadi sangat panas.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Penyebab lain, karena pemanasan global yang terjadi di dunia saat ini. Kecenderungan suhu yang semakin naik memang terjadi secara global di bumi. Maka tak heran jika Kota Bandung pun mengalami kenaikan suhu. Meskipun penyebab pemanasan global masih ramai diperdebatkan, apakah terjadi karena aktivitas manusia atau siklus alam, namun ditengarai pemanasan global memiliki kaitan erat dengan pemanasan lokal. &lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Pemanasan lokal di Bandung juga sangat dipengaruhi banyaknya partikel polutan di udara. Jumlah polutan yang umumnya meningkat di siang hari ini telah menjebak panas yang dipancarkan bumi. Sehingga suhu permukaan bumi akan semakin tinggi di siang hari. Keadaan ini diperparah dengan perubahan guna lahan di Bandung; ruang terbuka hijau disulap menjadi gedung perkantoran, pusat belanja, dan permukiman secara besar-besaran. Akibatnya, kualitas udara di Bandung kian menurun karena polusi yang semakin meningkat. Jika dibiarkan, kualitas udara yang kian buruk ini akan turut memicu munculnya cuaca ekstrem yang lebih mengkhawatirkan di Bandung di masa mendatang.***&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Penulis, Pembantu Peneliti Bidang Pemodelan Iklim Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Bandung.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Tulisan ini dimuat Koran Pikiran Rakyat, 16 Juli 2008&lt;/p&gt;http://newspaper.pikiran-rakyat.co.id&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;iframe src="http://www.hothotsoftware.com/freestuff/counterView.php?counterid=yulihastin" width=100 height=100 frameborder=0&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1824214246344813752-953949731868533888?l=yulihastin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yulihastin.blogspot.com/feeds/953949731868533888/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1824214246344813752&amp;postID=953949731868533888' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1824214246344813752/posts/default/953949731868533888'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1824214246344813752/posts/default/953949731868533888'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yulihastin.blogspot.com/2008/07/cuaca-ekstrem-di-bandung.html' title='Cuaca Ekstrem di Bandung'/><author><name>yulihastin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07384503929845779248</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SLenWZrNyfI/AAAAAAAAACs/Yr2e67BQLw0/S220/sekar-erma.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SQAyhmm4WMI/AAAAAAAAAFg/9rQ33XmbjEs/s72-c/scan0004.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1824214246344813752.post-6579279077439508455</id><published>2008-07-15T21:45:00.000-07:00</published><updated>2008-07-15T21:48:18.368-07:00</updated><title type='text'>Tahun 2008 Tidak Ada Kekeringan (II)</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;Selasa, 15 Juli 2008 06:00:52 &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Iptek &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;a href="http://www.beritaiptek.com/zberita-beritaiptek-2008-07-15-Tahun-2008-Tidak-Ada-Kekeringan-%28II%29.shtml"&gt;Tahun 2008 Tidak Ada Kekeringan (II)&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;a href="http://www.beritaiptek.com/profilpenulis.php?id=118"&gt;Oleh Erma Yulihastin&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 7.5pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shapetype id="_x0000_t75" coordsize="21600,21600" spt="75" preferrelative="t" path="m@4@5l@4@11@9@11@9@5xe" filled="f" stroked="f"&gt;  &lt;v:stroke joinstyle="miter"&gt;  &lt;v:formulas&gt;   &lt;v:f eqn="if lineDrawn pixelLineWidth 0"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @0 1 0"&gt;   &lt;v:f eqn="sum 0 0 @1"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @2 1 2"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelWidth"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelHeight"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @0 0 1"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @6 1 2"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelWidth"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @8 21600 0"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelHeight"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @10 21600 0"&gt;  &lt;/v:formulas&gt;  &lt;v:path extrusionok="f" gradientshapeok="t" connecttype="rect"&gt;  &lt;o:lock ext="edit" aspectratio="t"&gt; &lt;/v:shapetype&gt;&lt;v:shape id="_x0000_s1026" type="#_x0000_t75" alt="" style="'position:absolute;" allowoverlap="f"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\ADMINI~1\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image001.jpg" title="erma_yulihastin"&gt;  &lt;w:wrap type="square"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/ADMINI%7E1/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image002.jpg" shapes="_x0000_s1026" align="left" height="60" width="60" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 12pt;"&gt;Anda kenal bukan, dengan nama-nama "cantik" seperti &lt;b&gt;&lt;i&gt;La Nina&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; dan &lt;b&gt;&lt;i&gt;El Nino&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;? Namun kita tidak sedang membicarakan dua nama artis cantik, tapi dua nama fenomena alam yang sering terjadi di muka bumi ini. Lalu, adakah pengaruhnya terhadap pola kemarau di &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;? Mari kita ikuti pembahasannya di bagian kedua ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;5. Dipole Mode&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti diterangkan sebelumnya, Dipole Mode merupakan perilaku suhu permulaaan laut yang terjadi di Samudra Hindia. Besarnya Dipole Mode dinyatakan dengan Dipole Mode Index (DMI). Indeks ini dihitung dengan membandingkan suhu permukaan laut (SST) yang terjadi di Samudra Hindia sebelah timur dan barat. DMI positif bila Samudra Hindia barat suhunya menaik, sementara suhu di bagian timur (dekat &lt;st1:place st="on"&gt;Sumatra&lt;/st1:place&gt;) justru menurun. Sedangkan DMI negatif menunjukkan keadaan sebaliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Gambar 7 dapat diketahui bahwa DMI positif selama Bulan Juni (nilainya antara 0.4-0.8). Artinya, di bagian timur Samudra Hindia (dekat &lt;st1:place st="on"&gt;Sumatra&lt;/st1:place&gt;) terjadi pendinginan suhu permukaan laut dan sebaliknya pemanasan terjadi di Samudra Hindia barat. Akibatnya, uap air yang dibawa oleh monsun timur di wilayah &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; akan tersedot ke barat Samudra Hindia. Karena itu, sebagian &lt;st1:place st="on"&gt;Sumatra&lt;/st1:place&gt; dan Jawa Barat akan lebih kering dibandingkan wilayah lain di Indonesia.      &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1025" type="#_x0000_t75" alt="" style="'width:290.25pt;height:235.5pt'"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\ADMINI~1\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image003.jpg" href="http://www.beritaiptek.com/images/Gbr7-ErmaYulihastin.jpg"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/ADMINI%7E1/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image003.jpg" shapes="_x0000_i1025" border="0" height="314" width="387" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;Gambar 7 Indeks Dipole Mode di Lautan &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;India&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; dari pengamatan menggunakan Reynold OLV2 (www.jamstec.go.jp)&lt;/b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 12pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kemarau Basah Karena La Nina&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai El Nino dan La Nina, kita perlu memahami pembagian kawasan Nino di Samudra Pasifik. Pembagian kawasan Nino tampak pada Gambar 8. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1026" type="#_x0000_t75" alt="" style="'width:376.5pt;height:174.75pt'"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\ADMINI~1\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image004.jpg" href="http://www.beritaiptek.com/images/Gbr8-ErmaYulihastin.jpg"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/ADMINI%7E1/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image004.jpg" shapes="_x0000_i1026" border="0" height="233" width="502" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;Gambar 8 Pembagian kawasan Nino 4, Nino 3.4, Nino 3, Nino 1+2.&lt;br /&gt;(http://www.cpc.ncep.noaa.gov)&lt;/b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 12pt;"&gt;&lt;br /&gt;Pembagian kawasan Nino ini dilakukan berdasarkan hasil penelitian jangka panjang para ilmuwan mengenai kondisi El Nino dan SST di Samudra Pasifik. Menurut penelitian tersebut pula, disimpulkan bahwa Nino 3.4 merupakan kawasan yang paling dominan berperan membangkitkan El Nino. Sehingga, nilai anomali SST dan indeks El Nino di kawasan Nino 3.4 sangat penting untuk diketahui.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nilai anomali SST di kawasan Nino 3.4 terlihat pada Gambar 8. Tampak bahwa nilai anomali SST di kawasan Nino 3.4 pada Bulan Juni masih negatif, sekitar -0.5. Anomali SST negatif ini menunjukkan bahwa SST di kawasan itu tidak mengalami kenaikan. Dengan kata lain, suhu permukaan laut di &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;sana&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; lebih dingin dari suhu normal (data jangka panjang 30 tahun).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas apa kaitannya dengan kekeringan di &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;? Jelas, jika suhu laut di kawasan Nino 3.4 mengalami kenaikan maka &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; akan mengalami kekeringan yang cukup parah. Sebaliknya, jika suhu laut di kawasan tersebut berada di bawah normal, maka angin yang terjadi di &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; masih bersifat basah. Sehingga, kemungkinan hujan masih akan turun di &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; pada musim kemarau.  &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1027" type="#_x0000_t75" alt="" style="'width:277.5pt;height:312pt'"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\ADMINI~1\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image005.jpg" href="http://www.beritaiptek.com/images/Gbr9-ErmaYulihastin.jpg"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/ADMINI%7E1/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image005.jpg" shapes="_x0000_i1027" border="0" height="416" width="370" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;Gambar 9 Anomali SST di Nino 4, Nino 3.4, Nino 3, Nino 1+2.&lt;br /&gt;(http://www.cpc.ncep.noaa.gov)&lt;/b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 12pt;"&gt;   &lt;br /&gt;Agar lebih jelas, mari kita amati data anomali SST yang lebih panjang di kawasan Nino 3.4 seperti pada Gambar 9. Tampak anomali SST sejak tahun 1950 hingga tahun 2008 di gambar tersebut. Jika anomali bernilai positif di atas 1, maka terjadilah El Nino. Sementara itu, anomali yang bernilai kurang dari negatif 1, menunjukkan terjadinya La Nina. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1028" type="#_x0000_t75" alt="" style="'width:347.25pt;height:370.5pt'"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\ADMINI~1\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image006.jpg" href="http://www.beritaiptek.com/images/Gbr10-ErmaYulihastin.jpg"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/ADMINI%7E1/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image006.jpg" shapes="_x0000_i1028" border="0" height="494" width="463" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;  &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;Gambar 10 Indeks El Nino dan La Nina dari tahun 1950-2008  (http://www.cpc.ncep.noaa.gov).&lt;/b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 12pt;"&gt;   &lt;br /&gt;Terlihat bahwa pada tahun 2007 hingga 2008 (Juni), anomali SST mengalami penurunan dari 0 hingga -1.5. Penurunan nilai anomali SST ini menunjukkan bahwa sepanjang tahun 2007 hingga 2008, terjadi La Nina yang cukup kuat. La Nina ini di Bulan Juni 2008 masih berlangsung meski makin mengecil dan bergerak mendekati kondisi netral (lihat Gambar 10). Disebut pula sebagai La Nina lemah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Data mengenai La Nina yang melemah ini juga diperkuat oleh data pada Gambar 11 yang menunjukkan indeks El Nino dan indeks La Nina. Indeks El Nino diwakili oleh grafik merah, indeks La Nina diperlihatkan oleh grafik berwarna biru. Pada tahun 2008, nilai indeks La Nina positif 1 menuju nol, sementara indeks El Nino negatif 1 dan menurun. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1029" type="#_x0000_t75" alt="" style="'width:390.75pt;height:270.75pt'"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\ADMINI~1\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image007.jpg" href="http://www.beritaiptek.com/images/Gbr11-ErmaYulihastin.jpg"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/ADMINI%7E1/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image007.jpg" shapes="_x0000_i1029" border="0" height="361" width="521" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;Gambar 11 Indeks El Nino, La Nina, ESPI dari tahun 1979-2008.&lt;br /&gt;(http://trmm.gsfc.nasa.gov)&lt;/b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Simpulan &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musim kemarau di Indonesia tahun ini bersifat basah karena terjadinya La Nina di Samudra Pasifik khatulistiwa (Equatorial Pacific Ocean) meskipun di wilayah barat cenderung lebih kering dibandingkan wilayah tengah dan timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;La Nina adalah istilah yang menunjukkan terjadinya penurunan suhu permukaan laut (Sea Surface Temperature) yang tidak biasa (di bawah normal) di Samudra Pasifik. Sejak Februari 2008, La Nina cenderung melemah mendekati kondisi netral. Selama Juni, nilai indeks La Nina sekitar -1 (nilai normal adalah -0.5 sampai 0). Menurut prediksi model, La Nina menuju normal ini akan terus berlangsung hingga Agustus. Sementara kemarau di &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; kemungkinan akan mencapai puncak di Bulan September.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;La Nina yang terjadi di Pasifik Timur ini tentu saja mempengaruhi negara-negara di khatulistiwa yang terletak di sebelah barat Pasifik, termasuk &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;. Secara umum, La Nina akan mempengaruhi kondisi angin yang terbentuk di atas Pasifik. Angin tersebut bersifat basah karena membawa serta banyak uap air, akibat dari mendinginnya suhu permukaan laut di bawahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya, pembentukan awan di daerah tropis sekitar khatulistiwa masih akan sering terjadi. Dengan demikian, di Indonesia, hujan kemungkinan masih akan terjadi sepanjang musim kemarau tahun ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musim kemarau juga akan dipengaruhi oleh Dipole Mode yang positif. Dipole Mode Positif menunjukkan bahwa di Samudra Hindia bagian timur terjadi pendinginan sementara di bagian barat mengalami pemanasan. Dipole Mode positif ini telah berlangsung sejak Bulan Mei.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kombinasi antara monsun, La Nina, Dipole Mode, akan membentuk pola musim kemarau tahun ini. Terjadinya Dipole Mode yang positif di Samudra Hindia mengakibatkan &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; di bagian barat lebih kering daripada wilayah lainnya. &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; bagian timur akan sedikit lebih basah karena pengaruh La Nina. Sedangkan &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; bagian tengah akan mengalami musim kering yang normal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Bacaan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. ENSO Cycle: Recent Evolution, Current Status and Predictions, &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:placename st="on"&gt;Climate&lt;/st1:PlaceName&gt; &lt;st1:placename st="on"&gt;Prediction&lt;/st1:PlaceName&gt; &lt;st1:placetype st="on"&gt;Center&lt;/st1:PlaceType&gt;&lt;/st1:place&gt;  NCEP, 23 Juni 2008.&lt;br /&gt;2. Impact of the &lt;st1:place st="on"&gt;Indian Ocean&lt;/st1:place&gt; Dipole on the Southern Oscillation, Swadhin K. Behera1 and Toshio Yamagata1,2, 27 Juni 2001.&lt;br /&gt;3. Muncul Gejala Awal Terjadi Dipole Mode, Kompas, 2 Juli 2008.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;*) Penulis adalah (Pembantu) Peneliti Bidang Pemodelan Iklim&lt;br /&gt;Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim&lt;br /&gt;Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Bandung&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; &lt;/i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt;Tulisan ini dimuat di www.beritaiptek.com&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;iframe src="http://www.hothotsoftware.com/freestuff/counterView.php?counterid=yulihastin" width=100 height=100 frameborder=0&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1824214246344813752-6579279077439508455?l=yulihastin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yulihastin.blogspot.com/feeds/6579279077439508455/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1824214246344813752&amp;postID=6579279077439508455' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1824214246344813752/posts/default/6579279077439508455'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1824214246344813752/posts/default/6579279077439508455'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yulihastin.blogspot.com/2008/07/tahun-2008-tidak-ada-kekeringan-ii.html' title='Tahun 2008 Tidak Ada Kekeringan (II)'/><author><name>yulihastin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07384503929845779248</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SLenWZrNyfI/AAAAAAAAACs/Yr2e67BQLw0/S220/sekar-erma.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1824214246344813752.post-5981749845887371072</id><published>2008-07-12T18:30:00.000-07:00</published><updated>2008-07-15T18:34:52.732-07:00</updated><title type='text'>Tahun 2008 Tidak Ada Kekeringan (I)</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;Sabtu, 12 Juli 2008 12:24:04 &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Iptek &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;a href="http://www.beritaiptek.com/zberita-beritaiptek-2008-07-12-Tahun-2008-Tidak-Ada-Kekeringan-%28I%29.shtml"&gt;Tahun 2008 Tidak Ada Kekeringan (I)&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;a href="http://www.beritaiptek.com/profilpenulis.php?id=118"&gt;Oleh Erma Yulihastin&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 7.5pt;"&gt;&lt;br /&gt; &lt;!--[if !supportLineBreakNewLine]--&gt;&lt;br /&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 12pt;"&gt;Ancaman kekeringan meluas. Demikian judul tulisan di sebuah Surat Kabar nasional, Mei silam. Isinya kurang lebih menjelaskan bahwa &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; harus bersiap menghadapi musim kemarau tahun ini yang lebih kering. Tulisan hasil liputan wartawan dan wawancara dengan narasumber itu, cukup membuat saya dan beberapa rekan di lembaga penelitian iklim, terperangah. Tergelitik untuk mengungkap lebih jauh fakta meteorologi seputar musim kemarau tahun ini, saya menulis artikel ini.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Ancaman Puso&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulai awal Juni 2008, &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; memasuki musim kemarau. Pergantian musim hujan menjadi kemarau biasanya memang terjadi di Bulan Juni, setelah melewati masa pancaroba sekitar April-Mei. Di bulan Juni pula, umumnya para petani mulai memanen padi. Namun, apa yang terjadi ketika para petani seharusnya berpanen raya? Ratusan bahkan ribuan hektar tanaman padi yang hendak dipanen itu terancam puso (gagal panen) karena tidak memperoleh siraman air yang cukup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi menyedihkan terjadi di beberapa wilayah di Pulau Jawa. Sedikitnya 400 hektar tanaman padi di Kabupaten Indramayu mengalami gagal panen (pikiran-rakyat, 16/6). Seluas 182 hektar tanaman padi di Kabupaten Cianjur bernasib sama (pikiran-rakyat, 22/6). Bahkan, ancaman puso yang meluas terjadi di Propinsi Banten. Sekitar 81 persen dari total lahan sawah di Banten mengalami kekeringan, yakni 11.730 hektar (kompas, 23/6). Hal yang sama terjadi di &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Cirebon&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;, Indramayu, Purwakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ancaman puso yang menyerang puluhan ribu sawah di Propinsi Banten dan Jawa Barat membuat kita bertanya-tanya, separah apakah kekeringan yang bakal terjadi di musim kemarau tahun ini?  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Potensi Kekeringan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, ada tiga faktor yang memengaruhi pola musim di &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; yaitu  monsun, ENSO, Dipole Mode. Monsun adalah perilaku angin musiman yang terbentuk setiap enam bulan sekali di &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;. ENSO atau El Nino Souther Oscillation merupakan perilaku suhu permukaan laut di Pasifik selatan, terjadi tiap 3-7 tahun. Dipole Mode adalah perilaku suhu permukaan laut di Samudra Hindia, berulang tiap 4-5 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian menunjukkan bahwa ketiganya memiliki pengaruh yang berbeda terhadap pola musim di berbagai wilayah di &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;. &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; bagian timur lebih banyak dipengaruhi oleh ENSO, karena lebih dekat dengan Samudra Pasifik. &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; bagian tengah lebih banyak dikontrol oleh monsun. Sementara &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; bagian barat banyak diatur oleh Dipole Mode, mengingat wilayah ini dekat dengan Samudra Hindia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk melihat potensi kekeringan yang bakal terjadi selama musim kemarau, setidaknya ada &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;lima&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; hal yang dapat dijadikan acuan, yaitu: pola angin (monsun), curah hujan, awan, suhu permukaan laut (SST), Dipole Mode.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;1. Pola Angin Monsun&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pola angin yang bertiup di atmosfer khatulistiwa &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; menunjukkan apakah sekarang telah tiba musim kemarau atau belum. Sebab, pada musim kemarau, angin yang bertiup di &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; bersifat kering. Angin kering ini berasal dari daratan &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Australia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;. Karena berasal dari &lt;st1:country-region st="on"&gt;Australia&lt;/st1:country-region&gt;, maka angin yang terjadi di &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; adalah angin tenggara atau angin timur (berasal dari tenggara atau dari timur). Lantas bagaimana pola angin tenggara ini di Bulan Juni? Lihat Gambar 1. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shapetype id="_x0000_t75" coordsize="21600,21600" spt="75" preferrelative="t" path="m@4@5l@4@11@9@11@9@5xe" filled="f" stroked="f"&gt;  &lt;v:stroke joinstyle="miter"&gt;  &lt;v:formulas&gt;   &lt;v:f eqn="if lineDrawn pixelLineWidth 0"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @0 1 0"&gt;   &lt;v:f eqn="sum 0 0 @1"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @2 1 2"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelWidth"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelHeight"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @0 0 1"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @6 1 2"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelWidth"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @8 21600 0"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelHeight"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @10 21600 0"&gt;  &lt;/v:formulas&gt;  &lt;v:path extrusionok="f" gradientshapeok="t" connecttype="rect"&gt;  &lt;o:lock ext="edit" aspectratio="t"&gt; &lt;/v:shapetype&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1025" type="#_x0000_t75" alt="" style="'width:365.25pt;"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\ADMINI~1\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image001.jpg" href="file:///C:\Documents%20and%20Settings\Administrator\Desktop\arsip%20karya%20ilmiah\zberita-beritaiptek-2008-07-12-Tahun-2008-Tidak-Ada-Kekeringan-1b_files\Gbr1-ErmaYulihastin.jpg"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/ADMINI%7E1/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image001.jpg" shapes="_x0000_i1025" border="0" height="326" width="487" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;Gambar 1 Pola angin monsun rata-rata Bulan Juni 2008&lt;br /&gt;(hasil model DARLAM, Nurzaman A., LAPAN 2008)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 12pt;"&gt;&lt;br /&gt;Pola angin monsun pada Gambar 1 menunjukkan bahwa selama Bulan Juni, angin dari Pasifik Selatan bertiup melalui &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Australia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;. Angin ini menyebabkan sebagian Papua dan Jawa lebih basah dibandingkan wilayah lain di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;2. Pola Curah Hujan&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pengamatan Satelit TRMM yang dilakukan oleh NASA, Amerika Serikat, curah hujan yang terjadi di &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; selama Bulan Juni tampak pada Gambar 2. Wilayah &lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt; yang memiliki curah hujan relatif tinggi antara lain Kalimantan, Sumatera Utara, &lt;st1:place st="on"&gt;Sulawesi&lt;/st1:place&gt; bagian Timur dan Utara, Papua bagian tengah. Hujan yang relatif tinggi itu berkisar antara 1 sampai 10 milimeter per hari, diperlihatkan dengan warna hijau dan biru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara di Pulau Jawa, hampir seluruhnya berwarna kuning yang menandakan bahwa curah hujan antara -8 hingga -1 milimeter per hari. Dengan kata lain, kemarau mulai merambat dari bagian selatan &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; yaitu Pulau Jawa, Sumatera bagian selatan, dan Papua bagian selatan. Maka tidak mengherankan jika kekeringan sawah terjadi di sebagian besar Pulau Jawa.  &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1026" type="#_x0000_t75" alt="" style="'width:501pt;height:174.75pt'"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\ADMINI~1\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image002.jpg" href="file:///C:\Documents%20and%20Settings\Administrator\Desktop\arsip%20karya%20ilmiah\zberita-beritaiptek-2008-07-12-Tahun-2008-Tidak-Ada-Kekeringan-1b_files\Gbr2-ErmaYulihastin.jpg"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/ADMINI%7E1/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image002.jpg" shapes="_x0000_i1026" border="0" height="233" width="668" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;Gambar 2 Anomali curah hujan rata-rata selama sebulan terakhir 24 Juni 2008 dipantau dari satelit. (http://trmm.gsfc.nasa.gov)&lt;/b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1027" type="#_x0000_t75" alt="" style="'width:369pt;height:246.75pt'"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\ADMINI~1\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image003.jpg" href="file:///C:\Documents%20and%20Settings\Administrator\Desktop\arsip%20karya%20ilmiah\zberita-beritaiptek-2008-07-12-Tahun-2008-Tidak-Ada-Kekeringan-1b_files\Gbr3-ErmaYulihastin.jpg"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/ADMINI%7E1/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image003.jpg" shapes="_x0000_i1027" border="0" height="329" width="492" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;Gambar 3 Pola angin dan curah hujan rata-rata Bulan Juni 2008&lt;br /&gt;(Hasil model WRF, Halimurrahman, LAPAN 2008)&lt;/b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 12pt;"&gt;   &lt;br /&gt;Tampak bahwa hasil model curah hujan di atas juga mendukung hasil pengamatan satelit. Pada Gambar 3 terlihat, selama Bulan Juni curah hujan dengan intensitas tinggi (lebih dari 11 milimeter per hari) masih terjadi di utara Papua, Sulawesi, selatan &lt;st1:place st="on"&gt;Kalimantan&lt;/st1:place&gt;. Sementara di Pulau Jawa, curah hujan memang rendah, yakni berkisar antara 1 sampai 5 milimeter per hari. Bahkan di utara Jawa, curah hujan sudah mendekati nol.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;3. Pola Sebaran Awan&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lengkap rasanya, jika kita mengamati hujan tanpa memerhatikan awan. Padahal, awan adalah cikal bakal hujan. Dengan melihat pola sebaran awan di atas &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;, kita akan mengetahui wilayah mana saja yang rawan kekeringan. Pola sebaran awan dapat dilihat pada Gambar 4.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1028" type="#_x0000_t75" alt="" style="'width:321pt;height:243pt'"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\ADMINI~1\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image004.jpg" href="file:///C:\Documents%20and%20Settings\Administrator\Desktop\arsip%20karya%20ilmiah\zberita-beritaiptek-2008-07-12-Tahun-2008-Tidak-Ada-Kekeringan-1b_files\Gbr4-ErmaYulihastin.jpg"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/ADMINI%7E1/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image004.jpg" shapes="_x0000_i1028" border="0" height="324" width="428" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;Gambar 4 Liputan awan harian (30 Juni 2008) tampak dari satelit MT-SAT.&lt;br /&gt;(www.lapanrs.com)&lt;/b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 12pt;"&gt;  &lt;br /&gt;Tampak dari liputan awan harian pada Gambar 4, bahwa selama sehari yaitu pada 30 Juni 2008, awan masih banyak terdapat di atas Kalimantan, Sumatra, Sulawesi, Papua. Sedangkan Pulau Jawa bersih dari awan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi awan di &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; juga dapat diketahui dari data radiasi gelombang panjang (Outgoing Longwave Radiation, OLR) pada Gambar 5. Nilai OLR menunjukkan seberapa besar pancaran sinar matahari yang sampai ke permukaan bumi. Semakin tinggi OLR maka semakin banyak permukaan bumi mendapat sinaran matahari. Nilai OLR akan mengecil jika di atmosfer terdapat banyak awan. Karena awan dapat menghambat sinar matahari sampai permukaan bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga, jika anomali OLR positif, maka besarnya OLR di wilayah itu cenderung lebih tinggi dari data OLR rata-rata jangka panjang (30 tahun). Sebaliknya anomali OLR negatif menunjukkan nilai OLR di daerah itu lebih kecil dari data OLR rata-rata jangka panjang (30 tahun). Dari Gambar 5 dapat diketahui, sebagian besar Jawa, selatan Sumatra, utara Kalimantan, selatan Papua, memiliki nilai anomali OLR yang tinggi (10-20). Artinya, di wilayah tersebut banyak terdapat radiasi gelombang panjang matahari. Dengan kata lain, di wilayah tersebut sudah jarang terdapat awan.     &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1029" type="#_x0000_t75" alt="" style="'width:415.5pt;height:188.25pt'"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\ADMINI~1\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image005.jpg" href="file:///C:\Documents%20and%20Settings\Administrator\Desktop\arsip%20karya%20ilmiah\zberita-beritaiptek-2008-07-12-Tahun-2008-Tidak-Ada-Kekeringan-1b_files\Gbr5-ErmaYulihastin.jpg"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/ADMINI%7E1/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image005.jpg" shapes="_x0000_i1029" border="0" height="251" width="554" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;Gambar 5 Data anomali radiasi gelombang panjang (OLR) 23 Mei-17 Juni 2008. (http://www.cpc.ncep.noaa.gov)&lt;/b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 12pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;4. Pola SST&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengetahui seberapa parah kemarau di &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;, tinjauan terhadap suhu permukaan laut (SST) di Samudra Pasifik juga perlu dilakukan. Kenapa Samudera Pasifik? Karena Samudera Pasifik berperan penting membangkitkan kejadian El Nino dan La Nina yang berimbas ke &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti diketahui, El Nino adalah penyimpangan iklim ekstrem yang terjadi karena kenaikan suhu permukaan laut di Pasifik sekitar khatulistiwa. Sebaliknya, La Nina terjadi karena suhu permukaan laut Pasifik mengalami penurunan. Tak bisa dipungkiri, Samudera Pasifik adalah pengontrol iklim bagi negara-negara di sekitarnya, seperti &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;. Tampak dari Gambar 6, anomali (penyimpangan) SST di Samudra Pasifik. Anomali SST ini merupakan anomali terhadap data SST di Samudera Pasifik selama tiga puluh tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nilai anomali SST positif menunjukkan bahwa suhu di &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;sana&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; cenderung lebih tinggi dari suhu rata-rata jangka panjang (30 tahun). Sementara itu, nilai anomali SST negatif menunjukkan bahwa suhu di situ cenderung lebih rendah dari suhu rata-rata jangka panjang (30 tahun).   &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1030" type="#_x0000_t75" alt="" style="'width:404.25pt;height:197.25pt'"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\ADMINI~1\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image006.jpg" href="file:///C:\Documents%20and%20Settings\Administrator\Desktop\arsip%20karya%20ilmiah\zberita-beritaiptek-2008-07-12-Tahun-2008-Tidak-Ada-Kekeringan-1b_files\Gbr6-ErmaYulihastin.jpg"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/ADMINI%7E1/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image006.jpg" shapes="_x0000_i1030" border="0" height="263" width="539" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;Gambar 6 Anomali suhu permukaan laut (SST) Samudera Pasifik rata-rata selama sepekan (11-18) Juni 2008. (http://www.cpc.ncep.noaa.gov)&lt;/b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Bacaan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. ENSO Cycle: Recent Evolution, Current Status and Predictions, &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:placename st="on"&gt;Climate&lt;/st1:PlaceName&gt; &lt;st1:placename st="on"&gt;Prediction&lt;/st1:PlaceName&gt; &lt;st1:placetype st="on"&gt;Center&lt;/st1:PlaceType&gt;&lt;/st1:place&gt;  NCEP, 23 Juni 2008.&lt;br /&gt;2. Impact of the &lt;st1:place st="on"&gt;Indian Ocean&lt;/st1:place&gt; Dipole on the Southern Oscillation, Swadhin K. Behera1 and Toshio Yamagata1,2, 27 Juni 2001.&lt;br /&gt;3. Muncul Gejala Awal Terjadi Dipole Mode, Kompas, 2 Juli 2008.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;*) Penulis adalah (Pembantu) Peneliti Bidang Pemodelan Iklim&lt;br /&gt;Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim&lt;br /&gt;Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Bandung&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; &lt;/i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;iframe src="http://www.hothotsoftware.com/freestuff/counterView.php?counterid=yulihastin" width=100 height=100 frameborder=0&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1824214246344813752-5981749845887371072?l=yulihastin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yulihastin.blogspot.com/feeds/5981749845887371072/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1824214246344813752&amp;postID=5981749845887371072' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1824214246344813752/posts/default/5981749845887371072'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1824214246344813752/posts/default/5981749845887371072'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yulihastin.blogspot.com/2008/07/tahun-2008-tidak-ada-kekeringan-i.html' title='Tahun 2008 Tidak Ada Kekeringan (I)'/><author><name>yulihastin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07384503929845779248</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SLenWZrNyfI/AAAAAAAAACs/Yr2e67BQLw0/S220/sekar-erma.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1824214246344813752.post-1823279887927359201</id><published>2008-07-07T18:37:00.000-07:00</published><updated>2008-10-23T01:18:30.340-07:00</updated><title type='text'>Musim Kemarau 2008 Cenderung Basah</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SQAy_3HrsUI/AAAAAAAAAFo/QyxBhUuLYO8/s1600-h/scan.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 256px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SQAy_3HrsUI/AAAAAAAAAFo/QyxBhUuLYO8/s320/scan.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5260260437478060354" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; line-height: 150%;"&gt;Musim Kemarau 2008 Cenderung Basah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;i style=""&gt;Erma Yulihastin*)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Kekeringan merebak. Hampir setiap hari media &lt;st1:city st="on"&gt;massa&lt;/st1:City&gt; memberitakan, kekeringan telah menyerang wilayah-wilayah sentra padi di Pulau Jawa seperti &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Cirebon&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt;, Indramayu, Majalengka (Tribun Jabar, 9 Juni 2008). Keadaan ini tentu saja mengkhawatirkan. &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Apalagi&lt;/st1:City&gt;, &lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; baru mengawali musim kemarau. Bagaimana sebenarnya sifat musim kemarau tahun ini? Benarkah kemarau akan lebih kering dan lebih panjang pada tahun ini? Artikel ini bermaksud mengupas keadaan musim kemarau tahun ini dari sudut pandang meteorologi.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;Meneropong Musim Kemarau&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 51);" lang="SV"&gt;Untuk meneropong musim kemarau di Indonesia, ada tiga hal yang perlu dipahami. &lt;i style=""&gt;Pertama&lt;/i&gt;, monsun. Monsun adalah perilaku angin musiman yang terbentuk setiap enam bulan sekali di Indonesia. Angin musiman ini terjadi karena posisi matahari terhadap bumi berubah-ubah. Sehingga pemanasan yang terjadi di bumi tidak merata. Monsun terbentuk karena ada perbedaan pemanasan antara lautan dan daratan. Di musim kemarau, Juni hingga September, matahari berada di Belahan Bumi Utara. Sehingga belahan bumi di sebelah utara Indonesia lebih panas (tekanan udara lebih rendah) dibandingkan di sebelah selatan. Perbedaan tekanan ini membangkitkan angin yang bergerak dari selatan ke utara. Karena di bagian selatan Indonesia terdapat daratan Australia, maka angin ini pun bersifat kering (tidak membawa banyak uap air). Itu sebabnya, angin kering ini mengakibatkan terjadinya kemarau di Indonesia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 51);" lang="SV"&gt;Kedua&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 51);" lang="SV"&gt;, ENSO (&lt;i style=""&gt;El-Nino Southern Oscillation)&lt;/i&gt; merupakan perilaku penyimpangan suhu permukaan laut di Samudera Pasifik selatan khatulistiwa. Kenapa disebut penyimpangan? Karena suhu laut di sana menyimpang dari suhu rata-rata jangka panjang selama tiga puluh tahun lebih. Penyimpangan ini terlihat dari kenaikan atau penurunan suhu. Jika ada kenaikan suhu, maka disebut El-Nino. Sebaliknya, jika suhu menurun maka terjadilah La-Nina. Kejadian El-Nino atau La-Nina ini biasanya berulang setiap 3-7 tahun. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 51);" lang="SV"&gt;Ketiga&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 51);" lang="SV"&gt;, Dipole Mode adalah perilaku suhu permukaan laut di Samudera Hindia. Dipole Mode sering juga disebut sebagai mini-ENSO. Kenapa mini-ENSO? Karena, Dipole Mode terjadi di Samudera Hindia yang memiliki luas lautan lebih kecil dibandingkan Samudera Pasifik. Kejadian Dipole Mode berulang tiap 4-5 tahun.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 51);" lang="SV"&gt;Baik monsun, ENSO, dan Dipole Mode, ketiganya memiliki pengaruh yang berbeda terhadap pola musim di berbagai wilayah di Indonesia. Musim di Indonesia timur lebih banyak dipengaruhi oleh ENSO, karena lebih dekat dengan Samudra Pasifik. Indonesia tengah lebih banyak dikontrol oleh monsun. Sementara Indonesia barat banyak diatur oleh Dipole Mode, mengingat wilayah ini dekat dengan Samudra Hindia. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 51);" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 51);" lang="SV"&gt;Kemarau Basah Karena La-Nina&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Musim kemarau di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; tahun ini cenderung bersifat basah karena terjadinya La-Nina meskipun lemah. Sejak Februari 2008, La-Nina cenderung melemah mendekati kondisi netral. Selama Juni, nilai indeks La-Nina sekitar -1 (nilai normal adalah -0.5 sampai 0). La-Nina menuju normal ini akan terus berlangsung hingga Agustus. Sementara kemarau di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; kemungkinan akan mencapai puncak September.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Secara umum, La-Nina akan memengaruhi kondisi angin yang terbentuk di atas Pasifik. Angin tersebut bersifat basah karena membawa serta banyak uap air. Artinya, pembentukan awan di daerah tropis sekitar khatulistiwa masih akan sering terjadi. Dengan demikian, hujan kemungkinan masih akan terjadi sepanjang musim kemarau tahun ini. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Musim kemarau juga dipengaruhi oleh Dipole Mode yang positif. Dipole Mode Positif menunjukkan bahwa di Samudra Hindia timur terjadi pendinginan, sementara di bagian barat mengalami pemanasan. Dipole Mode positif ini telah berlangsung sejak Mei. Akibatnya, angin yang bertiup menuju &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; barat akan lebih kering dibandingkan daerah lain. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Kombinasi antara monsun, La-Nina, Dipole Mode, akan membentuk pola musim kemarau tahun ini. Dipole Mode positif di Samudra Hindia mengakibatkan &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; barat lebih kering daripada wilayah lain. &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; timur akan sedikit lebih basah karena pengaruh La Nina. Sedangkan &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; tengah akan mengalami musim kering yang normal. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;" align="right"&gt;&lt;i style=""&gt;*) Penulis adalah Pembantu Peneliti Bidang Pemodelan Iklim&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;" align="right"&gt;&lt;i style=""&gt;Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;" align="right"&gt;&lt;i style=""&gt;Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Bandung&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  Artikel ini dimuat di Koran Tribun Jabar, 7 Juni 2008.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;iframe src="http://www.hothotsoftware.com/freestuff/counterView.php?counterid=yulihastin" width=100 height=100 frameborder=0&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1824214246344813752-1823279887927359201?l=yulihastin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yulihastin.blogspot.com/feeds/1823279887927359201/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1824214246344813752&amp;postID=1823279887927359201' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1824214246344813752/posts/default/1823279887927359201'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1824214246344813752/posts/default/1823279887927359201'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yulihastin.blogspot.com/2008/07/musim-kemarau-2008-cenderung-basah.html' title='Musim Kemarau 2008 Cenderung Basah'/><author><name>yulihastin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07384503929845779248</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SLenWZrNyfI/AAAAAAAAACs/Yr2e67BQLw0/S220/sekar-erma.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SQAy_3HrsUI/AAAAAAAAAFo/QyxBhUuLYO8/s72-c/scan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1824214246344813752.post-8763145790377558647</id><published>2008-06-24T20:33:00.000-07:00</published><updated>2008-07-02T20:46:07.787-07:00</updated><title type='text'>Indonesia Mampu Prediksi Iklim</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;Selasa, 24 Juni 2008 08:00:56 &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Artikel Iptek&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;a href="http://www.beritaiptek.com/zberita-beritaiptek-2008-06-24-Indonesia-Mampu-Prediksi-Iklim.shtml"&gt;Indonesia Mampu Prediksi Iklim&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;a href="http://www.beritaiptek.com/profilpenulis.php?id=118"&gt;Oleh Erma Yulihastin&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 7.5pt;"&gt;&lt;br /&gt; &lt;!--[if !supportLineBreakNewLine]--&gt;&lt;br /&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Seorang kawan yang sedang melanjutkan studi doktoral di Amerika Serikat beberapa waktu lalu berkata kepada saya, "&lt;em&gt;Bagaimana nih, &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;? Prakiraan cuacanya kok masih sering salah?&lt;/em&gt;" Kawan saya lalu membandingkannya dengan prakiraan cuaca di Amerika Serikat. Di Amerika, masih kata dia, prakiraan cuacanya 90 persen benar. Tiap setengah jam sekali, hampir semua channel televisi di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;sana&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; menayangkan prakiraan cuaca. Dan kenyataannya, prakiraan itu selalu tepat dan jarang sekali meleset.  &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sebagai peneliti, saya berusaha menjelaskan kepada kawan saya bahwa kemampuan &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; untuk membuat model prakiraan yang tepat memang masih rendah. Di samping itu, dinamika atmosfer di wilayah &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; memang lebih sulit diprediksi dibandingkan negara-negara di lintang menengah atau tinggi. Model atmosfer yang dikembangkan selama ini di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; pun sebenarnya berasal dari model atmosfer dari negara-negara beriklim sedang. Model tersebut kurang mampu merepresentasikan (mewakili) parameter-parameter di khatulistiwa yang sangat dinamis seperti &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;. Akibatnya, model tersebut memiliki banyak sekali kelemahan dan kurang bisa menggambarkan kondisi sebenarnya dari atmosfer &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;. Tapi, kawan saya tampaknya kurang puas dengan jawaban saya. Ia pun berujar, "&lt;em&gt;kalau begitu, ya harus buat model cuaca dan iklim yang bagus. Supaya prediksinya nggak salah terus.&lt;/em&gt;"  &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Kenapa Prediksi Iklim?&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Prediksi iklim mengacu pada rangkaian aktivitas yang dilakukan untuk menghasilkan sekumpulan informasi mengenai kondisi iklim (dan unsur-unsurnya) di masa mendatang. Informasi ini berguna dalam banyak hal. Misalnya saja, para petani sangat membutuhkan informasi mengenai prakiraan musim hujan agar mereka dapat memersiapkan masa tanam padi dengan lebih baik. Informasi dini mengenai terjadinya badai di lautan sangat bermanfaat bagi para nelayan, para nakhoda, dan juga para turis atau pelancong yang sedang berwisata. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dengan demikian, informasi cuaca ekstrim juga dibutuhkan untuk sektor pariwisata, perikanan, pelayaran. Penerbangan juga sangat membutuhkan informasi cuaca. Hal ini karena perjalanan pesawat di udara sangat sensitif terhadap gejala cuaca seperti badai, awan, asap, dan sejenisnya. Pilot yang menerbangkan pesawat perlu tahu keadaan cuaca seperti kecepatan dan arah angin bertiup, awan, hujan, badai guruh, angin kabur, asap kebakaran hutan, debu letusan gunung, dan sebagainya. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Itulah sebabnya di tiap bandara terdapat stasiun meteorologi yang berguna untuk memantau cuaca dan memberikan informasi yang diperlukan penerbangan. Bidang lain yang membutuhkan informasi atau prediksi cuaca dan iklim antara lain: perkebunan, kehutanan, pembangunan gedung, penataan wilayah, dan kesehatan. Selain itu, yang tak kalah pentingnya, prediksi iklim juga sangat berguna untuk melakukan adaptasi dan mitigasi terhadap pemanasan global (&lt;em&gt;global warming&lt;/em&gt;). &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dengan melakukan prediksi iklim secara tepat, kita akan memiliki skenario perubahan iklim selama tiga puluh tahun ke depan atau hingga beratus-ratus tahun ke depan. Kita dapat memperkirakan dampak perubahan iklim dan menghitung besar kerugiannya terhadap negara kepulauan &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;. Sehingga kita dapat merancang suatu gerakan terintegrasi untuk mengantisipasi dan mengurangi resiko dari dampak perubahan iklim tersebut.       &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Iklim dan Cuaca&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Cuaca dan iklim merupakan dua hal yang berbeda. Cuaca merupakan salah satu variabel yang menentukan kondisi iklim. Cuaca adalah keadaan rata-rata udara pada periode waktu sesaat (harian, jam-an). Iklim adalah keadaan rata-rata cuaca pada periode waktu tertentu (bulanan, tahunan). Pengamatan mengenai iklim, agar dapat diperoleh data yang tepat untuk prediksi, dilakukan selama periode waktu tiga puluh tahunan. Dengan data yang panjang itulah kita dapat menyebut bahwa &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; beriklim monsun tropis. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Faktor Pengontrol Iklim&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Faktor-faktor yang mempengaruhi iklim ada dua yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal adalah faktor yang merupakan elemen iklim dan bersifat relatif tetap. Faktor internal secara langsung mempengaruhi kondisi iklim dan menentukan pembagian iklim dunia, seperti: posisi matahari, distribusi lautan dan daratan, daerah tekanan tinggi dan daerah tekanan rendah, angin dan &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;massa&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; udara, tinggi tempat, barisan pegunungan, arus laut, badai. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sementara itu, faktor internal yang berpengaruh langsung terhadap tipe atau variasi iklim adalah suhu udara, curah hujan, tekanan udara, arah dan kecepatan angin, kelembaban udara, lamanya penyinaran dan intensitas radiasi matahari, penguapan.  &lt;br /&gt;Faktor eksternal adalah faktor di luar elemen iklim yang terjadi karena proses aktivitas alami (semburan vulkanik, ledakan di permukaan matahari, El Nino, La Nina, MJO, ENSO, siklon tropis) maupun non-alami (pencemaran udara, perubahan tata guna lahan).&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Informasi Iklim&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Informasi mengenai iklim dengan demikian merupakan sekumpulan informasi yang merangkum atau menjelaskan faktor-faktor pengontrol iklim seperti di atas. Informasi iklim dapat berupa suhu (temperatur) udara, tekanan udara, arah dan kecepatan angin, curah hujan, musim (monsun), El Nino, La Nina, MJO, ENSO, siklon tropis, dan sebagainya. Informasi tersebut dapat diberikan secara berkala (mingguan, bulanan, tahunan), selalu diperbarui  (&lt;em&gt;update&lt;/em&gt;), dan saat itu juga  (&lt;em&gt;real time&lt;/em&gt;). Media yang paling tepat untuk menghimpun informasi tersebut adalah website. Meskipun tak menutup kemungkinan jika informasi itu juga disebarkan ke berbagai media &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;massa&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; seperti koran, televisi, juga radio. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Kemampuan &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kemampuan &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; dalam memprediksi iklim dapat dilihat dari kemampuan pemerintah dalam menyajikan informasi terkait iklim. Kemampuan pemerintah ini dapat dilihat dari penyajian informasi iklim oleh beberapa lembaga yang selama ini memang memusatkan perhatiannya pada iklim (dan unsur-unsurnya) serta secara konsisten menghasilkan produk-produk terkait iklim.   &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Beberapa lembaga tersebut antara lain: Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG), Balai Penelitian Agroklimat dan Hidrologi Departemen Pertanian (Balitklimat Deptan), Lembaga Antariksa dan Penerbangan (LAPAN), Institut Teknologi Bandung (ITB). Tinjauan terhadap empat lembaga di atas dianggap cukup merepresentasikan kemampaun &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; dalam memprediksi iklim. Sajian informasi cuaca dan iklim keempat lembaga dapat dilihat pada tabel di bawah ini.  &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;table str="" style="border-collapse: collapse; width: 1064pt;" border="0" cellpadding="0" cellspacing="0" width="1416"&gt;&lt;col style="width: 20pt;" width="27"&gt;  &lt;col style="width: 61pt;" width="81"&gt;  &lt;col style="width: 239pt;" width="318"&gt;  &lt;col style="width: 268pt;" width="357"&gt;  &lt;col style="width: 106pt;" width="141"&gt;  &lt;col style="width: 63pt;" width="84"&gt;  &lt;col style="width: 48pt;" width="64"&gt;  &lt;col style="width: 38pt;" width="50"&gt;  &lt;col style="width: 49pt;" width="65"&gt;  &lt;col style="width: 57pt;" width="76"&gt;  &lt;col style="width: 50pt;" width="67"&gt;  &lt;col style="width: 65pt;" width="86"&gt;  &lt;tbody&gt;&lt;tr style="height: 12.75pt;" height="17"&gt;   &lt;td style="height: 12.75pt; width: 20pt;" height="17" width="27"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="width: 61pt;" width="81"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="width: 239pt;" width="318"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="width: 268pt;" width="357"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="width: 106pt;" width="141"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="width: 63pt;" width="84"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="width: 48pt;" width="64"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="width: 38pt;" width="50"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="width: 49pt;" width="65"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="width: 57pt;" width="76"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="width: 50pt;" width="67"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="width: 65pt;" width="86"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 15.75pt;" height="21"&gt;   &lt;td class="xl24" colspan="4" style="height: 15.75pt;" height="21"&gt;&lt;a name="RANGE!A2:I31"&gt;Tabel Informasi Cuaca dan Iklim di Beberapa Lembaga (BMG,   ITB, Deptan, LAPAN)&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl25"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl25"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl25"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl25"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl25"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl25"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl25"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl25"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 15.75pt;" height="21"&gt;   &lt;td class="xl26" style="height: 15.75pt;" height="21"&gt;No&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl26" style="border-left: medium none;" str="Nama "&gt;Nama&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl27" style="border-left: medium none;"&gt;Layanan Cuaca dan Iklim&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl26"&gt;Informasi&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl28"&gt;Penyajian&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl28"&gt; &lt;/td&gt;   &lt;td class="xl28"&gt; &lt;/td&gt;   &lt;td class="xl29"&gt; &lt;/td&gt;   &lt;td class="xl26" style="border-left: medium none;"&gt;Metode&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl26" style="border-left: medium none;"&gt;Verifikasi&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl26" style="border-left: medium none;"&gt;Prediksi&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl26" style="border-left: medium none;"&gt;Reanalisis&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 15.75pt;" height="21"&gt;   &lt;td class="xl43" style="height: 15.75pt;" height="21"&gt; &lt;/td&gt;   &lt;td class="xl43" style="border-left: medium none;"&gt;Lembaga&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl45" style="border-left: medium none;"&gt; &lt;/td&gt;   &lt;td class="xl40"&gt; &lt;/td&gt;   &lt;td class="xl46" style="border-top: medium none;"&gt;Format&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl44" style="border-top: medium none; border-left: medium none;"&gt;Periode&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl44" style="border-top: medium none; border-left: medium none;"&gt;Update&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl44" style="border-top: medium none; border-left: medium none;"&gt;Media&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl43" style="border-left: medium none;"&gt; &lt;/td&gt;   &lt;td class="xl43" style="border-left: medium none;"&gt; &lt;/td&gt;   &lt;td class="xl43" style="border-left: medium none;"&gt; &lt;/td&gt;   &lt;td class="xl36" style="border-left: medium none;"&gt; &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 15pt;" height="20"&gt;   &lt;td class="xl30" style="border-top: medium none; height: 15pt;" num="" align="right" height="20"&gt;1&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl30" style="border-top: medium none; border-left: medium none;"&gt;BMG&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl30" style="border-top: medium none; border-left: medium none;" str="Informasi Hujan Bulanan "&gt;Informasi Hujan Bulanan&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl30" style="border-top: medium none; border-left: medium none;"&gt;Evaluasi curah hujan&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl30" style="border-top: medium none; border-left: medium none;"&gt;Image&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl30" style="border-top: medium none; border-left: medium none;"&gt;Bulanan&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl30" style="border-top: medium none; border-left: medium none;"&gt;ya&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl30" style="border-top: medium none; border-left: medium none;"&gt;Web&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl30" style="border-top: medium none; border-left: medium none;"&gt;Statistik&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl30" style="border-top: medium none; border-left: medium none;"&gt;Ada&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl33" style="border-top: medium none; border-left: medium none;"&gt; &lt;/td&gt;   &lt;td class="xl30"&gt;ya&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 15pt;" height="20"&gt;   &lt;td class="xl31" style="height: 15pt;" height="20"&gt; &lt;/td&gt;   &lt;td class="xl31" style="border-left: medium none;"&gt; &lt;/td&gt;   &lt;td class="xl31" style="border-left: medium none;"&gt; &lt;/td&gt;   &lt;td class="xl31" style="border-left: medium none;"&gt;Evaluasi sifat hujan&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl31" style="border-left: medium none;"&gt;Image&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl31" style="border-left: medium none;"&gt;Bulanan&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl31" style="border-left: medium none;"&gt;ya&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl31" style="border-left: medium none;"&gt;Web&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl31" style="border-left: medium none;"&gt;Statistik&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl31" style="border-left: medium none;"&gt;Ada&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl34" style="border-left: medium none;"&gt; &lt;/td&gt;   &lt;td class="xl31"&gt;ya&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 15pt;" height="20"&gt;   &lt;td class="xl31" style="height: 15pt;" height="20"&gt; &lt;/td&gt;   &lt;td class="xl31" style="border-left: medium none;"&gt; &lt;/td&gt;   &lt;td class="xl31" style="border-left: medium none;"&gt;Prakiraan Hujan Bulanan&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl31" style="border-left: medium none;"&gt;Rendah, menengah, tinggi&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl31" style="border-left: medium none;"&gt;Image&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl31" style="border-left: medium none;"&gt;Bulanan&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl31" style="border-left: medium none;"&gt;ya&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl31" style="border-left: medium none;"&gt;Web&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl31" style="border-left: medium none;"&gt;Statistik&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl31" style="border-left: medium none;"&gt;Ada&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl34" style="border-left: medium none;"&gt;ya&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl31"&gt; &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 15pt;" height="20"&gt;   &lt;td class="xl31" style="height: 15pt;" height="20"&gt; &lt;/td&gt;   &lt;td class="xl31" style="border-left: medium none;"&gt; &lt;/td&gt;   &lt;td class="xl31" style="border-left: medium none;"&gt;Prakiraan Musim&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl31" style="border-left: medium none;"&gt;Awal musim, sifat musim&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl31" style="border-left: medium none;"&gt;Image&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl31" style="border-left: medium none;"&gt;Monsunal&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl31" style="border-left: medium none;"&gt;ya&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl31" style="border-left: medium none;"&gt;Web&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl31" style="border-left: medium none;"&gt;Statistik&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl31" style="border-left: medium none;"&gt;Tidak&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl34" style="border-left: medium none;"&gt; &lt;/td&gt;   &lt;td class="xl31"&gt; &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 15pt;" height="20"&gt;   &lt;td class="xl31" style="height: 15pt;" height="20"&gt; &lt;/td&gt;   &lt;td class="xl31" style="border-left: medium none;"&gt; &lt;/td&gt;   &lt;td class="xl31" style="border-left: medium none;"&gt;Rata-rata Klimatologi&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl31" style="border-left: medium none;"&gt;Rata-rata suhu udara&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl31" style="border-left: medium none;"&gt;Grafik&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl31" style="border-left: medium none;"&gt;Bulanan&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl31" style="border-left: medium none;"&gt;ya&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl31" style="border-left: medium none;"&gt;Web&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl31" style="border-left: medium none;"&gt;Statistik&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl31" style="border-left: medium none;"&gt;Tidak&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl34" style="border-left: medium none;"&gt; &lt;/td&gt;   &lt;td class="xl31"&gt; &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 15pt;" height="20"&gt;   &lt;td class="xl31" style="height: 15pt;" height="20"&gt; &lt;/td&gt;   &lt;td class="xl31" style="border-left: medium none;"&gt; &lt;/td&gt;   &lt;td class="xl31" style="border-left: medium none;"&gt; &lt;/td&gt;   &lt;td class="xl31" style="border-left: medium none;"&gt;Rata-rata kelembaban udara&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl31" style="border-left: medium none;"&gt;Grafik&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl31" style="border-left: medium none;"&gt;Bulanan&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl31" style="border-left: medium none;"&gt;ya&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl31" style="border-left: medium none;"&gt;Web&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl31" style="border-left: medium none;"&gt;Statistik&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl31" style="border-left: medium none;"&gt;Tidak&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl34" style="border-left: medium none;"&gt; &lt;/td&gt;   &lt;td class="xl31"&gt; &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 15pt;" height="20"&gt;   &lt;td class="xl31" style="height: 15pt;" height="20"&gt; &lt;/td&gt;   &lt;td class="xl31" style="border-left: medium none;"&gt; &lt;/td&gt;   &lt;td class="xl31" style="border-left: medium none;"&gt; &lt;/td&gt;   &lt;td class="xl31" style="border-left: medium none;"&gt;Rata-rata tekanan udara&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl31" style="border-left: medium none;"&gt;Grafik&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl31" style="border-left: medium none;"&gt;Bulanan&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl31" style="border-left: medium none;"&gt;ya&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl31" style="border-left: medium none;"&gt;Web&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl31" style="border-left: medium none;"&gt;Statistik&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl31" style="border-left: medium none;"&gt;Tidak&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl34" style="border-left: medium none;"&gt; &lt;/td&gt;   &lt;td class="xl31"&gt; &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 15pt;" height="20"&gt;   &lt;td class="xl31" style="height: 15pt;" height="20"&gt; &lt;/td&gt;   &lt;td class="xl31" style="border-left: medium none;"&gt; &lt;/td&gt;   &lt;td class="xl31" style="border-left: medium none;"&gt; &lt;/td&gt;   &lt;td class="xl31" style="border-left: medium none;"&gt;Rata-rata kecepatan angin&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl31" style="border-left: medium none;"&gt;Grafik&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl31" style="border-left: medium none;"&gt;Bulanan&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl31" style="border-left: medium none;"&gt;ya&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl31" style="border-left: medium none;"&gt;Web&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl31" style="border-left: medium none;"&gt;Statistik&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl31" style="border-left: medium none;"&gt;Tidak&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl34" style="border-left: medium none;"&gt;ya&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl31"&gt; &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 15pt;" height="20"&gt;   &lt;td class="xl31" style="height: 15pt;" height="20"&gt; &lt;/td&gt;   &lt;td class="xl31" style="border-left: medium none;"&gt; &lt;/td&gt;   &lt;td class="xl31" style="border-left: medium none;"&gt;Potensi Banjir&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl31" style="border-left: medium none;"&gt;Rendah, menengah, tinggi&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl31" style="border-left: medium none;"&gt;Spasial&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl31" style="border-left: medium none;"&gt;Bulanan&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl31" style="border-left: medium none;"&gt;ya&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl31" style="border-left: medium none;"&gt;Web&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl31" style="border-left: medium none;"&gt;Statistik&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl31" style="border-left: medium none;"&gt;Tidak&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl34" style="border-left: medium none;"&gt;ya&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl31"&gt; &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 15pt;" height="20"&gt;   &lt;td class="xl31" style="height: 15pt;" height="20"&gt; &lt;/td&gt;   &lt;td class="xl31" style="border-left: medium none;"&gt; &lt;/td&gt;   &lt;td class="xl31" style="border-left: medium none;"&gt;Ekstrim&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl31" style="border-left: medium none;"&gt;El Nino dan La Nina&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl31" style="border-left: medium none;"&gt;Teks&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl31" style="border-left: medium none;"&gt;Bulanan&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl31" style="border-left: medium none;"&gt;ya&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl31" style="border-left: medium none;"&gt;Web&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl31" style="border-left: medium none;"&gt;Statistik&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl31" style="border-left: medium none;"&gt;Tidak&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl34" style="border-left: medium none;"&gt; &lt;/td&gt;   &lt;td class="xl31"&gt;ya&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 15pt;" height="20"&gt;   &lt;td class="xl31" style="height: 15pt;" height="20"&gt; &lt;/td&gt;   &lt;td class="xl31" style="border-left: medium none;"&gt; &lt;/td&gt;   &lt;td class="xl31" style="border-left: medium none;"&gt; &lt;/td&gt;   &lt;td class="xl31" style="border-left: medium none;"&gt;Dipole Mode&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl31" style="border-left: medium none;"&gt;Teks&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl31" style="border-left: medium none;"&gt;Bulanan&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl31" style="border-left: medium none;"&gt;ya&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl31" style="border-left: medium none;"&gt;Web&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl31" style="border-left: medium none;"&gt;Statistik&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl31" style="border-left: medium none;"&gt;Tidak&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl34" style="border-left: medium none;"&gt; &lt;/td&gt;   &lt;td class="xl31"&gt;ya&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 15pt;" height="20"&gt;   &lt;td class="xl31" style="height: 15pt;" height="20"&gt; &lt;/td&gt;   &lt;td class="xl31" style="border-left: medium none;"&gt; &lt;/td&gt;   &lt;td class="xl31" style="border-left: medium none;"&gt; &lt;/td&gt;   &lt;td class="xl31" style="border-left: medium none;"&gt;MJO&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl31" style="border-left: medium none;"&gt;Teks&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl31" style="border-left: medium none;"&gt;Bulanan&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl31" style="border-left: medium none;"&gt;ya&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl31" style="border-left: medium none;"&gt;Web&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl31" style="border-left: medium none;"&gt;Statistik&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl31" style="border-left: medium none;"&gt;Tidak&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl34" style="border-left: medium none;"&gt; &lt;/td&gt;   &lt;td class="xl31"&gt;ya&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 15pt;" height="20"&gt;   &lt;td class="xl31" style="height: 15pt;" height="20"&gt; &lt;/td&gt;   &lt;td class="xl31" style="border-left: medium none;"&gt; &lt;/td&gt;   &lt;td class="xl37" style="border-left: medium none;"&gt;Prakiraan Cuaca Hari ini dan Besok&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl31" style="border-left: medium none;"&gt;Cuaca Jabodetabek dan kota propinsi&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl31" style="border-left: medium none;"&gt;Teks&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl31" style="border-left: medium none;"&gt;Harian&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl31" style="border-left: medium none;"&gt;ya&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl31" style="border-left: medium none;"&gt;Web&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl31" style="border-left: medium none;"&gt;Statistik&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl31" style="border-left: medium none;"&gt;Tidak&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl34" style="border-left: medium none;"&gt;ya&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl39"&gt; &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 15pt;" height="20"&gt;   &lt;td class="xl32" style="height: 15pt;" height="20"&gt; &lt;/td&gt;   &lt;td class="xl32" style="border-left: medium none;"&gt; &lt;/td&gt;   &lt;td class="xl38" style="border-left: medium none;"&gt;Prospek Cuaca Mingguan&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl32" style="border-left: medium none;"&gt;Liputan awan&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl32" style="border-left: medium none;"&gt;Image&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl32" style="border-left: medium none;"&gt;Mingguan&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl32" style="border-left: medium none;"&gt;ya&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl32" style="border-left: medium none;"&gt;Web&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl32" style="border-left: medium none;"&gt;Satelit&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl32" style="border-left: medium none;"&gt;Tidak&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl35" style="border-left: medium none;"&gt;ya&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl40"&gt; &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 15pt;" height="20"&gt;   &lt;td class="xl30" style="border-top: medium none; height: 15pt;" num="" align="right" height="20"&gt;2&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl25"&gt;ITB&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl30" style="border-top: medium none;"&gt;Monitoring Cuaca&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl30" style="border-top: medium none; border-left: medium none;"&gt;Cuaca&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl25"&gt;Image&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl30" style="border-top: medium none;"&gt;Harian&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl30" style="border-top: medium none; border-left: medium none;"&gt;ya&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl30" style="border-top: medium none; border-left: medium none;"&gt;Web&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl30" style="border-top: medium none; border-left: medium none;"&gt;Satelit&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl30" style="border-top: medium none; border-left: medium none;"&gt;Tidak&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl30" style="border-top: medium none; border-left: medium none;"&gt; &lt;/td&gt;   &lt;td class="xl30" style="border-top: medium none; border-left: medium none;"&gt; &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 15pt;" height="20"&gt;   &lt;td class="xl32" style="height: 15pt;" height="20"&gt; &lt;/td&gt;   &lt;td class="xl25"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl32"&gt;Prediksi Cuaca&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl32" style="border-left: medium none;"&gt;Cuaca&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl25"&gt;Image&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl32"&gt;Harian&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl32" style="border-left: medium none;"&gt;ya&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl32" style="border-left: medium none;"&gt;Web&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl32" style="border-left: medium none;"&gt;Dinamik&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl32" style="border-left: medium none;"&gt; &lt;/td&gt;   &lt;td class="xl32" style="border-left: medium none;"&gt; &lt;/td&gt;   &lt;td class="xl32" style="border-left: medium none;"&gt; &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 15pt;" height="20"&gt;   &lt;td class="xl30" style="border-top: medium none; height: 15pt;" num="" align="right" height="20"&gt;3&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl30" style="border-left: medium none;"&gt;Balitklimat&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl30" style="border-top: medium none; border-left: medium none;"&gt;Iklim Global, Peta   Hujan dan Musim Tanam&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl25"&gt;Analisis iklim di Indonesia, perkiraan masa tanam&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl30"&gt;Teks, grafik, image&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl30" style="border-top: medium none; border-left: medium none;"&gt;Musiman&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl30" style="border-top: medium none; border-left: medium none;"&gt;ya&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl30" style="border-top: medium none; border-left: medium none;"&gt;Web&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl30" style="border-top: medium none; border-left: medium none;"&gt;Statistik&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl30" style="border-top: medium none; border-left: medium none;"&gt;Tidak&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl30" style="border-top: medium none; border-left: medium none;"&gt;ya&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl30" style="border-top: medium none; border-left: medium none;"&gt; &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 15pt;" height="20"&gt;   &lt;td class="xl31" style="height: 15pt;" height="20"&gt; &lt;/td&gt;   &lt;td class="xl31" style="border-left: medium none;"&gt;Deptan&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl31" style="border-left: medium none;"&gt;Anomali Curah Hujan 2010-2040 di   Indonesia&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl25"&gt;Model curah hujan 2010-2040&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl31"&gt;Teks, grafik, image&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl31" style="border-left: medium none;"&gt;Tahunan&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl31" style="border-left: medium none;"&gt;ya&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl31" style="border-left: medium none;"&gt;Web&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl31" style="border-left: medium none;"&gt;Dinamik&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl31" style="border-left: medium none;"&gt;Tidak&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl31" style="border-left: medium none;"&gt;ya&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl31" style="border-left: medium none;"&gt; &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 15pt;" height="20"&gt;   &lt;td class="xl33" style="height: 15pt;" num="" align="right" height="20"&gt;4&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl33" str="LAPAN "&gt;LAPAN&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl33" str="Prediksi Curah Hujan Bulanan "&gt;Prediksi Curah Hujan   Bulanan&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl33"&gt;Prediksi OLR/Anomali OLR&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl33"&gt;Teks, image&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl33"&gt;Bulanan&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl33"&gt;ya&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl30"&gt;Web&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl41"&gt;Dinamik&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl33"&gt;Tidak&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl33"&gt;ya&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl30"&gt; &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 15pt;" height="20"&gt;   &lt;td class="xl34" style="height: 15pt;" height="20"&gt; &lt;/td&gt;   &lt;td class="xl34"&gt; &lt;/td&gt;   &lt;td class="xl34"&gt;Akumulasi Curah Hujan Bulanan&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl34"&gt;Akumulasi liputan awan dasarian&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl34"&gt;Spasial&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl34"&gt;Bulanan&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl34"&gt;ya&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl31"&gt;Web&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl25"&gt;Satelit&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl34"&gt;Tidak&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl34"&gt; &lt;/td&gt;   &lt;td class="xl31"&gt;ya&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 15pt;" height="20"&gt;   &lt;td class="xl34" style="height: 15pt;" height="20"&gt; &lt;/td&gt;   &lt;td class="xl34"&gt; &lt;/td&gt;   &lt;td class="xl34"&gt;Siklon Tropis dan Dampaknya&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl34"&gt;Pemantauan dan pendataan siklon tropis&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl34"&gt;Spasial&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl34"&gt;Bulanan&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl34"&gt;ya&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl31"&gt;Web&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl25"&gt;Satelit&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl34"&gt;Tidak&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl34"&gt; &lt;/td&gt;   &lt;td class="xl31"&gt;ya&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 15pt;" height="20"&gt;   &lt;td class="xl34" style="height: 15pt;" height="20"&gt; &lt;/td&gt;   &lt;td class="xl34"&gt; &lt;/td&gt;   &lt;td class="xl34"&gt;Daerah Potensi Banjir&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl34"&gt;Data spasial dari MTSAT&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl34"&gt;Spasial&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl34"&gt;Bulanan&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl34"&gt;ya&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl31"&gt;Web&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl25"&gt;Satelit&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl34"&gt;Tidak&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl34"&gt;ya&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl31"&gt;ya&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 15pt;" height="20"&gt;   &lt;td class="xl34" style="height: 15pt;" height="20"&gt; &lt;/td&gt;   &lt;td class="xl34"&gt; &lt;/td&gt;   &lt;td class="xl34" str="Sistem Informasi untuk Mitigasi Bencana "&gt;Sistem   Informasi untuk Mitigasi Bencana&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl34"&gt;Daerah banjir, hotspot kebakaran hutan&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl34"&gt;Spasial&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl34"&gt;Harian&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl34"&gt;ya&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl31"&gt;Web&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl25"&gt;Satelit&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl34"&gt;Tidak&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl34"&gt;ya&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl31"&gt;ya&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 15pt;" height="20"&gt;   &lt;td class="xl34" style="height: 15pt;" height="20"&gt; &lt;/td&gt;   &lt;td class="xl34"&gt; &lt;/td&gt;   &lt;td class="xl34"&gt;Informasi Liputan Awan Harian&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl34"&gt;Liputan Awan&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl34"&gt;Spasial&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl34"&gt;Harian&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl34"&gt;ya&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl31"&gt;Web&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl25"&gt;Satelit&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl34"&gt;Tidak&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl34"&gt; &lt;/td&gt;   &lt;td class="xl31"&gt; &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 15pt;" height="20"&gt;   &lt;td class="xl34" style="height: 15pt;" height="20"&gt; &lt;/td&gt;   &lt;td class="xl34"&gt; &lt;/td&gt;   &lt;td class="xl34"&gt;Informasi Curah Hujan&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl34"&gt;Curah Hujan&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl34"&gt;Spasial&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl34"&gt;Harian&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl34"&gt;ya&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl31"&gt;Web&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl25"&gt;Satelit&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl34"&gt;Tidak&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl34"&gt; &lt;/td&gt;   &lt;td class="xl31"&gt; &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 15pt;" height="20"&gt;   &lt;td class="xl34" style="height: 15pt;" height="20"&gt; &lt;/td&gt;   &lt;td class="xl34"&gt; &lt;/td&gt;   &lt;td class="xl34"&gt;Informasi Curah Hujan Bulanan&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl34"&gt;Curah Hujan&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl34"&gt;Image&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl34"&gt;Bulanan&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl34"&gt;ya&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl31"&gt;Web&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl25"&gt;Dinamik&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl34"&gt;Tidak&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl34"&gt; &lt;/td&gt;   &lt;td class="xl31"&gt; &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 15pt;" height="20"&gt;   &lt;td class="xl35" style="height: 15pt;" height="20"&gt; &lt;/td&gt;   &lt;td class="xl35"&gt; &lt;/td&gt;   &lt;td class="xl35"&gt;Informasi Prediksi Curah Hujan&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl35"&gt;Curah Hujan&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl35"&gt;Image&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl35"&gt;Tiga jaman&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl35"&gt;ya&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl32"&gt;Web&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl42"&gt;Dinamik&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl35"&gt;Tidak&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl35"&gt;ya&lt;/td&gt;   &lt;td class="xl32"&gt; &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 12.75pt;" height="17"&gt;   &lt;td style="height: 12.75pt;" height="17"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 12.75pt;" height="17"&gt;   &lt;td style="height: 12.75pt;" height="17"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;p&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shapetype id="_x0000_t75" coordsize="21600,21600" spt="75" preferrelative="t" path="m@4@5l@4@11@9@11@9@5xe" filled="f" stroked="f"&gt;  &lt;v:stroke joinstyle="miter"&gt;  &lt;v:formulas&gt;   &lt;v:f eqn="if lineDrawn pixelLineWidth 0"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @0 1 0"&gt;   &lt;v:f eqn="sum 0 0 @1"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @2 1 2"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelWidth"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelHeight"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @0 0 1"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @6 1 2"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelWidth"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @8 21600 0"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelHeight"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @10 21600 0"&gt;  &lt;/v:formulas&gt;  &lt;v:path extrusionok="f" gradientshapeok="t" connecttype="rect"&gt;  &lt;o:lock ext="edit" aspectratio="t"&gt; &lt;/v:shapetype&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1025" type="#_x0000_t75" style="'width:478.5pt;"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\ADMINI~1\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image001.wmz" title=""&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shapetype id="_x0000_t75" coordsize="21600,21600" spt="75" preferrelative="t" path="m@4@5l@4@11@9@11@9@5xe" filled="f" stroked="f"&gt;  &lt;v:stroke joinstyle="miter"&gt;  &lt;v:formulas&gt;   &lt;v:f eqn="if lineDrawn pixelLineWidth 0"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @0 1 0"&gt;   &lt;v:f eqn="sum 0 0 @1"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @2 1 2"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelWidth"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelHeight"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @0 0 1"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @6 1 2"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelWidth"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @8 21600 0"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelHeight"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @10 21600 0"&gt;  &lt;/v:formulas&gt;  &lt;v:path extrusionok="f" gradientshapeok="t" connecttype="rect"&gt;  &lt;o:lock ext="edit" aspectratio="t"&gt; &lt;/v:shapetype&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1025" type="#_x0000_t75" style="'width:478.5pt;"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\ADMINI~1\LOCALS~1\Temp\msohtml1\03\clip_image001.wmz" title=""&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;BMG merupakan lembaga resmi pemerintah yang bertugas memberikan layanan informasi kepada masyarakat terkait cuaca dan iklim. Itulah sebabnya, BMG dianggap sebagai lembaga yang paling unggul dalam memprediksi iklim. Tidak tanggung-tanggung, BMG didukung oleh 137 stasiun pemantau cuaca yang tersebar di seluruh &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;. Dengan demikian BMG sangat unggul dalam menyajikan data hasil pengukuran (observasi) dari permukaan tanah (&lt;em&gt;groundbased&lt;/em&gt;). Informasi prakiraan cuaca selama ini disampaikan BMG melalui berbagai media yaitu website, koran, radio, televisi, dan jurnal yang diterbitkan berkala setiap bulan. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dari tabel informasi cuaca dan iklim dapat diketahui, BMG telah menyebarkan informasi cuaca terkini dari skala waktu &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;haran&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt;, mingguan, bulanan, yang semua dapat dengan mudah diakses melalui website (&lt;a href="http://www.bmg.go.id/"&gt;www.bmg.go.id&lt;/a&gt;). Bahkan ada pula analisis yang ditulis oleh BMG mengenai prakiraan awal musim serta berbagai fenomena iklim ekstrim seperti fenomena El Nino, La Nina, MJO (Madden Julian Oscillation). Informasi liputan awan juga diberikan BMG melalui satelit GMS. Liputan awan tersebut diberikan selama seminggu sekali dan diberi judul: prospek cuaca mingguan. Tapi, semua model prediksi yang diberikan BMG merupakan model statistik. BMG masih belum banyak bereksperimen dengan model numerik atau model dinamik. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sementara Program Studi Meteorologi ITB (Laboratorium Prediksi Cuaca dan Iklim) juga menyajikan informasi cuaca harian yang secara bebas dapat diperoleh melalui website weather.geoph.itb.ac.id. Informasi cuaca ini merupakan hasil dari model dinamik NCEP AVN atau GFS model global. &lt;st1:city st="on"&gt;Ada&lt;/st1:City&gt; juga model regional &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; yang dibuat dengan model MM5. Selain itu, ITB juga menampilkan informasi monitoring cuaca dari satelit yang diunduh dari website NOAA (milik Amerika) lalu dilakukan pengecilan skala (downscaling) hingga resolusi 30 kilometer sehingga diperoleh peta cuaca di Indonesia. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Balitklimat Deptan menampilkan informasi iklim berupa analisis iklim global dan iklim &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;. Analisis iklim global dan regional ini dilakukan Balitklimat dengan cara mengumpulkan informasi dari berbagai situs di luar negeri seperti NOAA, IRI. Analisis tersebut antara lain meliputi kondisi El Nino dan La Nina, ENSO, serta menampilkan curah hujan dari model global NCEP. Balitklimat juga menyajikan data dari AWS (&lt;em&gt;Automatic Weather Station&lt;/em&gt;) yang secara rutin melakukan pembaruan (up-dating) terhadap prediksi curah hujan setiap tiga bulan. Balitklimat juga membuat peta musim (kemarau atau hujan) di sentra-sentra produksi (pertanian) di Pulau Jawa. Peta ini selanjutnya digunakan  untuk membuat peta musim tanam yang sangat bermanfaat bagi para petani.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;LAPAN memiliki kekhasan dalam hal kepemilikan data (&lt;em&gt;space-based&lt;/em&gt;). LAPAN didukung oleh tujuh Stasiun Pengamat Dirgantara. Stasiun pengamat tersebut memiliki manfaat diantaranya pemantauan satelit dan lingkungannya, mengamati atmosfer dan cuaca, pengamatan matahari, peluncuran roket, telekomunikasi dirgantara, dan lainnya. Data satelit yang diterima dan diolah oleh LAPAN setiap hari berasal dari satelit LANDSAT, SPOT, ERS1, ERS2, JERS1, JERS2, MODIS, GMS, NOAA, Satelit Mikro Indonesia. Selain itu, LAPAN memiliki radar atmosfer ekuator terbesar di Asia Tenggara yaitu EAR (&lt;em&gt;Equathorial Atmospheric Radar&lt;/em&gt;) yang terletak di Kototabang. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Radar ini dapat menghasilkan data cuaca dan iklim seperti arah dan kecepatan angin (horisontal-vertikal-zonal-meridional) secara kontinyu. Kemampuan memodelkan iklim juga telah dimiliki oleh LAPAN. Lembaga ini memiliki model DARLAM (Limited Area Model), yaitu model iklim regional yang dikecilkan skalanya (down scaling) dari model global GCM 9. Model GCM 9 tersebut berasal dari CSIRO (&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Australia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;). Model DARLAM merupakan model iklim yang mampu melakukan prediksi iklim selama tiga hingga enam bulan ke depan.    &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;BMG, ITB, Deptan, LAPAN, sebenarnya memiliki ciri khas dan kelebihan masing-masing. BMG unggul pada kemampuannya memperoleh data observasi cuaca dari 173 stasiun pengamat cuaca. ITB unggul di bidang pemodelan numerik untuk cuaca dan iklim, meskipun selama ini tampilan website masih terbatas pada informasi terkini cuaca dan belum menyentuh iklim dan analisisnya. Balitklimat Deptan memiliki data AWS yang tersebar di sentra-sentra produksi pertanian di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;. Sementara LAPAN unggul dari sisi data satelit dan pemodelan iklim DARLAM. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Jika kemampuan memprediksi iklim yang tersebar di tiap lembaga ini terintegrasi dan terkoordinasi dengan baik, maka &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; akan mampu melejitkan kemampuannya untuk membuat model skenario perubahan iklim yang berkualitas bagus. Sebab model skenario perubahan iklim yang berkualitas bagus membutuhkan resolusi yang baik, eror yang minimal, serta harus diverifikasi dengan data observasi yang juga berkualitas baik. Itu semua tak mungkin dicapai sendiri-sendiri, mealinkan dengan bekerja sama dan bersinergi, menyatukan keunggulan dan kekuatan yang kini masih berserakan pada tiap orang (lembaga).&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;em&gt;*)Penulis adalah (Pembantu) Peneliti di Bidang Pemodelan Iklim Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim LAPAN Bandung&lt;/em&gt;&lt;i&gt;. Artikel ini dimuat di www.beritaiptek.com.&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Bacaan:&lt;/strong&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;1. Website Badan Meteorologi dan Geofisika: &lt;a href="http://www.bmg.go.id/"&gt;www.bmg.go.id&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;2. Website Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional: &lt;a href="http://www.lapan.go.id/"&gt;www.lapan.go.id&lt;/a&gt;; &lt;a href="http://www.lapanrs.go.id/"&gt;www.lapanrs.go.id&lt;/a&gt;; &lt;a href="http://www.bdg.lapan.go.id/"&gt;www.bdg.lapan.go.id&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;3. Website Balai Penelitian Agroklimat dan Hidrologi Departemen Pertanian: &lt;a href="http://www.balitklimat.litbang.deptan/"&gt;www.balitklimat.litbang.deptan&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;4. Website Meteorologi ITB: weather.geoph.itb.ac.id.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;iframe src="http://www.hothotsoftware.com/freestuff/counterView.php?counterid=yulihastin" width=100 height=100 frameborder=0&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1824214246344813752-8763145790377558647?l=yulihastin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yulihastin.blogspot.com/feeds/8763145790377558647/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1824214246344813752&amp;postID=8763145790377558647' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1824214246344813752/posts/default/8763145790377558647'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1824214246344813752/posts/default/8763145790377558647'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yulihastin.blogspot.com/2008/06/indonesia-mampu-prediksi-iklim.html' title='Indonesia Mampu Prediksi Iklim'/><author><name>yulihastin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07384503929845779248</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SLenWZrNyfI/AAAAAAAAACs/Yr2e67BQLw0/S220/sekar-erma.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1824214246344813752.post-393007109780530151</id><published>2008-05-13T13:46:00.000-07:00</published><updated>2008-05-13T13:46:01.572-07:00</updated><title type='text'>Jadilah (saja) Belukar</title><content type='html'>Saya menangis membaca Puisi Taufik Ismail berjudul "Kerendahan Hati."&lt;br /&gt;Hati saya terasa tersayat dan keharuan mewarnai emosi saya saat ini. Puisi ini mengingatkan saya mengenai mimpi dan harapan yang selama ini saya rangkai menjadi ambisi. Ambisi untuk lebih banyak memberi. Ambisi untuk semakin banyak berbuat baik dan bermanfaat bagi orang lain. Suatu kali, sering, saya merasa hidup di atas ambisi-ambisi tersebut. Saya juga sering merasa tercerabut dari kesadaran yang azali, bahwa manusia punya banyak keterbatasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puisi ini, mendadak mengingatkan saya lagi bahwa "tidak semua orang menjadi kapten, harus ada yang menjadi awak kapalnya." Tapi puisi ini juga memberi saya semangat, dengan segala keterbatasan, tetaplah berusaha berguna untuk orang lain. Tetaplah berupaya memberi. Jika tak bisa jadi beringin, jadilah saja belukar. Jika tak bisa jadi belukar, jadilah saja rumput. Yang penting, terimalah kondisi dirimu apa adanya dan berupayalah berbuat baik dengan kondisimu itu. Inilah puisi tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taufik Ismail: Kerendahan Hati* **&lt;br /&gt;*Kalau engkau tak mampu menjadi beringin**yang** tegak di puncak bukit&lt;br /&gt;Jadilah belukar, tetapi belukar yang baik,**yang** tumbuh di tepi danau*&lt;br /&gt;*Kalau kamu tak sanggup menjadi belukar,&lt;br /&gt;Jadilah saja rumput, tetapi rumput yang**memperkuat** tanggul pinggiran jalan*&lt;br /&gt;*Kalau engkau tak mampu menjadi jalan raya&lt;br /&gt;Jadilah saja jalan kecil,&lt;br /&gt;Tetapi jalan setapak yang&lt;br /&gt;Membawa orang ke mata air* **&lt;br /&gt;*Tidaklah semua menjadi kapten**tentu** harus ada awak kapalnya….&lt;br /&gt;Bukan besar kecilnya tugas yang menjadikan tinggi**rendahnya** nilai dirimu*&lt;br /&gt;*Jadilah saja dirimu….Sebaik-baiknya dari dirimu sendiri*&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;iframe src="http://www.hothotsoftware.com/freestuff/counterView.php?counterid=yulihastin" width=100 height=100 frameborder=0&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1824214246344813752-393007109780530151?l=yulihastin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yulihastin.blogspot.com/feeds/393007109780530151/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1824214246344813752&amp;postID=393007109780530151' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1824214246344813752/posts/default/393007109780530151'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1824214246344813752/posts/default/393007109780530151'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yulihastin.blogspot.com/2008/05/jadilah-saja-belukar.html' title='Jadilah (saja) Belukar'/><author><name>yulihastin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07384503929845779248</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SLenWZrNyfI/AAAAAAAAACs/Yr2e67BQLw0/S220/sekar-erma.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1824214246344813752.post-1479708697704151165</id><published>2008-04-22T18:15:00.000-07:00</published><updated>2008-04-22T18:53:18.056-07:00</updated><title type='text'>Terbang Mengepak</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SA6WS3JGArI/AAAAAAAAACg/cUNJfTQ-BG0/s1600-h/Nokia027.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5192252671188665010" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SA6WS3JGArI/AAAAAAAAACg/cUNJfTQ-BG0/s320/Nokia027.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;"Mungkin aku akan terbang dengan sayap mengepak."&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Anakku Sekar malam itu merentangkan kedua tangannya, membungkukkan tubuhnya, menegakkannya kembali, lalu melompat-lompat kecil. Mulutnya tak henti mengoceh. Entah apa yang sedang dibayangkannya. Susunan kalimatnya baku seperti bahasa tulisan. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Hampir setiap malam, sebelum tidur, ia selalu melakukan ritual bermain semacam itu. Aktivitasnya baru bisa diredam saat saya membacakannya cerita dari majalah atau buku atau dongeng yang saya karang sendiri. Sambil mengantarnya tidur, ia akan diam, larut dalam cerita yang saya bawakan. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Jika cerita itu menyedihkan, ia akan menggosok-gosok matanya yang berair. Ya, ia menangis. Jika cerita itu baginya lucu, ia akan terbahak-bahak. Dan, jika sebuah cerita kedengarannya tak masuk akal, ia akan bertanya kritis. Saya senang, anak saya tumbuh dengan perasaan halus dan penjiwaan penuh pada emosinya. Saya juga senang ia banyak bertanya mengenai hal-hal yang baginya tak masuk akal pada cerita yang saya bawakan. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Pernah pada waktu ia menonton adegan orang (ma'af) sedang kencing dalam posisi memunggungi penonton, Sekar berkata, "Itu cuma kencing pura-pura, kan. Nggak mungkin betulan." Rasanya saya ingin tertawa mendengar penuturannya. Analisis seorang anak kecil umur 3,5 tahun yang mencoba membedakan antara "kenyataan" dan "rekayasa."&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Ah, Sekar...&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Erma Yulihastin- &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;iframe src="http://www.hothotsoftware.com/freestuff/counterView.php?counterid=yulihastin" width=100 height=100 frameborder=0&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1824214246344813752-1479708697704151165?l=yulihastin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yulihastin.blogspot.com/feeds/1479708697704151165/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1824214246344813752&amp;postID=1479708697704151165' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1824214246344813752/posts/default/1479708697704151165'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1824214246344813752/posts/default/1479708697704151165'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yulihastin.blogspot.com/2008/04/terbang-mengepak.html' title='Terbang Mengepak'/><author><name>yulihastin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07384503929845779248</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SLenWZrNyfI/AAAAAAAAACs/Yr2e67BQLw0/S220/sekar-erma.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SA6WS3JGArI/AAAAAAAAACg/cUNJfTQ-BG0/s72-c/Nokia027.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1824214246344813752.post-2305847247545756875</id><published>2008-04-17T15:19:00.000-07:00</published><updated>2008-04-17T03:10:10.909-07:00</updated><title type='text'>Dulu Mangkir, Sekarang Telat</title><content type='html'>Sejak SMA aku paling malas disuruh upacara. Capek, panas, keringatan, lelah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, sudah jadi kebiasaan aku mangkir upacara. Pura-pura sakit. Karena sakit, ya, aku dibolehkan istirahat di ruang PMR (Palang Merah Remaja). Alasan lain aku mangkir sebenarnya karena rumahku jauh sekali dari sekolah. Sekitar 25 kilometer. Kutempuh dengan naik angkutan pedesaan disambung bus. Sementara masuk jam 6.00 pagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun aku sudah berangkat tet setelah Azan Subuh persis, tetap aja telat. Sengsara memang jadi anak desa. Sebenarnya sih, aku kost di dekat sekolah. Tapi tiap akhir pekan pulang. Jadi kalau Hari Senin bisa dipastikan berangkat dari rumahku yang berada di tepi Bengawan Solo, pelosok desa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku juga sering tidak bawa topi. Bahkan pernah kehilangan topi dalam waktu lama. Padahal tanpa topi, kami tak dibolehkan ikut upacara. Ya, terpaksa harus beli topi baru. Sementara aku merasa &lt;em&gt;eman&lt;/em&gt;, jika uang yang dijatah ortu dipakai untuk sekadar beli topi. Lebih baik buat makan sehari-hari dengan menu yang lebih bergizi daripada "nasi boranan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibatnya, bisa dipastikan aku bersiasat selalu pura-pura sakit agar tidak perlu upacara. Padahal sebenarnya karena nggak punya topi. He...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah lama sekali kebiasaan upacara bendera ini berlalu. Sekarang, aku harus upacara lagi, setiap bulan tanggal 17. Dan, pada hari ini tanggal 17 April 2008, aku tidak mangkir, sih. Tapi terlambat. Dan hanya aku satu-satunya yang telat. Berjalan tergopoh-gopoh, menaruh tas sembarangan, lalu dengan cueknya masuk ke dalam barisan ibu-ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untunglah, upacara hari ini, santainya minta ampun. Para petugas upacaranya lemah gemulai, seakan sedang puasa tiga hari. Gerak jalannya seperti melayang. Para pembaca teks pancasila dan KORPRI seperti sedang tidak berkata-kata tapi berbisik-bisik. Nyiur melambai. Amboi...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah upacara yang paling santai yang pernah aku ikuti seumur hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Erma Yulihastin-&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;iframe src="http://www.hothotsoftware.com/freestuff/counterView.php?counterid=yulihastin" width=100 height=100 frameborder=0&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1824214246344813752-2305847247545756875?l=yulihastin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yulihastin.blogspot.com/feeds/2305847247545756875/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1824214246344813752&amp;postID=2305847247545756875' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1824214246344813752/posts/default/2305847247545756875'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1824214246344813752/posts/default/2305847247545756875'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yulihastin.blogspot.com/2008/04/dulu-mangkir-sekarang-telat.html' title='Dulu Mangkir, Sekarang Telat'/><author><name>yulihastin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07384503929845779248</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SLenWZrNyfI/AAAAAAAAACs/Yr2e67BQLw0/S220/sekar-erma.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1824214246344813752.post-9150329268328631414</id><published>2008-04-15T12:42:00.000-07:00</published><updated>2008-04-14T23:16:21.303-07:00</updated><title type='text'>Pak T yang Nyentrik</title><content type='html'>Ingatanku terkuat mengenai Pak T adalah, ia nyentrik, jenius, dan suka membuat kejutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika itu aku adalah mahasiswa yang bertemperamen menggebu-gebu dan lekas bosan. Ruang-ruang kuliah yang megah, berasitektur Belanda, dan dapat menampung lebih dari seratus orang menjadi barang paling memuakkan karena memenjara ingatanku dari gempita reformasi pada rentang tahun krisis 1997-1998.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setahuku, Pak T adalah dosen yang paling terkenal. Namanya paling sering disebut mahasiswa. Tingkah-laku dan pemikirannya menjadi perbincangan seru. Dan yang paling membuatnya jadi bahan omongan adalah gayanya mengajar yang sangat eksentrik. Pak T adalah dosen Termodinamika. Dosen termodinamika lainnya, biasanya akan menjejali kami dengan rumus-rumus dan memberi kami setumpuk soal untuk dipecahkan di rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi tidak dengan Pak T. Selama mengajar, ia tak pernah menulis satu angka pun di papan tulis. Ia juga tak pernah memberi kami setumpuk soal. Tak pernah. Juga tak pernah ia menyuruh kami untuk memelajari bahan ajar bab sekian-sekian. Tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama jam pelajaran, ia akan berbicara mengenai banyak hal. Ia jelaskan termodinamika melalui fenomena alam yang tampak. Ia bercerita bagaimana dinamika di atmosfer bisa terbentuk. Bahkan, kadang-kadang penjelasannya mengarah pada politik, kebijakan, dan pengelolaan negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak T, sepuluh tahun lalu, berambut sebahu. Keningnya sangat lapang. Sedikit botak. Matanya sipit. Gigi-geliginya kuning tak beraturan, tapi percayalah, hampir sepanjang waktu ia tertawa terbahak. Kadang hingga terkekeh-kekeh. Sementara kami merasa tak ada yang lucu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ia tertawa, biasanya para mahasiswa akan saling berpandangan. Untuk memastikan apakah mereka masih waras dan apakah yang berdiri di hadapan mereka seorang pria jenius yang sedikit tidak waras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun pada akhirnya, kami menikmati tertawa bersama Pak T. Biarlah kami menertawakan diri sendiri, karena kebodohan kami memahami Termodinamika. Tertawa bersama Pak T kemudian menjadi hiburan yang paling menyenangkan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, kami tak lagi bisa tertawa jika sedang ujian. Karena percayalah, meski satu buku telah kami lahap dan soal-soal di sana semuanya telah kami kuasai, pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan Pak T tak ada satu pun yang berasal dari buku biru nan tebal itu. Pertanyaan Pak T adalah kejutan yang berhasil membuat kami semua terkejut hingga hampir copot jantung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, ketika daftar nilai dipajang, kami pun tercengang karena tak ada satu pun dari sekitar 50 orang yang mendapat nilai A. Tak ada pula yang B. Sementara yang mendapat C, rasanya tak lebih dari lima. Selebihnya adalah D dan E.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah Pak T. Lelaki yang semasa ia menjadi dosen, tak satu pun mahasiswa dari Fisika, Geofisika dan Meteorologi, Astronomi, yang tak mengenalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenanganku pada Pak T (Profesor The Houw Liong) sepuluh tahun lalu,&lt;br /&gt;Erma Yulihastin&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;iframe src="http://www.hothotsoftware.com/freestuff/counterView.php?counterid=yulihastin" width=100 height=100 frameborder=0&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1824214246344813752-9150329268328631414?l=yulihastin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yulihastin.blogspot.com/feeds/9150329268328631414/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1824214246344813752&amp;postID=9150329268328631414' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1824214246344813752/posts/default/9150329268328631414'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1824214246344813752/posts/default/9150329268328631414'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yulihastin.blogspot.com/2008/04/pak-t-yang-nyentrik.html' title='Pak T yang Nyentrik'/><author><name>yulihastin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07384503929845779248</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SLenWZrNyfI/AAAAAAAAACs/Yr2e67BQLw0/S220/sekar-erma.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1824214246344813752.post-502151151018107829</id><published>2008-04-11T10:30:00.000-07:00</published><updated>2008-04-10T20:33:13.142-07:00</updated><title type='text'>Senja Bertabur Cokelat</title><content type='html'>Pertemuanku dengannya terjadi pada senja hari. Ketika langit yang memancar jingga tertutup arak-arakan awan kelabu. Senja yang suram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jarak antara aku dan dia terpaut lima meter. Di antara lalu-lalang jalan, kami bertemu.&lt;br /&gt;Dan ia adalah bagian yang paling menarik di tengah keramaian jalan itu. Apa yang membuat ia menjadi sosok menonjol dan paling menarik perhatian?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kucermati sosoknya. Lelaki itu berambut &lt;strong&gt;cokelat&lt;/strong&gt; sebahu. Ia mengenakan kaos pendek &lt;strong&gt;cokelat&lt;/strong&gt;. Kulitnya berlumur debu dan berwarna &lt;strong&gt;kecokelatan&lt;/strong&gt;. Pada beberapa bagian di lengannya, bulatan-bulatan putih menyebar. Warna yang kontras. Pulau putih di antara lautan &lt;strong&gt;cokelat&lt;/strong&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia bercelana pendek di atas dengkul, sedikit gombrang. Celana pendeknya tampaknya berwarna putih, tapi telah berubah menjadi sangat &lt;strong&gt;cokelat&lt;/strong&gt;! Ia berjalan cepat sekali. Lebih cepat dariku. Meski ia sedang menggelandang gerobak sampah &lt;strong&gt;cokelat&lt;/strong&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah semua warna &lt;strong&gt;cokelat&lt;/strong&gt; suram yang ia kenakan juga sesuram hidupnya? Aku tak tahu. Tapi aku takjub pada fragmen kemanusiaan yang kujumpai di suatu senja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Erma Yulihastin&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;iframe src="http://www.hothotsoftware.com/freestuff/counterView.php?counterid=yulihastin" width=100 height=100 frameborder=0&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1824214246344813752-502151151018107829?l=yulihastin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yulihastin.blogspot.com/feeds/502151151018107829/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1824214246344813752&amp;postID=502151151018107829' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1824214246344813752/posts/default/502151151018107829'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1824214246344813752/posts/default/502151151018107829'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yulihastin.blogspot.com/2008/04/senja-bertabur-cokelat.html' title='Senja Bertabur Cokelat'/><author><name>yulihastin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07384503929845779248</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SLenWZrNyfI/AAAAAAAAACs/Yr2e67BQLw0/S220/sekar-erma.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1824214246344813752.post-1425371187756380506</id><published>2008-04-10T02:03:00.000-07:00</published><updated>2008-04-10T02:16:11.141-07:00</updated><title type='text'>Presiden Marah</title><content type='html'>"Anda yang tidur itu, keluar aja!" hardik Presiden. Matanya sedikit memerah. Mulutnya melengkung ke bawah. Air mukanya menegang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ratusan Kepala Daerah yang berkumpul di hadapan Presiden saat itu pun tampak tegang. Suasana hening. Sedikit mencekam. Sesaat kemudian Presiden kembali berkata, "Anda mestinya malu. Kita ini punya amanah dari rakyat."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum pernah saya menyaksikan Presiden demikian marah. Atau memang saya selama ini tidak pernah melihat saat Presiden sedang marah. Yang jelas, kejadian itu disorot secara luas oleh kamera dan juga disiarkan di seluruh negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya juga tak mau menduga-duga, apakah Presiden marah betulan atau hanya sekadar akting agar tampak selalu serius dan bersungguh-sungguh memikirkan persoalan rakyat. Jika memang dia dan kabinetnya serius bekerja, kenapa harga-harga terus naik menggila? Kenapa busung lapar tak pernah henti menghantam para balita di pelosok negeri ini? Kenapa...?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang saya tahu dengan cukup pasti, Presiden pasti sedang tak enak hati. Suasana hatinya sedang kacau. Dia sedang didera begitu banyak masalah. Ekstremnya, dia sedang stres. Mungkin stres berat. Tapi saya tak tahu karena apa. Apa mungkin karena perhelatan demokrasi yang akan digelar setahun lagi untuk memilih Presiden dan Wakil Presiden baru?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entahlah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Erma Yulihastin&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;iframe src="http://www.hothotsoftware.com/freestuff/counterView.php?counterid=yulihastin" width=100 height=100 frameborder=0&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1824214246344813752-1425371187756380506?l=yulihastin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yulihastin.blogspot.com/feeds/1425371187756380506/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1824214246344813752&amp;postID=1425371187756380506' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1824214246344813752/posts/default/1425371187756380506'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1824214246344813752/posts/default/1425371187756380506'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yulihastin.blogspot.com/2008/04/presiden-marah.html' title='Presiden Marah'/><author><name>yulihastin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07384503929845779248</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SLenWZrNyfI/AAAAAAAAACs/Yr2e67BQLw0/S220/sekar-erma.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1824214246344813752.post-6941382582282185524</id><published>2008-04-10T01:36:00.000-07:00</published><updated>2008-04-10T02:16:53.569-07:00</updated><title type='text'>Keseimbangan</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/R_3Xc-Bt7AI/AAAAAAAAAB4/fV8w61FtYbM/s1600-h/Erma3.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5187539238487190530" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/R_3Xc-Bt7AI/AAAAAAAAAB4/fV8w61FtYbM/s200/Erma3.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Ya Allah,&lt;br /&gt;Berilah aku kekuatan untuk mengubah apa-apa yang bisa aku ubah.&lt;br /&gt;Berilah aku keikhlasan untuk menerima apa-apa yang tidak bisa aku ubah.&lt;br /&gt;Dan berilah aku kebijaksanaan untuk membedakan keduanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menemukan sepotong "kalimat sempurna" itu dari sebuah buku "chicken soup." Sumbernya, kata buku itu, dari pepatah China. Meski bukan sebuah hadits, tapi saya menemukan kekuatan dan keindahan dalam doa tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut saya, doa tersebut merupakan penafsiran yang paling indah dari ketetapan Allah yang bernama qadha' dan qadar. Juga menerjemahkan dengan sangat baik mengenai bagaimana mestinya kita bersikap dalam menjalani kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah ada begitu banyak kenyataan yang telah digariskan tanpa mampu kita ubah sama sekali? Seperti kenapa kita terlahir menjadi perempuan atau laki-laki? Kenapa kulit kita tidak putih? Kenapa hidung kita tak mancung? Kenapa rambut kita tidak pirang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Serta, ada begitu banyak guncangan yang terjadi secara tiba-tiba, tanpa sanggup kita hindari. Misalnya, ketika kita kehilangan Ibu atau Ayah. Atau saat banjir menenggelamkan rumah dan seluruh kampung kita. Atau saat gempa menghantam dan memorak-morandakan segala yang kita miliki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal-hal yang terjadi secara mendadak, mengguncang, dan menggetarkan emosi serta jiwa kita tersebut, kadang membuat kita jadi berpikir: kenapa harus kita yang dipilih untuk menerima cobaan sedahsyat itu? Kenapa saya? Apa salah saya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah sebabnya, doa menuntun kita untuk kembali menyadari posisi kita sebagai makhluk. Doa memberi kita ketenteraman. Kedamaian. Kekuatan untuk bangkit dari keruntuhan seburuk apa pun. Maka, berdoalah! Dan ingatlah Tuhan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Erma Yulihastin&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;iframe src="http://www.hothotsoftware.com/freestuff/counterView.php?counterid=yulihastin" width=100 height=100 frameborder=0&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1824214246344813752-6941382582282185524?l=yulihastin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yulihastin.blogspot.com/feeds/6941382582282185524/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1824214246344813752&amp;postID=6941382582282185524' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1824214246344813752/posts/default/6941382582282185524'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1824214246344813752/posts/default/6941382582282185524'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yulihastin.blogspot.com/2010/04/keseimbangan.html' title='Keseimbangan'/><author><name>yulihastin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07384503929845779248</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SLenWZrNyfI/AAAAAAAAACs/Yr2e67BQLw0/S220/sekar-erma.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/R_3Xc-Bt7AI/AAAAAAAAAB4/fV8w61FtYbM/s72-c/Erma3.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1824214246344813752.post-8052957356023297732</id><published>2008-03-23T10:31:00.000-07:00</published><updated>2008-03-23T21:33:43.438-07:00</updated><title type='text'>[Cerpen] Sang Kiai (3)</title><content type='html'>Ahad pagi. Lautan manusia menyemuti alun-alun kabupaten. Di beberapa tempat dipasang umbul-umbul warna-warni. Spanduk panjang membentang di atas panggung,” Tabligh Akbar Ayo Sukseskan Pilkada.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah ribuan manusia, Rihan berdiri tegak di atas panggung. Suaranya membahana. Menggema ke seantero kota.&lt;br /&gt;“Allah mengingatkan kita, celakalah orang-orang yang curang. Termasuk perbuatan curang adalah melakukan politik uang. Bagi-bagi uang atau barang kebutuhan lainnya agar orang lain mengikuti apa yang kita inginkan.”&lt;br /&gt;Massa seakan tersihir. Semua mata memusat pada sosok sang Kiai. Beberapa kepala di barisan terdepan manggut-manggut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidakkah orang-orang itu meyakini bahwa mereka akan dibangkitkan. Pada suatu hari yang besar. Hari manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam?”&lt;br /&gt;Semangatnya berkobar. Kutipan peringatan Allah dalam Alquran itu dibacanya dengan suara penuh getar. Seolah mencuatkan ketakutan mendalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pada Pilkada pekan depan, pilihlah dengan akal sehat, pikiran jernih, dan hati yang bersih. Jangan abaikan logika dan bisikan nuranimu. Karena hati yang sehat tak mungkin bohong.”&lt;br /&gt;Demikian akhir pesan singkat sang Kiai. Tabligh akbar disudahi dengan geremangan ribuan massa. Mereka berbondong-bondong membubarkan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, di bawah pohon beringin sekitar sepuluh meter dari panggung, sepasang mata tajam menatap. Mata itu menyipit. Kening dahinya  mengerut. Mukanya merona merah. Dibuangnya rokok dari bibir hitamnya dan diinjak-injaknya dengan kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditekannya beberapa nomor dalam telepon genggamnya.&lt;br /&gt;“Malam ini, plan A.” Ucapanya lirih, setengah berbisik.&lt;br /&gt;Sesungging senyum menghiasi bibir tebalnya. &lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Kerlip lampu lima watt tentu tak mampu menajamkan pandangan Rihan. Meski matanya berkali-kali mencari ketegasan pada tiga lelaki yang hanya tampak bagai bayangan hitam di depannya. Matanya pun akhirnya melemah. Otot mukanya mengendur. Rihan tampak pasrah.&lt;br /&gt;            “Saudara Rihan, ada di mana Saudara pada jam sembilan malam dua hari lalu?”&lt;br /&gt;            “Pak, kenapa Bapak menginterogasi saya. Saya tidak mengerti, kenapa Bapak…”&lt;br /&gt;            “Saudara Rihan, tolong jawab pertanyaan saya.”&lt;br /&gt;            “Saya menghadiri undangan makan malam seorang kawan, Pak.”&lt;br /&gt;            “Di mana?”&lt;br /&gt;            “Di rumah kawan saya.”&lt;br /&gt;            “Di mana lokasinya?”&lt;br /&gt;            “Jalan Hayam Wuruk.”&lt;br /&gt;            “Nomor berapa?”&lt;br /&gt;            ”Saya tidak tahu, Pak.”&lt;br /&gt;            “Saudara tahu alamat kantor KPUD?”&lt;br /&gt;            “Tahu. Jalan Hayam Wuruk sepuluh.”&lt;br /&gt;            “Apa Saudara tahu ada tiga santri Saudara terlibat kerusuhan di kantor KPUD?”&lt;br /&gt;            “Saya tidak tahu.”&lt;br /&gt;            “Kiai Rihan, sebaiknya Saudara mengaku saja.”&lt;br /&gt;            “Apa yang harus saya akui, Pak?”&lt;br /&gt;            Rihan mendengus kesal. Napasnya terasa semakin berat di ruangan pengap tiga kali tiga itu. Dihempaskannya tubuh ringkihnya pada sandaran kursi rotan yang penuh lubang. Ia menjulurkan kedua kakinya. Namun, kendati segala usaha dikerahkannya agar ia bisa sedikit santai, nyatanya degup jantungnya kian riuh terdengar. Peluhnya mulai membanjir. Ia mengusap dahi beberapa kali.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Lonceng kuno itu berdentang satu kali. Bunyinya jernih bagai suara genta di kuil tersunyi. Rihan terkesiap. Matanya membelalak seakan terbangun oleh mimpi buruk di tengah malam. Udara lembab yang menerobos dari sela-sela lubang angin tercium oleh hidungnya yang tajam.   &lt;br /&gt;            “Segala puji bagiMu, Tuhan yang tak pernah tidur.”&lt;br /&gt;            Rihan duduk bersila. Diraihnya mushaf. Ia mulai membacanya. Pelan. Hatinya merasa disiram. Sejuk. Seketika musnah seluruh perih. &lt;br /&gt;            Suara ketukan sepatu perlahan menyelinap di antara alunan tilawahnya. Irama ketukan terdengar tegas, mantap, dan penuh beban. Ketukan terakhir berhenti persis di depan jeruji selnya. Rihan menutup mushaf. Matanya memandang penuh tanya pada lelaki pendek dan gemuk berselempang pentungan di hadapannya. Tatapan Rihan disambut dingin oleh lelaki berjambang lebat itu. Tak satu pun kata terlontar melalui mulutnya. Hanya seringaian kecil sebelum ia menyelipkan segulung kertas di antara pintu jerujinya. Rihan meraih gulungan kertas itu dan membacanya dalam hati.   &lt;br /&gt;            ”Kiai Rihan yang kami hormati, bagaimana kabar Kiai? Tak terasa setahun sudah kiai mengakrabi sel penjara ini. Masih ada sisa empat tahun lagi dan kami berharap semoga kiai dianugerahi rahmat dan karomah dari Allah. Kami bermaksud memindahkan kiai ke sel tahanan yang lebih layak. Di sel yang baru nanti kiai dapat merebahkan diri di kasur yang empuk. Kiai juga bisa memantau perkembangan berita melalui televisi. Kiai bahkan tak akan lagi terganggu oleh bau udara yang lembab karena sirkulasi udara di sana dikontrol oleh ventilasi yang bagus serta dilengkapi alat pendingin udara. Ini semua kami lakukan karena penghormatan kami yang besar kepada kiai. Mohon kiranya kiai sudi menerima penghargaan kami ini. Jika kiai setuju, berikan kode anggukan sebanyak dua kali kepada kurir surat ini. Salam Hormat Kami.”  &lt;br /&gt;Rihan menghela napas panjang dan berat. Ditatapnya kedua mata lelaki bermata juling yang berdiri mematung tanpa gerakan di hadapannya. Lelaki itu tak bersuara sedikit pun. Sikapnya awas dan siaga. Matanya cermat memantau wajah Rihan. Rihan menggulung kembali kertas itu dan memberikan kepadanya. Tak ada anggukan. Lelaki itu menunggu. Rihan membuang muka. Lelaki itu terus menunggu. Rihan kembali menekuri bacaannya. Lelaki itu tetap tegak di sana. Satu per satu buliran air mata Rihan melelehi lembaran mushaf. Lelaki itu masih menunggu dengan setia.&lt;br /&gt;-Selesai -&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;iframe src="http://www.hothotsoftware.com/freestuff/counterView.php?counterid=yulihastin" width=100 height=100 frameborder=0&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1824214246344813752-8052957356023297732?l=yulihastin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yulihastin.blogspot.com/feeds/8052957356023297732/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1824214246344813752&amp;postID=8052957356023297732' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1824214246344813752/posts/default/8052957356023297732'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1824214246344813752/posts/default/8052957356023297732'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yulihastin.blogspot.com/2008/03/cerpen-sang-kiai-3.html' title='[Cerpen] Sang Kiai (3)'/><author><name>yulihastin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07384503929845779248</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SLenWZrNyfI/AAAAAAAAACs/Yr2e67BQLw0/S220/sekar-erma.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1824214246344813752.post-8198679883708648017</id><published>2008-03-23T10:25:00.000-07:00</published><updated>2008-03-23T21:30:40.964-07:00</updated><title type='text'>[Cerpen] Sang Kiai (2)</title><content type='html'>Rihan Fatahilah namanya. Kiai muda pemimpin sebuah pesantren modern bernama Kalimat Sada di kota kecil, ujung timur Jawa Timur. Bintangnya kini tengah berpijar hebat. Jamaahnya membludak. Mereka mengagumi kharisma dan kesahajaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penampilan Kiai Rihan biasa saja, jauh dari sosok kiai yang disakralkan. Ia tak pernah bersorban atau berkopiah. Hanya berkemeja polos dan bersarung. Rambutnya selalu klimis. Berpadu kumis dan jenggot tipis. Sebenarnya, banyak orang menganggap ceramahnya juga biasa saja. Tidak memakai bahasa melangit. Tak juga disampaikan dengan suara lantang berapi-api. Ia juga jarang mengutip ayat maupun hadits.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tema yang diangkat dalam ceramahnya sebagian besar masalah keseharian dan isu terkini. Soal kelangkaan minyak tanah, harga pupuk yang melambung, gagal panen, sekolah yang mahal, harga sembako yang menukik, busung lapar, polio, demam berdarah, flu burung, hingga masalah Lumpur Lapindo, kecelakaan pesawat terbang, kematian praja Insitut Pemerintahan Dalam Negeri dan korupsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tiap ceramahnya, Kiai Rihan menawarkan perubahan. Mengajak jamaahnya aktif memperbaiki diri. Menyempurnakan ikhtiar. Da’i jebolan Universitas Al-Azhar Mesir itu selalu mengangkat persamaan-persamaan dan mengesampingkan perbedaan. Mungkin, caranya berdakwah itulah yang membuat banyak kalangan bersimpati pada ajakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang Pilkada seperti sekarang, Kiai Rihan menyinggung juga soal kepemimpinan. Dalam beberapa kali ceramahnya, ia bahkan secara terang-terangan mengajak jamaahnya untuk berpatisipasi aktif memilih Kepala Daerah. “Dengan memilih langsung, posisi kita sebagai rakyat diperhitungkan. Kita akan jadi pelaku atau subjek bukan lagi sasaran atau objek,” jelasnya suatu kali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, agaknya, mungkin ada beberapa pihak yang tak begitu suka dengan pesan-pesan politik sang kiai muda itu. Memang, sebenarnya Rihan tak pernah menyatakan secara resmi nama pilihan calon bupatinya kepada khalayak. Selain menurut Rihan tidak etis, juga berisiko tinggi. Apalagi, Komisi Pemilihan Umum Daerah cuma menetapkan dua pasangan calon yang lolos tahap verifikasi akhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satunya, Gutjipto, bupati yang masih menjabat sekarang.&lt;br /&gt;Gutjipto dan wakilnya merupakan pasangan calon dari gabungan tiga partai pemenang Pemilu Legislatif tempo hari. Sedang calon bupati lainnya, Yassir. Ia dicalonkan delapan partai gurem yang tak memiliki satu kursi pun di DPRD. Yassir pernah menjadi rektor sebuah Perguruan Tinggi Negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di mata orang banyak, Yassir sosok intelek yang idealis, jujur dan antikorupsi. &lt;br /&gt;Sebetulnya, Rihan cukup paham dengan kegelisahan banyak pihak atas pilihan politiknya. Hal ini, tak lain karena sikap simpatik Gutjipto terhadap dunia pesantren selama ini. Rihan hampir meyakini seratus persen, hidup matinya pesantren seolah sangat tergantung dari bantuan Pak Bupati. Padahal, di kabupaten itu, terdapat seratus lebih pondok pesantren. Rihan sendiri, secara tegas memperlihatkan sikap menjaga jarak dengan penguasa. Rihan berprinsip, ulama harus independen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan pengaruh Rihan yang kuat dan makin meluas di kawasan timur itu, tentu wajar bagi kubu yang merasa terancam kemudian menganggapnya bagaikan batu kerikil di dalam sepatu. Kerikil yang mengganjal dalam sepatu pasti membuat tak nyaman si pemakainya. Solusinya cuma satu: disingkirkan!    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;“Data kami di lapangan menunjukkan terjadi banyak kecurangan. Bagi-bagi uang ratusan ribu, sembako, pakaian, dan sebagainya.” Suara di seberang terasa datar di telinga Rihan. Hasan, Ketua KPUD meneleponnya malam-malam.&lt;br /&gt;Belum sempat Rihan menjawab, suara lirih di ujung sana terdengar lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesegera mungkin akan kami tindak lanjuti. Akan ada sanksi tegas bagi mereka yang melakukan politik uang.”&lt;br /&gt;“Apa boleh saya tahu siapa mereka?”&lt;br /&gt;“Kubu G.” Hasan memberitahu inisial nama.&lt;br /&gt;Rihan mendesah panjang. Hening sesaat.&lt;br /&gt;“Karena itu Pak Kiai, saya sekaligus konfirmasi lagi, tabligh akbar tetap dilaksanakan seperti rencana semula.”&lt;br /&gt;“Ya, ahad ini, kan?”&lt;br /&gt;“Tolong Pak Kiai mengangkat pula masalah ini.”&lt;br /&gt;“Tentu, Insya Allah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rihan menutup gagang telepon dengan sejuta kegelisahan. Matanya memejam sesaat. Hatinya tengadah ke langit. Semoga acara tabligh akbar kerjasama dengan KPUD ahad besok, lancar dan sukses, bisiknya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;iframe src="http://www.hothotsoftware.com/freestuff/counterView.php?counterid=yulihastin" width=100 height=100 frameborder=0&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1824214246344813752-8198679883708648017?l=yulihastin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yulihastin.blogspot.com/feeds/8198679883708648017/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1824214246344813752&amp;postID=8198679883708648017' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1824214246344813752/posts/default/8198679883708648017'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1824214246344813752/posts/default/8198679883708648017'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yulihastin.blogspot.com/2008/03/cerpen-sang-kiai-2.html' title='[Cerpen] Sang Kiai (2)'/><author><name>yulihastin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07384503929845779248</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SLenWZrNyfI/AAAAAAAAACs/Yr2e67BQLw0/S220/sekar-erma.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1824214246344813752.post-6925076900142162554</id><published>2008-03-23T10:19:00.000-07:00</published><updated>2008-03-23T21:25:42.311-07:00</updated><title type='text'>[Cerpen] Sang Kiai (1)</title><content type='html'>Terdengar lagi gemericik air dituangkan ke dalam cangkir keperakan. Lambat-lambat, air hitam menggenangi tiga perempat lebih wadah yang awalnya melompong. Tak seberapa lama, kopi kental nan pahit segera beralih menuruni tebing kerongkongan Kiai Sepuh.&lt;br /&gt;“Aaghh…,” ucap lelaki tujuh puluh tahun itu serak-serak kering.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puas menenggak telak kopi, Kiai Sepuh beralih menyedot lintingan tembakau. Asap hasil sedotannya dihembuskan bulat-bulat. Menyesaki ruang. Bulatan putih yang melayang-layang itu lantas menjelma serupa garis lengkung panjang menyambung yang patah dengan lekas ditingkahi angin. Garis-garis pun bergegas lenyap. Menyatu bersama partikel udara, membentuk ikatan-ikatan beracun. Merusuhi organ tubuh tanpa ampun.        &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Giliran kowe saiki sing ngomong.”&lt;br /&gt;“Nuwun sewu, Kiai. Saya tak sependapat.”&lt;br /&gt;“Heem..” dehem kecil Kiai menyela.&lt;br /&gt;Pria yang empat puluh tahun lebih muda dari Kiai Sepuh itu diam sejenak. Kerutan di sekitar keningnya mengurai.&lt;br /&gt;“Kalau menurut saya Kiai, sehebat apa pun pemimpin, tetap tak baik kalau rakyatnya membiarkan ia berkuasa berulang-ulang.”&lt;br /&gt;“Kenapa?”&lt;br /&gt;“Gerak itu mengalir spontan. Yang lama berakhir, yang baru terlahir. Tak bisa ditahan.”&lt;br /&gt;“Tak bisa ditahan?”&lt;br /&gt;“Tidak bisa. Kalau nekad dihalang-halangi pertahanan bisa jebol.”&lt;br /&gt;“Gimana kalau diulur waktunya?”&lt;br /&gt;“Ada batasnya. Uluran waktu tak boleh melebihi batas.”&lt;br /&gt;“Siapa yang menciptakan batasan?”&lt;br /&gt;“Manusia bisa membuatnya dengan konsensus bersama.”&lt;br /&gt;“Berhakkah manusia menciptakan batasan?”&lt;br /&gt;Kali ini suara Kiai Sepuh meninggi. Segurat amarah nyata bersinar dari dua matanya. Jelas, ia bertanya tanpa butuh jawaban.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jarum jam di dinding berdetak teratur, mengingatkan kedua lelaki itu tentang harga waktu. Tepat dua jam keduanya beradu argumen. Adu otak. Namun, seperti matahari yang memancar kian terik, perdebatan keduanya kian sengit. Masing-masing tetap bertahan pada prinsip. Tak ada tanda-tanda salah seorang akan menerima prinsip lain. Yang ada justru saling menuding, menjebak, memojokkan, dan membuat pihak lain tak berkutik.    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi, kowe sudah kesengsem dengan calon Bupati baru yang mantan Rektor itu.”&lt;br /&gt;“Saya ingin memberinya kesempatan memimpin.”&lt;br /&gt;“Apa yang kurang dari Bupati yang sekarang?!&lt;br /&gt;Sebuah tanya menggantung menunggu persetujuan. Tak ada jawaban. Si pemuda cuma mendesah panjang.&lt;br /&gt;“Kowe kan ngerti dhewe, sejak Pak Tjipto jadi Bupati, jalan-jalan mulus. Listrik rumambah ke pelosok ndeso. Pesantren-pesantren uga tambah makmur.”&lt;br /&gt;Pemuda itu tertegun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penuturan lelaki tua di depannya memang tak keliru. Tak satu pun pemimpin pesantren di kabupaten ini yang tak pernah dikunjungi Pak Bupati. Sudah mafhum di kalangan pesantren, Pak Tjipto sangat menghormati alim ulama. Bahkan konon, dalam agenda rutinnya, kunjungan ke pesantren dijadwalkan lebih dari sekali dalam sebulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bupati yang murah senyum itu menyebutnya sebagai Safari Pesantren. Tentu saja tak sekadar berkunjung, tapi dia selalu mohon tausiyah dan doa dari para kiai. Dan yang pasti, Pak Bupati akan menyumbang sedikitnya sekian puluh juta bagi kemajuan dan kemakmuran pesantren tersebut.     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemuda membatin. Tapi, selama bupati itu berkuasa, kotanya tetap terkenal sebagai kota sarang penyamun. Perampokan, pencurian, perzinaan tetap marak. Hukum tidak ditegakkan secara tegas. Cukupkah nilai kemajuan dinilai sebatas kemegahan pembangunan fisik? Sementara moral dan akhlak dibiarkan porak-poranda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejujurnya, ia bingung kenapa kiai sepuh membela bupati itu mati-matian. Ia juga tak mengerti kenapa setiap kiai sepuh bertandang ke pondoknya, selalu saja sepuh mengajaknya bicara soal calon bupati. Setidaknya, sudah tiga kali ini kiai yang disegani itu mendebatnya soal bupati. Seakan tak ada topik lain yang lebih menarik untuk dibahas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adzan zuhur menyeruak dari puncak menara. Perdebatan dipaksa berakhir. Sang pemuda dan kiai sepuh beranjak menuju masjid di kompleks pesantren berpagar bambu itu. Bayangan sosok-sosok bersarung dan berkopiah tindih-menindih di hamparan tanah cokelat kering. Pondok pesantren sederhana menyembul di sela permukiman warga yang rimbun oleh pepohonan bambu. Pesantren tradisional dengan dua ratus lebih santri laki-laki.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;iframe src="http://www.hothotsoftware.com/freestuff/counterView.php?counterid=yulihastin" width=100 height=100 frameborder=0&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1824214246344813752-6925076900142162554?l=yulihastin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yulihastin.blogspot.com/feeds/6925076900142162554/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1824214246344813752&amp;postID=6925076900142162554' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1824214246344813752/posts/default/6925076900142162554'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1824214246344813752/posts/default/6925076900142162554'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yulihastin.blogspot.com/2008/03/cerpen-sang-kiai-1.html' title='[Cerpen] Sang Kiai (1)'/><author><name>yulihastin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07384503929845779248</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SLenWZrNyfI/AAAAAAAAACs/Yr2e67BQLw0/S220/sekar-erma.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1824214246344813752.post-2070903192907468198</id><published>2008-02-29T12:02:00.000-08:00</published><updated>2008-03-02T20:01:22.067-08:00</updated><title type='text'>Senam Pagi Pertamaku</title><content type='html'>Tak kubayangkan, aku bisa melakukan senam pagi lagi. Serentak. Penuh energik dan gembira.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak SMA, di tahun 1996, terakhir aku melaksanakan senam pagi bersama tiap jumat. Kini, di kantor, aku memulai lagi rutinitas senam seperti dulu, tiap jumat pagi juga. Senang. Lucu. Mengulang kegiatan yang sama membuatku mengulang perasaan yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerakan tubuh yang dilakukan dengan rasa bahagia dan syukur membuang juga berbagai energi negatif yang tersimpan dalam jiwa. Senam membantu manusia menyukuri kesehatan tubuhnya. Senam membantu manusia menemukan Tuhannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ya, Allah, sehatkanlan badanku. Sehatkanlah pendengaranku. Sehatkanlah penglihatanku. Sehatkan pula jiwaku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Erma Yulihastin&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;iframe src="http://www.hothotsoftware.com/freestuff/counterView.php?counterid=yulihastin" width=100 height=100 frameborder=0&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1824214246344813752-2070903192907468198?l=yulihastin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yulihastin.blogspot.com/feeds/2070903192907468198/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1824214246344813752&amp;postID=2070903192907468198' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1824214246344813752/posts/default/2070903192907468198'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1824214246344813752/posts/default/2070903192907468198'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yulihastin.blogspot.com/2008/02/senam-pagi-pertamaku.html' title='Senam Pagi Pertamaku'/><author><name>yulihastin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07384503929845779248</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SLenWZrNyfI/AAAAAAAAACs/Yr2e67BQLw0/S220/sekar-erma.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1824214246344813752.post-1115736754707616068</id><published>2008-02-28T16:56:00.000-08:00</published><updated>2008-03-02T20:05:29.528-08:00</updated><title type='text'>Doa Persembahan</title><content type='html'>Sesungguhnya semua milik Allah dan pasti akan kembali kepadaNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laa ilaha illallahul adzimulhalim.&lt;br /&gt;"Katakanlah tidak ada Tuhan selain Allah yang Maha Agung dan Penyantun."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laa ilaha illallahu rabbul arsyil adzim.&lt;br /&gt;"Katakanlah tidak ada Tuhan selain Allah Tuhan pemilik Arsy dan yang Maha Agung."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laa ilaha illallahu robbus samawati wa rabbul ardhi wa rabbul arsyil kariim.&lt;br /&gt;"Katakanlah tidak ada Tuhan selain Allah, Tuhan langit dan bumi serta Arsy yang mulia."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah,&lt;br /&gt;Engkau telah saksikan betapa cinta kasihnya Abah kepada kami anak-anaknya. &lt;br /&gt;Beliau telah berjuang membesarkan, mendidik, dan mengarahkan kami menjadi hamba-hamba yang mencintaiMu, dekat denganMu, dan selalu berpandangan positif serta optimis terhadap kehendak dan takdirMu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadikanlah itu semua sebagai amalan utama baginya yang dapat mengangkat derajatnya dan menghapus dosa-dosanya. Dan jadikanlah doa-doa yang kami kirimkan untuknya sebagai penghibur, penerang dan pelapang urusannya di dalam kubur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah, kasihani Abah kami.&lt;br /&gt;Ringankanlah fitnah (dari pertanyaan2 malaikat) yang sedang dihadapi Abah kami di dalam kuburnya. Berilah ia kekuatan dan kesabaran untuk menjalaninya. Basuhlah jiwanya dengan air, es dan embun. Cucilah ia dari segala dosa sebagaimana kain putih dibersihkan dari kotoran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah, tinggikan derajat Abah kami sebagai orang-orang yang terpimpin. Muliakanlah ia. Terimalah segala amal salihnya. Terangi dan lapangkan kuburnya. Berilah ia kebahagiaan dan ketenteraman (sakinah) di dalam kuburnya. Serta berilah ia pengganti yang lebih baik dalam keturunannya di dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah, berilah kami manfaat dari musibah yang sedang kami hadapi ini. Bukakanlah pintu-pintu hikmahMu untuk kami. Berilah kami kekuatan untuk bersabar dan bertawakal dengan sepenuhnya. Jadikanlah kematian ini sebagai sarana pengingat bagi kami untuk lebih mendekatimu, lebih giat ber'amal dan menyiapkan bekal untuk kehidupan kami setelah mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah, sesungguhnya Engkau adalah Tuhan yang tidak pernah menganiaya dan berbuat zalim kepada kami semua, hamba-hambaMu. Sayangi dan santunilah kami semua ya Allah, dengan rahmatMu yang meliputi alam semesta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Sumber: dzikir ketika dilanda kesedihan yang diajarkan Rasulullah, dan doa-doa yang dipanjatkan untuk mayit, Hadits Bukhari Muslim dan Riyadus Shalihin).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Erma Yulihastin&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;iframe src="http://www.hothotsoftware.com/freestuff/counterView.php?counterid=yulihastin" width=100 height=100 frameborder=0&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1824214246344813752-1115736754707616068?l=yulihastin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yulihastin.blogspot.com/feeds/1115736754707616068/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1824214246344813752&amp;postID=1115736754707616068' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1824214246344813752/posts/default/1115736754707616068'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1824214246344813752/posts/default/1115736754707616068'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yulihastin.blogspot.com/2008/02/doa-persembahan.html' title='Doa Persembahan'/><author><name>yulihastin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07384503929845779248</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SLenWZrNyfI/AAAAAAAAACs/Yr2e67BQLw0/S220/sekar-erma.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1824214246344813752.post-6268231711581980879</id><published>2008-02-21T04:01:00.000-08:00</published><updated>2008-02-21T01:03:28.634-08:00</updated><title type='text'>Percakapan Jiwa</title><content type='html'>“Ketika kami kaya, kami memiliki banyak kecemasan. Tak ada waktu untuk Tuhan dan kami tidak sempat bercakap-cakap dengan jiwa kami.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian Tolstoy berujar melalui istri tokoh utama yang diciptakannya dalam cerpen berjudul Ilyas. Selama lima puluh tahun lebih, sepasang suami istri yang pernah kaya-raya dan mencapai puncak kejayaannya itu tidak pernah merasakan kebahagiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru ketika mereka jatuh miskin, hingga harus menghidupi diri berdua dengan menjadi pembantu rumah tangga pada sebuah keluarga yang cukup sederhana, saat itulah mereka menemukan kebahagiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Justru pada saat mereka menjadi pelayan dan hidup dari belas kasih majikannya, kedamaian itu datang. ”Kami bekerja keras melayani majikan kami, dan kami senang melakukannya,” kata istri Ilyas di usia menjelang tujuh puluh tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diceritakan, majikan mereka merasa puas dengan hasil pekerjaan mereka. Kedua orang tua itu sangat tahu apa yang harus mereka lakukan. Subuh mereka telah bangun dan di senja hari mereka sudah beranjak untuk istirahat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka punya banyak waktu untuk saling bercakap-cakap dengan orang lain, untuk berdoa pada Tuhan, dan untuk bercakap-cakap dengan jiwa mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah kunci kebahagiaan. Kehidupan yang seimbang: kerja, berkomunikasi, berdoa, merenung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Erma Yulihastin&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;iframe src="http://www.hothotsoftware.com/freestuff/counterView.php?counterid=yulihastin" width=100 height=100 frameborder=0&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1824214246344813752-6268231711581980879?l=yulihastin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yulihastin.blogspot.com/feeds/6268231711581980879/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1824214246344813752&amp;postID=6268231711581980879' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1824214246344813752/posts/default/6268231711581980879'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1824214246344813752/posts/default/6268231711581980879'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yulihastin.blogspot.com/2008/02/percakapan-jiwa.html' title='Percakapan Jiwa'/><author><name>yulihastin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07384503929845779248</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SLenWZrNyfI/AAAAAAAAACs/Yr2e67BQLw0/S220/sekar-erma.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1824214246344813752.post-209042525559640201</id><published>2008-02-20T12:38:00.000-08:00</published><updated>2008-02-20T23:30:40.277-08:00</updated><title type='text'>Dunia Terbelah untuk Kosovo</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/R70dpZhQR2I/AAAAAAAAABo/sKTsvph-T1E/s1600-h/kosovo.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5169320544353404770" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/R70dpZhQR2I/AAAAAAAAABo/sKTsvph-T1E/s200/kosovo.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;“Terima kasih Amerika. Sekarang aku bebas dari Serbia. Cucuku juga bebas dari Serbia,” ungkap seorang kakek di Kosovo sebagaimana dikutip detik.com.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senin pagi udara Kosovo dingin menggigil. Bunyi meriam mendesing. Ribuan rakyat tumpah ke jalan-jalan memenuhi kota. Mereka merayakan kemerdekaan Kosovo dengan berbagi kue tart dan sampanye. Sehari sebelumnya, Kosovo melalui Perdana Menteri Hashim Tachi menyatakan diri merdeka dari Serbia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Presiden Kosovo Hashim Tachi segera mengirimkan surat permohonan pengakuan kedaulatan kepada negara-negara di dunia. Australia merupakan negara pertama yang merespons dengan memberikan pengakuan atas kemerdekaan Kosovo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Setelah sejarah tragis Kosovo, kita harus menjamin masa depan penduduk negeri itu. Pengakuan atas kemerdekaan Kosovo dalam hal ini merupakan langkah yang tepat.” Begitu kata Perdana Menteri Australia seperti ditulis detik.com.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negara-negara di Uni Eropa seperti Prancis, Jerman, Inggris, Austria, Italia, mengakui kemerdekaan Kosovo. Mereka menyebut Kosovo sebagai negara multietnis yang sangat demokratis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amerika Serikat pun menyokong. “Amerika Serikat har ini secara resmi mengakui Kosovo sebagai Negara yang merdeka dan berdaulat. Kami ucapkan selamat kepada rakyat Kosovo atas peristiwa bersejarah ini,” demikian pernyataan yang dikeluarkan oleh Sekretariat Negara di Amerika Serikat seperti dikutip detik.com.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negara-negara muslim yang tergabung dalam Organisasi OKI (Organisasi Konferensi Islam) yang terdiri atas 57 negara juga mendukung penuh Kosovo. “Umat Islam berharap rakayat Kosovo dan pemerintahnya sukses dalam perjuangan barunya membangun Kosovo yang kuat dan makmur,” begitu pernyataan resmi OKI melalui AFP yang dikutip detik.com pada Senin kemarin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga Rabu, 20 Februari 2008, dunia masih terbelah. Beberapa negara yang menolak keras Kosovo di antaranya: Rusia, China, Serbia, Rumania, Slovakia, Siprus. Begitu setidaknya yang ditulis kompas.com.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia melihat perkembangan dan berharap ini menjadi awal yang baik bagi Kosovo untuk bangkit dari tragedi pembantaian oleh Serbia (1989-1999) yang meninggalkan sejarah kelam bagi negeri berpenduduk mayoritas muslim Albania (96 persen) tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga detik ini, Indonesia masih belum menyatakan sikapnya. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Erma Yulihastin&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;iframe src="http://www.hothotsoftware.com/freestuff/counterView.php?counterid=yulihastin" width=100 height=100 frameborder=0&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1824214246344813752-209042525559640201?l=yulihastin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yulihastin.blogspot.com/feeds/209042525559640201/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1824214246344813752&amp;postID=209042525559640201' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1824214246344813752/posts/default/209042525559640201'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1824214246344813752/posts/default/209042525559640201'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yulihastin.blogspot.com/2008/02/dunia-terbelah-untuk-kosovo.html' title='Dunia Terbelah untuk Kosovo'/><author><name>yulihastin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07384503929845779248</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SLenWZrNyfI/AAAAAAAAACs/Yr2e67BQLw0/S220/sekar-erma.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/R70dpZhQR2I/AAAAAAAAABo/sKTsvph-T1E/s72-c/kosovo.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1824214246344813752.post-539427522554389209</id><published>2008-02-19T11:45:00.000-08:00</published><updated>2008-02-20T23:39:42.515-08:00</updated><title type='text'>Tertua dan Termuda</title><content type='html'>&lt;p&gt;"Tak pernah merasa terlalu tua untuk belajar atau terlalu muda untuk berkarya."&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kurasa, aku harus mengikuti pepatah bijak di atas agar berhasil selama masa adaptasiku dengan pekerjaan baru. Bukan saja selama masa adaptasi tapi kukira selamanya. Siapa pun dan di mana pun, seseorang akan meraih sukses jika memiliki dan menerapkan prinsip di atas. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span class=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Contohnya aku, jika dilihat dari tahun lulus, maka akulah yang tertua di antara teman-teman satu angkatan kerja tahun ini. Paling tua tapi belum tentu yang paling bisa apalagi paling pintar. Yang benar adalah karena paling tua maka paling banyak ilmu selama kuliah yang terlupakan. Berbeda dengan teman-teman yang baru lulus, otak dan ingatannya masih segar dan lekat. Fresh! Tapi aku tidak boleh merasa jadi malas untuk belajar lagi karena paling tua. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span class=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sementara, sebagai karyawan baru CPNS dengan jabatan Pembantu Peneliti, aku dan teman-teman seangkatan kerja adalah yang paling muda. Ini juga tidak boleh membuat kami merasa belum mampu untuk berkarya: menulis paper, mengulas makalah, menulis tulisan ilmiah populer untuk diterbitkan. Kami harus memiliki semangat keberanian dan kepercayaan diri yang cukup untuk menulis dan mengirimkannya untuk diterbitkan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span class=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dari dua hal di atas, bisa dikatakan aku ini tertua dan termuda sekaligus di lingkungan kerjaku saat ini. Namun, pada akhirnya, kemauan untuk terus belajar dan berkarya adalah salah satu kunci sukses pada tiap pekerjaan. Apa pun itu. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Erma Yulihastin&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;iframe src="http://www.hothotsoftware.com/freestuff/counterView.php?counterid=yulihastin" width=100 height=100 frameborder=0&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1824214246344813752-539427522554389209?l=yulihastin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yulihastin.blogspot.com/feeds/539427522554389209/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1824214246344813752&amp;postID=539427522554389209' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1824214246344813752/posts/default/539427522554389209'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1824214246344813752/posts/default/539427522554389209'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yulihastin.blogspot.com/2008/02/tertua-dan-termuda.html' title='Tertua dan Termuda'/><author><name>yulihastin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07384503929845779248</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SLenWZrNyfI/AAAAAAAAACs/Yr2e67BQLw0/S220/sekar-erma.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1824214246344813752.post-2854430237244008511</id><published>2008-02-18T11:36:00.000-08:00</published><updated>2008-02-17T21:08:06.439-08:00</updated><title type='text'>Setelah Lima Tahun</title><content type='html'>Mentari menyala di sini,&lt;br /&gt;Di sini di dalam hatiku.&lt;br /&gt;Gemuruhnya sampai di sini,&lt;br /&gt;Di sini di urat darahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara sendu Pak Iwan Abdurrahman saat menyanyikan lagi “Mentari” mendengung lambat di telingaku, berselang-seling dengan gemuruh para mahasiswa yang menyanyikannya. Suara-suara itu tindih menindih menusuk-nusuk memoriku jumat lalu (15/2). Jumat itu, untuk pertama kalinya aku menginjakkan kaki kembali di Gedung  Geofisika Meteorologi (GM) ITB, setelah lima tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak banyak yang berubah, selain warna biru gedung yang kian pudar. Lantai di kebab yang buram dan tampak lumut menyemai di sana sini. Di dekat tulisan timbul Geofisika dan Meteorologi, ada karangan bunga dengan ucapan selamat atas pengangkatan Pak Sri Wdyantoro sebagai profesor. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama kalinya pula, aku memasuki Ruang Seminar GM, yang telah berubah total. Tampak eksklusif meski hanya memuat sekitar 50 orang saja. Di depan, ada bufet besar cokelat yang menyala terang dengan lampu-lampu, tempat piala-piala dipajang. Lalu tempat duduk berderet dengan meja-meja panjang cokelat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku juga bertemu muka dengan para dosen yang dulu pernah mengajarku: Pak Bayong (Dosen dan profesor Meteorologi), Pak Gunawan Ibrahim (Dosen Geofisika Padat), Pak Sri Widyantoro (Dosen Geofisika Padat yang sudah jadi profesor), Bu Sri Hartati (Dosen Meteorologi).  Bedanya, kalau dulu pertemuan dengan mereka dalam hubungan dosen-mahasiswa, sekarang aku duduk bersama mereka mendengarkan presentasi dari profesor (Tzu) dari Kyoto University dalam sebuah workshop kecil KAGI berjudul Numerical High resolution Model for Meteorology.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya jadi teringat masa-masa masih kuliah dulu. Waktu itu ada mata kuliah Seminar di tingkat akhir, tapi dulu saya mengikutinya dengan malas-malasan. Sekarang, ketika melihat dan mengikuti para pembicara dari Bakosurtanal, BPPT, dan dari GM ITB melakukan presentasi dengan Bahasa Inggris yang lancar, saya jadi ingin sekali suatu saat bisa seperti mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Erma Yulihastin&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;iframe src="http://www.hothotsoftware.com/freestuff/counterView.php?counterid=yulihastin" width=100 height=100 frameborder=0&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1824214246344813752-2854430237244008511?l=yulihastin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yulihastin.blogspot.com/feeds/2854430237244008511/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1824214246344813752&amp;postID=2854430237244008511' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1824214246344813752/posts/default/2854430237244008511'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1824214246344813752/posts/default/2854430237244008511'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yulihastin.blogspot.com/2008/02/setelah-lima-tahun.html' title='Setelah Lima Tahun'/><author><name>yulihastin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07384503929845779248</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SLenWZrNyfI/AAAAAAAAACs/Yr2e67BQLw0/S220/sekar-erma.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1824214246344813752.post-8545621913615674348</id><published>2008-02-15T10:12:00.000-08:00</published><updated>2008-04-10T23:09:54.697-07:00</updated><title type='text'>Karir dan Wanita (2)</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/R_8AfeBt7DI/AAAAAAAAACQ/exxk5Kd1NAs/s1600-h/seperti-kuliah.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5187865836390313010" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/R_8AfeBt7DI/AAAAAAAAACQ/exxk5Kd1NAs/s320/seperti-kuliah.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Yang perlu disadari oleh para wanita adalah soal multiperan. Ya, wanita memiliki banyak sekali peran. Peran sebagai anak, istri, ibu, pekerja, anggota organisasi, anggota masayarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut saya, peran itu semua harus dijalankan dengan sungguh-sungguh, tepat waktu artinya ia tahu menempatkan fokus di saat yang tepat, dan totalitas. Totalitas artinya tidak setengah-setengah, ini bukan berarti wanita harus memilih satu peran saja tapi lebih bermakna bahwa wanita itu mesti konsisten menjalani peran yang sudah menjadi pilihan hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika seorang wanita telah memilih menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya, ya dia harus menjalaninya dengan rasa suka, legawa, dan berupaya menjadi ibu rumah tangga yang penuh kreativitas dan berwawasan luas. Begitu pun dengan pilihan menjadi wanita karir atau wanita pekerja. Seorang wanita karir harus menjalani profesinya dengan rasa senang dan tekun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi jangan pernah lupa, Agama Islam menggariskan bahwa multiperan wanita harus dijalankan tanpa melanggar syareat dengan tetap memrioritaskan tanggung-jawabnya terhadap keluarga (anak-anak dan suaminya). Yakinlah, Tuhan memberi beban kepada para wanita karena wanita memiliki kesanggupan untuk menanggung semua multiperannya dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan keyakinan dan pemahaman semacam itu, siapa pun wanita itu, ia akan menemukan kebahagiaan hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahu'Alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Erma Yulihastin&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;iframe src="http://www.hothotsoftware.com/freestuff/counterView.php?counterid=yulihastin" width=100 height=100 frameborder=0&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1824214246344813752-8545621913615674348?l=yulihastin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yulihastin.blogspot.com/feeds/8545621913615674348/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1824214246344813752&amp;postID=8545621913615674348' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1824214246344813752/posts/default/8545621913615674348'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1824214246344813752/posts/default/8545621913615674348'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yulihastin.blogspot.com/2008/02/karir-dan-wanita-2.html' title='Karir dan Wanita (2)'/><author><name>yulihastin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07384503929845779248</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SLenWZrNyfI/AAAAAAAAACs/Yr2e67BQLw0/S220/sekar-erma.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/R_8AfeBt7DI/AAAAAAAAACQ/exxk5Kd1NAs/s72-c/seperti-kuliah.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1824214246344813752.post-707022609051780760</id><published>2008-02-15T09:23:00.000-08:00</published><updated>2008-04-10T23:13:21.899-07:00</updated><title type='text'>Karir dan Wanita (1)</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/R_8BMuBt7EI/AAAAAAAAACY/L2QQ3N2HqiQ/s1600-h/sekar-bunda-okt05.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5187866613779393602" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/R_8BMuBt7EI/AAAAAAAAACY/L2QQ3N2HqiQ/s200/sekar-bunda-okt05.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Sebenarnya, laki-laki dan perempuan itu tidak ada perbedaan dalam hal kecerdasan dan kepintaran. Saya kira, teori yang mengatakan bahwa volume otak laki-laki lebih besar daripada wanita sehingga umumnya lelaki lebih cerdas dari wanita perlu ditinjau kembali. Sebab, bukankan penelitian terkini menyebutkan bahwa kecerdasan itu lebih disebabkan oleh aktivitas sel-sel di otak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena sama-sama cerdas itulah, maka mestinya dalam soal karir pun, lelaki dan perempuan dapat bersaing secara seimbang. Hanya saja perempuan secara alamiah mengalami masa-masa yang dapat "menghambat" karirnya. Seperti, ketika wanita menikah (saat dia harus mengikuti suaminya pindah, perintah suami agar ia tak bekerja kembali, dan sebagainya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu terjadi juga ketika wanita melahirkan, ia harus mengambil cuti, dan yang pasti di masa pascamelahirkan umumnya wanita mengalami penurunan produktivitas ketika bekerja kembali (artinya: kinerjanya tidak sebesar ketika dia belum memiliki bayi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi ini akn terus berulang saat wanita itu memiliki anak ke-2, ke-3, dan selanjutnya. Maka, dapat dibayangkan, semakin banyak anak yang ia miliki, wanita tersebut makin sering mengalami masa-masa penurunan seperti di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang, coba bandingkan dengan lelaki. Pria umumnya tidak mengalami masa-masa sulit seperti itu. Kalau pun ada, porsinya tentu tidak sebesar wanita. Yang dimaksud masa-masa sulit bagi pria mungkin seperti: kerepotan ketika istri hamil dan melahirkan, ketika istri belum mendapat pembantu atau pengasuh yang tepat untuk anak-anak mereka, ketika istri atau anak sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi wajar jika dalam soal karir, lelaki lebih unggul dari wanita. Meski tak menutup kemungkinan bagi wanita untuk bisa menyamai atau bahkan mengungguli lelaki. Lalu apa yang dibutuhkan bagi para wanita untuk sukses dalam pekerjaannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Wanita harus bekerjasama dengan suaminya dalam pengelolaan rumah-tangga.&lt;br /&gt;2. Kesuksesan juga ditentukan oleh kekuatan wanita tersebut untuk urusan manajemen waktu. 3. Fokus pada tujuan.&lt;br /&gt;4. Punya karakter yang bagus (gigih, ulet, pekerja-keras, pantang menyerah, dll).&lt;br /&gt;5. Kecerdasan dan kepintaran yang membuatnya cepat belajar dan memiliki daya cipta serta kreativitas terus menerus.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;iframe src="http://www.hothotsoftware.com/freestuff/counterView.php?counterid=yulihastin" width=100 height=100 frameborder=0&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1824214246344813752-707022609051780760?l=yulihastin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yulihastin.blogspot.com/feeds/707022609051780760/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1824214246344813752&amp;postID=707022609051780760' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1824214246344813752/posts/default/707022609051780760'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1824214246344813752/posts/default/707022609051780760'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yulihastin.blogspot.com/2008/02/karir-dan-wanita-1.html' title='Karir dan Wanita (1)'/><author><name>yulihastin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07384503929845779248</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SLenWZrNyfI/AAAAAAAAACs/Yr2e67BQLw0/S220/sekar-erma.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/R_8BMuBt7EI/AAAAAAAAACY/L2QQ3N2HqiQ/s72-c/sekar-bunda-okt05.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1824214246344813752.post-6935320055052603031</id><published>2008-02-14T08:19:00.000-08:00</published><updated>2008-02-13T18:22:19.912-08:00</updated><title type='text'>Keanehan Mimpiku</title><content type='html'>Ketika seseorang bermimpi, maka ruhnya akan bertemu dengan ruh orang yang berada dalam mimpinya. Meskipun orang dalam mimpinya itu telah meninggal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum pernah aku bermimpi senyata dan seaneh ini. Aku menyebutnya aneh karena beberapa hal. Pertama, dalam mimpiku aku bertemu dengan beberapa orang yang masih hidup dan satu orang yang meninggal dalam situasi yang akrab dan saling bercakap-cakap. Memang, sih, mereka semua memiliki hubungan kekerabatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, aku merasa tidak sedang bermimpi tapi berada di alam kenyataan sepenuh kesadaran. Hingga aku bingung sekali dalam mimpi itu, dan bertanya-tanya, apakah aku sedang berada di alam nyata atau di alam mimpi. Saking bingungnya, aku mencubit lenganku berulang-ulang. Dan, ketika aku merasa tidak sakit sama sekali, barulah aku sadar bahwa aku pasti sedang bermimpi. Jadi bisa, tuh, mencubit lengan diterapkan sebagai cara untuk mengetahui kita sedang mimpi atau tidak. Seperti di sinetron. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, ada ketakutan yang sangat kalau-kalau aku tak bisa kembali lagi ke alam nyata. Ya, aku merasa cemas dan khawatir kalau aku tak bisa keluar dari mimpiku itu. Lalu, ketika ketakutan semakin membekapku, aku pun beranjak untuk tidur (dalam mimpi). Hanya beberapa detik setelah memejamkan mata dan merasa telah pulas tidur (dalam mimpi), tergeragap aku bangun dari mimpi dan tidur malamku. Aneh, kan, untuk kembali ke alam nyata dari dunia mimpi, kita harus tidur di dalam mimpi. Jadi, tidur adalah pintu gerbang untuk menuju ke dunia lain (mimpi atau nyata).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah, astaghfirullahaladzim...&lt;br /&gt;Ruhku telah kembali masuk ke dalam jasadku.&lt;br /&gt;Inilah pengalaman mimpi teraneh yang pernah kualami. Aku tak bisa mengatakan ini mimpi buruk atau mimpi baik. Karena peristiwa dalam mimpi itu sebenarnya membuatku bahagia karena dapat bertemu dengan almarhumah ibuku, bulik dan budeku, dan temanku. Tapi mimpi itu juga mencemaskanku karena membuatku mengalami kebingungan untuk membedakan apakah aku sedang berada di alam nyata atau di alam tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, aku sebut saja itu sebagai mimpi aneh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Erma Yulihastin&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;iframe src="http://www.hothotsoftware.com/freestuff/counterView.php?counterid=yulihastin" width=100 height=100 frameborder=0&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1824214246344813752-6935320055052603031?l=yulihastin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yulihastin.blogspot.com/feeds/6935320055052603031/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1824214246344813752&amp;postID=6935320055052603031' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1824214246344813752/posts/default/6935320055052603031'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1824214246344813752/posts/default/6935320055052603031'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yulihastin.blogspot.com/2008/02/keanehan-mimpiku.html' title='Keanehan Mimpiku'/><author><name>yulihastin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07384503929845779248</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SLenWZrNyfI/AAAAAAAAACs/Yr2e67BQLw0/S220/sekar-erma.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1824214246344813752.post-2300569085465841021</id><published>2008-02-13T09:51:00.000-08:00</published><updated>2008-04-10T23:01:38.539-07:00</updated><title type='text'>Sekar, anakku... (2)</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/R_7-duBt7BI/AAAAAAAAACA/6iIbiYqfdN8/s1600-h/Rsb.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5187863607302286354" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/R_7-duBt7BI/AAAAAAAAACA/6iIbiYqfdN8/s320/Rsb.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; Sekar sudah tiga kali diopname di rumah sakit. Terakhir, dia opname selama seminggu (31 Januari-6 Februari) karena tipus dan demam berdarah. Ya, beberapa hari llau ia terdampar di Rumah Sakit Advent, Bandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Opnamenya yang terakhir adalah opname yang terburuk bagi perkembangan psikologisnya. Sekar kelihatan sangat ketakutan waktu diinfus dan diberi obat. Ia tampaknya takut dan benci sekali jika melihat perawat. Hampir tiap waktu ia rewel dan saya harus selalu hadir di sampingnya saat ia terjaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika pulang, ia berubah total. Si mata lentik itu sangat ceria, raut mukanya sumringah, dan senyumnya tampak begitu segar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, semoga inilah kali terakhir dia sakit. Agar tak ada beban lagi yang menindihi perkembangan fisik dan psikologisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;Erma Yulihastin&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;iframe src="http://www.hothotsoftware.com/freestuff/counterView.php?counterid=yulihastin" width=100 height=100 frameborder=0&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1824214246344813752-2300569085465841021?l=yulihastin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yulihastin.blogspot.com/feeds/2300569085465841021/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1824214246344813752&amp;postID=2300569085465841021' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1824214246344813752/posts/default/2300569085465841021'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1824214246344813752/posts/default/2300569085465841021'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yulihastin.blogspot.com/2008/02/sekar-anakku-2.html' title='Sekar, anakku... (2)'/><author><name>yulihastin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07384503929845779248</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SLenWZrNyfI/AAAAAAAAACs/Yr2e67BQLw0/S220/sekar-erma.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/R_7-duBt7BI/AAAAAAAAACA/6iIbiYqfdN8/s72-c/Rsb.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1824214246344813752.post-5514339060499509268</id><published>2008-02-12T23:30:00.000-08:00</published><updated>2008-02-13T21:47:42.815-08:00</updated><title type='text'>Sekar, anakku...</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/R7PUBphQRtI/AAAAAAAAAAg/bGGyBBfE_gk/s1600-h/Sekar-3.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5166706322314381010" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/R7PUBphQRtI/AAAAAAAAAAg/bGGyBBfE_gk/s320/Sekar-3.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Matanya bundar dan hitam. Tatapannya tajam dan menyiratkan rasa ingin tahu yang besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di usianya yang ketiga, ia pandai merangkai kalimat bersusun. Ketika bermain, mulutnya tak pernah diam. Ia terus bercerita dengan kalimat baku yang cukup panjang. Seperti ini, "Meskipun ibu bingung dan aku kepayahan, aku sudah tak sabar menunggu ibu memasak."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia juga dengan cepat mampu merangkai pasel 36 keping. Bukan karena dia telah hapal gambarnya, tapi dia telah memahami pola tiap pasel. karena meskipun paselnya baru kami belikan untuk dia, Sekar langsung dengan cepat menyusunnya. &lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;Kemampuan mengenal angkanya pun bagus. Sekar dapat membaca dan mengenali angka dari 1-20. Dan dia bisa menulis angka dengan benar dari 1-10, tentunya dengan tangan kiri karena dia kidal. &lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;Hanya, mungkin karena ia tak punya teman bermain sebaya dan juga belum memiliki adik, kemampuan sosialisasi dan adaptasinya kurang. Jika dia berkompetisi dengan teman sebayanya pun, Sekar tak mau kalah. Jika ia kalah dalam suatu perlombaan, ia akan marah dan menangis. Tapi, kemampuannya secara umum di atas rata-rata untuk usianya. &lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;Namanya Sekar Nabila Inspirana. Ia adalah bidadari mungil kami. Mudah diberi pengertian tapi sangat peka perasaannya. "Maafin Sekar ya, Bunda. Sekar sedih kalau Bunda marah." &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Suatu hari kala kami berdua berjalan-jalan di mal, lalu dia merasa tertarik melihat perlengkapan sekolah yang menarik perhatiannya (pensil dan penghapus), ia berkata, "Lucu ya, Bunda. Tapi Bunda lagi nggak punya uang, ya. Lihat aja ya, Bunda, nggak beli."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, sejak bayi dia memang mudah sekali diatur dan diberi pemahaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekar, anakku. Bunda bangga padamu.&lt;br /&gt;Jadilah matahari kami selamanya.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;iframe src="http://www.hothotsoftware.com/freestuff/counterView.php?counterid=yulihastin" width=100 height=100 frameborder=0&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1824214246344813752-5514339060499509268?l=yulihastin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yulihastin.blogspot.com/feeds/5514339060499509268/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1824214246344813752&amp;postID=5514339060499509268' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1824214246344813752/posts/default/5514339060499509268'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1824214246344813752/posts/default/5514339060499509268'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yulihastin.blogspot.com/2008/02/sekar-anakku.html' title='Sekar, anakku...'/><author><name>yulihastin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07384503929845779248</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SLenWZrNyfI/AAAAAAAAACs/Yr2e67BQLw0/S220/sekar-erma.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/R7PUBphQRtI/AAAAAAAAAAg/bGGyBBfE_gk/s72-c/Sekar-3.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1824214246344813752.post-2397193017663216779</id><published>2008-02-11T10:13:00.000-08:00</published><updated>2008-02-17T20:58:13.096-08:00</updated><title type='text'>Osilasi Hidup</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/R7kQIJhQR1I/AAAAAAAAABg/pmtAse-zeug/s1600-h/timor2.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5168179779564750674" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/R7kQIJhQR1I/AAAAAAAAABg/pmtAse-zeug/s200/timor2.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Hidup ini berjalan seperti berosilasi. Seperti sebuah grafik sinusoidal, di mana ada dua titik puncak dan ada dua titik lembah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika dipikir-pikir, hidupku ini memang lucu. Aku menghabiskan masa kecil hingga SMU di sebuah desa kecil di Lamongan di pinggir Bengawan Solo (yang rawan banjir). Setelah itu aku pindah ke Bandung untuk meneruskan kuliah. Sekitar lima tahun aku berada di Bandung seorang diri, tanpa saudara, tanpa keluarga. Meski demikian, aku merasakan kehangatan kebersamaan bersama banyak teman di kampus, di organisasi KAMMI, di Masjid Salman, sehingga tidak pernah merasa sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Bandung juga aku mengalami masa-masa bertransformasi - mengubah bentukku secara total baik dari segi pemikiran, sikap, dan cara pergaulan. Mungkin bisa kukatakan bahwa masaku menjadi mahasiswa adalah puncak eksistensi diriku. Meskipun kadang-kadang aku merasa tidak memiliki apa-apa untuk dibanggakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu aku pindah ke Jakarta, mengikuti suamiku yang bekerja sebagai Wartawan di Bisnis Indonesia. Tak berapa lama kemudian pada tahun 2003 (dua bulan setelah pindah ke Jakarta), aku juga bekerja sebagai reporter di Majalah Properti Indonesia dan pada bulan Mei 2004 aku pindah ke Tempo News Room. Aku tinggal di Jakarta sekitar dua tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat melahirkan anak pertama, kami pindah ke Gunung Putri Bogor. Dan aku keluar dari pekerjaanku dengan banyak pertimbangan. Inilah masa-masa penurunanku. Aku merasa banyak mengalami kejenuhan karena terlalu disibukkan dengan pekerjaan rumah-tanggaku. Seperti ibu rumah tangga umumnya, sering aku mengalami stagnasi yang berujung pada keletihan emosional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entahlah, mungkin pada dasarnya aku memang tidak sanggup berada terus-menerus di rumah tanpa ada aktivitas ke luar. Akhirnya, aku terdorong untuk bekerja kembali. Dorongan itu tak hanya berasal dari diriku sendiri, tapi juga dari suamiku dan keluarga besarku (terutama orang-tuaku).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, setelah sekitar tiga tahun tinggal di Gunung Putri Bogor, aku kembali lagi tinggal di Bandung. Ini seperti sebuah osilasi. Seperti sebuah grafik sinusoidal, di mana ada dua titik puncak dan ada dua titik lembah. Jika Bandung semasa aku kuliah kuanggap sebagai titik puncak pertama, semoga keberadaanku di Bandung kini merupakan titik puncak yang kedua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kupikir, hidup ini seperti sebuah osilasi yang tiada henti. Kadang kita berada di atas puncak, kadang berada di bawah lembah. Orang juga biasa menyebutnya seperti roda yang berputar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Erma Yulihastin&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;iframe src="http://www.hothotsoftware.com/freestuff/counterView.php?counterid=yulihastin" width=100 height=100 frameborder=0&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1824214246344813752-2397193017663216779?l=yulihastin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yulihastin.blogspot.com/feeds/2397193017663216779/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1824214246344813752&amp;postID=2397193017663216779' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1824214246344813752/posts/default/2397193017663216779'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1824214246344813752/posts/default/2397193017663216779'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yulihastin.blogspot.com/2008/02/osilasi-hidup.html' title='Osilasi Hidup'/><author><name>yulihastin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07384503929845779248</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SLenWZrNyfI/AAAAAAAAACs/Yr2e67BQLw0/S220/sekar-erma.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/R7kQIJhQR1I/AAAAAAAAABg/pmtAse-zeug/s72-c/timor2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1824214246344813752.post-4900222169925159961</id><published>2008-02-11T08:23:00.000-08:00</published><updated>2008-02-10T17:26:33.919-08:00</updated><title type='text'>Meneliti = Mencari Kembali...</title><content type='html'>Apakah yang dimaksud dengan meneliti atau mengadakan penelitian itu? Penelitian berasal dari Bahasa Inggris research yang di-Indonesiakan menjadi riset. Re berarti kembali dan search adalah mencari. Dengan demikian meneliti berarti mencari kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merangkum berbagai definisi mengenai penelitian, menurut Gee (1957), penelitian adalah suatu pencarian, penyelidikan, investigasi terhadap pengetahuan baru atau tafsiran baru dari pengetahuan yang timbul. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian berarti memberikan definisi yang terus menerus terhadap suatu fakta yang timbul. Penelitian juga bertujuan mengubah kesimpulan-kesimpulan yang telah diterima , atau mengubah dalil-dalil dengan adanay penerapan baru dari dalil tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa juga dikatakan, penelitian adalah suatu usaha untuk menemukan atau menemukan kembali suatu kebenaran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikutip dari Buku Metode Penelitian, Moh. Nazir Ph.D, Penerbit Ghalia Indonesia.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;iframe src="http://www.hothotsoftware.com/freestuff/counterView.php?counterid=yulihastin" width=100 height=100 frameborder=0&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1824214246344813752-4900222169925159961?l=yulihastin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yulihastin.blogspot.com/feeds/4900222169925159961/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1824214246344813752&amp;postID=4900222169925159961' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1824214246344813752/posts/default/4900222169925159961'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1824214246344813752/posts/default/4900222169925159961'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yulihastin.blogspot.com/2008/02/meneliti-mencari-kembali.html' title='Meneliti = Mencari Kembali...'/><author><name>yulihastin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07384503929845779248</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SLenWZrNyfI/AAAAAAAAACs/Yr2e67BQLw0/S220/sekar-erma.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1824214246344813752.post-8595537006688564451</id><published>2008-02-08T23:19:00.000-08:00</published><updated>2008-04-10T23:06:25.208-07:00</updated><title type='text'>Cerita Jadi Peneliti</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/R_7_YuBt7CI/AAAAAAAAACI/8zMxFl1bTWs/s1600-h/Nokia014.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5187864620914568226" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/R_7_YuBt7CI/AAAAAAAAACI/8zMxFl1bTWs/s320/Nokia014.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Kesuksesan adalah ketekunan atas tujuan. (Disraeli)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Kesuksesan bukanlah kejadian kebetulan tapi keadilan yang paling ketat.(Adam Smith)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan suatu kebetulan, jika Allah menghendakiku untuk bekerja di LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional). Sejak masuk ITB tahun 1997, pada sebuah makalah Konsep Teknologi berjudul “Cita-Citaku”, aku telah menjabarkan keinginan dan harapanku sejak kecil untuk menjadi ilmuwan atau peneliti dan bekerja di sebuah lembaga penelitian semacam LIPI, BPPT, LAPAN. Dan, keberhasilanku masuk LAPAN di tahun 2008 ini, salah satunya merupakan buah dari ketekunan usahaku untuk mencapai tujuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun setelah lulus aku sempat bekerja sebagai wartawan, namun itu adalah ‘batu loncatan’ yang sangat berguna bagiku untuk menuju profesi peneliti. Bagaimana tidak, saat bekerja sebagai wartawan di Tempo News Room dulu, aku belajar banyak mengenai keterampilan menulis. menjalin relasi dan mewawancarai narasumber, menembus sumber berita, dan segala bentuk kegigihan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerja peneliti sebenarnya mirip dengan kerja wartawan. Jika peneliti menuliskan pendapatnya sendiri berdasarkan pengamatan atau eksperimen yang dilakukannya, maka wartawan menuliskan pendapat orang lain melalui wawancaranya dengan narasumber. Kerja peneliti juga mirip seperti kerja penulis. Kalau penulis (fiksi) menuliskan sesuatu yang bersifat rekaan berdasarkan imajinasinya terhadap realita yang ia tangkap, maka peneliti menuliskan suatu hal yang benar-benar terjadi berdasarkan fakta yang ia selidiki secara intens (terus-menerus).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baik wartawan, penulis, peneliti, ketiganya adalah profesi yang menuntut kreatifitas dan hasil kreatifitas tersebut diwujudkan dalam sebuah karya tulis. Berita, feature (berita panjang yang mengulas sisi kemanusiaan), wawancara profil, makalah, paper, cerpen, novel, drama, roman, puisi, adalah berbagai jenis karya tulis yang dihasilkan oleh ketiga profesi tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Erma Yulihastin&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;iframe src="http://www.hothotsoftware.com/freestuff/counterView.php?counterid=yulihastin" width=100 height=100 frameborder=0&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1824214246344813752-8595537006688564451?l=yulihastin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yulihastin.blogspot.com/feeds/8595537006688564451/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1824214246344813752&amp;postID=8595537006688564451' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1824214246344813752/posts/default/8595537006688564451'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1824214246344813752/posts/default/8595537006688564451'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yulihastin.blogspot.com/2008/02/cerita-jadi-peneliti.html' title='Cerita Jadi Peneliti'/><author><name>yulihastin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07384503929845779248</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SLenWZrNyfI/AAAAAAAAACs/Yr2e67BQLw0/S220/sekar-erma.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/R_7_YuBt7CI/AAAAAAAAACI/8zMxFl1bTWs/s72-c/Nokia014.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1824214246344813752.post-8440561285157302008</id><published>2007-07-08T18:47:00.000-07:00</published><updated>2008-07-08T18:57:38.716-07:00</updated><title type='text'>Musim Kemarau 2008 Cenderung Basah</title><content type='html'>&lt;div style="color: rgb(0, 0, 0); font-family: Arial; line-height: 16px; text-align: justify; font-size: 12px;"&gt;    &lt;b&gt;Oleh: Erma Yulihastin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KEKERINGAN&lt;/b&gt; merebak. Hampir setiap hari media massa memberitakan, kekeringan telah menyerang wilayah-wilayah sentra padi di Pulau Jawa seperti Cirebon, Indramayu, Majalengka (Tribun Jabar, 9 Juni 2008). Keadaan ini tentu saja mengkhawatirkan. Apalagi, Indonesia baru mengawali musim kemarau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                Bagaimana sebenarnya sifat musim kemarau tahun ini? Benarkah kemarau akan lebih kering dan lebih panjang pada tahun ini? Artikel ini bermaksud mengupas keadaan musim kemarau tahun ini dari sudut pandang meteorologi.&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Meneropong Musim Kemarau&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Untuk meneropong musim kemarau di Indonesia, ada tiga hal yang perlu dipahami. Pertama, &lt;em&gt;monsun&lt;/em&gt;. Monsun adalah perilaku angin musiman yang terbentuk setiap enam bulan sekali di Indonesia. Angin musiman ini terjadi karena posisi matahari terhadap bumi berubah-ubah sehingga pemanasan yang terjadi di bumi tidak merata. Monsun terbentuk karena ada perbedaan pemanasan antara lautan dan daratan. &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Di musim kemarau, Juni hingga September, matahari berada di belahan bumi Utara sehingga belahan bumi di sebelah utara Indonesia lebih panas (tekanan udara lebih rendah) dibandingkan di sebelah selatan. Perbedaan tekanan ini membangkitkan angin yang bergerak dari selatan ke utara. Karena di bagian selatan Indonesia terdapat daratan Australia, angin ini pun bersifat kering (tidak membawa banyak uap air). Itu sebabnya, angin kering ini mengakibatkan terjadinya kemarau di Indonesia.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Kedua, &lt;em&gt;ENSO&lt;/em&gt; (El-Nino Southern Oscillation) merupakan perilaku penyimpangan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik selatan khatulistiwa. Kenapa disebut penyimpangan? Karena suhu laut di sana menyimpang dari suhu rata-rata jangka panjang selama tiga puluh tahun lebih. Penyimpangan ini terlihat dari kenaikan atau penurunan suhu. Jika ada kenaikan suhu, maka disebut &lt;em&gt;El-Nino&lt;/em&gt;. Sebaliknya, jika suhu menurun maka terjadilah &lt;em&gt;La-Nina&lt;/em&gt;. Kejadian El-Nino atau La-Nina ini biasanya berulang setiap 3-7 tahun.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Ketiga, &lt;em&gt;Dipole Mode&lt;/em&gt; adalah perilaku suhu permukaan laut di Samudera Hindia. Dipole Mode sering juga disebut sebagai &lt;em&gt;mini-ENSO&lt;/em&gt;. Kenapa mini-ENSO? Karena, Dipole Mode terjadi di Samudra Hindia yang memiliki luas lautan lebih kecil dibandingkan Samudra Pasifik. Kejadian Dipole Mode berulang tiap 4-5 tahun.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Baik monsun, ENSO, maupun Dipole Mode memiliki pengaruh yang berbeda terhadap pola musim di berbagai wilayah di Indonesia. Musim di Indonesia timur lebih banyak dipengaruhi ENSO, karena lebih dekat Samudra Pasifik. Indonesia tengah lebih banyak dikontrol oleh monsun. Indonesia barat banyak diatur oleh Dipole Mode, mengingat wilayah ini dekat Samudra Hindia.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Kemarau Basah Karena La-Nina&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Musim kemarau di Indonesia tahun ini cenderung bersifat basah karena terjadinya La-Nina meskipun lemah. Sejak Februari 2008, La-Nina cenderung melemah mendekati kondisi netral. Selama Juni, nilai indeks La-Nina sekitar -1 (nilai normal adalah -0.5 sampai 0). La-Nina menuju normal ini akan terus berlangsung hingga Agustus. Dan kemarau di Indonesia kemungkinan akan mencapai puncak pada September.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Secara umum, La-Nina akan memengaruhi kondisi angin yang terbentuk di atas Pasifik. Angin tersebut bersifat basah karena membawa serta banyak uap air. Artinya, pembentukan awan di daerah tropis sekitar khatulistiwa masih akan sering terjadi. Dengan demikian, hujan kemungkinan masih akan terjadi sepanjang musim kemarau tahun ini.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Musim kemarau juga dipengaruhi Dipole Mode yang positif. Dipole Mode Positif menunjukkan di Samudra Hindia timur terjadi pendinginan, sementara di bagian barat mengalami pemanasan. Dipole Mode positif ini telah berlangsung sejak Mei. Akibatnya, angin yang bertiup menuju Indonesia barat akan lebih kering dibandingkan daerah lain.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Kombinasi antara monsun, La-Nina, dan Dipole Mode akan membentuk pola musim kemarau tahun ini. Dipole Mode positif di Samudra Hindia mengakibatkan Indonesia barat lebih kering daripada wilayah lain. Indonesia timur akan sedikit lebih basah karena pengaruh La Nina. Adapun Indonesia tengah akan mengalami musim kering normal. &lt;strong&gt;(*)&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Keterangan:&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;artikel ini dimuat di rubrik referat Koran Tribun Jabar, Senin, 7 Juli 2008&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;(http://www.tribunjabar.co.id/artikel_view.php?id=13369&amp;amp;kategori=10)&lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;http:&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-size: 10px; color: rgb(238, 0, 0);"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10px; color: rgb(0, 153, 51);"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;iframe src="http://www.hothotsoftware.com/freestuff/counterView.php?counterid=yulihastin" width=100 height=100 frameborder=0&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1824214246344813752-8440561285157302008?l=yulihastin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yulihastin.blogspot.com/feeds/8440561285157302008/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1824214246344813752&amp;postID=8440561285157302008' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1824214246344813752/posts/default/8440561285157302008'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1824214246344813752/posts/default/8440561285157302008'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yulihastin.blogspot.com/2007/07/musim-kemarau-2008-cenderung-basah.html' title='Musim Kemarau 2008 Cenderung Basah'/><author><name>yulihastin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07384503929845779248</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_iNjLO_KDekE/SLenWZrNyfI/AAAAAAAAACs/Yr2e67BQLw0/S220/sekar-erma.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
